..::::::..

Jika Yesus bukan orang kristen, kenapa misionaris melakukan kristenisasi

Maraknya gerakan pengkristenan terhadap umat Islam yang dilakukan oleh para penginjil dengan segala cara, membuat Insan Mokoginta memeras otak. Mantan Katolik China-Manado sebelumnya bernama Wenceslaus Mokoginta ini berpikir keras, mengapa para misionaris yang mengaku sebagai pengikut Yesus itu getol mengkristenkan umat Islam? Apakah Yesus beragama Kristen, dan apakah Yesus mengajarkan Kristen?

Tergelitik dengan pertanyaan sederhana ini, Mokoginta menulis buku “Mustahil Kristen Bisa Menjawab: Berhadiah Mobil BMW.” Buku berisi sepuluh pertanyaan sayembara teologi ini disediakan masing-masing pertanyaan satu hadiah uang tunai total 100 juta dan sebuah mobil BMW.

Kuis teologi berhadiah ini diawali dengan pertanyaan pertama, “Mana pengakuan Yesus dalam Alkitab (Bibel) bahwa dia beragama Kristen?”

Mokoginta menjelaskan, semua pengikut Yesus pasti mengakui bahwa mereka beragama Kristen. Tetapi apakah ada di antara mereka bisa memberikan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang tertulis di dalam Alkitab bahwa Yesus beragama Kristen? Jika Yesus ternyata bukan beragama Kristen, lalu apa nama agama Yesus yang sebenarnya? Karena dalam seumur hidupnya Yesus tidak pernah tahu kalau agama yang dibawanya dinamai Kristen, sebab nama “Kristen” itu baru muncul jauh setelah Yesus mati.

Reaksinya bisa ditebak, para pendeta kebakaran jenggot dengan kuis teologi berhadiah tersebut. Dari kawasan Surabaya, Budi Asali, M.Div merasa tersengat dengan tantangan Mokoginta. Reaksioner, pendeta dari Gereja Kristen Rahmani Indonesia ini menulis buku tanggapan balik “Siapa Bilang Kristen Tidak Bisa Menjawab?”

Dengan nada sinis, Budi Asali balik menyerang Mokoginta sebagai orang bodoh. “Ini suatu pertanyaan bodoh dari orang sok pintar. Sudah barang tentu ia (Yesus, pen.) tidak pernah mengakui hal itu, karena ia memang tidak beragama Kristen.”

Anehnya, setelah menuduh orang lain sebagai orang bodoh yang sok pintar, Pendeta Asali memamerkan sifat yang dituduhkan tersebut pada dirinya sendiri dalam tulisan berikut:

“Sekalipun dalam sepanjang hidup Yesus, nama orang Kristen tidak pernah ada, itu tidak berarti bahwa tidak mungkin Yesus yang memberikan nama itu. Yesus bisa saja memberikan nama itu setelah dia bangkit dari antara orang mati. Lebih-lebih, kalau kita meninjau Yesus sebagai Allah, maka kematian dari manusia Yesus jelas tak menghalangi dia untuk memberi nama itu kepada para muridnya” (hlm. 25).

Seandainya, pengandaian pendeta itu diterima mentah-mentah, bahwa setelah mati disalib lalu dikubur, Yesus bangkit dari kubur untuk memberi nama “Kristen” terhadap agamanya. Lantas, kenapa tidak ayat Bibel yang mengabadikan peristiwa penting tersebut? Karena argumen ini tidak didasarkan pada ayat Alkitab, berarti Apologi pendeta ini sangat tidak cerdas dan tidak ada rujukan ilmiahnya. Sebagai orang yang gampang menuding orang lain bodoh dan sok pintar, semestinya Pendeta Asali bicara masalah agama sesuai dengan dasar kitab suci. Jangan mengumbar ‘teologi khayalan’ yang hanya dilandasi praduga mentah belaka.

Tantangan Mokoginta tersebut sebenarnya cukup beralasan dan ilmiah. Karena dalam keempat Injil dalam Bibel, tak sepatah kata “Kristen” pun terucap dari mulut Yesus. Bahkan kata “Kristen” dalam Bibel diungkapkan jauh setelah Yesus tidak ada di dunia, sesuai dengan ayat berikut:

“Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kisah Para Rasul 11:25-26).
Dalam buku Comparative Religions on File: Facts on File Library of World History,” disebutkan bahwa Yesus lahir sekitar tahun 4 Sebelum Masehi dan wafat sekitar tahun 29 Masehi. Sementara Paulus dan Barnabas memberi nama “Kristen” terhadap agama yang mereka bentuk, sekitar tahun 42 M. Berarti agama Kristen baru muncul sekitar 13 tahun setelah Yesus tidak ada di dunia.

Di sinilah letak keistimewaan Islam dibandingkan Kristen. Sebagai agama (din) yang haqq, Allah sendiri yang memberi nama dan meridhainya dalam Al-Qur’anul Karim:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (Qs Ali Imran 19).

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs Ali Imran 85). [a ahmad hizbullah]

Ternyata Yesus Bukan Orang Kristen
Mengenai teka-teki agama yang dianut Yesus, Pendeta Budi Asali M.Div. masih mau mengakui bahwa Yesus memang tidak beragama Kristen, melainkan beragama Yahudi.

“Sebagai manusia, Yesus beragama Yahudi, dan ini terlihat dari fakta dalam Alkitab bahwa ia memang menjalani semua upacara dan hukum-hukum Yahudi, seperti disunat, merayakan Paskah Perjanjian Lama, merayakan hari-hari raya Yahudi, berbakti di Bait Allah/sinagog, dsb.” (hlm. 26).

Tetapi, jawaban ini justru menimbulkan pertanyaan baru yang pelik. Jika Yesus beragama Yahudi, kenapa para paus, pastur, pendeta, penginjil dan orang awam lainnya yang mengaku sebagai pengikut Yesus itu beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan? Kenapa mereka tidak beragama Yahudi seperti Yesus yang mereka teladani?

Karena dalam praktiknya, doktrin agama Kristen yang ada saat ini sudah menyimpang dari ajaran agama yang dianut oleh Yesus. Michael H. Hart dalam penelitiannya menyebut Paulus sebagai aktor utama dalam penghancuran ajaran Yesus dan terbentuknya ajaran Kristen beserta doktrin-doktrinnya:

“Paul, more than any other man, was responsible for the transformation of Christianity from a Jewish sect into a world religion. His central ideas of the divinity of Christ and of justification by faith alone have remained basic Christian thought throughout all the intervening centuries. All subsequent Christian theologians, including Augustine, Aquinas, Luther, and Calvin, have been profoundly influenced by his writings. Indeed, the influence of Paul’s ideas has been so great that some scholars have claimed that her, rather than Jesus, should be regarded as the principal founder of the Christian Religion” (Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, p. 34-35)

(Paulus, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan (transformasi) Agama Kristen dari sekte Yahudi menjadi agama besar dunia. Ide sentralnya tentang keilahian Yesus dan pengakuan berdasar kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya.

Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Agustine, Aquinas, Luther dan Calvin, semuanya terpengaruh oleh tulisan-tulisan Paulus. Sampai-sampai banyak sarjana mengklaim bahwa Pauluslah yang menjadi pendiri agama Kristen, dan bukannya Yesus).

Kenyataan ini pula yang merangsang Clayton Sullivan, seorang profesor dan pendeta Gereja Baptis dari Mississippi untuk membersihkan ajaran Yesus dari orang Kristen. Pemikiran itu dituangkannya dalam buku Rescuing Jesus from Christians (Menyelamatkan Yesus dari Orang Kristen) yang diterbitkan oleh Trinity Press International (2002).

Tak hanya itu, doktrin penebusan dosa manusia oleh kematian Yesus di tiang salib pun digugat oleh rohaniawan Kristen sendiri. Uskup John Shelby Spong dalam buku Why Christianity Must Change or Die menyerukan untuk mencabut doktrin Yesus Juruselamat: “So we must free Jesus from the rescuer role.. Jesus portrayed in the creedal statement ‘as one who, for us and for our salvation, came down from heaven’ simply no longer communicates to our world. Those concepts must be uprooted and dismissed” (p. 99).

(Oleh karena itu kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juruselamat... Yesus yang digambarkan di dalam pernyataan keimanan sebagai seseorang yang demi kita dan demi keselamatan kita, turun dari surga, sudah tidak cocok untuk alam kita sekarang ini. Ajaran ini harus dicabut dan disingkirkan).
Walhasil, para pendeta dan penginjil aktivis pemurtadan itu harus berpikir seribu kali sebelum mengkristenkan umat Islam.

Karena Kristen yang mereka perjuangkan itu bukanlah agama Yesus. Sebab jika misi itu bertentangan dengan ajaran Yesus, maka di sorga kelak mereka pasti dihardik Yesus: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
A. AHMAD HIZBULLAH MAG
[www.ahmad-hizbullah.co.cc]

Read More......

Saudariku, inilah cercah pesonamu dan surga tuhanmu

Oleh : Abu Shafwah Al Munawy

Bismillahirahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil 'alamin, wassholatu wassalam ala nabiyina Muhamadan Waala Alihi Wasallam, wa ba'du:

Mungkin dikalangan kaum hawa telah banyak muncul pertanyaan tentang bagimanakah nasib mereka disurga kelak, atau ganjaran apakah yang Allah sediakan buat mereka? Bahkan tidak sedikit dari mereka merasa penasaran dengan hal ini dan ingin mengatehuinya dengan jelas.

Tentu, hal ini bukanlah aib bagi mereka, dan tidaklah semestinya diingkarinya karena manusia pada umumnya telah terbiasa berpikir dan merenung tentang gambaran masa depannya, apalagi jika kenikmatan Syurga tidaklah khusus diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja tanpa wanita, Allah ta'ala berfirman.



)وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيراً) (النساء:124)

Artinya :

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki, maupun wanita sedang ia beriman, maka mereka itu masuk kedalam syurga". (QS. An-Nisa : 124)

Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah mengingkari hal semacam ini dari para sahabatnya ketika mereka menanyakan tentang surga dan apa yang ada didalamnya. Salah satu contohnya, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bahwa para sahabat bertanya kepada beliau : "Terbuat dari apakah bangunan-bangunan surga itu? Beliau menjawab :"Terbuat dari batu bata emas dan perak". (HR. At-Tirmidzi (2526) dan dishohihkan oleh Al Albany dalam Al Misykat (5630)

Dan jiwa manusia, baik laki-laki maupun wanita pasti bersemangat dan merasakan rindu, tatkala disebutkan padanya tentang surga dan segala kenikmatan didalmnya, sifat ini, tidaklah tercela bahkan dianjurkan dengan syarat bukan hanya sekedar angan-angan belaka tanpa adanya hasrat dan ijtihad untuk meraih angan-angan tersebut dengan iman dan amal saleh. Allah ta'ala berfirman :



)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ) (الزخرف:72)

Artinya : "Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. (QS. Az-Zukhruf : 72)



Dan dianjurkan bagi kaum wanita untuk senantiasa menghadirkan dalam hatinya kenikmatan surga Allah, serta memperbanyak pengetahuan tentangnya sebagaimana hal ini dianjurkan bagi kaum lelaki. Hendaklah seorang wanita tahu, bahwa sekedar ia menginjakkan kakinya dalam surga, akan sirnalah segala kepedihan dan penderitaan yang ia alami, dan berubah dengan keceriaan yang tiada henti dan kebahagiaan yang abadi.

Cukuplah bagimu –wahai saudariku- firman Allah ta'ala :



)لا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ) (الحجر:48)

Artinya : "Mereka tidak merasa lelah didalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya" (QS. Al-Hijr : 48)



وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ) (الزخرف:71)

Artinya : "Dan didalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) manusia dan kamu kekal didalamnya. (QS. Az-Zukhruf : 71)

Sungguh, betapa banyak Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan dalam kitabNya Al Qur'an serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya tentang surga dengan aneka kenikmatan didalamnya, berupa ru'yatullah (memandang wajah Allah ta'ala), makanan dan minuman, istan-istana megah, pakain-pakaian indah serta rupa mereka yang elok, namun mungkin akan terbesit dalam benak para wanita sebuah pertanyaan :

"Sesungguhnya Allah ta'ala telah menyemangati dan menggugah hati kaum lelaki untuk meraih surga dengan menyebutkan bagi mereka sebuah kenikmatan didalamnya berupa wanita dan bidadari-bidadari cantik, namun mengapa Dia tidak menyebutkan hal semacam ini lagi bagi kaum wanita?"

Jawaban dari pertanyaan ini adalah bahwasanya Allah tidaklah sepantasnya ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, sebagaimana firmanNya :



)لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ) (الانبياء:23

Artinya : "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanya." (QS. Al Anbiya : 23)



Akan tetapi, perlu diketahui bahwa Allah tidak melakukan hal ini kecuali dengan tujuan dan hikmah agung, diantaranya :

1) Salah satu sifat yang Allah fitrahkan atas wanita adalah, sifat malu, jadi, Allah ta’ala tidaklah menggugah hati mereka terhadap surga dengan menyebutkan balasan berupa pasangan hidup mereka dalam kitab-Nya, disebabkan adanya rasa malu mereka terhadap hal tersebut.

2) AsSyaikh Ibnu Utsaimin berkata : “Sesungguhnya Allah menyebutkan istri-istri bagi kaum lelaki (dalam kitabNya) karena seorang suamilah yang mencari dan menyukai seorang wanita, dengan sebab ini “istri-istri” disebutkan bagi kaum lelaki di dalam surga. Dan Dia tidak menyebutkan “Suami” bagi para wanita. Namun hal ini, tidaklah bermaksud bahwa para wanita di surga kelak tidak memiliki suami sama sekali, tapi bermaksud bahwa semua suami mereka hanya berasal dari bani adam ‘alaihissalam.” (Al Majmu’ AtTsamin (1/571)



Jadi, didalam syurga, para wanita hanyalah mendapatkan suami dari kalangan bani adam ‘alaihissalam, sedangkan kaum lelaki, selain meka mendapatkan istri-istri dari bani adam, mereka juga mendapatkan para bidadari, syurga yang Allah ‘Azza wa Jalla ciptakan dari za’faran. Dan inilah penjelasan tentang siapakah yang berhak menjadi suami para wanita disurga kelak:



Pertama : jika seorang wanita wafat sebelum menikah, maka Allah akan menikahkannya dalam surga dengan lelaki penduduk bumi, karena didalam surga tidak ada seorangpun yang tidak menikah. Rasulullah bersabda :

ما في الحنة أعزب

“Tidaklah ada dalam surga itu, yang tidak menikah” HR. Muslim (4381)



Kedua : Jika ia wafat setelah diceraikan dan belum sepat menikah lagi, maka nasibnya seperti nasib wanita yang pertama.



Ketiga : Apabila seorang wanita masuk surga, sedangkan suaminya masuk neraka, nasibnya seperti yang pertama dan kedua.



Keempat : Jika ia wafat setelah pernikahannya, ia akan tetap menjadi milik suaminya yang ia tinggalkan di dunia.



Kelima : seorang wanita yang suaminya wafat, dan ia hidup sepeninggalnya tanpa menikah lagi sampai wafat, ia tetap akan menjadi milik suaminya tersebut dalam surga.



Keenam : sedangkan perempuan yang suaminya wafat, lalu menikah lagi dengan laki-laki setelahnya, maka ia akan menjadi milik suaminya yang terakhir, walaupun ia memiliki banyak suami, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

(المرأة الآخر زوجها)

Artinya : “Wanita itu diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir (dalam surga)” (Assilsilatu Al Ahadits Asshohihah : (1821)



Juga diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata kepada istrinya : “Jika engkau menjadi istriku didalam surga, maka janganlah menikah sepeninggalku karena wanita (bani adam) di dalam surga menjadi milik suaminya yang terakhir.” (Assilsilatu Al Hadits Asshohihah (1821)

Oleh sebab itu, Allah mengharamkan atas istri-istri nabi untuk dinikahi sepeninggal beliau, karena mereka adalah istri-istri beliau didalam surga.

Diantara nikmat lain atas wanita penghuni surga adalah bahwasanya Allah Azzawajalla menjadikan mereka muda belia, serta mengembalikan keperawanan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Sesungguhnya surga tidaklah dimasuki oleh wanita yang telah renta…, Sesungguhnya jika Allah memasukkan mereka kedalam surga, Dia mengubah mereka menjadi perawan (kembali). (HR. Abu Nu’aim dalam sifatuljannah (143) dengan dihasankan AlAlbany dalam Al Irwa’ : 375)

Didalam atsar juga disebutkan bahwa wanita bani adam yang menjadi penghuni surga lebih elok dan cantik dibandingkan dengan para bidadari, hal ini disebabkan ibadah mereka kepada Allah Azza Wajalla. (Haadilarwah,223) Mereka didalamnya senantiasa tertutup dalam istana-istana megah dan mereka senantiasa menundukkan pandangan kecuali terhadap suami-suami mereka.

Read More......

Gerakan Misionaris membonceng Kolonialisme, Kapitalisme, berikutnya apa?

Peringatan Allah SWT di Surah Al Baqarah [02]:120 tentunya sudah tidak diperdebatkan lagi. Bahwa kedua musuh Islam yang disebutkan di sana (Kristen dan Yahudi) akan selalu memusuhi, memerangi umat Islam hingga muslim mengikuti, tunduk kepada mereka dan upaya mereka ini tidak akan berhenti hingga akhir zaman.

Perang Salib adalah bentuk pertama atau setidaknya upaya terbesar pertama orang Kristen memerangi umat Islam, sepeninggal Rasulullah SAW. Dengan semboyan "Deus Le Volt" pada 1096, Paus Urbanus II memprovokasi 300.000 orang Kristen untuk berangkat merebut Yerussalem.

Berikut seruannya: "Negeri kalian telah padat penduduknya, dan dari semua sisi tertutup laut dan pegunungan. Tak banyak kekayaan disini, dan tanahnya jarang membuahkan hasil pangan yang cukup buat kalian. Itulah sebabnya kalian sering bertikai sendiri..... Bergegaslah menuju Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang jahat, dan jadikan milik kalian. Negeri itu, seperti dikatakan di dalam AlKitab, berlimpah susu dan madu, Allah memberikannya kepada anak-anak Bani Israel. Yerussalem, negeri terbaik, lebih subur daripada lainnya seolah-olah sorga kedua. .... Bergegaslah, dan kalian akan memperoleh penebusan dosa, serta pahala di Kerajaan Surga."

Kolonialisme
Riwayat Kristenisasi di Indonesia dimulai dengan datangnya para kolonialis. Spanyol, Portugis, Belanda, dan kemudian Inggris. Selama lebih dari tiga abad Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki kekayaan alam yang melimpah berada di bawah penjajahan. Motif yang dibawa oleh para Imperium ini adalah gold, glory dan gospel. Kekayaan, penguasaan dan penyebaran ideologi.
Kolonialisme berusaha mengembangkan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya dengan tujuan mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut.

Kapitalisme
Setelah Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, negara-negara bekas jajahan di wilayah Asia Afrika menegaskan diri untuk bebas dari penjajahan, diskriminasi, penindasan, kemiskinan, dan perbudakan. Dan diamini bahwa saat itu adalah tonggak di mana imperialisme (penjajahan) sudah berakhir. Namun tidak disadari bahwa bentuk Imperialisme telah berubah ke wajah baru yakni Kapitalisme.

Sistem ini hanya berpihak pada pemilik modal. Mereka sah melakukan usaha apapun untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dan pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Inilah prinsip-prinsip yang dianut dalam sistem Kapitalisme.

Pemilik modal menjadi dewa, sedangkan produsen justru menjadi sapi perah yang ditindas dan dihisap oleh kapitalis. Negara adalah pelayan kaum kapitalis. Negara harus membuat undang-undang untuk melindungi kepemilikikan kapital kaum kapitalis. Juga negara harus melaksanakan kebijakan politik yang melindungi dan menguntungkan kaum kapitalis.

Hasil dari Kapitalisme adalah terciptanya kesenjangan yang luar biasa. Rudolf H. Strahm (1980) menulis, negara-negara industri dengan penduduk hanya 26% dari jumlah penduduk dunia telah menguasai lebih 78% produksi dunia, 81% perdagangan dunia, 70% pupuk, dan 87% persenjataan dunia. Sedang 74% penduduk (di Asia, Afrika, dan Amerika Latin) hanya menikmati sisanya, yakni seperlima produksi dan kekayaan dunia.

Contoh ExxonMobil, pada tahun 2007 memperoleh keuntungan sebesar 40,6 milyar dolar AS, nilai penjualan ExxonMobil mencapai 404 milyar dolar AS. Ini melebihi Gross Domestic Product (GDP) dari 120 negara di dunia. Kita harus memberikan catatan tegas, negara kapitalis dengan perusahaan multinasionalnya memang sejahtera, namun mereka memiskinkan negara berkembang.

Strategi Kristenisasi
altPak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West mengutip ucapan Napoleon sebagai berikut,
"Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat."

Dalam masa kolonialisme, para misionarislah yang dijadikan pembuka jalan bagi imperialis dengan menghancurkan moral penduduk pribumi. Kemudian dengan aksi kristenisasinya mereka mengubah aqidah muslim sehingga mempunyai aqidah seperti mereka. Mereka melakukan pemurtadan terhadap umat Islam di Indonesia yang mereka istilahkan sebagai 'penuaian jiwa'.

Sementara pemerintahan imperialis melindungi aktivitas misionaris agar penyebaran millah mereka terus berjalan. Setelah itu apapun yang dilakukan para pedagang dan pengeruk harta, perampok kekayaan alam ini menjadi benar dan tidak mendapatkan perlawanan.

Dengan berjalannya waktu, perkembangan pendidikan, pengetahuan dan teknologi membuat masyarakat makin cerdas. Maka strategi 'penuaian jiwa' menjadi kurang ampuh, mengingat ajaran Kristen sendiri memiliki kelemahan internal sehingga orang yang berakal sehat tidak akan sudi secara sadar memeluknya.

Oleh karena itu, strategi kedua dianggap lebih realistis dan efektif, yaitu mengeluarkan orang Islam dari agamanya atau menjauhkannya dari ajaran Islam. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan,

"Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang Kristen... Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu."

Semua isme/ideologi di Barat masuk seiring bentuk imperialisme baru yakni kapitalisme. Sekularisme, liberalisme, pluralisme, feminisme, nasionalisme, dll tumbuh subur dalam sistem kapitalisme yang kesemuanya mempunyai satu tujuan, menciptakan generasi muslim yang tidak lagi memiliki Islam di hatinya. Dan generasi inilah yang kita dapati di mall-mall atau tempat-tempat hiburan di kota-kota, generasi yang disebut lebih barat ketimbang orang barat, lebih Amrik ketimbang orang Amerika.

altMengapa misionaris mau bekerjasama dengan imperialis?
Jika di era kolonialisme para misionaris membonceng dengan pembagian tugas sebagai pembuka lahan bagi masuknya para imperialis. Maka di era kapitalis para misionaris menggunakan fasilitas-fasilitas kapitalisme yang berprinsip membolehkan cara apapun untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya sehingga mencampakkan segala norma. Maka tumbuh suburlah benih-benih isme yang diciptakan untuk menjauhkan muslim dari aqidah Islam.

Kapitalis dan misionaris bersimbiosis mutualisme untuk menguasai dunia Islam. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasionalnya menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan misionaris. Di tahun 1970 saja, aktivitas misionaris telah menghabiskan 70 miliar dolar (David Waren, penanggungjawab Ensiklopedia Dunia Kristen). Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan akan terus meningkat.

Muhammad Imarah mencatat, pada 1991, Organisasi Misionaris Dunia memiliki 120.880 lembaga khusus untuk kegiatan Kristenisasi di kalangan Islam; 99.200 lembaga pendidikan untuk mencetak kader penginjil; 4.208.250 tenaga profesional; 82 juta komputer; 24.000 majalah; 2.340 stasiun pemancar radio dan televisi; 10.677 sekolah dengan jumlah 9 juta siswa; 10.600 rumah sakit; 680 panti jompo; 10.050 apotik; anggaran kegiatan kristenisasi sebesar 163 miliar dolar. Dan sekarang pastinya lebih dari itu.

Kapitalisme diujung maut
Pada hakikatnya, kolonialisme merupakan bentuk penjajahan/imperialisme secara fisik. Sedangkan Kapitalisme adalah penjajahan secara non fisik. Perubahan sistem penjajahan dari kolonialisme menjadi kapitalisme semata-mata juga karena hitungan materi.

Pemenang hadiah nobel Joseph E. Stiglitz, juga mengkhawatirkan AS akan terpuruk pada depresi hebat. Dan ia pun mengingatkan negara-negara peniru sistem kapitalisme AS, untuk bersiap-siap hancur. "Upaya penyelamatan Bush berupa kucuran dana US$ 700 milyar dan nasionalisasi sejumlah bank adalah tanda kematian sistem kapitalisme ala AS," ujarnya.

Aksi Boikot yang menyebar ke seluruh penjuru dunia bisa jadi merupakan pemicu gerakan yang menyebabkan runtuhnya kapitalisme secara global. Mesin uang zionis ini sekarang berada diujung maut. Namun perlu diingat, matinya kapitalisme bukan berarti matinya kristenisasi atau gerakan misionaris.

Gerakan ini tetap akan ada dengan membonceng pada kendaraan berikutnya. Maka, hendaknya muslim mengenali musuh sesungguhnya, seperti peringatan Allah SWT dalam Al Baqarah [02]:120, musuh umat Islam bukanlah isme/sistem namun siapa pembuat isme/sistem tersebut.

Read More......

Sifat kebersamaan Allah

Oleh : Ikhwah Madinah

SILSILAH Pembagian Ma’iyatullah (kesertaan Allah ta’ala) dengan makhluk-Nya beserta Definisinya.

Berdasarkan dalil-dalil AlQur’an dan Sunnah, Ma’iyatullah terbagi atas dua bagian :

1. Ma’iyatullah Al-‘Ammah (kesertaan Allah dengan hamba-Nya secara umum)

2. Ma’iyatullah Al-Khosshah (kesertaan Allah dengan hamba-Nya secara khusus).

berikut penjelasannya:



1. Al Ma’iyatullah Al ‘Ammah

Yaitu kebersamaan Allah yang ditetapkan untuk semua makhluk-Nya, yang berarti bahwa Allah ta’ala selalu bersama mereka dengan mengetahui segala yang ada pada diri mereka, dan bagi-Nya tiada satupun yang tersembunyi pada mereka dibumi dan tidak pula di langit. Ini menunjukkan adanya kekuasaan[4], pengaturan serta pengetahuanNya terhadap mereka dan amal-amal mereka yang baik maupun yang buruk, beserta pengetahuan terhadap balasan-balasan amal mereka.[5]

Diantara dalil yang mengisbatkan jenis ma’iyah ini adalah :

Artinya : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arsy, Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hadid : 4)

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaran (antara) jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka, dimanapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu. (Al-Mujadiilah : 7)

Dalam kedua ayat ini, Allah ‘Azza Wa Jalla memulainya dengan menyebut lafaz ilmu, serta menutupnya pula dengan lafaz yang sama, sebab itu Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Adh-Dhohak, Sufyan At-Tsaury, dan Ahmad rahimahullah berkata (tentang makna ma’iyah di ayat ini): “Dia (Allah) bersama mereka dengan pengetahuanNya”[6]

Dan ini adalah ijma’nya para salaf (pendahulu umat ini), dan ijma’ ini diriwayatkan dari banyak imam yang menyatakan bahwa makna lafaz ma’a (beserta) dalam ayat ini adalah pengetahuan/ilmu Allah. Abu Umar Ath-Tholamanky berkata : Kaum Muslimin dari kalangan Ahlussunnah telah berijma’ (sepakat) bahwa maksud firman Allah :

"Wahuwa ma'akum aynamaa kuntum" (Dan Dia bersama kalian dimanapun kalian berada)

serta ayat-ayat Al-Qur’an semacam ini adalah ilmuNya dan bahwasanya Dzat Allah berada diatas langit, bersemayam diatas arsy-Nya, sebagimana yang Dia kehendaki,[7]

Ijma ini diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Abdilbar dan Imam Ibnu Katsir.[8] Dan jika ijma ini benar-benar ada, maka ia tidak boleh diselisihi, karena ijma’nya umat ini ma’shum (terlepas dari kesalahan), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

Artinya : “umatku tidaklah bersepakat diatas kesesatan” (HR. Tirmidzi (2167), Abu Daud (4253), dan Ibnu Majah (3950) dan dihasankan oleh Al Albany dalam Takhrij Assunnah (82))

Barangsiapa yang mengingkari Ijma tentang ma’iyah ini dan menafsirkannya dengan yang menyelisihi ijma’, maka ia telah sesat dan terjatuh dalam kekufuran sebab ia menyelisihi pendapat umat dan Allah telah mengancamnya dalam firman-Nya :

Artinya : “Dan (orang-orang yang) mengikuti jalan Yang bukan jalan orang-orang mu’min, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasianya itu, dan kami masukkan ia kedalam Jahnam, itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisa’ : 115)



2) Al-Ma’iyah Al –Khosshoh

Yaitu kebersamaan Allah yang dikhususkan bagi hamba-hambaNya yang mukmin yang berarti adanya pertolongan, perlindungan dan jaminan Allah terhadap mereka.”[9]

Diantara dalil-dalilnya dari AlQur’an firman Allah ‘Azza wa Jalla :

"Idz Yaquulu lishohibihi : Laa Tahzan Innallaha Ma'ana" (di waktu dia berkata pada temannya : janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita) (At-Taubah : 40)

"Innanii ma'akuma, asma'u wa araa" (sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat). (Thaha : 46)

"Innallaha ma'alladziinattaqaw walladzina hum muhsinuun" (Sesungguhnya Allah beserta orang-orang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan). (An-Nahl : 128)

"Washbiruu Innallaha Ma'asshobirin" (dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (Al-Anfal : 46)[10]

Jadi, semua lafaz ma’a dalam ayat-ayat ini, bermakna : pertolongan dan jaminan Allah terhadap hamba-hambaNya yang mukmin, dan ini adalah ijma (kesepakatan) para salaf, pendahulu umat ini, yang tidak boleh diselisihi –sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya-



Pembagian Mazhab dalam Penepatan Ma’iyatullah Beserta Bantahan terhadap Mazhab yang Menyelisihi Ijma’.

Mazhab pertama :

Mereka menyatakan bahwasanya ma’iyatullah (kesertaan Allah) dengan hamba-Nya, maksudnya adalah dengan pengetahuan (ilmu) dan penguasaan-Nya dalam ma’iyah umum yang mencakup pengetahuan-Nya terhadap semua makhluk-Nya, dan dengan pertolongan dan jaminan-Nya dalam ma’iyah khusus yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang mu'min, dengan tetap meyakini ketinggian Dzat-Nya serta pesemayaman-Nya diatas Arsy. Mazhab ini adalah mazhab para salaf dan merupakan mazhab yang hak –sebagimana yang telah dibahas-.



Mazhab Kedua :

Mereka menyatakan : Sesungguhnya Ma’iyatullah dengan makhluk-Nya, maksudnya adalah bahwa Allah ta’ala selau bersama mereka dibumi, sekaligus mereka menafikan ketinggian Dzat-Nya dan persemayaman-Nya diatas Arsy.

Mereka adalah firqah “Al-Hululiyah” (kaum yang berkeyakinan bahwa Allah dapat menitis kedalam tubuh makhluk/benda) dari pendahulu-pendahulu sekte sesat Jahmiyah dan penganut paham Wihdatulwujud serta selain mereka. Mazhab ini adalah mazhab batil lagi munkar dan para salaf telah sepakat akan kebatilan dan kemunkarannya”[11]

Bantahan terhadap mereka, antara lain :

1. Bahwa pendapat ini menyelisihi ijma’ ulama salaf dan tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkannya seperti ini, bahkan dahulu mereka telah sepakat dalam mengingkari kebatilannya.

2. Sesungguhnya apa yang dikatakan kaum “Al-Hululiyah” itu, mengharuskan adanya penafian ketinggian Dzat Allah secara mutlak, yang berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, serta dalil akal dan fitrah secara ijma’. Dan setiap yang menafikan/mengingkari suatu hal yang ditetapkan oleh dalil, maka ia adalah sesuatu yang batil. Sebab itu penafsiran ma’iyatullah dengan makhluk-Nya dengan makna “penitisan dan pencampuranya (dengan makhluk) adalah penafsiran yang batil, berdasarkan pandangan AlQur’an, sunnah, akal, fitrah dan ijma’ salaf. [12]

Adapun dalil kebatilannya dari Al-Qur’an : semua ayat yang mengisyaratkan ketinggian dzat Allah ta’ala diatas langit, diantaranya :

"Arrohmanu 'Alal Arsyistawa" ((yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam diatas Arsy), (Thaha : 5)

"A'amintum man fissamai an yakhsifa bikumul ardh" (apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikan bumi bersama kamu). (Al-Mulk : 16)



Adapun dari sunnah, diantaranya

Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sujudnya :

"Subhana Robbiyal a'laa" (Maha Suci Alah yang Maha Tinggi)[13]

Juga sabdanya :

Artinya : “Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan saya adalah yang dipercayai oleh Yang ada dilangit?[14]

Sedangkan dalil akal :

Bahwa, ketinggian merupakan sifat kesempurnan, sedangkan kerendahan merupakan sifat kekurangan, dan tidak bisa dibayangkan jika Allah Yang Maha Tinggi lagi suci, merendahkan Dzat-Nya kebumi, bercampur dan berkumpul bersama makhlukNya yang rendah lagi hina, dan tidaklah masuk akal jika Allah ta’ala berjalan dan berkumpul bersama mereka walaupun ditempat-tempat kotor dan menjijikkan, atau ditempat maksiat dan dosa, bersama orang-orang fasik lagi kafir, Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan.

Apabila mereka mengatakan bahwa Allah menitis ke dalam jasad dan ruh mereka, maka ini adalah perkataan yang lebih kufur dan batil, serta klaim yang paling sesat dan menyesatkan, sebab apakah Allah ridho menitis dan menetap dalam diri hamba yang hina, dalam perut-perut makhluk yang penuh dengan kotoran dan darah-darah yang menjijikkan? Apakah Allah tidak lagi mendapatkan tempat hingga ia rela menitis kedalam hati dan ruh makhlukNya? Yang diantara mereka ada yang fasik dan kafir?? Sungguh, maha suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan.

Sedangkan dalil fitrah :

Bahwasanya diantara fitrah insani, tidaklah seseorang berdo’a atau dalam keadaan takut dan mengharapkan perlindungan Allah, kecuali hatinya cenderung untuk menengadahkan wajah atau mengangkat tangannya kearah langit, dan sungguh ia tidak akan menoleh kekiri maupun ke kanan.[15] Ini semua menunjukkan keberadaan Allah 'azza wajalla di atas langit bersemayam di atas arsyNya.



Syubhat dan Bantahannya

Sebagian orang berkata :

“Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bahwa Allah Azza Wa Jalla, bersemayam diatas Arsy, sangatlah menyelisihi dzohir firman Allah : “Dan Dia beserta kalian dimanapun kalian berada” (Al Maidah : 4), juga menyelisihi sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : “jika seorang diantara kamu berdiri shalat maka Allah berada didepannya)[16]

Ini menunjukan bahwa firman Allah juga hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saling bertolak-belakang dan hal ini tidak mungkin terjadi kalau memang Al-Qur’an itu adalah wahyu dari Allah 'azza wa jalla.

Jawaban :

Dari Ibnu Taimiyah rahimahullah :

Ini adalah kesalahan besar, sebab Allah ta’ala sungguh beserta kita secara hakiki, dan Dia diatas arsy secara hakiki pula, sebagaimana Dia menggabungkan dua hal ini dalam firmanNya :

"Tsummastawaa 'alal arsy" (Kemudian Dia bersemayam diatas Arsy)

Artinya : “Dia Mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Hadid :4)

Allah mengabarkan bahwa Dia diatas Arsy, mengetahui segala sesuatu, sedang Ia beserta kita dimanapun dengan ilmu-Nya secara hakiki, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : “Dan Allah bersemayam diatas Arsy, sedang Dia mengetahui segala yang kalian kerjakan) [17]

2) Dari As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

Sesungguhnya hakikat makna ma’iyatullah sama sekali tidaklah bertentangan dengan ketinggian dzat Allah ta’ala yang hakiki (di atas arsy), sebab kedua hal itu sangat mungkin terjadi (dalam waktu yang sama) pada makhluk. Misalnya dikatakan : kami berjalan bersama bulan. Ini berarti kebersamaan dan kesertaan mereka dengan bulan yang ada di atas langit dan tiada seorangpun berpikir atau memahami bahwa bulan terebut turun ke bumi, lalu berjalan bersama mereka, ini mustahil.

Jika ini sangat mungkin terjadi pada makhluk yang lemah, maka hal ini paling mungkin terjadi pada hak Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sedang Dia diatas langit, sebab hakikat ma’iyatullah dengan makhluk-Nya tidaklah mengharuskan adanya kebersamaan/ kesertaan mereka dalam satu tempat.[18]

Mazhab Ketiga :

Mereka menyatakan : “Sesungguhnya maksud dari ma’iyatullah dengan makhlukNya adalah bahwa Dzat Allah ta’ala bersama mereka dibumi, dan dalam waktu yang sama Dia juga berada diatas Arsy dengan Dzat-Nya.

Bantahan untuk hal ini, diantaranya :

1) Ini adalah pendapat yang batil, berdasarkan dalil-dalil jelas dari AlQur’an dan Sunnah serta Ijma’, bahkan dari dalil akal dan fitrah –sebagaimana yang telah dibahas-

2) Pendapat ini sangatlah mustahil terjadi pada Dzat Allah ta’ala, sebab bagaimanakah Dzat Allah bersemayam diatas langit sedang dalam waktu yang sama Dzat itu juga berada di bumi, berkumpul dengan para makhluk? Ini tidaklah masuk akal, karena keduanya saling bertolak-belakang dan tidak ada yang meyakini hal ini kecuali orang-orang yang sesat dan menuruti hawa nafsu, sebab ia telah keluar dari kelaziman fitrah dan akal yang ada pada dirinya.

3) Barangsiapa yang berpendapat seperti ini, dia telah menetapkan bahwa Allah dikelilingi oleh tempat atau makhlukNya yang menunjukan bahwa Allah membutuhkan mereka, padahal Dialah yang mengelilingi dan mengetahui semua makhlukNya dan sama sekali tidaklah membutuhkan mereka.

Sebagaimana firmanNya :

Artinya : “padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.” (Al Buruj : 20)

artinya : “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Al-Imrah : 97)

Pendapat mazhab ini adalah kedustaan besar terhadap Allah Azza wa Jalla. Sekaligus bentuk kezaliman terhadap ayat-ayatNya, karena mereka telah menafsirkan dan menta’wil dalil-dalil yang sangat jelas dalam hakikat ma’iyatullah ini dengan penafsiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan RasulNya. Allahu A’lam

Syubhat dari Kaum yang Menafikan Ketinggian Dzat Allah diatas Arsy[19]

Dengan berhujjahkan dalil-dalil dan nas-nas ma’iyatullah ini, para pengusung mazhab yang menafikan ketinggian dzat Allah diatas langit, mencoba mengkritik Ahlussunnah, mereka mengatakan : “Sesungguhnya dalil yang kalian jadikan sebagai hujjah pengisbatan ketingian Dzat Allah diatas langit, sangatlah menyelisihi nas-nas/dalil-dalil ma’iyah yang kalian juga berdalih dengannya. Sebab itu jika penta’wilan kami terhadap Uluwullah (ketinggian Dzat Allah) diatas langit dengan Uluwulqodr (Tingginya kemuliaanNya), Uluwul Qohr (Kekuasaan-Nya), dan ‘Uluwul Makanah (Derajat/Kedudukan-Nya) adalah batil maka penta’wilan kalian juga pada dalil-dalil ma’iyatullah dengan makhlukNya dengan kesertaan ilmu, perlindungan dan jaminan-Nya adalah batil juga (karena kalian menta’wil sebagaimana kami menta’wil), demikian pula sebaliknya (jika kalian tidak menta’wil dalil-dalil tentang besemayam-Nya diatas Arsy, mengapa kalian lantas melakukannya (menta'wil) pada dalil-dalil ma’iyatullah?[20]

Jawaban/bantahan :

Tidaklah diragukan bahwasanya makna ma’iyatullah menurut Ahlussunnah, adalah kesertaan Allah dengan makhlukNya dengan perlindungan dan jaminanNya, maupun ilmu dan pengetahuanNya terhadap mereka, ini berdasarkan dzohir dalil dan hakikatnya.

Dan Ahlussunnah sama sekali tidaklah menta’wil ataupun memalingkan lafaz ma’iyah dari maknanya secara dzohir, dan juga sama sekali tidak adanya pertentangan antara nas-nas ma’iyah ini dengan nas-nas Al-Uluw (Ketinggian Dzat Allah), sebab lafaz ma’a dalam bahasa arab jika disebutkan begitu saja secara mutlak, maka ia bermaksud sekedar kesertaan dan kebersamaan yang mutlak/umum dan sama sekali tidak mewajibkan adanya pencampuran, saling bersentuhan, ataupun berdampingan, dan jika disebutkan beserta makna tertentu, maka ia menunjukkan adanya kesertaan yang terbatas pada makna konteks kata tersebut, Hal ini, banyak terdapat dalam Al-Qur’an diantaranya :

“Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku” (A-Baqarah : 43)

“Ayat ini tidak menunjukkan adanya pencampuran dan keikutsertaan bersama orang-orang yang ruku, namun hanya menyebutkan kebersamaan dalam bentuk amal dan ibadah yaitu ruku' (tanpa menunjukkan adanya perkumpulan dalam suatu tempat).

Artinya : “Mereka itulah orang-orang yang bersama orang-orang mukmin (An-Nisa : 146)

Ini menunjukkan bahwa orang ini bersama orang-orang mukmin, walaupun dia di timur dan mereka (orang-orang mu'min) berada di barat.

Jadi, makna ma’iyah dalam dua ayat ini, menunjukkan mutlaknya (umumnya) kesertaan/kebersamaan, dan tidak mewajibkan adanya percampuran, persentuhan dalam keadaan apapun. Dan ini banyak terdapat dalam ucapan, misalnya : “Pemimpin itu beserta tentaranya”. Padahal dia ditimur, sedang tentaranya dibarat. Jika ini bisa terjadi pada hak makhluk maka ini sangat mungkin terjadi pada Maha Pencipta.

Imam Ibnu Mandah berkata : Jika dikatakan (kepadamu) : “Engkau telah menta’wil firman Allah : "Wahuwa ma'akum aynamaa kuntum" (Dan Dia beserta kalian dimanapun kalian berada) dan memaknainya dengan ilmu", Maka kita menjawabnya: “Sungguh kami tidaklah menta’wil ayat itu, karena ayat itu sendiri yang menjelaskan bahwa makna ma’iyah itu adalah dengan ilmu/pengetahuanNya, sebab Allah menyebutkan diakhir ayatnya:

Artinya : “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu” (QS. Al-Mujadilah : 7)

Washollallahu 'alaa muhammad wa'ala aalihi wasohbihi wasallam.

Edisi berikutnya : “Apakah Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya??


[1] Lihat Al-Mu’jam Al Asasy Al-‘Araby hal. 1142, dan Al-Mu’jam Al Wasith hal. 876

[2] Lihat Al Fatawa Al-Hamawiah Al Kubra hal. 501

[3] Al-Qowa’id Al Mutsla hal. 58

[4] Majmu; Fatawa Ibnu Taimiyah (11/249-250)

[5] Ini tambahan dari buku “Syarah Al-qidah Al-Wasithiah karya Al-Fauzan hal. 79

[6] Dinukil oleh Syekh Ibrahim Ar-Ruhaily dalm mudzakirah Al-Asma’ Wasshifat hal. 52

[7] Perkataan ini dinukil oleh Syekh Hamd At-Tunaijiry dalam Tamhid Alhamawiyah hal. 52

[8] Dari buku Ijma’ Al-Juyusy Al Islamiyah hal. 142

[9] Syarah Al-Aqidah Al Washitiyah oleh Al-Fauzan hal. 79

[10] Ibid.hal 76

[11] Al qowaid AL-Mutsla : 68

[12] Ibid hal. 58

[13] Diriwayatkan Muslim (7721)

[14] Diriwayatkan Al-Bukhair (4351) dan Muslim (1036)

[15] Al-Qowaid Al Mutsla : 67

[16] Diriwayatkan Al-Bukhari (406) dan Muslim (547)

[17] Diriwayatkan Abu Dawud (4723), At-Tirmidzi (332), Ibnu Majah (193), Ahmad (1/206-207)

[18] Lihat Al-Qowaid Al Mutsla : 68

[19] Mereka adalah Mu’tazilah dan sekte yang serupa dengan mereka

[20] Lihat : Al Qowaid Al-Mutsla : 68

Read More......

Muhasabah: "hukum dan keadilan milik siapa"

Oleh: Hj. Irena Handono

Fitnah telah terjadi dimana-mana. Ngerumpi dan gosip menjadi bunga-bunga kehidupan sebagian besar masyarakat. Pihak yang kuat makan yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Kata-kata kotor sudah menjadi hiasan bibir warga terhormat.

Kini ketenangan telah terusik dan terkikis oleh kejutan demi kejutan yang terjadi tiap hari seolah sudah menjadi sebuah kewajaran. Telah tiada lagi nuansa adem-ayem, karena dihapus oleh hingar bingar. Seolah tersirat disini segalanya mungkin terjadi, tidak ada yang mustahil.

Bahkan dianggap wajar-wajar saja bila seseorang yang kemarin dianggap sebagai pecundang kini menjadi pahlawan. Warna-warni pun berubah-ubah. Warna yang hitam pun bisa disebut putih, yang biru disebut merah dan seterusnya.

Negeri Indonesia yang elok ini pernah bangga dengan nyanyian “nyiur melambai” dan “nenek moyangku orang pelaut”. Sejauh-jauh mata memandang yang terlihat di daratan adalah hamparan pohon kelapa nan hijau, sedangkan yang terlihat di lautan adalah warna biru jernih sejernih langit. Seribu satu macam ikan menghiasi lautan di negeri ini.

Allah SWT telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr[59]:18)

Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Karena jika hari ini sama dengan hari kemarin berarti kita tergolong orang yang merugi. Jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin berarti kita tergolong orang yang dzolim

Aneka peristiwa telah terjadi di kalangan masyarakat jelata, antara lain:

* Mbah Klijo Sumarto dituduh mencuri satu tandan pisang klutuk terancam 5 tahun penjara.

* Empat warga desa di Jawa Tengah dituduh mencuri kapuk randu, mereka ini juga terancam 5 tahun penjara.

* Mbah Minah petani di Kabupaten Banyumas dihukum percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri 3 buah kakao.

Bagi warga kaya seperti Artalyta, sipenyuap, rumah tahanan bukan tempat untuk memberikan efek jera. Rumah Tahanan Pondok Bambu tidak berarti apa-apa baginya. Dia mampu membayar berapapun untuk mengubah penjara menjadi istana mewah. Sebab bagi dia “bui-ti jannati” (bui/penjara ku = surgaku).

Akhirnya rahasia Arthalyta Suryani (Ayin) terpidana kasus suap Rp 6 milyar terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan, terhukum lima tahun penjara, tentang ruang tahanan mewahnya di Rutan Pondok Bambu tersingkap. Kini dia dipindahkan ke Lapas Wanita Tangerang. Dia menempati satu ruang bersama Darmawati Dareho, terpidana tiga tahun dalam perkara kasus suap kepada anggota DPR RI dan Aling kasus narkoba dengan hukuman penjara seumur hidup.

Sayang sekali bahwa hingar-bingar peristiwa telah membuat masyarakat awam tak tahu harus berbuat apa. Banyak yang cuek-cuek saja. Tapi juga banyak yang ikut-ikutan ribut, tak peduli benar atau salah. Mereka tak punya pegangan hidup. Mereka mengidolakan siapapun yang popular, misalnya; Anggodo, Miyabi, dan lain sebagainya.

Tolong dijawab milik siapakah hukum dan keadilan. Tidak mungkin kita hidup dalam keadaan seperti ini terus-menerus. Mari bangkit berjuang untuk mengubah keadaan ini.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Mari kembali menyimak dan memahami peringatan Allah SWT, karena hidup ini bukan panggung sandiwara. Maka kembalilah pada jati diri kita sebagai umat Islam. Bersama kita merapatkan barisan, berhenti berpecah-belah. Kurangi bicara dan perbanyak berkarya.

Bekasi, 17 Januari 2010

Penulis :
- Ketua Umum Gerakan Muslimat Indonesia
- Pengurus Al Majlis Al’Alami Lil Alimat Al-Muslimat Indonesia (MAAI)
- Pendiri IRENA CENTER (Lembaga Kajian Pembentengan Aqidah & Pembina Mualaf)
Kantor: Taman Villa Baru Blok D no.5 Pekayon Jaya Bekasi. 021-88855562

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP