..::::::..
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri manipulasi jr. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri manipulasi jr. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Manipulasi Jalaluddin Rakhmat

Ketidakjujuran JR dengan memanipulasi dalil untuk menguatkan pendapatnya serta mengada-ada, seperti;
- JR telah menulis buku “Al-Mushthafa”, makalah “Adalah Sahabat” dan bulletin “At-Tanwir” ternyata didalamnya terdapat kebohongan, ketidakjujuran bahkan menunjukkan kebodohan JR sendiri, contoh:
1. Dalam buku Al Mushthafa hal, 92, JR menyebutkan riwayat Aisyah ra bahwa ketika Rasulullah Saw wafat , Abu bakar ra berada di Sunh, suatu tempat kira-kira beberapa puluh kilometer diluar kota madinah. Ternyata jaraknya hanya 1 (satu) mil dari masjid Nabawi. ini dusta dan penipuan JR

2. Al Mushtafa, hal. 92, JR menulis; kontradiksi perilaku Rasulullah saw dalam salatnya. Dalam hadis Bukhari no 713 tersebut: Rasulullah jalasa ‘an yasaari Abi Bakr, duduk disebelah kiri Abu Bakar. Dalam hadis no. 683 fa jalasa Rasulullahi hidzaa-a Abi Bakr, Rasulullah saw duduk dihadapan Abu Bakar ra. Dalam hadis no. 664 Rasulullah saw duduk disebelah kanan Abu Bakar ra. Masih dalam shahih Bukhari dan hanya diantarai oleh beberapa halaman saja. Ini kontradiksi, satu hidza’a (dihadapan) satu ‘an yasaari (disebelah kiri) dan riwayat satu lagi ‘an yamiini (disebelah kanan), Pada hal. 93, JR mengatakan: jadi kalau kita menemukan hadis-hadis yang seperti itu, maka dengan terpaksa kita meragukan kebenaran peristiwa itu terjadi; dalam peribahasa Belanda dikatakan bahwa kebohongan tidak punya kaki, ia goyah. Berbohong itu sukar dan kebohongan biasanya hanya bisa dipertahankan melalui kebohongan. Karena itu dalam berita bohong dengan mudah kita temukan inkonsistensi. Dalam ilmu hadis, inkonsistensi riwayat-riwayat seperti itu disebut sebagai idhthirab. Hadisnya disebut mudhtharib dan hadis mudhtharib termasuk hadis dhaif. Sebetulnya apa yang kita lakukan ini tidakmengada-ada karena para ulamapun sudah melakukannya sejak lama. Demikian paparan JR,
Sepintas lalu data ini sangat meyakinkan apalagi ditopang dengan ilmu mushthalah hadis yang akurat. Ternyata ini juga kedustaan, penipuan serta keberanian mengada-ada. Ternyata JR mengartikan hidza’a Abi Bakr, duduk di hadapan Abu Bakar, dengan sengaja membuang kata “ilaa janbih” karena hadis itu berbunyi: hidzaa’a Abi Bakr ilaa janbih (Nabi saw duduk sejajar Abu Bakar ra di sampingnya). Dan yang paling fatal, keberanian mengada-ada dengan kata: ‘an yamiini (disebelah kanan) katanya pada hadis no. 664. Padahal yang tertulis dihadis no. 664, ialah hatta jalasa ilaa janbih (sehingga ia duduk disampingnya), sama sekali tidak terdapat kata ’an yamiyni. Naudzubillah
3. Dalam buku Al Mushthafa, hal. 166, JR menulis; jadi asumsi kita selama ini bahwa Usman memiliki keistimewaan dua cahaya karena dia memiliki dua orang istri yang keduanya putri Rasulullah, terpaksa harus kita mansukh (hapus). Dua orang itu ternyata dua putri asuh (rabiybah Rasulullah). Juga JR menulis pada hal 164, memang ada Ruqayyah yang menikah dengan Usman. Juga ada Ummu Kaltsum yang menikah dengan Usman. Tapi semuanya lahir sebelum bi’tsah. Padahal, ahli tarikh sepakat bahwa putri-putri Rasulullah lahir setelah bi’tsah. Juga JR menulis alasannya dengan mengutip kitab riwayat dari kutub al Ansab, hal 157 dan 158, oleh Mash’ab Al-Zubairi (terlampir) kesimpulan dari riwayat tersebut Ruqayyah dan Zainab yang menikah dengan Usman bin Affan ra bukan putri-putri Rasulullah (hal. 165)
Astaghfirullah, JR begitu berani membantah sesuatu yang sudah disepakati kaum muslimin (ijma’ para ulama dari dahulu sampai sekarang. Yang menjadi pertanyaan: 1. Ahli tarikh siapa yang sepakat bahwa putri-putri Rasulullah lahir setelah bi’tsah. 2. Kenapa JR tidak mengutip dari dari Az-Zahabi (1274-1348) yang mengakui Usman ra sebagai suami dari dua putri Nabi saw (terlampir). Atau Ibnu Saad yang menulis dalam bukunya; Thabaqaat Al Kubraa, Jilid 3 hal 56 ; Nabi saw menikahkan Usman dengan putrinya Ruqayyah. Lalu Rukayyah meninggal dunia, maka Nabi saw menikahkannya dengan putri beliau yang kedua yaitu Ummul Kaltsum, lalu iapun meninggal dunia, maka Usman disebut dzun nurain (mempunyai dua cahaya). Karena belum ada seseorang yang menikahi 2 putri Nabi sebelumnya dan sesudahnya kecuali Usman ra. Bersabda Rasulullah saw setelah Ummu Kaltsum pun wafat; Andaikata aku mempunyai putri yang ketiga, niscaya aku nikahkan dia dengan Usman atau dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabar: sesungguhnya Usman orang yang paling serupa denganku, akhlaknya, bentuk dan penampilannya. Dialah dzun nurain, aku menikahkannya degann dua putriku. Dia di surga bersamaku seperti ini, dan Nabi saw menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya. Inilah hadis dan riwayat ahli sejarah yang terkenal dan dipercaya, maka nampaklah ketidakjujuran JR
4. Dalam kitab Al Mushthafa hal 138 JR menuls: Sufyan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizaan I’tidal sebagai ; “Innahu yadallis wa yaktubu minal kadzdzaabin, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan dari para pendusta. Ternyata disini tampak lagi kecurangan JR dan melakukan pembodohan publik, karena ternyata dalam kitab yang dikutipnya. tertulis; wa laa ibrata liqauli man qaala: innahu yadallis wa yaktubu an al-kadzdzaabiin. Artinya: dan tidak perlu diperhatikan perkataan orang yang mengatakan: (Sufyan) melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Jadi yang digelapkan dan dibuang oleh JR, kata: wa laa ibratah liqauli man qaala..” sehingga artinya berbalik 180 derajat.La haula wala quwwata illa billah. Di halaman 145 JR menulis: Az Zuhri termasuk yang sangat membenci Imam Ali. Ibnu Abi al Hadid memasukkannya dalam kelompok pencipta hadits maudhu’ (palsu). Ibnu syihab tidak terdapat dalam kitab rijal. Ternyata ini mengada-ada, karena Az Zuhri dan Ibnu Syihab orang yang sama.
5. Muawiyah ra menurut JR didalam buku “ Al Mushthafa “ adalah seorang yang curang, licik, kejam, biadab, pendengki, termasuk dengki kepada Nabi saw, fasik, kafir, telah dilaknat oleh Nabi saw.

Di hal. 9 JR menulis: Muawiyah berusaha mengubah tarikh Nabi saw dengan meyebarkan versi tarikh mereka dan membungkam versi tarikh lain. Masih di halaman yang sama JR menulis; pada waktu itu, yang paling menderita adalah penduduk Kufah karena kebanyakan dari mereka adalah pengikut imam Ali as. Lalu Muawiyah menugaskan Ziyad bin Sumayyah untuk memerintah di Kufah berikut Basrah. Ia mengenal orang-orang Syiah karena pada zaman Ali ia pernah bergabung sama mereka. Ia mengejar Syiah dan membunuh mereka disetiap lembah dan bukit, meneror mereka, memotong tangan dan kaki, mencungkil mata, menyalibnya pada batang pohon kurma dan mengusir mereka sehingga tidak tersisa salah seorangpun dari mereka.
Pada hal. 11 JR menulis; kemudian Muawiyah menerbitkan lagi surat perintah keseluruh negeri, selidikilah orang-orang yang terbukti mencitai Ali dan Ahlul Baitnya. Hapuskan nama mereka dari daftar. Putuskan tunjangan mereka. Bersama surat perintah ini Muawiyah melengkapinya dengan naskah yang lain. Siapa yang kalian curigai mencintai kaum tersebut, hukumlah dia dan hancurkan rumahnya.
Pada halaman. 13 JR, Muawiyah berusaha mendiskreditkan Rasulullah saw dan keluarganya karena ada kaitannya dengan Bani Hasyim. Dia menyewa beberapa ulama atau mufti dari para sahabat Nabi untuk memutar balikkan peristiwa tentang Rasulullah.

Pada hal 16 JR menulis; Muawiyah berkata: ….lalu tengoklah saudara Hasyim. Namanya disebut lima kali sehari-Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Lalu tindakan apa lagi yang masih kita lakukan? Tidak demi Allah sampai mati sekalipun. Pada hari yang lain Muawiyah mendengar azan. Ia berkata; demi Allah, wahai putra Abdullah, engkau betul-betul ambisius. Hatimu belum puas sebelum namamu didampingkan bersama nama Tuhan Alam Semesta (maksudnya Muawiyah tidak senang dan geram mendengar nama Nabi saw selalu disebut-sebut dikala adzan dikumandangkan) (penj.). Muawiyah ingin menghapuskan semua hal yang berhubungan dengan Nabi saw. Ia gagal. Tapi ia berhasil mendiskreditkan Nabi saw dengan kisah kisah yang diciptakan oleh pengikutnya
Pada hal 24, JR sengaja mengutip perkataan Ibn Abi al Hadid: “ Banyak diantara sahabat kami mengecam agama Muawiyah. Mereka tidak hanya menganggapnya fasik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia kafir karena tidak meyakini kenabian
Pada hal 73-74, JR menulis; lalu siapakah yang pernah dilaknat oleh Rasulullah saw? Tidak mungkin disini kita menyebut semua orang yang dilaknat Nabi saw. Sebagai contoh Rasulullah saw pernah melaknat Abu Sufyan, Muawiyah dan Amr bin Ash. Setelah Nabi saw meninggal dunia mereka menjadi penguasa. Ketika menyebar hadis yang melaknat mereka, mereka keluarkan hadis bahwa yang dilaknat Nabi saw itu akan memperoleh ampunan, rahmat dan pensucian Allah. Dalam shahih Muslim diriwayatkan kutukan Rasulullah kepada Muawiyah, “Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”. Konon ia mati karena kebanyakan makan. Bandingkan keterangan JR ini dengan tulisan Muhibbuddin al Khatib dalam bukunya; Maa al Ra’iyl al Awwal, hal. 176-179 dan hal 212 (terlampir) dimana disebutkan kelebihan dan pujian terhadap Muawiyah ra dengan tetap meyadari bahwa ia adalah manusia biasa yang ada kesalahan dan kekeliruannya. Didalam tulisan tadi disebutkan tentang Muawiyah ra :
a. Muawiyah ra dan tentaranya yang telah meyerang dan merebut Ciprus pada tahun 27 H yang dimasa pemerintahan Utsman ra. telah dilihat Nabi saw dalam mimpinya sebagai umatnya yang akan berjuang dijalan Allah dengan mengarungi laut (HR. Bukhari) (hal 176)
b. Umair bin Sa’ad ra melarang membicarakan Muawiyah ra kecuali dengan baik karena beliau yang telah didoakan Nabi: Ya Allah berilah petunjuk (manusia) dengannya. (hal 177)
c. Berkata Saad bin Abi Waqqash: “ saya tidak melihat seseorang sesudah Utsman yang paling (baik) memutuskan (perkara) berdasarkan kebenaran, lebih dari pada pemilik pintu ini (Muawiyah) (hal 177)
d. Abu Darda ra berkata kepada penduduk negeri Syam; saya tidak melihat seseorang yang shalatnya menyerupai shalat Nabi lebih dari shalatnya imam kamu ini (maksudnya Muawiyah) (hal 177)
e. Berkata Abdullah bin Abbas ra: Saya tidak melihat seorang laki-laki yang paling pantas menjadi raja , lebih dari Muawiyah (hal. 178)
f. Ibn Abbas ra berkata; Dia itu faqih (dia maksudnya Muawiyah ra). ( hal 178)
g. Nabi saw mendoakannya. Ya Allah jadikanlah ia (dapat) memberi petunjuk, yang ditunjuki dan berilah petunjuk dengannya (HR. Tirmidzi) (hal. 178)
h. Nabi saw mendoakannya; Ya Allah, ajarkanlah kepadanya kitab dan hisab serta jagalah ia dari azab (HR. Thabrani), dan dalam riwayat Bisyr bin as Sirry, ditambah (doa tadi) : dan masukkanlah ia ke dalam surga. (hal. 178)
i. Berkata Abdullah bin Amr bin Ash ra; Saya tidak melihat seseorang yang paling pandai memerintah lebih dari Muawiyah ra. Berkata Jabalah bin Sahim; aku berkata: Dan tidak juga Umar ra (lebih pandai memerintah dari Muawiyah ra?). ia berkata : Umar ra lebih baik dari Muawiyah ra, tapi Muawiyah ra lebih pandai memerintah dari Umar ra (Ibnu Katsir dalam tarikhnya) (hal. 179)
j. Berkata Qatadah: Andaikata kamu berada dalam kekuasaanya (Muawiyah ra), maka kebanyakan kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Abu Bakar al Atsram dari Ibnu Baththah.) (hal. 179)
k. Berkata Mujahid : Andaikata kamu mendapati (pemerintahan) Muawiyah ra, niscaya kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Ibnu Baththah) (hal. 179)
l. Berkata al A’masyi: Bagaimana andaikata kamu mendapati Muawiyah. Mereka berkata: tentang kelembutannya?, Ia berkata: tidak, demi Allah, bahkan tentang keadilannya (HR. al Atsram.) hal 179
m. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: tidak ada di antaraa raja-raja Islam yang lebih baik dari Muawiyah ra dan tidak pernah manusia pada pemeritahan satu raja dari raja-raja islam yang lebih baik dari pada manusia pada pemerintahan Muawiyah ra (hal. 179)
n. Imam Mujahid Abdullah bin Mubarak (118-177 H) ditanya: mana yang lebih mulia, Muawiyah bin Abi Sufyan ra atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Debu yang masuk ke dalam hidung Muawiyah bersama Rasulullah SAW lebih utama dari seribu Umar bin Abdul Aziz. Muawiyah telah shalat di belakang Nabi SAW, lalu Rasulullah SAW membaca sami’allahu liman hamidah lalu Muawiyah ra berkata: Rabbana walakal hamdu, maka adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari ini? (hal. 212)
Mana yang kita pilih, apakah keterangan para Ulama’ yang terkenal dan jujur dengan ditopang oleh dalil yang kuat ataukah pendapat JR dalam bukunya “Al Musthafa” dari sumber yang tidak terkenal dan tidak ditopang dalil yang kuat?. Belum lagi kalau kita melihat ayat al Quran, surat al Fath, 29, bahwa sahabat itu ibarat bibit tanaman yang ditanam dan dirawat Nabi SAW, dengan pertumbuhan yang sangat menyenangkan beliau dan menjengkelkan orang-orang kafir ? Bukankah Muawiyah ra termasuk sahabat yang dididik langsung oleh Nabi SAW dimana beliau sangat gembira melihat hasil didikannya. Bukankah Ia dipercaya oleh Khalifah Umar ra dan Utsman ra sebagai gubernur di Syam? Kita akui bahwa ia bersalah karena berperang melawan Khalifah yang sah Ali ra, namun setelah ia menerima kekuasaan dari Hasan bin Ali ra, maka sisa hidupnya ia gunakan untuk memimpin kaum muslimin menuju kemakmuran hidup dan berjihad menyebarkan agama dan mengibarkan bendera islam di berbagai penjuru dunia. Muawiyah ra telah berhasil menghimpun kekuatan kaum muslimin sehingga dapat membangun kekuasaan Islam yang paling besar dalam sejarah Islam. Mulai dari tembok Cina di sebelah timur sampai ke perbatasan Eropa, sebelah barat.
6. Dalam buku “40 masalah Syiah” halaman 90, Emilia Renita, istri JR menulis: dengan merujuk kepada sabda Nabi SAW; “Fathimah belahan nyawaku, siapa yang menyakiti Fathimah, dia menyakitiku; siapa yang membuat murka Fathimah, ia membuat aku murka” (Shahih al Bukhari 5, hadits 3 dan 61; Shahih Muslim 4: 1904-1905) ) dan menurut Al Quran, Allah melaknat orang yang menyakiti Rasulullah saw, maka Syiah melaknat orang-orang yang menyakiti Fatimah.
Dr. Tijani dalam bukunya: Akhirnya Kutemukan Kebenaran berkata; kenapa beliau (Umar) tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah ra jika orang-orang yang didalamnya tidak mau keluar untuk membaiat (Abu Bakar ra),.ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada didalamnya, ia menjawab “sekalipun dia ada” (hal 115) dihalaman lain Dr. Tijani menulis : Fatimah ra juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian: aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah saw bersabda ; Keridhaan Fatmah adalah keridhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai putriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka ia telah membuatku rela , siapa yang membuat Fatimah marah, maka ia telah membuatku marah, “ ya kami telah mendengar dari Rasulullah saw” jawab mereka berdua. Lalu Fatimah ra berkata lagi: Sungguh, aku minta pesaksian Allah dan para malaikatNya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah saw maka pasti kusampaikan keluhanku padanya (ibid hal. 140)
Tentang Fatimah marah dan murka kepada Abu Bakar dan Umar, juga dikemukakan oleh JR dalam buku kecil yang berisi ceramah Asyuro bahwa: Fatimah telah marah kepada Abu Bakar karena Abu bakar tidak memenuhi permintaan Fatimah atas tanah Fadak yang diakui oleh Fatimah sebagai warisannya dari Nabi saw, jadi yang dimaksud oleh Emilia Renita tersebut diatas ialah Abu Bakar dan Umar itu dilaknat oleh Syiah, karena telah menjadikan Fathimah marah kepadanya.

Read More......

Kajian Ilmiah Pemikiran Keagamaan

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin dan setelah Shalawat kepada Nabi Muhammad saw, FOKUS (Forum Komunikasi Islam) bekerjasama dengan beberapa lembaga dan ormas di antaranya, LPPI Makassar (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam), FUI (Forum Umat Islam), FPI (Front Pembela Islam), dan FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah) telah sukses mengadakan Dialog Terbatas dengan tema “Pemikiran dan Gelar Doktor Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat di UIN Alauddin dalam Timbangan” 29 Oktober 2011, di gedung Diklat Depsos Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar, dengan pemateri 1. Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (Ketua Dewan Syuro IJABI) 2. Dir. Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 3. KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc (Ketua LPPI/ Anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Sul-Sel), dan 4. KH. Muh. Idrus Ramli (Tim Internalisasi Ahlu Sunnah wal Jamaah PW. Nahdlatul Ulama Jawa Timur) yang dihadiri oleh utusan-utusan ormas-ormas Islam, Lembaga, Masjid se kota Makassar.

Meskipun pemateri dari IJABI yaitu Jalaluddin Rakhmat (selanjutnya disebut JR) dan utusan dari UIN Alauddin tidak hadir, dialog terbatas tetap dilaksanakan dan berjalan dengan sukses yang ditandai dengan selesainya acara ini secara damai, para hadirin satu kata dalam aqidah Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah, ini sesuai dengan semboyan yang harus selalu kita dengung-dengungkan “satu kata dalam aqidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah”, dan menghasilkan rekomendasi yang akan dibawa ke Gubernur, DPRD, Kepolisian, dan Kehakiman.

Namun ketidakhadiran dua pemateri tersbut sebenarnya merugikan mereka karena terkesan mereka takut untuk menyampaikan argumen mereka di hadapan audiens.
Acara kedua adalah Tabligh Akbar dilaksanakan di Masjid Raya Makassar, 30 Oktober 2011, dengan pemateri 1. KH. Muh. Said Abd. Shamad, 2. KH. Muh Idrus Ramli, 3. Ir. H. Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar, pemateri terakhir berhalangan hadir dikarenakan kondisi kesehatan beliau yang kurang fit dari perjalanan umrah. Namun itu tidak mengurangi kualitas isi dan bobot yang disampaikan oleh kedua pemateri di atas, Tabligh Akbar ini bertemakan “Meneladani Nabi Ibrahim AS dalam Menjaga Umat dari Penyimpangan Aqidah”

Bukti kecurangan ilmiah Jalaluddin Rakhmat

Di dalam Dialog Terbatas di gedung diklat depsos tersebut terungkaplah berbagai kecurangan ilmiah JR, yang dibawakan oleh KH. Muh Idrus Ramli, bahwa dalam kajian ini kita sedang tidak mengkaji aqidah, namun dari segi keilmiahan yang jika seorang mahasiswa menulis skripsi seperti buku yang dibanggakan JR, Al Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, maka ia akan di-DO (Drop Out), karena tidak memenuhi dua kode etik ilmiah yang sudah disepakati oleh para ulama, “in kunta qa’ilan fad dalil wa in kunta naqilan fas shihhah” jika anda mengemukakan sebuah klaim, komentar, dan hasil panelitian maka harus mendatangkan dalil dan jika anda menukil sebuah perkataan maka haruslah shahih.

Agama dijual untuk mencari uang

Pada Tabligh Akbar di Masjid Raya, KH. Muh Idrus Ramli mengungkapkan kenyataan di balik penyebaran ajaran Syiah di Indonesia, Syiah disebarkan di Indonesia bukan uuntuk tujuan Syiah-isasi tapi untuk tujuan mencari uang, banyaknya jumlah yayasan dan lembaga Syiah di Indonesia tidak menunjukkan banyaknya pemeluk Syiah, namun agar uang yang digelontorkan oleh Syiah bias lebih banyak lagi. “agama dijual untuk mencari uang” kata beliau, buktinya adalah kejadian yang terjadi di Jember sekitar delapan bulan yang lalu, orang Syiah di kota tersebut mengadakan acara Zikir Akbar yang tidak memakai simbol Syiah sama sekali dan pesertanya adalah warga Ahlu Sunnah wal Jamaah yang dijemput oleh orang Syiah dengan mobil di kampung-kampung mereka. Yang hadir sekitar seribu orang. Kemudian difoto dan fotonya itu dikirim ke Iran sebagai bukti gencarnya Syiah-isasi di Indonesia. sehingga uang yang mengalir semakin lancar. Inilah salah satu bentuk Imperialisme baru, datangnya orang timur dari Iran menjajah aqidah umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Bahkan kata KH. Muh. Idrus Ramli, ada seorang ustadz Syiah, saking tidak lakunya di jawa timur ia menempel poster-poster tentang dirinya agar diundang dalam ceramah-ceramah agama secara gratis bahkan kalau diperkenankan sang ustadz yang akan menyumbang.

Jelas mereka-mereka itu para musuh agama yang berjuang bukan untuk Izzul Islam wal Muslimin namun memakai pakaian agama untuk mencari uang. Ini pun dengan berbagai kedustaan, kebohongan public dan manipulasi data.

Muhammadiyah dan NU bersatu menolak Syiah

Dalam kedua acara yang telah dilaksanakan oleh beberapa Ormas dan Lembaga Islam tersebut kedua pemateri telah memperlihatkan ukhuwah yang luar biasa, meskipun keduanya aktif dalam dua organisasi berbeda, KH. Muh. Said Abd. Shamad memuliakan KH. Muh Idrus Ramli dengan menyebutnya sebagai guru kita, begitu pun sebaliknya KH. Muh Idrus ramli memuliakan KH. Muh Said Abd. Shamad.

Dalam Muqaddimah materi yang disampaikan oleh KH. Muh Idrus Ramli di Gedung Depsos, menjelaskan alasan beliau datang dengan memakai atribut NU Jawa Timur. Alasannya karena sebagian besar orang di Indonesia menganggap NU tidak berseberangan dengan Syiah. Padahal justru sebaliknya, sebagai bukti otentik adalah hasil scan kitab KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri NU, yang berbahasa arab menyebutkan Syiah-lah yang menghadang dakwah Islam ahlu sunnah wal jamaah di Indonesia.

KH. Muh. Said Abd. Shamad pun demikian. Beliau memakai atribut Muhammadiyah sul-sel untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa sebenarnya Ormas Islam tidak setuju dengan aqidah yang dibawa oleh agama Syiah. Karena kita “bersatu dalam aqidah, toleransi dalm furu’ dan khilafiyah”


oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Debat Sunni-Syiah, Menguak Manipulasi Data yang dilakukan Jalaluddin Rakhmat

Sunni: Ust. H. Rahmat Abd. Rahman, Lc. MA
Syiah: Jalaluddin Rakhmat

Video debat ini akan mengungkap betapa liciknya JR melakukan kecurang ilmiah dalam rangka propaganda aliran Syiah

terbuktilah betapa pendustanya tokoh Syiah yang satu ini (JR)


silakan lihat Video debat Sunni Syiah secara lengkap di:
http://www.youtube.com/results?search_query=debat+sunni+syiah&aq=o

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Kampanye Mengkritik al-Quran

Minggu, 10 Oktober 2004


Di Indonesia, belakangan banyak orang keranjingan Abu Zayd. Mereka seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu "si tukang sihir". CAP ke-73 Adian Husaini, MA

Entah nasib apa yang menimpa Dunia Islam dan umat Islam Indonesia khususnya pada hari-hari ini. Serangan dan kritikan bertubi-tubi terhadap Islam, Kitab Sucinya, dan umatnya bukan saja datang dari mereka yang secara logika sepatutnya membenci dan memusuhi Islam. Tetapi, kadangkala, serangan dan kritik itu justru dari kalangan kaum Muslim sendiri. Bahkan, dari mereka yang mengaku sebagai intelektual Muslim dari satu organisasi Islam tertentu.

Senin, 04 Oktober 2004, seorang yang menyebut dirinya dari “Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah” menulis artikel di Harian Republika, dengan judul “Islam dan Pertarungan Rezim Intelektual”. Pada umumnya, tulisan itu mendukung gagasan Nasr Hamid Abu Zayd tentang penggunaan hermeneutika untuk al-Quran. Berikut ini kutipan sebagian artikel tersebut: “Di mata kalangan Islam ortodoks, al-Quran adalah sabda Tuhan yang abadi. Dia selalu ada sebagai sifat Tuhan, dan tidak pernah diciptakan, karena sifat Tuhan adalah sesuatu yang melekat dalam diri Tuhan dan Tuhan tidak menciptakan sifat-sifat itu. Bahwa teks abadi ini telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad pada abad ke-7 masyarakat Arab sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menampakkan makna al-Quran, yang merupakan sebuah kitab yang harus dibaca secara literal dan selalu benar di sepanjang masa. Akibatnya, tidak ada tradisi kritisisme tekstual terhadap al-Quran yang sama dengan Bibel Hebrew dan Perjanjian Baru (New Testament).”

Jika dicermati, tulisan itu rancu, secara intelektual. Solah-olah, orang Islam yang tidak mengikuti tradisi kritisisme tekstual terhadap al-Quran adalah Islam ortodoks, karena tidak mau mengikuti jejak Yahudi dan Kristen. Jadi, yang mengikuti jejak Yahudi dan Kristen bukan Muslim ortodoks. Lalu, orang Islam yang mengikuti jejak Yahudi dan Kristen itu disebut apa? Muslim yang maju? Muslim yang modern? Muslim yang terbuka? Muslim yang progresif? Atau apa? Kata ortodoks, sebenarnya berasal dari bahasa Yunani “orthodoxos”, yang artinya “having the right opinion” atau “mempunyai pendapat yang benar”. (orthos: straight, correct). Tapi, kata ini sekarang dipersepsikan sebagai “kolot, anti-kemajuan”, dan sejenisnya.

Diskusi tentang al-Quran, kalam Allah, dan sifat Allah telah menjadi perdebatan sengit antara Mu’tazilah dan Ahlu Sunnah. Mu’tazilah berpendapat, bahwa al-Quran adalah makhluk, sebagai bagian dari konsep mereka tentang penyucian Allah dari sifat tasybih, yaitu menyerupakan Dzat dan sifat Allah dengan makhluk-Nya. Dengan demikian pemikiran khalq al-Qur’an Mu’tazilah sebenarnya untuk memperkuat konsep tanzih yang menyangkal keberbilangan Yang Qadim. Konsep Mu'tazilah sebenarnya merupakan respon yang menyangkal ekstrimitas madhhab tasybih. Namun, pada akhirnya mereka juga terjebak dalam bentuk ekstrimitas yang lain. Sebab, konsep ini telah menafikan keberadaan sifat, ketika mereka menyatukannya dengan dzat (al-sifat ‘ainu al-dzat). (Lihat artikel “Studi Komparatif: Konsep al-Quran Nasr Hamid dan Mu’tazilah”, Majalah Islamia No 2).

Konsep al-Quran Mu’tazilah itu sama sekali berbeda dengan konsep al-Quran sebagai “produk budaya” Abu Zayd. Sebab, konsep Abu Zayd, adalah konsep yang jauh lebih ekstrim dari Mu’tazilah dan mendekati konsep kaum Kristen terhadap Bible mereka. Dari konsep Kitab Suci sesuai Bible ini, maka akan berkembang pula konsep penafsiran metode hermeneutika yang juga berkembang dalam tradisi Kristen. Fenomena ini tidak kita jumpai dalam perjalanan tradisi intelektual Mu’tazilah. Mu’tazilah tidak mengembangkan tradisi kritik teks al-Quran (naqd al-khithab), sebagaimana dilakukan kaum Yahudi dan Kristen terhadap Kitab Suci mereka. Masalah ini perlu ditekankan, agar kita tidak terjebak dengan anggapan sepintas, seolah-olah pemikiran Abu Zayd tentang “textual criticism” terhadap al-Quran adalah kelanjutan dari tradisi pemikiran di kalangan Muslim. Dulu, di zaman Khalifah al-Ma’mun, Imam Ahmad bin Hanbal menjadi tokoh Ahlu Sunnah yang rela dipenjara dan disiksa karena menentang konsep Mu’tazilah yang dipaksakan penguasa.

Saat ini, seluruh umat manusia juga dipaksa oleh “penguasa dunia” (negara adidaya) untuk menerapkan sekularisme - ideologi Nasr Hamid Abu Zayd. Sekedar menyegarkan ingatan kita, salah satu gagasan sentral Abu Zayd yang kontroversial adalah konsepnya tentang al-Quran, yang ia tekankan sebagai “produk budaya”, “teks historis”, “teks linguistik”, atau “teks manusiawi”. Meskipun tidak menafikan unsur ilahiah (divinity) al-Quran, Abu Zayd memandang teks al-Quran sudah “memanusiawi” dan masuk dalam kerangka teks historis dan budaya Arab. Abu Zayd masuk dalam diskursus teks, sebab sebagai hermeneut (pengaplikasi hermeneutik) dalam interpretasi al-Quran, ia harus melakukan “dekonstruksi” dan “deabsolutisasi” konsep al-Quran sebagai “the word of God” (dei verbum), yang menjadi mainstream pemikiran Muslim (ahlu sunnah). Ia tulis buku-buku yang mengupas persoalan teks dan kritik terhadapnya, seperti “Mafhum al-Nash al-Dirasah fi Ulum al-Quran” dan “Naqd al-Khithab al-Dini”.

Di sinilah Abu Zayd kemudian menempatkan Nabi Muhammad saw -- penerima wahyu -- pada posisi semacam “pengarang” al-Quran. Ia menulis dalam bukunya, Mafhum al-Nash, bahwa al-Quran diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada seorang Muhammad yang manusia, dan merupakan bagian dari sosial budaya dan sejarah masyarakatnya.

Dalam tradisi hermeneutika Bible, analisis terhadap kondisi psiko-sosial penulis Bible memang memungkinkan. Sebab, masing-masing Bible memang ada penulisnya. Tetapi, siapakah pengarang al-Quran? Dalam konsep Islam, Nabi Muhammad saw, sebagai seorang ‘ummiy, adalah penerima pasif wahyu. Konsep bahwa teks al-Quran adalah “spirit wahyu dari Tuhan” identik dengan konsep teks Bible, bahwa “The whole Bible is given by inspiration of God”. Pendapat Abu Zayd, menurut Dr. Gerard R. Wiegers, dosen Universitas Leiden, memang melewati batas pemahaman al-Quran yang mapan.

Konsep Abu Zayd tentang al-Quran berdampak pada metode penafsiran al-Quran yang dia ajukan, yang menggunakan pendekatan historisitas-budaya. Ia berupaya menjebol konsep dan metode tafsir al-Quran Ahlu-Sunnah. Ia mencatat: “Kekeliruan yang mendasar pada sikap Ahlussunnah, dulu dan sekarang, adalah usaha mereka mengaitkan ‘makna teks’ dan ‘dalalah-nya’ dengan masa kenabian, risalah, dan turunnya wahyu. Ini bukan saja kesalahan ‘pemahaman’, tetapi juga merupakan ekspresi sikap ideologisnya terhadap realitas -- suatu sikap yang bersandar pada keterbelakangan, antikemajuan dan anti- progresivitas. Oleh karena itu kaum Ahlu Sunnah menyusun sumber-sumber utama penafsiran al-Quran pada empat hal: penjelasan Rasulullah saw, sahabat, tabi’in, dan terakhir yaitu tafsir bahasa.”

Benarkah Ahlu Sunnah mendukung keterbelakangan dan antikemajuan, seperti klaim Abu Zayd? Pendapat Abu Zayd seperti itu tentu saja bukan pendapat ilmiah yang didukung oleh data-data yang kuat. Selama ratusan tahun, kaum Muslim mengalami zaman keemasan dan mencapai kemajuan di berbagai bidang justru ketika mereka menganut pola pemahaman Ahlu Sunnah. Upaya untuk meruntuhkan konsep Ahlu Sunnah dilakukan Abu Zayd dengan menyerang sejumlah tokoh utamanya, seperti Imam al-Shafii, al-Ash’ari, dan al-Ghazali. Imam al-Syafii dituduhnya mengubah teks primer (al-Quran) menjadi teks sekunder (al-hadits), dan sebaliknya.

Abu Zayd, yang mengaku seorang sekular, bukan orang baru dalam membongkar konsep al-Quran. Arkoen dan Fazlur Rahman, sudah melakukan itu. Rahman menyatakan, dalam bukunya, “Islam”, bahwa “the Quran is entirely the Word of God and, in an ordinary sense, also entirely the word of Muhammad.” Arkoun, dalam bukunya “Rethinking Islam Today”, menyayangkan sarjana Muslim yang tidak mau mengikuti jejak kaum Kristen dalam melakukan kritik folosofis terhadap teks suci al-Quran. Pada 1927, pendeta Kristen Prof. Alphonse Mingana, menyatakan, “Sudah tiba saatnya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).”

Memang, studi kritik teks al-Quran tidak berkembang di kalangan Muslim. Bahkan, setelah Abu Zayd menulis buku “Kritik terhadap Teks Keagamaan” (Naqd al-Khithab al-Dini). Ini berbeda dengan pesatnya studi kritis teks Bible. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement”. Buku-buku karya Prof. Bruze M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bagaimana kuatnya tradisi kajian kritis terhadap Teks Bible. Juga, Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972). Ini bisa dipahami, sebab Bible menyimpan problematika tekstualitas yang rulit. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab (The Old Testament) ini masih misterius. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world).

Fenomena dalam tradisi Kristen itu sangat berbeda dengan apa yang terjadi dalam tradisi Islam. Kaum Muslim, sepanjang sejarahnya, tidak pernah menggugat atau mempersoalkan otentisitas teks al-Quran-- termasuk Mu’tazailah. Karena itulah, secara prinsip, teks al-Quran tidak mengalami problema sebagaimana problema teks Bible. Norman Daniel dalam bukunya, Islam and The West: The Making of an Image, menegaskan: “The Quran has no parallel outside Islam.”

Di kalangan Kristen, hanya kelompok fundamentalis saja yang masih percaya Bible sebagai “dei verbum”. Sebab itu, sangatlah aneh, jika ada sebagian kalangan Muslim yang membawa nama Muhammadiyah kemudian dengan bangganya mengecam kaum Muslim yang tidak mau mengkritisi al-Quran, sebagaimana kaum Yahudi dan Kristen mengkritisi Bible mereka.

Untuk memperjelas siapa dan bagaimana hubungan konsep Abu Zayd dengan konsep-konsep dalam tardisi Kristen-Barat, berikut ini beberapa kutipan dari buku “Meretas Kesarjanaan Kritis al-Quran: Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd” (2003), yang ditulis oleh seorang murid Abu Zayd di Universitas Leiden:

“Dia telah mengkritik para Muslim konservatif seperti Al-Imam al-Syafi’i, Al-Imam al-Asy’ari, Abu Hamid al-Ghazali (dari periode klasik), dan Sayyid Quthub, Hasan al-Banna, Muhammad al-Ghazali, Fahmi Huwaydi, Muhammad al-Baltaji, dan Ab al-Shabur Syahin (dari periode modern), dan juga para Muslim rasionalis klasik seperti Mu’tazilah dan Ibnu Rusyd (Averoisme), serta para Muslim liberal modern seperti Hasan Hanafi dan Muhammad Shahrour. Abu Zayd berupaya untuk memformulasikan sebuah perangkat metodologis yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi pembacaan-pembacaan ideologis atas teks-teks keagamaan. Dalam hal ini, pendapat Abu Zayd yang berkaitan dengan pembacaan ideologis mengingatkan kita kepada “hermeneutic of innocent” nya E.D. Hirsch, Jr, walaupun tak persis sama, yang sesungguhnya, menurut saya, tidak dapat lagi dipertahankan pada era pascaGadamer-- tokoh yang dianggap justru banyak mempengaruhinya.

Abu Zayd secara berulan-ulang mengatakan bahwa sebuah pembacaan ideologis dan subjektif atas al-Quran tidak lebih daripada manipulasi makna, yang bertentangan dengan objektivitas ilmiah. Bahkan, ideologi itu sendiri, menurutnya, adalah sebuah ‘penyakit’ yang harus diberantas. Pada titik ini, pengaruh konsep Marxis tentang ideologi, sebagaimana disinyalir oleh para penentangnya, bagaimana pun terbukti adanya. Para Marxis melihat ideologi sebagai sebuah ‘distorsi’ realitas, dan mereka juga mengkontraskannya dengan “kesadaran sejati” (true consciousness) “Kesadaran akan subjektivitas dan kecenderungan ideologis ini, menurut hemat saya, haruslah dimasukkan dalam asumsi-asumsi epistemologis. Subjektivisme dan kecenderungan ideologis bukanlah hal yang harus disingkirkan, namun malah harus dimasukkan sebagai faktor penting dalam membangun sebuah teori hermeneutika. Pada tingkat ini, kesadaran itu telah bekerja dalam level yang lebih riil, yakni level epistemologis. Upaya semacam ini tampaknya absen di dalam karya-karyanya”.

“Meskipun Abu Zayd sangat kritis terhadap pembacaan-pembacaan ideologis atas teks-teks keagamaan, sebagian besar tulisannya, pada kenyataannya, bersifat ideologis pula. Ada dua ideologi penting yang mendasari karya-karyanya, yaitu sekularisme dan akademisme, dengan tanpa mengatakan bahwa kedua ideologi ini, dan pengaruh dari keduanya, berdampak negatif. Saya hanya bermaksud menunjukkan bahwa, secara sadar atau tidak ideologi dan subjektivitas Abu Zayd hadir dalam tulisan-tulisannya.

Artinya, ‘klaim ideologis’ itu dapat dikenakan kepada siapa saja, karena ‘klaim’ itu sendiri merefleksikan ideologi tertentu. Sebagaimana tertulis dalam bab pertama, Abu Zayd memosisikan dirinya sebagai seorang intelektual Muslim sekularis. Meskipun dia mendefinisikan sekularisme sebagai sebuah “interpretasi sejati dan ilmiah atas Agama”, tidaklah berarti bahwa sekularisme bukan sebuah ideologi “Kepercayaan Abu Zayd akan otoritas nalar, objektivitas, dan akademisme membimbingnya untuk menjadi wakil sah dari pengikut rasionalis pencerahan modern. Namun, fakta bahwa dia terkadang mengadopsi konsep-konsep posmodernisme tidaklah terbantahkan. Fouad Ajami, misalnya, mengatakan, bahwa Abu Zayd sangat “at home dengan metode dan bahasa Michel Foucault dan Antonio Gramsci”, dan Edward Said mengatakan, bahwa “utang terhadap Foucoult adalah jelas” ketika Abu Zayd menggunakan konsep “wacana” dalam (buku) “Naqd al-Khithab al-Dini” (Kritik atas Wacana Keagamaan). Namun, tidak dapat dikatakan bahwa Abu Zayd bekerja dalam kerangka posmodernisme, yang justru menolak sentralitas nalar, objektivitas, dan akademisme, hal yang justru paling dibela Abu Zayd.

Lagi pula, dia tidak pernah menyatakan dukungannya terhadap posmodernisme, dan tidak pernah mengutip karya-karya posmodernis, meskipun, sebagaimana yang diakuinya, dia membaca beberapa karya itu.” (hal.158-161).

Salah satu produk hasil penggunaan metode hermeneutika ala Abu Zayd, misalnya, adalah pendapatnya, bahwa jin dan setan tidak ada dalam realitas dan hanya ada dalam mitos. Karena melihat wahyu sebagai proses evolusioner transformasi dari sebuah pandangan dunia mitologis kepada pandangan dunia rationalistik, maka di akhir analisisnya tentang jin, setan, sihir, dan hasad, Abu Zayd berkesimpulan, bahwa semua itu pada hekikatnya bersifat mitologis, “hidup” dalam konsep mental saja, dan tidak ada dalam realitas. (hal. 119). “Pengaruh Ferdinad de Saussure jelas dalam interpretasi tentang kekuatan-kekuatan jahat di atas, khususnya yang terkait dengan tanda-tanda linguistik. De Saussure berpendapat bahwa “tanda-tanda linguistik bukanlah hubungan (link) antara sebuab benda dengan sebuah nama, namun antara sebuah konsep dengan sebuah pola suara.” (hal. 126).

Membaca kesimpulan dan analisis murid Abu Zayd di Leiden tersebut, maka tidaklah berlebihan jika Dr. Syamsuddin Arif dalam artikelnya di Harian Republika (30 September 2004), yang berjudul “Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd” menulis: “Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika.

Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan -- untuk tidak mengatakan seluruhnya -- adalah gagasan-gagasan nyeleneh yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat”. Orang macam Abu Zayd ini cukup banyak. Ia jatuh ke dalam lubang rasionalisme yang digalinya sendiri. Ia seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh si tukang sihir.”

Wallahu a’lam.

(KL, 7 Oktober 2004).





Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP