..::::::..
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat



oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Read More......

Bagaimana Kalau Amalnya Ditolak Seperti Ini



oleh Hartono Ahmad Jaiz
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Read More......

Mengaku Muslim tapi Setia kepada Kafirin

Khutbah Jumat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،

أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Dalam hal menjalankan perintah dan menjauhi larangan, akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehadi-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. Dalam hal ini yang akan kita bicarakan adalah merajalelanya gejala setia kepada orang kafir, yang dalam Islam sangat dilarang, namun di masyarakat justru tampak semakin berkembang.

Untuk mengetahui bagaimana gejala mencintai atau setia atau loyal terhadap orang kafir, mari kita simak uraian ulama terkemuka saat ini yakni Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauszan, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir berikut ini.

Di antara gejala setia terhadap Kafirin

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, bentuk-bentuk kesetiaan atau loyalitas atau bahasa Islamnya wala’ terhadap kafirin sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya akan diuraikan 10 gejala sebagai berikut:

1. Menyerupai kafirin dalam berpakaian, ucapan, sikap dan lainnya. Itu menunjukkan kecintaan pada mereka, karena Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ *. (أبو داود)

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka. (-HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan).

Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, symbol dan akhlak mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali ada kebutuhan yang mendesak, demikian juga dengan mode berpakaian mereka, makan, minum dan sebagainya.

2. Tinggal di negeri kafir dan tidak pindah ke negeri Muslimin untuk menyelamatkan ad-dien. Berdiamnya di negeri kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Allah Ta’ala mengharamkan bermukimnya orang Muslim di antara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(97).

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا(98).

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا(99).

mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun. ( QS An-Nisaa’: 97-99).

Allah Ta’ala tidak menerima alasan setiap Muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka yang lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan ad-dien, misalnya berda’wah dan menyebarkan Islam di negeri mereka.

1. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah bepergian ke negeri kafir dengan tujuan wisata dan rekreasi. Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, studi tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak dapat tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya telah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum muslimin.

Dan disyaratkan pula untuk diperbolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhadap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka. Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah di jalan Allah.

1. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.
2. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.
Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ(118).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ(119).

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ(120).

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali Imran: 118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk memojokkan dan membahayakan ummat Islam.

وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ : قُلْت لِعُمَرِ : إنَّ لِي كَاتِبًا نَصْرَانِيًّا قَالَ : ما لَك قَاتَلَك اللَّهُ أَمَا سَمِعْت اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ } أَلَا اتَّخَذْت حَنِيفِيًّا قَالَ : قُلْت : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لِي كِتَابَتُهُ وَلَهُ دِينُهُ قَالَ : لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ

Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiyallahu anhu: ’Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata: ’Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …} (51) سورة المائدة.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah: 51).

Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab:’Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata:

لَا أُكْرِمُهُمْ إذْ أَهَانَهُمْ اللَّهُ وَلَا أُعِزُّهُمْ إذْ أَذَلَّهُمْ اللَّهُ وَلَا أُدْنِيهِمْ إذْ أَقْصَاهُمْ اللَّهُ

’Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى بَدْرٍ حَتَّى إِذَا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ لَحِقَهُ رَجُلٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَسْتَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ لَا قَالَ ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ. (مسلم)

Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Harrat alwabarah, lalu dia berkata: ’Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Beriman kah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?”, dia berkata:’Tidak’. Beliau bersabda:

ارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ.

”Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”. (HR Ahmad dan Muslim)
Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini banyak terjadi pula di negeri kaum muslimin, negeri Haramain syarifain (Saudi Arabia) yang menjadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, sopir-sopir, pelayan-pelayan, guru-guru di rumah-rumah yang bergaul bersama mereka keluarga muslim atau membaur dengan kaum muslimin di negerinya.

6. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah menggunakan kalender kafirin, khususnya yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar mereka, seperti kalender Masehi yang menyebutkan peringatan hari Kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam yang hari raya itu adalah bid’ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari ajaran Al-Masih (Nabi ‘Isa) ‘alaihissalam. Karena itu menggunakan kalender ini berarti ikut berpartisipasi dalam menghidupkan syi’ar dan hari raya mereka. Hendaknya kita menghindari masalah ini, karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berpaling dari kalender orang-orang kafir dan mereka membuat kalender sendiri yang dimulai dengan peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Hal tersebut menunjukkan wajibnya menyelisihi kaum kuffar dalam masalah ini dan ciri-ciri khas mereka. Semoga Allah Ta’ala menolong kita.

7. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah ikut serta di hari-hari besar kafirin, membantu penyelenggaraan upacara mereka, mengucapi selamat pada hari itu, mendatangi undangan upacara mereka pada hari itu. Firman Allah:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ [الفرقان/72]

”Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu” (QS Al-Furqon/ 25: 72); telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang kafir.



8. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah memuji, terpesona, kagum terhadap kafirin.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى(131).

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Thoha: 131).

Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mencari tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti: kemajuan teknologi, teknik militer dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu justru dituntut.

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

”Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi” (QS. Al-Anfaal: 7).
Pada dasarnya beberapa hal yang bermanfaat dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ …} (32) سورة الأعراف.

“Katakanlah:’Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan juga rejeki yang baik?’. Katakanlah:’Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat…” (QS. Al-A’raf: 32).
Firman Allah Ta’ala:

{وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (13) سورة الجاثية.

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Ak-Jatsiyah: 13).

Allah Ta’ala berfirman:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً …} (29) سورة البقرة.

“Dialah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (QS. Al-Baqoroh: 29).
Oleh karena itu kaum muslimin wajib saling berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai ditemukan orang kafir agar muslimin tidak tergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar Muslimin memiliki industri-industri dan menciptakan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

9. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah memberi nama dengan nama-nama orang kafir.

Banyak di antara kaum muslimin yang memberi nama kepada anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya dan nama-nama yang dikenal di masyarakatnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ خَيْرَ الأَسْمَاءِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَالْحَارِثُ.

“Sesungguhnya sebaik-baiknya nama adalah Abdullah, Abdur Rahman, dan Al-Harits”. (HR Ahmad, shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Anauth)

Perubahan nama-nama tersebut berakibat hilangnya kesatuan dengan generasi sebelumnya, juga menghapus identitas nama keluarga tertentu yang biasa dikenal dengan nama-nama khas mereka.
10. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah berdoa memintakan ampun dan rahmat bagi kafirin. Allah telah mengharamkan hal yang demikian ini dalam firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ(113).

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. (QS At-Taubah: 113).

Karena dalam permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, demikianlah penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, ulama terkemuka sekarang ini, abad ini, dalam bab مظاهر موالاة الكفار Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir—dalam buku:

الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد

Al-Irsyadu isla shahiihil I’tiqaad warraddi ‘alaa ahlis syirki wal ilhaad.

Perlu sangat diperhatikan, terutama dua gejala ini, yaitu gejala keempat dan kelima:

1. 4. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.
2. 5. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.

Dua gejala itu disamping mengancam hancur leburnya keimanan pelakunya, masih pula sangat merugikan kaum muslimin pada umumnya. Maka wajib dihindari sama sekali. Adapun seandainya telah menggejala di masayarakat, maka mari kita berantas sekuat-kuatnya secara tolong menolong dalam kebaikan untuk memberantas kemunkaran. Apalagi masalah ini sangat membahayakan Ummat Islam secara keseluruhan.

Semoga Allah subahanahu wa ta’ala berkenan memberi hidayah kepada kita semua sehingga kita mampu memahamainya dengan baik dan menghindarinya sejauh-jauhnya, karena gejala-gejala itu sangat membahayakan keimanan kita namun tampaknya justru memang menggejala di mana-mana. Hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala bahaya terutama bahaya mencintai kekafiran yang seolah menggoda manusia setiap saat dan bahkan dihiasi dengan kata-kata indah nan menawan sehingga banyak menjerumuskan orang. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah Kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Awas! Misi Kemunafikan Mengancam Ummat Kembali Selepas Ramadhan

(Khutbah Idul Fithri 1432H/ 2011)
Oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan keni’matan-keni’matan kepada hamba-hambanya dan memberikan hari raya Idul Fithri untuk kaum muslimin setelah selesai melaksanakan kewajiban ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Yaitu hari raya yang ditandai dengan membayar zakat fithri untuk memberi makan kaum miskin dan juga membersihkan orang yang puasa dari kata-kata kotor dan keji.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberi makan bagi orang-orang miskin. Siapa yang nelaksanakannya sebelum shalat (Ied) maka itu adalah zakat yang diterima, dan siapa yang melaksanakannya sesudah shalat (ied) maka itu sedekah dari sedekah-sedekah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Artinya, tidak dihitung sebagai zakat fithri yang sah, tetapi hanya sedekah.

Demikianlah tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga shalawat dan salam tetap dicurahkan Allah atas beliau, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman. Dengan tuntunan itu, maka insya Allah orang yang berpuasa Ramadhan dan mengeluarkan zakat itu mendapatkan pahala, sedang kaum fakir miskin pun tersantuni sehingga sebagaimana diharapkan, mereka ikut berbahagia di hari raya, dan di masyarakat tidak tersisa orang yang meminta-minta di hari raya.

Jama’ah idul fithri rahimakumullah, selama bulan Ramadhan kita telah diwajibkan puasa, dan kita kenal sebagai bulan ibadah. Sehingga di masyarakat tampak relative islami, sedang sebagian kemaksiatan pun sementara “diistirahatkan” oleh yang sebenarnya berkuasa mencegah berlangsungnya di hari-hari lain. Dengan kenyataan itu maka bekas dari dibelenggunya syetan-syetan selama Ramadhan itu memang ada, karena memang tentang dibelenggunya syetan itu dijelaskan dalam hadits.

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِين (رواه البخاري، رقم 3277 ومسلم، رقم 1079، وعند النسائي، رقم 2106) وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ.

“Jika telah masuk bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu jahanam ditutup, dan syetan-syetan diikat.”

(HR. Bukhari, no. 2277, Muslim, no. 1079. Dalam riwayat Nasa’i, no. 2106, disebutkan, ‘Dan syetan pembangkang diikat.’)

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya yang terkenal, Fat-hul Bari syarah Shahih Al-Bukhari menjelaskan,

وَقَالَ الْقُرْطُبِيّ بَعْدَ أَنْ رَجَّحَ حَمْله عَلَى ظَاهِرِهِ : فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ نَرَى الشُّرُورَ وَالْمَعَاصِيَ وَاقِعَةً فِي رَمَضَان كَثِيرًا فَلَوْ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ لَمْ يَقَعْ ذَلِكَ ؟ فَالْجَوَابُ أَنَّهَا إِنَّمَا تَقِلُّ عَنْ الصَّائِمِينَ الصَّوْم الَّذِي حُوفِظَ عَلَى شُرُوطِهِ وَرُوعِيَتْ آدَابُهُ ، أَوْ الْمُصَفَّد بَعْض الشَّيَاطِينِ وَهُمْ الْمَرَدَةُ لَا كُلُّهُمْ كَمَا تَقَدَّمَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ ، أَوْ الْمَقْصُودِ تَقْلِيل الشُّرُورِ فِيهِ وَهَذَا أَمْر مَحْسُوس فَإِنَّ وُقُوع ذَلِكَ فِيهِ أَقَلّ مِنْ غَيْرِهِ ، إِذْ لَا يَلْزَمُ مِنْ تَصْفِيد جَمِيعهمْ أَنْ لَا يَقَعُ شَرّ وَلَا مَعْصِيَة لِأَنَّ لِذَلِكَ أَسْبَابًا غَيْر الشَّيَاطِينِ كَالنُّفُوسِ الْخَبِيثَةِ وَالْعَادَات الْقَبِيحَة وَالشَّيَاطِينِ الْإِنْسِيَّة .فتح الباري لابن حجر – (ج 6 / ص 136)

Al-Qurthubi berkata, setelah menguatkan pembawaannya (terhadap hadits itu) pada makna zahirnya (yang nyata, sebenarnya, tidak dita’wil; atau tidak dialihkan maknanya): “Jika dikatakan, bagaimana kita masih dapat menyaksikan banyaknya keburukan dan kemaksiatan di bulan Ramadhan, seandainya syetan diikat, seharusnya hal itu tidak terjadi?” Maka jawabannya adalah, “Bahwa kemampuan syetan menggoda menjadi berkurang dalam menggoda orang-orang yang berpuasa apabila dia memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya. Atau pemahaman lain bahwa yang diikat hanyalah syetan pembangkang, bukan semuanya sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat. Atau yang dimaksud adalah berkurangnya keburukan di bulan tersebut, dan ini adalah perkara yang dapat dirasakan, karena terjadinya keburukan menjadi berkurang di bulan ini. Disamping itu, kalaupun semua syetan diikat, hal itu bukan berarti tidak akan terjadi keburukan dan kemaksiatan, karena semua itu dapat terjadi karena sebab selain syetan, seperti hawa nafsu yang buruk, serta kebiasaan jahat atau karena syetan (dari jenis) manusia.” (Fat-hul Bari oleh Ibnu Hajar, juz 6 halaman 136).

Syekh Abdul Aziz Alu Syaikh sebagaimana dalam muqaddimah Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah nomor 61 khusus Ramadhan menguatkan pendapat yang menurutnya lebih dekat pada kebenaran insya Allah: bahwa diikatnya syetan-syetan itu adalah sebenarnya, dan tidak mesti dari diikatnya seluruh syetan-syetan akan tidak terjadi kejahatan dan maksiat; karena terjadinya kejahatan dan maksiat itu ada pula sebab-sebab dari selain syetan, seperti hawa nafsu yang jahat dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk, dan syetan-syetan (dari jenis) manusia; maka maksud dari itu adalah bagaimanapun sesungguhnya bulan (Ramadhan) ini adalah kesempatan bagi orang yang diberi pertolongan oleh Allah dan dibuka hatinya untuk menerima ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi dari maksiat-maksiat karena banyaknya sebab-sebab dan factor-faktor yang mendorongnya (untuk taat kepada Allah dan menjauhi maksiat). (lihat Makna Hadits Shufidatis Syayathien, http://nahimunkar.com/makna-hadits-shufidatis-syayathien/).

Jama’ah idul fithri rahimakumullah, aneka keberkahan dan bahkan syetan pun dibelenggu itu perlu kita syukuri. Dan hal mensyukuri itu memang dierintahkan oleh Allah ta’ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة/185]

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (shiyam sebulan Ramadhan) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS Al-Baqarah: 185).

Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan (dan hendaklah kamu mengagungkan Allah), berkata Ibnu Abbas: yaitu takbir-takbir malam Idul Fithri. Diriwayatkan dari Syafi’I dan dari Ibnu al-Musayyib dan ‘Urwah dan Abi Salmah bahwa mereka dulu bertakbir pada malam Idul Fithri mereka mengeraskan dengan takbir, dan pada malam nahar (Idul adh-ha) seperti itu pula (dengan takbir) kecuali orang yang dalam keadaan berhaji maka dzikirnya adalah talbiyah (labbaikallahumma labbaik). (Tafsir al-Baghawi juz 1 halaman 201).

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, setelah kita bertakbir dan bersyukur, mari kita evaluasi diri kita dengan keadaan yang ada. Apakah setelah syetan-syetan dilepas lagi dari ikatannya, lalu aneka kemaksiatan dan bahkan perusakan terhadap Islam akan berlangsung kembali? Ini perlu kita sadari, agar diri kita tidak terjebak dan terperosok kepada hal-hal yang buruk setelah selama Ramadhan kita bersusah payah mengendalikan diri semampu kita. Perlu kita sadari, di balik ini ada aneka upaya dan lakon yang merugikan Ummat Islam, bahkan berupa pembodohan dan penyesatan, namun kadang justru seolah dikesankan sebagai penyemarakan Islam atau untuk mendukung Islam atau seolah dekat dengan Islam.

Ada juga yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan Islam, bahkan berupa kemusyrikan, namun karena dibungkus dengan apa yang disebut adat atau semacamnya, hingga dilaksanakan ramai-ramai dan pakai dana yang diserap dari Ummat Islam. Seperti acara-acara ritual kemusyrikan berupa larung sesaji dan sebagainya di mana-mana justru digalakkan atas nama menghidupkan peninggalan nenek moyang atau melestarikan budaya daerah dan sebagainya, maka dengan dalih itupun kemusyrikan yang sangat merusak Islam itu diselenggarakan tiap saat dan dibiayai dengan duit yang diserap dari Ummat.

Astaghfirullahal ‘adhiem…!

Yang seperti itu sebenarnya adalah penjerumusan, penyesatan yang sangat dahsyat. Ancamannya pun neraka.

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, kondisi awam agama (bodoh) yang merata, baik masyarakat biasa maupun intelek, bahkan tokoh agama (karena tokoh agama belum tentu faham agama secara baik dan benar) itu semua menjadi kancah yang empuk untuk menjadikan agama (Islam) sebagai bahan mainan, atau kancah untuk mencari dunia dengan cara “menjualnya”. Sehingga ketokohan dalam agama Islam menjadi dagangan mahal –secara perhitungan orang yang menjualnya (padahal itu sangat rendah bahkan hina)— ketika dijual kepada jalur yang seharusnya tunduk kepada Islam namun menentangnya atau mengetiakinya (manaruhnya di ketiak). Sehingga ketundukan orang yang sudah menjual agamanya itu tidak lagi kepada aturan agamnya namun kepada pembelinya. Entah yang dianggap sebagai pembeli itu jalur kekuasaan, bisnis, organisasi atau partai, agama lain, kemaksiatan yang dianggap menjanjikan uangnya, atau kenikmatan-kenikmatan dunia lainnya.

Akibatnya, jabatan ataupun ketokohan, ataupun ilmu, ataupun wadah berkiprah yang dipakai untuk meraih kenikmatan-kenikmatan dunia dijadikan kendaraan untuk menekuk dan menelikung Islam dan Ummat Islam dengan aneka cara dan polesan. Dan itulah yang di dalam Al-Quran disindir dengan ungkapan menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ [الأنعام : 70]
70. Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (QS Al-An’am: 70)

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, di kala orang-orang seperti itu berkeliaran di bumi ini dan bahkan memegang tampuk-tampuk kendali kehidupan di dunia ini, maka awan kabut yang menghalangi kebaikan (yang kebaikan itu seharusnya diperintahkan dan dilaksanakan) pun halangannya makin menebal. Sebaliknya bahan bakar ataupun aneka sarana dan celah yang akan membuat manusia ini terlena mengikuti hawa nafsunya pun dibuka lebar-lebar, dibiayai, diprogramkan, dan dijadikan lahan bisnis. Tidak lagi memperhitungkan batal haram, maksiat dan tingkah bejat. Benar-benar mereka telah ditipu oleh kesenangan dunia.

Di sinilah inti pembodohan dan penyesatannya, menurut buku Lingkar Pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam tulisan Hartono Ahmad Jaiz. Karena seharusnya manusia ini diarahkan kepada kebaikan yakni segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar dilaksanakan sekemampuannya dengan istiqamah, sedang yang dilarang oleh Allah Ta’ala wajib dihindari; namun justru sebaliknya. Jalan yang menuju kepada kebaikan itu ditelantarkan, atau bahkan dihalangi agar belok jalan, dengan cara dimeriahkan lah aneka upacara dan ritual ataupun keramaian yang sama sekali tidak sejalan dengan kebaikan (Islam). Dalam kondisi yang seperti ini pada dasarnya apa yang digalakkan itu adalah misi kemunafikan, yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an kerjanya adalah memerintahkan keburukan dan mencegah kebaikan.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ [التوبة/67، 68]
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir ). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At_taubah: 67, 68).

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, ada dua factor yang mengakibatkan sebagian orang tergiur oleh ajakan-ajakan mereka hingga terlena.

Dunia ini dikuasai oleh orang kafir, sehingga sarana-sarana dan bahkan aneka aturan di dunia inipun merupakan perangkat untuk mensukseskan aneka program kekafiran. Di situlah ada celah-celah yang menjanjikan, berupa “keuntungan” dan “kesenangan” dunia, yang hakekatnya adalah tipuan dunia.
Dunia ini inti yang diperebutkan manusia untuk diraih adalah harta dunia. Ketika lingkaran dunia ini dalam genggaman pihak nomor satu tersebut, maka siapa yang ingin ikut berebut dunia dengan lancar dan sukses maka harus mengikuti permainan yang diselenggarakannya. Akibatnya, tidak sedikit orang yang menempuh jalur untuk menyenangkan pihak penyelenggara, agar mendapatkan aneka kemudahan dan sebagainya. Disitulah benarnya sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِى الْمَالُ ». (أحمد ، والترمذى – حسن صحيح غريب – وابن سعد ، والحاكم ، والطبرانى عن كعب بن عياض)

Sesungguhnya bagi setiap ummat itu ada ujiannya, dan sesungguhnya fitnah (ujian) ummatku adalah harta. (HR Ahmad, At-Tirmidzi –hasan shahih gharib—Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan At-Thabrani dari Ka’ab bin ‘Iyadh).

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, harta telah menjadi ujian. Ketika lingkaran harta itu di dunia ini tidak dikuasai orang kafir saja godaan dunia itu telah mampu melalaikan sebagian orang, baik dalam mencarinya maupun menggunakannya. Apalagi ketika harta dunia ini di dalam genggaman penguasa dunia yang kenyataannya berpihak pada kekafiran. Maka ujian tambah berat, karena dalam hal mencari dan menggunakannya –agar lancar— ditempuhlah dengan mencari ridho’ kepada pihak kekafiran. Akibatnya, aneka keburukan yang seharusnya diberantas, namun karena justru itu yang diridhoi oleh pihak kekafiran maka keburukan semacam kemaksiatan dan sebagainya itu malahan jadi bahan bisnis. Entah berapa saja bisnis yang berkisar dalam kubangan hitam kemaksiatan.

Di saat seperti itu, maka semoga peringatan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini akan menjadi pelajaran sangat berharga bagi orang yang di dalam hatinya masih ada secercah nur yang belum padam.

عَنْ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ جَارِيَةَ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ

{ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ }

قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِي بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ

وَزَادَنِي غَيْرُهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Dari Utbah bin Abu Hakim ia berkata; telah menceritakan kepadaku Amru bin Jariyah Al Lakhmi berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umayyah Asy Sya’bani ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Tsa’labah Al Khusyani, aku katakan kepadanya, “Wahai Abu Tsa’labah, apa pendapatmu tentang ayat ini: ‘(.. jagalah dirimu..) -Al Maidah: 105-?” Ia menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakan hal itu kepada orang yang tepat. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu menjawab: “Bahkan perintahkanlah kepada perkara yang ma’ruf dan cegahlah dari perkara yang munkar, sehingga ketika engkau melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia lebih diutamakan (dari urusan agama), dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau jaga dirimu sendiri, dan jauhilah orang-orang awam (bodoh). Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar, sabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya, ia menambahkan untukku, “seperti amalan selainnya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!” beliau menjawab: “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR Abu Daud – 3778, At-Tirmidzi, ia berkata hasan gharib, dan Ibnu Majah)

Jama’ah Idul Fithri rahimakumullah, dengan adanya kondisi yang sebenarnya membahayakan bagi Ummat Islam itu, maka sampai ada buku yang ditulis dengan judul Pembodohan dan penyesatan Ummat Islam. Gunanya, untuk memberi peringatan agar Ummat Islam ini menyadari adanya keadaan seperti disebutkan dalam hadits itu, dengan memberikan gambaran kenyataan yang ada di sana-sini.

Jama’ah Idul Fitrhri rahimakumullah, kenapa di saat kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala di hari raya ini justru di sini dikemukakan sesuatu yang menyentak? Ini tidak lain karena memang sebenarnya kaum Muslimin pada umumnya ini perlu ditolong dari kedhaliman. Sedang kedhaliman itu pun dilakukan oleh sebagian orang Islam itu sendiri bahkan kadang atas nama Islam. Pelaku-pelau itu juga perlu ditolong yakni dicegah agar tidak berbuat dhalim lagi, tidak membodohi dan menyesatkan Ummat Islam lagi. Upaya memperingatkan ini di antaranya untuk mengikuti anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ أخرجه البخاري، والترمذي.

Dari Anas radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi”. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizhalimi tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?” Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) “. (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)

Pembodohan dan penyesatan adalah kedhaliman. Sedang Ummat yang jadi sasaran pembodohan dan penyesatan adalah yang didhalimi. Khutbah ini dimaksudkan, dengan penuh harap, siapa-siapa yang berbuat dhalim itu agar berhenti dan tidak lagi melakukannya. Sedang Ummat yang didhalimi yakni dibodohkan dan disesatkan hendaknya menyadari bahwa mereka dalam keadaan seperti itu, hingga menyelamatkan diri sebaik-baiknya.

Semoga Allah mengabulkan harapan hamba-Nya yang lemah ini, dan memberikan keberkahan di dunia dan akherat bagi kita semua yang mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan taat dan konsekuen. Amien ya Rabbal ‘alamien. Sehingga hari raya Idul Fithri ini benar-benar menjadi keberkahan yang dilanjutkan dengan terhindarnya ummat Islam ini dari aneka kedhaliman dan penjerumusan yang membahayakan.

Hanya kepada Allah lah kami menyembah, dan hanya kepada-Nya kami minta pertolongan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) آمين



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

{ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ } { وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ } { وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

(nahimunkar.com)

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Membelakangi Al-Quran, Masalah Besar

(Khutbah Jum’at)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang membelakangi Al-Qur’an adalah masalah besar.

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah ibadah.

jama’ah Jum’ah rahimakumullah, meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu. Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamitu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُو [الفرقان/30]

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diperhatikan.” (terjemah Q.S.Al-Furqon ayat 30).

Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallamyang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallammenangis? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamlah yang sangat mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَلاَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِى إِبْرَاهِيمَ ( رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِى فَإِنَّهُ مِنِّى) الآيَةَ.

وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ ( إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ « اللَّهُمَّ أُمَّتِى أُمَّتِى ». وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ – فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمَا قَالَ. وَهُوَ أَعْلَمُ. فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِى أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوءُكَ.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallammembaca Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim: “ Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim/ 14:36). Dan seterusnya. Dan berkata Isa p: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguh-nya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah: 118). Lalu Nabi Muhammad n mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Alllah, ummatku ummatku” dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi n dan menanyainya. Maka Rasulullah n memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku tidak menjadikanmu sedih.” (HR Muslim dengan Syarah An-Nawawi no 346—202452).

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemukakan bahwa sikap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamitu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamsempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.

Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh manusia melebihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ [ الترمذي، حسن صحيح في تحفة الأحوذي رقم 1930].

“Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah) Yang di langit. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut Tirmidzi –Tuhfatul Ahwadzi– nomor 1930).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga betapa besar semangat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallamagar kerabatnya yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu wa Ta’ala menegurnya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [القصص/56]

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh : 56).

Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallamyang tiada bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri (Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallammasih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak menggubris Al-Quran.

Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ. [رواه البخاري و مسلم].

Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

jama’ah Jum’ah rahimakumullah, sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ [الكهف/57]

yang artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS Al-Kahfi : 57)

Lima golongan yang membelakangi Al-Quran

Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang ada ketika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus dan sesudah itu.

Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredikat menjadikan Al-Quran di belakang punggungnya itu?

Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari Al-Qur’an.

Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:

Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran
Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.
Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya.
Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya.
Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Mahaasinut Ta’wil 12/575).



Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?

Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk muslimah, misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih “sudi” menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallammengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut “disayangi tapi malah tak tahu diri”. Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula,

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الحجرات/16]

yang artinya: “Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (terjemah QS Al-Hujurat : 16).

Usaha Mengikis

jama’ah Jum’ah rahimakumullah, sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh Nabi dan dikecam oleh Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh di desa-desa pelosok sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang setiap malamnya untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap tinggi, walau lampu-lampu yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan minyaknya pun tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk mereka? Kitab-kitab Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah kita pikirkan? Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan ber’iktikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar tentang Al-Quran?

Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam saringan: apakah kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran tersebut atau tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang membelakangi Al-Quran atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap membelakangi Al-Quran itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi saksi di akherat nanti. Itulah yang perlu kita sadari sejak kini.

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al–Quran itu. Amien.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

(alsofwah.or.id dengan dilengkapi teks ayat dan hadits oleh nahimunkar.com)

Read More......

Mumpung Syetan-syetan lagi dibelenggu

Oleh: Ust Hartono Ahmad Jaiz
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang Mumpung Syetan Lagi Dibelenggu.

Terdapat hadits dari Nabi saw, beliau bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِين (رواه البخاري، رقم 3277 ومسلم، رقم 1079، وعند النسائي، رقم 2106) وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ.

"Jika telah masuk bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu jahanam ditutup, dan syetan-syetan diikat."

(HR. Bukhari, no. 2277, Muslim, no. 1079. Dalam riwayat Nasa'i, no. 2106, disebutkan, 'Dan syetan pembangkang diikat.')

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya yang terkenal, Fat-hul Bari syarah Shahih Al-Bukhari menjelaskan,

وَقَالَ الْقُرْطُبِيّ بَعْدَ أَنْ رَجَّحَ حَمْله عَلَى ظَاهِرِهِ : فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ نَرَى الشُّرُورَ وَالْمَعَاصِيَ وَاقِعَةً فِي رَمَضَان كَثِيرًا فَلَوْ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ لَمْ يَقَعْ ذَلِكَ ؟ فَالْجَوَابُ أَنَّهَا إِنَّمَا تَقِلُّ عَنْ الصَّائِمِينَ الصَّوْم الَّذِي حُوفِظَ عَلَى شُرُوطِهِ وَرُوعِيَتْ آدَابُهُ ، أَوْ الْمُصَفَّد بَعْض الشَّيَاطِينِ وَهُمْ الْمَرَدَةُ لَا كُلُّهُمْ كَمَا تَقَدَّمَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ ، أَوْ الْمَقْصُودِ تَقْلِيل الشُّرُورِ فِيهِ وَهَذَا أَمْر مَحْسُوس فَإِنَّ وُقُوع ذَلِكَ فِيهِ أَقَلّ مِنْ غَيْرِهِ ، إِذْ لَا يَلْزَمُ مِنْ تَصْفِيد جَمِيعهمْ أَنْ لَا يَقَعُ شَرّ وَلَا مَعْصِيَة لِأَنَّ لِذَلِكَ أَسْبَابًا غَيْر الشَّيَاطِينِ كَالنُّفُوسِ الْخَبِيثَةِ وَالْعَادَات الْقَبِيحَة وَالشَّيَاطِينِ الْإِنْسِيَّة .فتح الباري لابن حجر - (ج 6 / ص 136)

Al-Qurthubi berkata, setelah menguatkan pembawaannya (terhadap hadits itu) pada makna zahirnya (yang nyata, sebenarnya, tidak dita’wil; atau tidak dialihkan maknanya): "Jika dikatakan, bagaimana kita masih dapat menyaksikan banyaknya keburukan dan kemaksiatan di bulan Ramadhan, seandainya syetan diikat, seharusnya hal itu tidak terjadi?" Maka jawabannya adalah, "Bahwa kemampuan syetan menggoda menjadi berkurang dalam menggoda orang-orang yang berpuasa apabila dia memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya. Atau pemahaman lain bahwa yang diikat hanyalah syetan pembangkang, bukan semuanya sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat. Atau yang dimaksud adalah berkurangnya keburukan di bulan tersebut, dan ini adalah perkara yang dapat dirasakan, karena terjadinya keburukan menjadi berkurang di bulan ini. Disamping itu, kalaupun semua syetan diikat, hal itu bukan berarti tidak akan terjadi keburukan dan kemaksiatan, karena semua itu dapat terjadi karena sebab selain syetan, seperti hawa nafsu yang buruk, serta kebiasaan jahat atau karena syetan (dari jenis) manusia." (Fat-hul Bari oleh Ibnu Hajar, juz 6 halaman 136).

Syekh Abdul Aziz Alu Syaikh sebagaimana dalam muqaddimah Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah nomor 61 khusus Ramadhan menguatkan pendapat yang menurutnya lebih dekat pada kebenaran insya Allah: bahwa diikatnya syetan-syetan itu adalah sebenarnya, dan tidak mesti dari diikatnya seluruh syetan-syetan akan tidak terjadi kejahatan dan maksiat; karena terjadinya kejahatan dan maksiat itu ada pula sebab-sebab dari selain syetan, seperti hawa nafsu yang jahat dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk, dan syetan-syetan (dari jenis) manusia; maka maksud dari itu adalah bagaimanapun sesungguhnya bulan (Ramadhan) ini adalah kesempatan bagi orang yang diberi pertolongan oleh Allah dan dibuka hatinya untuk menerima ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi dari maksiat-maksiat karena banyaknya sebab-sebab dan factor-faktor yang mendorongnya (untuk taat kepada Allah dan menjauhi maksiat). (lihat Makna Hadits Shufidatis Syayathien, http://nahimunkar.com/makna-hadits-shufidatis-syayathien/).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Persoalannya telah jelas. Di bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syetan-syetan dibelenggu. Orang yang berjalan secara wajar, tidak menyimpang, sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka insya Allah akan sampai ke pintu surga. Di sini sebenarnya hanya satu kata, pilih taat atau pilih membangkang terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa taat, maka masuk surga. Siapa membangkang maka masuk neraka. Itulah yang ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى صحيح البخاري: 6851

Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Semua ummatku akan masuk surga kecuali orang yang membangkang. Mereka (para sahabat) bertanya, ya Rasulallah, siapakah yang membangkang? Beliau berkata: Siapa yang mentaati aku maka dia masuk surga dan siapa yang memaksiatiku maka sungguh dia telah membangkang. (HR Al-Bukhari)

Memaksiati artinya menolak untuk menerima dakwah atau tidak mau mengikuti perintah. Demikian penjelasan dalam syarah singkat Shahih Bukhari oleh Dr Musthafa Dieb al-Bigha.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah. Sedemikian tinggi nilai ketaatan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga jaminannya surga. Dan sebaliknya, sebegitu tragis dan bahayanya nilai pembangkangan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mencemplungkan ke neraka. Di Bulan Ramadhan, factor-faktor penyebab yang mendorong kepada ketaatan itu banyak, sedang factor-faktor penyebab yang menyeret untuk jadi pembangkang itu sedikit. Apalagi syetan-syetan telah dibelenggu. Selayaknya, kaum Muslimin taat kepada apa-apa yang telah dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni agama Islam ini. Dan tidak menyeleweng darinya, karena berbagai factor yang menguntungkan Ummat Islam di bulan Ramadhan ini.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketaatan bukanlah suatu hal yang abstrak ataupun samar. Ketaatan itu telah ada aturan yang jelas lagi tegas. Di antaranya penegasan langsung dari Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]


Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Qs Al-Ahzab/33: 36).

jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketika Al-Qur’an dan As-Sunnah menentukan satu perkara, maka tidak ada pilihan lain-lain lagi. Orang yang beriman hanyalah mentaatinya.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُو [النور/51، 52]

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan[1046]. (QS An-Nur/ 24: 51-52).

[1046]. Yang dimaksud dengan takut kepada Allah ialah takut kepada Allah disebabkan dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan yang dimaksud dengan takwa ialah memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Itulah bentuk ketaatan orang mu’min. tidak menyelisihi apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya, yakni yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Di bulan Ramadhan, selayaknya Ummat Islam benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena banyaknya factor pendorong ketaatan, dan minimnya factor pendorong pembangkangan. Sehingga, di bulan Ramadhan ini secara disadari atau tidak, sebenarnya adalah ujian atau saringan. Apakah diri kita ini termasuk yang taat atau justru sebaliknya, yakni pembangkang, yang telah diancam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, yang disebut tidak mau masuk surga. Secara mudah, mari kita ambil contoh, mana yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, lalu apakah kita benar-benar tunduk.

Ketika menghadapi kesulitan hidup atau suatu masalah, ke manakah kita larinya? Kepada Allah Ta’ala atau ke dukun? Atau bahkan kepada orang-orang mati dalam kubur yang dianggap saleh atau dekat dengan Allah? Padahal sudah ada ketentuan, larangan meminta kepada selain Allah Ta’ala yang berkaitan dengan hak Allah atau bukan kemampuan manusia. Seperti masalah nasib hidup, itu hanya boleh minta dan bergantung kepada Allah. Apabila kita meminta kepada dukun atau kuburan wali, kuburan keramat dan sebagainya, maka jelas itu membangkang dari ayat Allah:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [يونس/106]
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [يونس/107]

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106-107).

Ayat itu telah jelas, tidak boleh meminta untuk diberi jalan keluar mengenai nasib hidup dan semacamnya kepada selain Allah, karena yang dapat menghilangkan segala mudharat hanyalah Dia. Bila kita meminta kepada isi kubur, itu sama dengan menyembahnya dan menyerahkan nasib kita kepadanya. Itulah pelanggaran yang besar. Dan apabila kita mengadukan nasib itu kepada dukun, maka jelas ada larangan yang tegas dalam beberapa hadis Nabi s.a.w :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً.(رواه مسلم وأحمد).

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُول فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (رواه أحمد والحاكم).

“Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad dan al- Hakim dari Abu Hurairah).

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا , أَوْ كَاهِنًا , فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد.ٍ (رواه أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجة).

“Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

وَمِنْ طَرِيقِ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ , وَمَهْرِ الْبَغِيِّ , وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ. (متفق عليه).

“Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan harga (jual beli) anjing, mahar kedurhakaan (mahar perzinaan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Contoh lain, yang juga mengenai hal yang prinsip dalam Islam yakni aqidah keimanan, sudah ada ketegasan dari Allah Ta’ala. Misalnya masalah perayaan agama selain Islam, sama sekali Islam melarangnya untuk mengikuti, menghadirinya. Tetapi, apakah orang-orang yang mengaku dirinya Muslim dan berpuasa Ramadhan pula, mereka lebih taat kepada ayat atau kepada lain-lain? Padahal dalam ayat, Allah Ta’ala telah melarang. Contohnya, ayat:

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“…dan Dia (Allah) tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya..” [Az-Zumar:7]

Berdasarkan ayat itu, Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian, karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7] (lihat http://www.nahimunkar.com/fatwa-syeikh-%E2%80%98utsaimin-tentang-hukum-ucapan-happy-christmas-selamat-natal/).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Ketika Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah jelas kita akui sebagai pedoman dalam berislam, sehingga resikonya adalah tunduk dan patuh, tidak ada pilihan yang lain-lain lagi; namun di bulan Ramadhan yang banyak factor pendukung ketaatan, dan hanya sedikit factor penyebab kebangkangan, ternyata kita masih membangkang, lantas sebenarnya kita menunggu apa lagi? Apakah masih ada hari-hari yang lebih baik lagi untuk bisa kita gunakan agar kita bisa taat kepada aturan Allah?

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Kapan lagi kalau bukan sekarang ketika Ramadhan ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk tunduk kepada-Nya? Mumpung syetan lagi dibelenggu, maka seharusnya kita gunakan sebaik-baiknya untuk kembali kepada aturan Allah Ta’ala dengan taat. Tidak membantahnya dengan pikiran-pikiran atau aneka kilah yang hanya mementingkan nafsu dan kesombongan.

Semoga peringatan ini menyadarkan kita bahwa kebenaran itu bukan banyaknya orang yang melakukannya, namun apakah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu, kebenaran itu harus kita dahulukan ketimbang berbasa-basi kepada orang atau siapapun karena menjaga rasa risih dan sebagainya. Ketika kita tetap nekat bergabung dengan orang-orang kafir dalam upacara hari raya mereka bahkan duduk di barisan depan atau bahkan berpidato menyambut dan semacamnya, maka hanya akan menambah deretan pembangkangan kita terhadap Allah Ta’ala, walau diri kita mengaku Muslim. Demikian pula ketika kita ke dukun untuk menanyakan nasib kita, atau ke kubur-kubur keramat untuk mengadukan nasib kita. Itu semua hanyalah menambah pembangkangan kita, yang dalam hadits disebut enggan masuk surga. Oleh karena itu, Ramadhan saat yang diberkahi ini mari kiita gunakan benar-benar, untuk kembali kepada aturan Allah dengan mentaati-Nya, mumpung syetan lagi dibelenggu, dan janganlah justru kita menggantikannya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hambanya yang taat dengan ikhlas, dan dijauhkan dari sikap membangkang terhadap Nabi-Nya yang kapanpun tidak akan menguntungkan. Dan semoga Allah memberkahi kita sehingga dapat menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan ikhlas lillahi Ta’ala. Aimen ya Mujiba saailin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ .


Read More......

Awas! Jangan Menyamakan yang Tidak Sama

(Khutbah Jum’at)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah.

Mari kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai keni’matan dan yang terutama adalah keni’matan Iman dan Islam. Semua itu dari Allah Ta’ala, maka mesti kita syukuri. Dan allah akan menambah keni’matan itu bagi orang-orang yang bersyukur.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah, dalam kesempatan ini kami berwasiat kepada diri kami khususnya dan jama’ah pada umumnya, marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa. Dan jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Muslim.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah, dalam kita menjalani Islam hendaknya kita mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu wahyu matluw (yang dibacakan oleh malaikat Jibril) yakni Al-Qur’anul kariem, dan wahyu ghairu matluw (tidak dibacakan oleh Malaikat Jibril tetapi wahyu juga) yakni hadits Nabi atau secara komplitnya adalah Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka insya Allah kita tidak tersesat. Karena berarti kita telah mentaati Allah, ketika mentaati Rasulullah yaitu mentaati apa-apa yang dibawanya itu.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS An-Nisaa’: 80).

Jama’ah sekalian, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hendaknya secara total. Tidak pilih-pilih. Karena Allah Ta’ala menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 208).

Juga ancaman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا [النساء/150، 151]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan. ( Maksudnya: beriman kepada Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya.) antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)

merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS An-Nisaa’: 150-151).

Jama’ah Jum’at rahimakumullah.

Ancaman dari Allah sebegitu tegasnya. Tidak boleh mengimani sebagian dan menolak sebagiannya. Namun dalam kehidupan akhir-akhir ini, ada orang-orang yang dengan entengnya mengatakan sesuatu yang isinya menolak sebagian ayat Al-Qur’an atau pun As-Sunnah. Bahkan kadang penolaknnya itu total.

Tidak jarang kita dengar, ada orang yang membuat-ibarat-ibarat mengenai agama. Lalu dikatakan, agama itu hanya jalan yang kita lewati untuk menuju suatu tujuan, maka kita boleh lewat mana saja. Mau lewat jalur selatan, jalur utara atau lainnya, boleh-boleh saja. Yang penting tujuannya sama, nantinya akan sampai juga.

Pengibaratan yang sudah sering terdengar itu kemudian oleh seseorang sutradara terkenal yang kini tampak dihujat Ummat Islam karena ketahuan liberalnya. Ungkapan pengibaratan agama dengan jalan tersebut kemudian dia ilmiyah-ilmiyahkan. Lalu dia katakan: Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.

Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium.

Astaghfirullahal ‘adhiem. Agama hanya diibaratkan sarana, medium, mau pakai piring atau daun pisang terserah saja. Yang penting vitamin yang ada di dalamnya.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah. Bicara agama mestinya pakai dalil yaitu ayat atau hadits yang shahih. Dan tidak boleh menyamakan sesuatu yang tidak sama. Agama tidak sama dengan piring atau daun pisang. Ketika Allah Ta’ala mengutus para rasul, dan yang terakhir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh manusia (dan jin) itu bukan mengajarkan agar pilih agama apa saja. Tetapi Allah Ta’ala menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali ‘Imran: 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران/85]

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali’Imran: 85).

Jama’ah jum’at rahimakumullah,

Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in itu mereka anggap cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhammad saw, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam Al-Qur’an. Di antaranya ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28).

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia.” (As-Saba’: 28).

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.

“Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua.” (Al-A’raaf: 158).

Lebih jelas lagi, dalam hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ * . (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits shahih Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Jama’ah Jum’at rahimakumullah, ayat-ayat Al-Qur’an telah menegaskan bahwa yang mencari selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima agamanya itu dan di akehart termasuk orang-orang yang rugi; dijelaskan dalam hadits tersebut yaitu termasuk penghuni neraka. Bahkan selain orang Muslim maka mereka kekal di neraka jahannam. Karena Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة/6]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Qs Al-Bayyinah/98: 6).

Sebaliknya, orang yang beriman dan beramal shalih difirmankan:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ [البينة/7] جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ [البينة/8]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS Al-Bayyinah/ 98: 7-8).

Semoga kita mengimani benar-benar ayat-ayat tersebut, dan sama sekali tidak mau mengikuti perkataan orang-orang yang menyama-nyamakan sesuatu tanpa dalil yang shahih.

Akhir-akhir ini gencar sekali aneka pihak menyamakan antara orang laki-laki dan perempuan. Entah dengan alasan emansipasi, atau apa yang mereka sebut persamaan jender (gender). Sampai pernah ada yang membuat konter legal draf kompilasi hukum Islam yang isinya, lelaki pun dikenai ‘iddah (masa tunggu) sebagaimana perempuan (ketika cerai karena suaminya mati atau cerai ketika masih hidup). ‘Iddah bagi laki-laki Itu sangat mengada-adakan syari’at baru yang tidak diadakan oleh Allah Ta’ala. Dan Allah telah menegaskan, tidak sama antara lelaki dan perempuan.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى [آل عمران/36]

dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS Ali ‘Imran: 36).

Dalam hukum-hukum tertentu pun tidak sama. Allah Ta’ala berfirman:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ [النساء/11]

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. (Qs An-Nisaa’/4: 11).

Jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Banyaknya orang yang dengan mudahnya memain-mainkan agama dengan menyama-nyamakan sesuatu tanpa dalil yang shahih, kadang menyeret sebagian orang untuk ikut-ikutan bahkan ikut meramaikan dalam memain-mainkan agama pula. Di antaranya ada yang mengatakan, karena boleh minta didoakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, maka boleh juga kita minta beliau doakan ketika beliau telah wafat. Ketika kita boleh minta didoakan oleh Nabi yang sudah wafat, berarti boleh juga minta didoakan oleh orang shaleh yang sudah wafat, dan seterusnya. Ungkapan ini sangat berbahaya, karena telah menyeret kepada penyamaan hal yang tidak sama. Karena orang yang masih hidup tidak sama dengan yang sudah meninggal. Telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ [فاطر/19-22]

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. (QS Father/ 35: 19-22).

Jama’ah Jum’at rahimakumullah, dengan penjelasan-penjelasan ayat-ayat dan hadits tersebut semoga kita terhindar dari faham-faham yang disebarkan oleh orang-orang liberal ataupun yang menambah-nambah syari’at dengan qiyas-qiyas batil dan semacamnya untuk menyamakan hal-hal yang tidak sama. Akibatnya, membantah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kalau demikian, maka betapa jauhnya dari Islam, dan betapa ruginya.

Akhirnya, semoga kita benar-benar menjadi Ummat Islam yang mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah dijamin taat kepada Allah Ta’ala bila telah taat kepada beliau, tanpa mengurangi, menambahi apalagi mengingkarinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

===============

Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا لله رَب الْعَالَميْنَ.

(nahimunkar.com)

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP