..::::::..

Bahaya Syirik

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.



Pada asalnya manusia adalah bertauhid dan bertauhid merupakan fitrah yang dikaruniakan Allah  kepada manusia. Allah  berfirman :
 فَأَقـِمْ وَجْهـَكَ لِلدِّيــْنِ حَـنِيْفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النـــَّـاسَ عَلَـيْهـــَا لاَ تـــَـبْدِ يْلَ لـــِخــَلْقِ اللهِ  الروم : 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah” (Ar-Ruum:30)
Rasulullah  bersabda :
 كُلُّ مَوْ لــُوْدٍ يــُوْ لَدُ عَلَى الْفِطْرَ ةِ فَأَبـَوَاهُ يــُـهـَـوِّدَانِهِ أَوْ يـُنـــَصِّرَانــــِهِ أَوْيــُمــَجِّسَانِهِ  رواه البخاري و مسلم
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang membuatnya Yahudi atau Nasrani atau Majusi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena syirik itu adalah unsur luar yang menyusup ke dalam fitrah tersebut. Sebab itu perlu diketahui arti dan bahaya syirik agar kita dapat menjauhinya. Barangsiapa yang tidak mengetahui terhadap bahaya syirik tersebut, dikhawatirkan ia akan ter-jatuh ke dalamnya sedangkan dia tidak menyadarinya. Rasulullah  telah menjelaskan bahwa syirik itu lebih tersembunyi dari pada semut yg merayap, Rasulullah  bersabda:
 اَلشـِّرْكُ فِيْ هَذِهِ الأُمــَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبـــِيْبِ النــَّـمْلَةِ رواه ابن حبان
“Syirik yang terjadi pada ummat ini lebih tersembunyi dari pada seekor semut yang merayap” (HR. Ibnu Hibban)
Definisi Syirik
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah  dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping juga berdo’a kepada Allah , atau memalingkan sesuatu bentuk ibadah seperti menyembelih (korban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selain Allah . Karena barangsiapa menyembah kepada selain Allah  dengan berbuat syirik berarti ia telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberi-kannya kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kedzaliman yang paling besar. Allah  berfirman:
 اِنَّ الشــِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِـيْمٌ  لقمان : 13
“Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar” (QS. Lukman : 13)
Allah tidak mengampuni dosa pelaku syirik, dan akan dihapuskan darinya amalan-amalannya, sebagaimana firman Allah  :
 وَ لَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَـنـْهُمْ مَاكَانــُوْا يَعْـمَلُوْنَ الأنعام : 88
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS. Al An’am : 88)
Jenis Syirik
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله membagi syirik menjadi dua macam yaitu syirik akbar (besar) dan syirik asghar (kecil).
A. Syirik Akbar (Besar)
Syirik akbar adalah memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah . Diantara bentuk syirik akbar adalah :
1. Syirik dalam berdo’a, yaitu disamping berdo’a kepada Allah  ia juga berdo’a kepada selain-Nya. Allah  berfirman :
 فَإِذَا رَكِبُوْا فِي الْفُــلْــكِ دَعَــوُااللهَ مُــخـــْلِيــْصـِـيْنَ لَهُ الدِّيـْنَ فَلَمــَّـا نــــَجَّـاهُمْ إِلَى الْبــَرِّ إِذَاهُمْ يُشْرِكُوْنَ  العنكبوت:65
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al Ankabut:65)
Syekh Muh. bin Abdul Wahhab رحمه الله mengatakan dalam kitab “Al-Qawaid Al-Arba’ah” : ”Bahwasanya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kemusyrikannya dari pada kaum musyrikin zaman dahulu, sebab kaum musyrikin zaman dahulu itu berbuat syirik dalam keadaan lapang, dan berbuat ikhlas (memurnikan tauhid) dalam keadaan terjepit, sedangkan kaum musyrikin zaman kita sekarang ini tetap saja selalu berbuat kemusyrikan dalam keadaan lapang maupun susah”
Adalah hal yang membudaya bahkan dianggap peribadatan yang sangat afdhal, adalah bahwa pada bulan-bulan atau hari-hari tertentu, misalnya: menjelang Ramadhan, se-belum atau sesudah ‘Ied atau bulan-bulan/ hari-hari lain, banyak orang-orang Islam berbondong-bondong dari berbagai tempat ke kuburan-kuburan para syaikh, kyai, orang-orang sholeh atau yang dinggap wali oleh mereka untuk berziarah. Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dengan mencurahkan tenaga fikiran dan harta, tidak peduli berapa banyak harta yang akan terbuang untuknya, padahal orang yang paling suci dan paling terhormat, yaitu Rasulullah  telah bersabda:
 لاَ تُشَدُّ الرِّحَّالُ إِلاَّ إِلَى ثــــَلاَ ثــــَةِ مَسـَاجـِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَ مَسْجِدِ اْلأَقْصَى متفق عليه
“Jangan kamu mengharuskan berpergian (untuk ibadah/ berziarah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Dengan demikian hanyalah kepada ketiga masjid yang disebut di hadits di atas dibolehkan bagi kita untuk bersusah payah untuk berziarah, sedangkan selainnya adalah termasuk hal yang dilarang oleh Rasulullah .
Maka melakukan safar (perjalanan) dalam rangka berziarah ke kuburan-kuburan orang yang dianggap wali itu sudah merupakan pelanggaran atau dosa apalagi ternyata ziarah ke kuburan-kuburan para wali itu dimaksudkan untuk meminta-minta barakah, syafa’at dan agar dimudahkan rizkinya atau dimudahkan mendapat jodoh, atau agar diangkat darinya kesulitan-kesulitannya dll. Jika demikian halnya maka jelas perbuatan-perbuatan tersebut adalah syirik akbar, apabila ia tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya dan dia kekal di dalam neraka –wal’iyadzu billah- Allah  berfirman :
 إِنَّ اللهَ لاَ يـــَغــْفِرُ أَنْ يُشـْرَ كَ بــــِهِ وَيـَغـْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يـــَّشَاءُ  النساء : 48
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya"(QS. An-Nisaa’: 48)
2. Penyembelihan (kurban) untuk selain Allah . Sebab penyembelihan kurban merupakan salah satu bentuk ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah , Rasulullah  bersabda :
 لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبــَحَ لــِغـَـيْرِ اللهِ  رواه مسلم
“Allah melaknat orang yang menyembelih bukan karena Allah" (HR. Muslim)
Siapa saja yang menyembelih untuk para wali, berhala atau jin, berarti telah keluar dari Islam dan beralih memasuki wilayah kekufuran dan kesesatan disebabkan ia telah memalingkan ibadah kepada selain Allah .

B. Syirik Ashghar (Kecil)
Syirik ashghar adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dinyatakan syirik oleh syara’. Pelakunya kelak akan di adzab di neraka namun tidak menjadikan pelakunya kekal di dalamnya dan kembalinya tetap ke syurga akan tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah atau perantara kepada syirik besar, hingga wajib diwaspadai. Diantara jenis syirik kecil adalah :
1. Bersumpah kepada selain Allah  dengan tidak bermaksud mengagung-kannya, namun jika bertujuan menga-gungkannya, maka hal itu berubah menjadi syirik besar, seperti per-kataan “Demi Rasulullah” atau “Demi Ka’bah”, dll. Rasulullah  bersabda:
 مَنْ حَلَفَ بــــِغـــَـيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ رواه أحمد و أبو داود و الترميذي
“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir atau syirik” (HR. Ahmad, Abu Daud dan At Tirmidzi)
Namun jika terpaksa harus bersumpah maka bersumpahlah de-ngan asmaa (nama-nama) Allah  atau sifat-sifat-Nya, sebagaimana Rasulullah  bersabda :
 إِنَّ اللهَ يَنـْهـَاكُمْ أَنْ تـَحْلِفُوْا بــــِآ بـَائـِكُمْ, مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيـــَحْلِفْ بـِاللهِ أَوْ لـِيَصْمُتْ  رواه البخاري
“Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan bapak-bapak kalian, barang siapa yang bersumpah maka hendaklah ia bersumpah demi Allah atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari)
2. “Riya” yaitu melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah , tetapi juga ia ingin mendapatkan pujian manusia misal-nya dengan membaikkan shalatnya atau bersedekah agar dipuji dan disanjung karenanya. Rasulullah  bersabda :
 أَخْـوَفُ مَا أَخَافُ عَلَـيْكُمُ الشــِّـرْكُ اْلأَصْـغَرُ قَالُوْايــــَـارَسُوْلَ اللهِ: وَ مَا الشـــِّـرْكُ الأَصْـغَرُ؟ قَالَ:  الرِّ يـــَاءُ رواه أحمد والطبراني والبغوي في شرح السنة
“Yang paling aku takuti dari kalian adalah syirik kecil", mereka bertanya wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Beliau menjawab, yaitu “Riya” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah)
Al-Allamah Ibnu Al-Qayyim رحمه الله berkata: “…dalam melakukan mu’amalah maupun ubudiyahnya, ia (orang yang berlaku riya’-pen) tidak mengkhususkan-nya hanya untuk Allah, ada yang ditujukan buat diri dan hawa nafsunya, ada yang ditujukan untuk syaithan dan ada pula yang diperuntukkan buat manusia lainnya. Ini merupakan keadaan kebanyakan manusia”.
Kita memohon kepada Allah  untuk dijauhkan dari perbuatan syirik. Rasulullah  mengajarkan sebuah do’a kepada ummatnya agar berlin-dung dari bahaya syirik.
 اَللَّهُمَّ إِنــــَّــا نــَعـُوْذُبـــِكَ مِنْ أَنْ نــُشْرِكَ بـــِكَ شـَـيْئـــ‎ـًـا نــــَعْلَمُهُ وَ نـــَسْتــَـغْفِرُ كَ لِمَا لاَ نـــَعْلَمُ رواه أحمـد
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedang kami mengetahuinya dan kami memohon ampun kepada-Mu (atas dosa syirik yang kami lakukan) sedang kami tidak mengetahui-nya.” (HR. Ahmad).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

-Abu Abdirrahman-

Maraji’ kitab terjemah :
1. At-Tibyan, Syarah Nawaqidh Al-Islam, Syaikh Al Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
2. At-Tauhid Lish Shafits Tsalis Al- ‘Ali, Shalih Bin Fauzan Bin Abdullah Al Fauzan.
3. Kitab At Tauhid, Muhammad bin Abdul Wahhab




Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com



Artikel Terkait:

0 komentar:

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP