..::::::..

MUNAFIQ (NIFAQ)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.
Hadirin ... Jama'ah Jum'ah Yang dimuliakan Allah

Allah Subhannahu wa Ta'ala Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Pengatur semesta, Maha Pemberi rizqi bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Oleh sebab itu Allahlah satu-satunya sembahan yang benar yang harus diibadahi oleh hambaNya. Manusia diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak lain agar manusia itu beribadah hanya kepada Allah semata.
Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manu-sia melainkan supaya mereka menyembahKu”.
Tetapi manfaat ibadah itu justru untuk kepentingan mereka yang beribadah itu sendiri dalam membentuk pribadinya menjadi orang yang bertaqwa.
Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah: 21)
Hadirin ... jama'ah Jum'ah yang dimuliakan Allah
Ada dua hal ini terlalu sering kita dengarkan sebagai musuh agama yaitu nifaq dan fisq, nifaq sudah menjadi musuh bebuyutan Islam sejak zaman Rasulullah saw, sedangkan fisq adalah tindakan yang keluar dari jalur ketaatan dalam beragama, maka untuk lebih jelasnya mari kita mulai dari pengertian dua hal tersebut.
Makna Nifaq
Secara bahasa, nifaq berarti lobang tempat keluarnya yarbu ( binatang sejenis tikus ) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain.
Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah tempat bersembunyi. ( al-Mu'jamul wasith 2/942 ).
Adapun nifaq menurut syara' artinya : menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.
Jenis nifaq
Nifaq terbagi menjadi dua jenis: nifaq I'tiqodiy dan nifaq amaliy.
Nifaq I'tiqadiy (keyakinan)
Nifaq I'tiqadiy adalah nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan ke-Islaman, tetapi dalam hatinya tersimpan kekufuran dan kebencian terhadap Islam.
Jenis nifaq ini menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari agama dan dikhirat kelak ia akan berada dalam kerak Neraka. Allah berfirman:
" Sesungguhnya orang-orang munafik berada dalam kerak Neraka." QS. An-Nisa : 145
Allah swt menyifati orang-orang munafik dengan banyak sifat, di antaranya kekufuran, tiada iman, mengolok-olok dan mencaci maki agama, seperti dalam firman Allah:
Mereka juga mengata-ngatai agama dan pemeluknya, serta kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti ini mereka masuk ke dalam Islam untuk melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin secara tersembunyi, juga agar mereka bias hidup bersama umat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Al hasil mereka masuk Islam hanya untuk kepentingan mereka, menyelamatkan harta benda dan nyawa mereka. Karena itu, seorang munafik manampakkan keimanannya kepada Allah, malaika-malaikat Nya, kitab-kitab Nya dan hari akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.
Allah swt berfirman:
" Dan di antara manusia ada yang mengatakan ; Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir' padahal mereka tidak beriman." QS. Al-Baqoroh : 8
Nifaq jenis ini ada empat macam:
1. Mendustakan Rasulullah saw atau mendustakan sebagean dari apa yang beliau bawa.
2. Membenci Rasulullah saw atau membenci sebagean apa yang beliau bawa.
3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah saw.
4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah saw.

Nifaq 'amaliy (perbuatan)
Nifaq 'amaliy yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati.
Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan washilah ( perantara ) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam keadaan iman dan nifaq, dan jika perbuatan nifaqnya lebih banyak maka hal itu bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan hadits Nabi saw:
" Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan ( ciri ) nifaq sampai ia meninggalkannya ; bila dipercaya ia berkhianat, dan jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berucap kotor." Muttafaqun alaihi
Seperti diketahui bahawasanya manusia itu adalah tidak terjaga dari kesalahan dan dosa, sehingga sering kali dalam diri manusia itu terkumpul kebiasaan-kebiasaan iman dan kebiasaan-kebiasaan kufur, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Karena itulah ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, seperti kebiasaan malas dalam melakukan shalat jama'ah di masjid. Ini adalah sebagean dari sifat-sifat orang munafiq.
Sifat nifaq adalah sifat yang sangat buruk dan berbahaya, karena itulah para sahabat sangat takut kalau diri mereka terjerumus dalam kemunafikan. Ibnu abi Mulaikah berkata : " Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah saw, mereka semua taku kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya."
BAHAYA NIFAQ
Nifaq seperti kita kemukakan di depan adalah sifat yang sangat berbahaya, baik dunia maupun akhirat. Bahaya nifaq di dunia kembali kepada pelaku dan orang lain, dan di antara bahaya itu adalah:
i. Kerusakan di muka bumi, ini adalah inti dari bahaya yang ditimbulkan oleh seorang munafiq, jadi nifaq dapat mengakibatkan segala kerusakan bagaimanapun bentuknya, Allah berfirman:
" Ingatlah sesungguhnya mereka itu adalah perusak, akan tetapi mereka tidak merasa." QS. Al-Baqoroh : 12
ii. Tersebarnya fitnah, ini termasuk salah satu bentuk kerusakan yang timbul akibat sifat nifaq, Allah berfirman:
" Andaikan mereka ikut keluar bersama kalian ( untuk berjihad ), niscaya tidak akan bermanfaat bagi kalian selain hanya akan menambah kerusakan, dan niscaya mereka akan sebarkan fitnah untuk memecah belah kalian." QS. Al-Taubah : 47
iii. Perpecahan di antara umat Islam, dan ini adalah salah satu bentuk kerusakan yang sangat besar bagi umat Islam, bukan hanya sekarang dengan munculnya banyak orang yang mengatasnamakan Islam yang memberikan pengaruh hebat di dunia internasional, padahal Islam terbebas darinya, akan tetapi sejak zaman Rasulullah saw, kaum munafiq selalu mencari celah untuk mengadu domba dan memecah belah umat. Allah swt berfirman:
" Dan orang-orang yang membangun masjid untuk membahayakan, serta keingkaran, dan dengan tujuan memecah belah antara orang-orang yang beriman…" QS. Al-Taubah : 107
inilah beberapa bahaya yang timbul akibat nifaq, semoga Allah melindungi kita darinya - yang mana nifaq hanya akan menimbulkan kerusakan di muka bumi.
BALASAN BAGI ORANG MUNAFIQ
Dikarenakan buruknya sifat ini, maka Allah telah menyiapkan bagi para pelaku nifaq, atau orang munafiq dengan balasan yang setimpal, dan dengan redaksi yang bermacam-macam, di antaranya:
Perintah untuk memerangi dan sikap tegas (kasar) terhadap mereka, dan akhirnya dalam kerak neraka Jahannam lah tempat mereka, Allah berfirman:
" Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiq, dan besikap kasarlah (tegas) terhadap mereka !" QS. At-Taubah : 73
KESIMPULAN
a. Nifaq adalah sifat menampakkan iman dan menyembunyikan kekufuran.
b. Nifaq ada dua macam, nifaq I'tiqodiy (keyakian) dan nifaq 'amaliy (perbuatan).
c. Perbedaab antara nifak besar ( nifaq I'tiqodiy ) dan kecil ( nifaq 'amaliy ):
Nifak besar mengeluarkan pelakunya dari agama, dan nifak kecil tidak demikian.
Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil perbedaan dalam amal perbuatan.
Nifaq besar tidak terjadi daro seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil mungkin terjadi dari seorang mukmin.
Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertobat, dan andaikan bertobat, para ulama berbeda pendapat dalam masalah diterima atau tidak tobatnya. Adapun nifaq kecil, pelakunya umumnya bertobat.
Orang munafiq berada dalam kerak neraka Jahannam.
Demikianlah semoga kita dihindarkan oleh Allah dari nifaq, dan semoga kita dijadikan orang-orang yang beriman dengan sesungguhnya, amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى ِفْي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Abu yusuf.

Read More......

MENGGAPAI PERTOLONGAN ALLAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ؛ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Ma’assyirol muslimin, rahimakumullah
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhannahu wa Ta'ala yang telah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang beriman, yang telah menunjuki kita shiratal mustaqim, jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.

Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau dengan baik hingga hari kiamat.
Selanjutnya dari atas mimbar ini, perkenankanlah saya menyampaikan wasiat kepada saudara-saudara sekalian dan kepada diri saya sendiri, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala selama sisa umur yang Allah karuniakan kepada kita, dengan berusaha semaksimal mungkin menjauhi larangan-laranganNya dan melaksanakan perintah-perintahNya dalam seluruh aktivitas dan sisi kehidupan. Sungguh kita semua kelak akan menghadap Allah sendiri-sendiri untuk mempertang-gungjawabkan seluruh aktivitas yang kita lakukan. Pada hari itu, hari yang tidak diragukan lagi kedatangannya, yaitu hari kiamat, tidak akan bermanfaat harta benda yang dikumpul-kumpulkan dan anak yang dibangga-banggakan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim, hati yang betul-betul bersih dari syirik sebagaimana firmanNya dalam Surat Asy-Syu’aro ayat 88-89:
(Yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’ara’: 88-89)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini saya akan membahas tentang menggapai pertolongan Allah
Hampir semua orang pernah mengalami masa-masa sulit seperti roda yang selalu berputar, kadang hidup kita di atas, di waktu lain berpindah ke bawah. Kita sebagai manusia yang serba memiliki kelemahan yang akan selalu mengharapkan pertolongan Allah l yang Maha Kuasa, khususnya pada saat-saat yang sulit dan kritis sebagaimana firman Allah dalam (Q.S. 4 : 28).
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Allah l memberikan pertolongan-Nya kepada kita hanya bila ada upaya dan usaha dari diri kita sendiri. Ia l tidak memberi pertolongan-Nya sebagai sesuatu yang dijatuhkan begitu saja dari langit. Allah l berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. 13:11)
Adapun upaya yang harus kita lakukan untuk mendapat pertolongan Allah l diantaranya adalah :

1. Beriman kepada Allah l dan beramal shalih, Allah l berfirman :
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30:47)
2. Ikhlash merupakan kunci penting bagi terbukanya pintu pertolongan Allah l dan sesungguhnya pekerjaan tanpa niat yang ikhlash akan menjadi sia-sia. Allah l berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,… (QS. 98:5)
3. Menolong dan membela agama Allah l, Firman Allah l :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)
Ayat tersebut menegaskan bahwa pertolongan Allah bersifat aksioma, sebagai konsekuensi dari loyalitas yang tinggi yang dimiliki orang-orang yang beriman., karena syarat dari datangnya pertolongan Allah l dalam ayat ini adalah kita diminta untuk terlebih dahulu menolong dan membela agama Allah l.
4.Bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap pengorbanan, tenaga dan waktu kita di jalan Allah l. Firman Allah l :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS. 29:69)
Kita harus meyakini bahwa kehidupan di dunia ini merupakan ujian yang Allah l berikan kepada kita, selama kita masih hidup, selama itu pula kita diperintahkan untuk terus berusaha dan berjuang sebatas kemampuan manusiawi. Firman Allah l:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ……". (QS. 2:286)
5.Bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah l sambil tetap menjaga ketakwaan kita., karena bersabar dalam penderitaan dan kesenangan menjadikan kita selalu dekat kepada Allah l. Firman Allah l :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (QS. 3:200)

6. Tetap memelihara sikap istiqamah, karena orang yang beristiqamah atau berpegang teguh pada petunjuk Allah l akan selalu berada dalam kebenaran di dalam meniti kehidupan ini dan akan dibebaskan oleh Allah l dari perasaan resah, takut dan khawatir menghadapi segala ujian dan cobaan hidup, sehingga mereka merasa aman dan tentram tanpa merasa sedih dan was-was. Firman-Nya l :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. 46:13)
7. Kemudian berdoalah dengan penuh kepasrahan kepada Allah l, Firman-Nya l :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)
Berdoa dengan rasa takut dan suara lirih, merupakan salah satu bentuk kesungguhan dan kepasrahan di hadapan Allah l.
8. Setelah itu janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah l, karena akan menjadikan diri kita berada dalam kesulitan, seperti yang termaktub dalam firman-Nya l:
قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 39:53)
Setelah sikap-sikap diatas bisa dimiliki, maka nantikanlah pertolongan Allah yang pasti datang . Firman Allah l :
Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS. 25:31)
Hanya saja perlu dicatat, jangan diartikan bahwa pertolongan Allah l itu selalu datang dalam bentuk yang sesuai dengan keinginan kita, bisa saja Allah l memberi pertolongan dalam bentuk yang tidak kita inginkan, bahkan sebaliknya. Tetapi yakinilah bahwa itu adalah awal dari sesuatu yang baik.
Wallahu A`lam Bishshawab.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا بِرَبِّكُمْ فَئَامَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَاوَعَدتَنَا عَلَىرُسُلِكَ وَلاَتُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيعَادَ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ummu Faqih Rendusara.

Read More......

MENCARI ISLAM YANG HAKIKI

Sumber : Mitsaq Al ‘Amal Al Islamiy edisi indonesia, Hal. 47-68 .
diringkas oleh : Muh. Ihsan Zainuddin Lc.

Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kaum muslimin Jamaah Jumat yang berbahagia

Pengakuan diri bahwa kita adalah seorang muslim belumlah cukup untuk membuktikan bahwa kita telah memahami islam secara utuh. Kenyataan bahwa pengakuan “ Muslim” pada seseorang belum bisa dianggap menunjukkan bagaimana cara pemahamannya tentang islam bahkan tidak juga menunjukkan bahwa dia mengerti hakikat islam !!.
Saat ini merupakan hal biasa, jika kita sering mendengarkan istilah muslim sosialis, muslim leberialis, muslim moderat dan muslim sekularis atau seorang muslim yang berpandangan tidak perlu berhukum dengan syariat islam, atau tidak menyukai sebagian hukum pidana islam atau tidak senang dengan amal ma’ruf nahi munkar dan jihad fisabilillah .
Hal ini tak lain menunjukkan bahwa masyarakat belum memahami islam sebagaimana yang diturunkan kepada Rasulullah  . Memang telah berabad-abad lamanya tangan-tangan berlumuran dosa ini bercampurkan rona dan noda dalam pemahaman kaum muslimin untuk mengaburkan islam dalam pikiran mereka, menggoyahkan keyakinan mereka terhadapnya, dan memalingkan mereka dari keimanan yang benar kepada kekafiran total atau setidak-tidaknya melakukan penyimpangan dalam memahami dan menjalankan islam.
Yang sadar untuk memperjuangkan islam pun ternyata seringkali memehami islam secara sepotong-sepotong. Sebagian dari mereka berpendapat, islam hanyalah menyangkut kegiatan ritual dan syiar semata. Mereka menolak untuk berdakwah diluar masalah shalat dan dzikir. Sebagian yang lain tidak mau berbicara dengan anda kecuali tentang pembersihan aqidah dan khurafat dan mitos, sedangkan terhadap tindakan para penguasa yang sekuler yang mengganti syariat Allah dan keluar dari islam, mereka menutup mata. Kelompok yang lain memandang islam adalah belajar, menghafal dan mengajar. Adapun da’wah dan jihad tidak termasuk didalamnya. Lalu kelompok yang lain, lebih menggembar-gemborkan persiapan dan pengumpulan senjata seraya meneriakkan : “ Jihad ….. ! Jihad …. !”. Namun mereka lalai mendidik anggota-anggotanya dengan manhaj islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Lalu bagaimana kita dapat Memahami islam yang sebenarnya ?
Kaun Muslimin jamaah jum’at yang mulia
Islam berarti menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Allah Rabbul ‘alamin secara suka rela dengan cara mematuhi semua ajaran yang disampaikan oleh Nabi  , baik yang berupa perintah, larangan, hukum dan norma maupun batasan-batasan yang mengatur kehidupan manusia serta segala yang lazim bagi manusia kapan dan dimanapun, dengan jaminan terwujudnya kebaikan didunia dan diakhirat.
Dan Rasulullah  tidak belajar selain dari Allah  . Sedangkan para khalifah penggantinya serta sahabat-sahabat beliau tentulah tidak akan mengambil tuntunan selain dari Rasulullah . Fakta ini mengandung petunjuk bahwa tuntunan Nabi memang mengandung segala sesuatu untuk membangun dan mengatur kehidupan dunia sebagaimana yang dilakukan dan diterapkan oleh para khulafa Arrasyidin.
Jamaah jum’at yang mulia
Kita memerlukan aqidah yang shahih agar akidah kita lurus dan hati menjadi tenang, yakin dan tawakkal, bersandar kepada pencipta sehingga tidak memperdulikan musibah apapun yang menimpa. Kepada aqidah inilah kita menyeru dan berda’wah, berdasarkan aqidah ini pula kita menjadi manusia.
Kita memerlukan ibadah-ibadah dan syiar-syiar, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Karena itulah satu-satunya bekal yang kita miliki. Bagaimana mungkin menempuh perjalanan hidup ini tanpa bekal ? ibadah dan syiar itu akan menapis isi hati, membersihkan anggota badan dan menyucikan qolbu. Dia juga merupakan senjata kita menghadapi nafsu dan setan. Kita bekerja untuk menegakkan syiar-syiar ini dan mengajak manusia berdisiplan dengannya.
Kita memerlukan ilmu, agar ibadah pengabdian kita kepada Allah sesuai dengan perintah-Nya. Agar kita tidak tersesat atau tersimpang dan tidak termasuh dalam golongan :
 الذين ضلّ سعيهم في الحيوة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا 
“ Orang –orang yang hilang usaha mereka dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat baik”. ( QS Al- Kahfi: 104)
Kita belajar, lalu mengajarkan ilmu yang telah kita ketahui.
Kita memerlukan akhlaq yang baik agar bisa berinteraksi dengan cara yang lurus dan memiliki budi pekerti yang luhur , agar masing-masing diperlakukan sesuai haknya dan perintah syariat; agar dalam beramal dan berkata, kita tidak binasa didunia dan diakhirat. Kita selalu berusaha memperbaiki akhlaq kita dan orang-orang disekitar kita.
Kita perlu menda’wahkan islam kepada setiap manusia, kepada orang kafir agar masuk islam, kepada ahli maksiat agar bertaubat dan kepada orang mu’min agar mantap dan meningkat imannya. Kalau kita tidak melakukannya, islam dan dakwah akan punah dimakan api propaganda kafir yang berkobar disetiap jengkal bumi. Kita adalah juru da’wah bagi agama ini dengan menyampaikan berita gembira sekaligus ancaman.
Kita perlu beramar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak, tentulah berbagai kemungkinan menjepit kita merusak kehidupan kita mencekik nafas da’wah kita dan menghapuskan pengaruhnya.
Kita menyingkirkan setiap kemungkaran yang kita jumpai dari jalan dan memerintahkan setiap kebaikan yang hilang dari kita, sesuai ketentuan” Sang pemberi syariat” dan penjelasan para ulama.
Kitapun memerlukan jihad karena tanpa jihad bendera islam tidak akan berkibar dan pemerintahan syirik tidak akan musnah. Sesungguhnya jihad adalah jalan untuk mengembalikan sistem kekhalifaan, setelah menggulingkan para penguasa kafir yang menggantikan sistem tersebut. Kita terus membuat persiapan jihad dan mengajak orang-orang mu’min untuk melakukannya.
Kita perlu konsisten melaksanakan tuntutan Rasulullah  dalam masalah besar maupun kecil. Karena ini akan mendatang rasa cinta kepada Rasulullah  dan agama Allah ini sekaligus merupakan suatu tanda kecintaan kita kepada Allah.
 قل إ ن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله 
“ Katakanlah ; Kalau kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian ! “ .(QS Ali Imran:31)
Kita sangat ingin berpegang teguh kepada tuntunan Nabi  dan menyeru manusia agar konsistem melakukannya.
Kita perlu bahkan sangat perlu menegakkan hukum berdasarkan syariat Allah dalam segala urusan. Kita berupaya, berda’wah dan berjihad untuk mengembalikan syariat Allah sebagai sumber dan acuan hukum.
Kita memerlukan semua ini dan semua ajaran yang dibawa oleh islam baik menyangkut aqidah, syiar-syiar syariat-syariat dan nilai-nilai. Kita tidak bisa dengan alasan apapun melepaskan diri dari sebagian ajaran yang dibawa oleh islam. Bila itu terjadi, maka masa depan gerakan dan da’wah kita akan berakhir dengan kegagalan dan kehancuran karena sesungguhnya Allah Ta’ala hanyalah memberikan jaminan pertolongan untuk agama yang diturunkan kepada nabi-Nya ini. Dia juga berjanji akan memenangkan para hamba-Nya yang berdisiplin dengan agama-Nya.
 ولينصرن الله من ينصره 
“ Dan benar-benar Allah akan menolong siapa yang menolong (Agama)–Nya.”
(QS Al Hajj :40)
Satu-satunya barometer yang benar untuk memahami islam secara benar, bebas dari kekurangan dan bersih dari cacat adalah dengan mempelajari pemahaman islam para salaful ummah. Mereka itu adalah para sahabat nabi, tabi’in dan pengikut mereka serta para ulama yang terpercaya yang mengikuti mereka, yang tidak mengada-adakan penambahan, penggantian dan perubahan ajaran islam, dan yang melaksanakan sabda Rasulullah  : “ Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah yang lurus dan terhidayahi sesudahku, berpegang teguhlah kepadanya ! “.
Amanat agama ini telah dipikul dengan sebaik-baiknya oleh para ulama dari setiap generasi, yang oleh Allah telah dianugrahi keahlian dalam urusan ini dan dibimbing untuk memikul amanat ini merekalah orang-orang yang mengikuti yang menaati sunnah. Sehingga terbukalah bagi mereka jalan yang lurus. Maka barang siapa yang ingin mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus ini, yang telah mereka lalui, hendaklah senantiasa mengikuti jalan mereka. Al Auza’i berkata : “ Sabarkanlah dirimu diatas sunnah, berhentitah dimana kaum salaf itu berhenti, katakanlah yang mereka katakan, tahanlah diri dari apa yang mereka hindari dan jangan tinggalkan jalan kaum salaf yang soleh, niscaya hal itu akan melapangkan mu sebagaimana telah melapangkan mereka “.
Mengikuti pemahaman salaf asshaleh adalah jaminan satu-satunya untuk masuk dalam taifah manshurah ( Golongan yang dimenangkan ) yang tegak diatas kebenaran. Rasulullah  bersabda :
 لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين الى قيام الساعة  رواه البخارى
“ Senatiasa ada sekelompok dari ummatku yang berperang atas dasar kebenaran dan unggul sampai hari kiamat” (HR. Bukhari)
Tanpa mengikuti mereka, maka islam yang kita laksanakan hanya merupakan pengakuan dusta atau bid’ah penuh dosa. Setiap kita bisa saja mengaku dia-lah yang paling benar keislamannya, namun selalu saja yang menjadi pengukurnya adalah Al-Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman As Salaf Ashalih .
Ya Allah ! Matikanlah kami diatas Islam dan sunnah .
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


Read More......

MARHABAN YAA RAMADHAN

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ واَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اهْتَدَى بِهُدَاهُ وَعَمِلَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أًمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada saudara-saudara sekalian, marilah kita tingkatkan Islam, iman dan taqwa kita kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala karena hanya dengan Islam, iman dan taqwa itulah kita akan mendapatkan kebahagiaan baik di dunia terlebih lagi Insya Allah di akhirat

Beberapa hari lagi, insya Allah, kita akan kedatangan tamu yang mulia lagi terhormat, bulan Ramadhan yang mubarak yang selalu dirindukan kedatangannya dan disayangkan kepergiannya. Betapa tidak, bagi muslim sejati Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat dan gairah yang mulai mengendor. Dialah syahrul mubarak, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Hanya orang-orang munafiq, fasiq dan zhalim yang apatis dan mengabaikan kehadiran Ramadhan, bahkan mereka mencela, membenci, dan menganggapnya sebagai beban berat, pengekang hawa nafsu yang selama ini diperturutkan. Mereka tidak segan-segan makan dan minum di depan mereka yang tengah melaksanakan shiyam (puasa). Bahkan mereka dengan seenaknya berpesta pora dengan dosa dan kema’shiyatan, wal’iyaadzu billah.
Namun demikian kita kita tetap harus bersyukur, masih mayoritas dari kaum Muslimin melaksanakan puasa, meski harus kita akui dengan jujur bahwa masih banyak pula di antara mereka yang belum tepat dalam menyambut dan mengisi hari-hari yang penuh berkah tersebut. Bahkan masih banyak di kalangan kaum Muslimin yang belum mengerti hakikat dan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan.
KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan istimewa. Allah  telah mengistimewakannya daripada bulan-bulan lainnya dengan beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya :
1. Bulan Ramadhan adalah syahrush-shiyam (bulan puasa)
Allah  berfirman :
 فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 
“Barangsiapa diantara kamu hadir (di negri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa di bulan itu” (QS. Al Baqarah:185)
Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena di dalam bulan inilah dilaksanakan ibadah puasa (shiyam). Suatu ibadah yang begitu penting keberadaannya dan amat agung kedudukannya serta sangat besar ganjaran dan keutamaan bagi orang-orang yang melaksanakannya.
Shiyam adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dan kita mengetahui bahwa amalan-amalan yang wajib itu lebih dicintai Allah  dari yang lain, bahkan shiyam adalah salah satu Rukun Islam yang mana seseorang tidak menjadi Muslim yang benar kecuali bila ia menegakkan rukun-rukun Islam itu.
Firman Allah  :
 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامَ كَمَا كُتِبَ علَىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah : 183)
Bersabda Rasulullah :
 بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةَ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ 
“Ditegakkan Islam itu di atas lima perkara : Syahadat bahwa tidak ada Ilah yang disembah secara haq kecuali Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan Shaum (puasa) bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah Bin Umar) .
Shiyam Ramadhan adalah amalan yang Allah peruntukkan untuk-Nya secara khusus, Dia-lah  yang menentukan ganjarannya.
Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah  bersabda :
 كُلُّ عَمَلِ إِبْنِ اَدَمَ لَهُ الْحَسَنَةُ بِعِشْرِأَمْثَا لِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةَ ضِعْفٍ, قَالَ اللهُ  : إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ 
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kebaikan dibalas dengan pahala yang sepuluh kebaikan semisalnya sampai tujuh ratus kali lipat. Firman Allah  : Kecuali Shiyam (puasa), maka sungguh puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang menentukan ganjarannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berkata Abu ‘Ubaid  sebagaimana dinukil dalam Lisanul ‘Arab : “Sesungguhnya Allah mengkhususkan puasa itu untuk-Nya dan Dia-lah yang akan memberi balasannya -padahal seluruh amal kebaikan adalah untuk Allah dan tentu Dia-lah  yang membalas untuk semuanya- karena puasa tidak nampak dari ucapan ataupun perbuatan anak Adam, sehingga tak terdeteksi oleh Malaikat, karena puasa adalah suatu niat dalam hati, dan sikap menahan dari aktifitas makan minum, maka Allah  yang menentukan balasannya dan melipat gandakannya sesuai keinginan-Nya”. Jadi bukan dari catatan Malaikat.
Al-Qurthubi رحمه الله berkata : “Karena amal-amal lain dapat dimasuki oleh riya, sementara puasa tidak ada yang mengetahuinya -dengan sekedar perbuatan puasa- kecuali Allah, maka Allah  menyandarkan puasa itu pada diri-Nya, karena itu Allah katakan dalam hadist (qudsi-pent): “ Dia (hamba-Ku yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya karena Aku”.
Shiyam Ramadhan adalah sarana untuk mendapatkan ampunan serta hapusnya dosa dan kesalahan. Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda:
 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan dasar keimanan dan mengharapkan Ridha Allah  pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kata Al-‘Allamah Al-Albani رحمه الله : “Dan jika seseorang tidak mempunyai dosa, maka puasa baginya menjadi sebab terangkatnya derajatnya, seperti halnya para nabi yang ma’shum dari dosa-dosa”.
Dari Abu Hurairah  pula, bahwasanya Rasulullah  bersabda :
رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ 
“Bulan-bulan Ramadhan menghapuskan dosa di antaranya, apabila dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim).
Orang-orang berpuasa masuk syurga dari pintu khusus yang bernama Rayyaan seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahl Bin Sa’ad  bahwa Rasulullah  bersabda yang artinya: “Sesungguhnya di syurga ada sebuah pintu yang bernama Rayyaan, orang-orang berpuasa masuk lewat pintu tersebut pada hari Qiyamat, tidak boleh seorang lainpun yang masuk lewat pintu itu, lalu dikatakan: Dimana orang-orang yang berpuasa lalu mereka bangkit (memasuki pintu tersebut), tak ada yang masuk selain mereka. Dan bila mereka telah masuk, pintu tersebut ditutup pula, maka tidak ada seorang lainpun yang bisa masuk (lewat pintu tersebut)”.
Kalaulah tidak ada hal lain yang terkandung dalam bulan Ramadhan kecuali dilaksanakannya puasa, yang merupakan salah satu rukun Islam, maka itu sudah cukup menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang sangat mulia dan sangat istimewa.
2. Bulan Ramadhan Adalah Syahrul Qur’an
Disebut demikian karena dalam bulan yang mulia ini Allah  menurunkan Al-Qur’an untuk pertama kali, dan turunnya Al-Qur’an merupakan momentum sejarah yang amat sakral karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat manusia. Allah berfirman:
 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لَّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ  البقرة : 185
“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah : 185)
Dengan Al-Qur’an Rasulullah  merubah kondisi jahiliyah yang hina-dina menjadi ummat ini yang berperadaban tinggi, diakui oleh kawan dan lawan.
Malam turunnya Al Qur’an tersebut disebut sebagai Lailatul Qadr (malam kemuliaan), ganjaran beribadah pada malam tersebut lebih baik dari pada ganjaran ibadah seribu bulan di luar Lailatul Qadr. Allah  telah mengabarkan dalam Al-Qur’an tentang turunnya Malaikat Jibril dan malaikat-malaikat yang lain, yang semakin menunjukkan keutamaan malam itu, karena itu Rasulullah  senantiasa berjaga-jaga, dan berusaha mendapatkan malam yang mulia itu, dan Beliau  bersabda:
 مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ 
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan dasar keimanan dan mengharapkan Ridha Allah  pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari
“Barang siapa yang mendirikan shalat malam pada malam lailatul qadar dengan iman dan mengharapkan ganjaran darinya maka akan dihapuskan darinya dosa-dosanya yang telah lalu”(HR.)
Dari sisi lain, bulan Ramadhan memiliki korelasi yang begitu spesifik dengan Al-Qur’an dimana pada bulan Ramadhan ini Rasulullah  memberikan perhatian yang sangat besar dan prima pada tilawah Al-Qur’an, begitupun dengan sahabat-sahabat Beliau dan segenap generasi Salaf Ash-shaleh sesudah mereka. Setiap Ramadhan Rasulullah  mengecek kembali bacaan dan hafalan Qur’annya bersama Malaikat Jibril, Beliau tidak pernah lupa mengkhatamkan Al-qur’an secara tartil selama bulan Ramadhan.
3. Bulan Ramadhan Adalah Bulan Keberkahan (شَهْرٌ بَرَكَةٌ)
Berkah artinya banyaknya kebaikan, dan pada bulan Ramadhan telah disyari’atkan banyak amalan-amalan kebajikan di samping puasa, baik itu yang bersifat ibadah ritual seperti Qiyamullail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, dzikir, istighfar dan doa, i’tikaf pada sepuluh hari terakhir, umrah maupun amaliyah sosial seperti bersedekah, memberi makan orang berpuasa (pada waktu berbuka), dan sebagainya. Semua itu merupakan ladang-ladang kebajikan yang dengannya kaum Muslimin berlomba-lomba meraih janji-janji Allah berupa rahmat dan ampunan, terkabulnya do’a dan permohonan, serta berlipat-gandanya ganjaran amal kebaikan. Camkanlah ucapan Rasulullah  ketika beliau menggembirakan para sahabat dengan kehadiran bulan yang mulia ini.
 قَدْجَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرَمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ 
“Telah tiba bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, Allah telah mewajibkan atas kamu puasa di bulan ini, dalam bulan ini pintu-pintu syurga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, para syaitan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu, sungguh ia telah rugi”. (HR. Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah )
Dan dari Ubadah Bin Shamit  bahwasanya Rasulullah  bersabda: “Telah datang Ramadhan pada kalian, bulan keberkahan, Allah  mengunjungi kalian pada bulan ini, lalu Dia menurunkan Rahmat-Nya dan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengijabah (memenuhi) permohonan (do’a), Allah menyaksikan perlombaan kalian dalam bulan ini, dan membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, karena sesungguhnya orang yang sengsara adalah yang tidak mendapatkan rahmat Allah dalam bulan ini”. (HR. Thabrani)
Cukuplah hadits-hadits yang telah disebutkan di atas sebagai bukti dan gambaran betapa bulan Ramadhan adalah suatu ni’mat Allah  yang sangat besar untuk kaum Muslimin, dia adalah sebuah kesempatan dan momentum yang amat berharga bagi kita untuk meraih berbagai anugerah yang dijanjikan kepada kita, terutama pengampunan dari Allah  serta dihapuskan-Nya dosa-dosa dari kesalahan kita karena dalam kehidupan ini, kita banyak melakukan kesalahan atau ma’shiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kema’shiatan yang bila terus berlanjut akan mengundang murka Allah  , cepat atau lambat, di dunia atau di akhirat.
Rasulullah  pernah mengaminkan malaikat Jibril yang mendo’akan neraka atas orang-orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, lalu bulan mulia itupun berlalu, sementara orang tersebut tidak mendapatkan ampunan dari Allah . (HR. Thabrani)
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang benar-benar dapat mengisi hari-hari yang mulia di bulan Ramadhan tahun ini, dengan amal-amal shaleh sesuai yang dituntunkan dan dianjurkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau, begitupula para ulama-ulama yang mengikuti jejak mereka dalam setiap zaman karena hanya amal shalihlah yang mengantarkan kita untuk meraih segala keutamaan dan anugerah yang dijanjikan Allah  , dan marilah kita menyambut bulan yang mulia ini dengan penuh suka cita, kebahagiaan dan semangat baru serta tekad untuk menjadikan bulan tersebut sebagai langkah awal menuju pada babak baru dalam kehidupan ini, kehidupan yang diwarnai oleh iman dan taqwa, jauh dari noda-noda ma’shiat dan kekufuran, itulah hidup yang ideal bagi setiap Muslim dan hanya dengan hidup seperti itulah jaminan kebahagiaan dari Allah  akan diraih. Insya Allah Ta’ala.
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّ‍هِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَمِتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.





Read More......

Makna LAA ILAAHA ILLALLAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Ma’ asyirol Muslimin Rahimakumullah

Segala puji hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Tiada Dzat yang patut disembah, diibadahi, dipuji dan ditaati , Dialah Al-Khaliq yang telah menurunkan Islam sebagai aturan yang adil, agung lagi mulia yang merupakan rahmat dan nikmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan oleh Allah kepada penutup para nabi dan Rasul Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya yang setia berjuang untuk menyebarkan risalah Islam keseluruh penjuru dunia.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Laa ilaaha illallah yang bermakna Laa ma’buda bi hakkin Illallah (tiada sembahan yang berhakdisembah kecuali Allah ) merupakan mahkota dan landasan iman seseorang dan sebagai pintu utama masuknya nilai-nilai tauhid kedalam hati seseorang yang kemudian ia memebenarkan apa yangn wajib diimani dan membuktikannya dengan amal perbuatan yang nyata.
Kalimat tauhid ini mempunnyaai dua unsur pengertian ada yang berarti “menafikan”,yaitu mennginngkari setiap unsur pribadi yang menyatakan hakikatnya sebagai Tuhan selain Allah . Dan ada yang berarti “Mengitsbatkan” yaitu kallimat yangn menetapkan tentangn hakikat ketuhanan yangn Esa yaitu Allah .
Kalimat Laa ilaaha illallah yang didahului dengan huruf Nafi (لا) berarti meniadakan sesuatu, dan kemudian diikuti oleh huruf Istitsna’ (الا) berarti mengecualikan yang tidak ada menjadi ada, yaitu Allah , Tuhan yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.
Allah  berfirman :
ألم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت و فروعها في السماء  تؤتي أكولها كل حين بإذن ربها ويضرب الله الأمثال للناس لعلهم يتذكرون
Artinya : “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelngit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.
Yang dimaksud dengan kalimat yang baik pada ayat diatas adalah kalimat Tauhid dimana akarnya adalah membenarkan dalam hati, sedang cabanganya pengucapkan denngan lisan dan buahnya adalah perbuatan melalui anggota badan.
Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah yang berbunyi (
لا إكراه في الدين قدتبين الرشدمن الغي فمن يكفر بالطاغوت و يؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لاانفصام لها الله سميع عليم
“Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Al;lah maha mendengar lagi maha mengetahui” (Al Baqarah ; 256)
Bahwa orang yangn telah melepaskan diri dari belenggu syaithan yang selalu mengajak untuk menyembah selain Allah dan ia mengesakan Allah, lau menyembah-NYA hanya kepada-NYA dan dia bersaksi tiada tuhan selain Allah, maka dia telah berpengang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus yaitu pada jalan yang benar.
Menurut Imam mujahid dalm tafsirnya, bahwa tali yang kuat adalah Iman, sedangkan menurut Siad Jubair dan Adh Dhahhak bahwa tali yang kuat adalh kalimat Laa ilaaha illallah. Suatu ketika ada seseorang yangn berkata kepada Hasan Al Bashri “Sesungguhnya manusia banyakyang mengatakan bahwa orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti ia akan masuk Syurga”. Kemudian Hasan Al Bashri meluruskan dan menyempurnakan pendapat tersebut dan berkata “orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah lalu dia melaksanakan hak dan kewajibannya maka orang itu akan masuk Surga”
Dengan demikian kalimat Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang mengimaninya yaitu :
1. Pengingkaran terhadap seluruh yang disembah selain Allah .
2. Ilmu yang tidak dicampuri dengan kejahilan.
3. Keyakinan yang tidak dicampuri dengan keraguan.
4. Ikhlas dengan tidak dicampuri denga syirik.
5. Kejujuran yang tidak dicampuri pleh dusta.
6. Cinta yang tidak dicampuri oleh kebencian.
7. Ketaatan yang tidak dicampuru oleh pembangkangan.
8. Penerimaan yang tidak dicampuri oleh penolakan.
Seseorang yang telah mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah ini dengan cara melaksanakan segala perintah Allah  dan menjauhi larangan-NYA, maka dia akan mendapat keutamaan-keutamaan yang sangat agung, diantaranya :
1. Hartanya , darahnya dan hisabnya diharamkan oleh Allah , sebagimana sabda Rasulullah  :
من قال لااله الاالله وكفر ما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله  رواه البخاري

“Barang siapa yang berkata :Tidak ada Tuhan selain Allah dan ia mengkufuri sesuatu yang dijadikan sesembahan, maka hartanya, darahnya dan lisannya diharamkan oleh Allah” (HR.Bukhari)
2. Tubuhnya tidak akan disentuh oleh api Neraka
من شهد أن لا إله إلا الله مخلصا من قلبه لم تمسه النار  رواه أحمد, ابن حبان وأبو نعيم
“Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh api Neraka”(HR.Ahmad, Ibn Hibban, Abu Nu’aim)
3. Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kunci Syurga sebagai sabda Rasulillah  :
إذا سألك أهل اليمن عن مفتاح الجنة فقال لا إله إلا الله 
”Apabila golongan yang menang bebrtanya kepadamu tentang kuncu surga maka katakanlah “Laa ilaaha illallah”
4. Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah akan dikeluarkan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan kedalam Syurga, sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman :
وعزتي وجلالي لاخرجن من النار من قال لاإله إلا الله  رواه البخاري و مسلم
… “Dan kemuliaan dan keagungan-KU sungguh Aku akan keluarkan dari api Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah (Muttafqun Alih)
5. Dia akan mendapatkan faedah dan manfaat dari kalimat Tauhid, yaitu membentuk suatu sikap yang mulia seperti zuhud (tidak mementingkan kemewahan kehidupan dunia), tawakkal, malu untuk melakukan hal-hal yang diharamkan, syukur terhadap nu’mat Allah, kaya hati yaitu suatu sikap bahwa hatinya hanyalah bersandar kepada Allah  semata. Allhu A’lam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.


Abu Ahmad Fudhail
Maraji’:
1. Al-Quranul Karim
2. Tarjamah kutaib “Fadhail wa asrar Laa ilaaha illallah “ oleh Muh. Al-Shayim.
3. Fatawa fil Aqidah oleh Abdul Aziz Abdullah bin Baz.

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP