..::::::..

Palestina, tanggung jawab siapa?

Persoalan Palestina merupakan pokok permasalahan umat Islam. Ia adalah persoalan aqidah di dalam pemikiran umat Islam, bukan sekadar persoalan sebidang bumi yang dirampas atau satu bangsa yang dihalau. Malah ia adalah persoalan yang lebih besar daripada itu. Namun ia tetap merangkumi kedua persoalan di atas.


Persoalan tipu muslihat dan konspirasi Yahudi itu telah dirangkumkan oleh al-Quran. Bermula daripada penentangan kaum Yahudi terhadap para Nabi yang pernah diutuskan kepada mereka sampai kepada sifat memungkiri janji dan tidak amanah serta penyembahan anak lembu ciptaan mereka.

Persoalan Yahudi dan kejahatan mereka telah mengambil ruang yang amat luas di dalam al-Quran. Dalam satu ayat Allah berfirman yang bermaksud:

"Telah dilaknat mereka yang kufur daripada keturunan Bani Israel melalui lisan Nabi Allah Daud dan Isa ibni Maryam karena mereka durhaka dan melanggar batas-batas Allah." (Al-Maidah: 78)

Kehadiran topik mengenai Bani Israel di dalam al-Quran merupakan persoalan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Persoalan itu berkelanjutan hingga kini sehingga Allah menentukan tokoh atau golongan yang akan memperjuangkan permasalahan Palestina sehingga Palestina kembali ke pangkuan negara Islam sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar al-Faruq dan Salahuddin al-Ayubi. Inilah janji Rasulullah yang benar.

Perjuangan akan datang berpihak kepada kaum yang tertindas yang benar-benar ikhlas kepada Allah, tidak sama sekali untuk golongan yang pengecut dan penakut. Ketika itu setiap pepohonan dan batu akan memberitahu: "Wahai pejuang Muslim, ini dia si bedebah Yahudi sedang bersembunyi di belakang aku, ayo bunuhlah dia, kecuali sejenis pohon yang dikenali sebagai pohon zarqod.

Persoalan ini secara langsung menyentuh persoalan ibadat. Setiap Muslim berikrar sekurang-kurangnya 17 kali setiap hari di hadapan Allah dengan menyebut ghoiril maghdhu bi alaihim wa ladhallin (bukan jalan yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Yang pertama dimaksudkan dalam ayat itu ialah kaum Yahudi dan golongan yang kedua ialah Nasrani.

Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh kaum pengkhianat itu sehingga mereka mengharapkan agar kaum Muslimin membelakangkan al-Quran? Jawaban ini telah dijelaskan kepada kita oleh al-Quran dengan maksudnya:

"Dan sama sekali kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dengan kamu melainkan setelah kamu mengikuti agama mereka". Nah, itulah ketegasan al-Quran memberikan panduan kepada penganutnya. Tetapi malangnya pemimpin boneka mereka yang pernah menziarahi Tel Aviv melarang orang Islam membaca ayat-ayat yang menyentuh kaum Yahudi. Merekalah sebenarnya pelopor keamanan yang palsu. Suatu ketika dahulu mereka telah menjual Palestine melalui Perjanjian Camp David.

Dimanakah perwira yang pernah mengangkat ranting pohon dan mengemakan perjuangan bersenjata menentang ancaman Zionis? Dimanakah pahlawan yang menyeru kepada pembebasan bumi Isra dan Mi raj daria tangan kotor Yahudi? Dimanakah pejuang yang menyeru untuk kemerdekaan qiblat pertama dan tanah haram ketiga, Baitul Maqdis?

Bagaimanakah dengan peristiwa tragis Dir Yassin, Sabra dan Shatila serta al-Karamah? Apakah semua peristiwa itu berlalu begitu saja tanpa ada hikmah dan pelajarannya? Kiranya peristiwa yang menyayat hati itu telah dilupakan atau sengaja dilupakan oleh pengkhianat yang berbaju pejuang. Umat Islam yang ikhlas dengan perjuangannya tidak akan pernah melupakan sayatan luka yang telah ditorehkan oleh Yahudi, Sama sekali tidak akan pernah.

Ingatan kita masih segar dengan peristiwa kebangkitan umat yang bangun menentang Perjanjian Balfore. Menteri Luar Inggeris telah menyatakan tekadnya untuk membantu menegakkan negara Yahudi di bumi Palestina, diikuti dengan skenario penaklukan Palestina. Rancangan yang diakui oleh perserikatan bangsa-bangsa Barat itu memperkukuhkan Perjanjian Balfore.

Bangsa Arab dan umat Islam seluruhnya sepakat mengangkat jari dan bertanya: Siapakah si Balfore yang berhak memberi dan menyerahkan bumi Palestina kepada bangsa Yahudi terkutuk itu?, sehingga menjadi opini umum bahwa mereka adalah orang yang menyerahkan sesuatu yang bukan miliknya kepada orang yang tidak berhak . Ini adalah drama palsu yang dilakonkan di dalam kepalsuan.

Kaum Muslimin seluruhnya telah menanggung derita akibat bencana yang menimpa mereka. Di sinilah bermula titik hitam dalam sejarah umat Islam. Selepas itu Amerika Serikat pula yang menangani masalah Yahudi ditambah Troman dan Roosevelt yang meneruskan tugas Inggeris dalam menindaklanjuti konspirasi Zionis antara bangsa terhadap umat Islam. Bantuan datang berbondong-bondong kepada Yahudi disaat hak bangsa Palestina di bumi sendiri diabai dan dibelakangkan. Selepas itu penghijrahan Yahudi ke bumi Palestina dibuka dengan seluas-luasnya, kumpulan demi kumpulan. Program yang penuh perencanaan itu menyusul satu demi satu dengan kemasan dan keamanan.

Pada 1948, satu angkatan bersenjata Islam telah dibentuk bagi membebaskan bumi Isra dan Mi raj dari cengkaman Yahudi. Persatuan itu mendapat sokongan negara Arab dan Islam yang lainnya apabila tenaga sukarelawan datang begitu besar. Sewaktu pertempuran sengit antara kedua-belah pihak itu, ada konspirasi jahat dan pengkhianatan terhadap pasukan Islam itu.

Pengkhianat Yahudi tidak berlaku secara terang-terangan di mata dunia. Dalam satu tragedi yang memilukan mereka melakukan pembantaian massal terhadap wanita dan anak-anak. Angkara durjana itu bertujuan mengusir bangsa Arab dari bumi Palestina dan membiarkan Yahudi menguasai sepenuhnya bumi Palestina.

Ancaman konspirasi jahat itu berjalan lancar. Apabila Inggeris mengisyaratkan penarikan diri dari jajahannya Palestina, maka golongan Yahudi di Tel Aviv terus mengupayakan pembentukan negara Israel. Beberapa menit saja setelah kesepakatan pembentukan negara Israel itu, Presiden Amerika Serikat, Troman memberikan pengakuannya kepada Negara Yahudi. Di Moscow, kerajaan pimpinan Stalin turut mengumumkan pengakuan yang sama atas Kerajaan Yahudi itu.

Begitulah hari-hari berlalu. Rencana konspirasi terus berjalan dari satu babak ke babak berikutnya dengan penuh keberhasilan sehingga meningkat kepada tercetusnya serangan trio, Inggeris-Perancis-Israel kepada Mesir, Peperangan Ramadhan, kunjungan Presiden Anwar Sadat ke Tel Aviv, Camp David dan kebogongan di Jerico.

Perjanjian Balfore dengan tegasnya menyatakan: Sesungguhnya Raja Britain (Inggris) melihat pembentukan Kerajaan Yahudi di Palestina dengan penuh simpati. Baginda Raja akan memberi perhatian penuh dan sokongan kepada pencapaian maksud ini. Inggris telah berjanji kepada Yahudi dan melaksanakan janji itu dengan melayani segala keinginan Israel, berawal dari pengakuan hingga kepada sokongan dan bantuan. Pada waktu yang sama Inggris menaburkan seribu janji palsu kepada bangsa Arab dan umat Islam serta memberikan jaminan dusta bagaikan fatamorgana. Mereka tertipu dan terus memberikan pengharapan kepada Inggeris dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat sama seperti saudaranya, Inggeris, juga menaburkan janji-janji kosong yang menjanjikan kemusnahan, kehancuran, malah penyerahan dan penghapusan sepenuhnya etnik serta keturunan Arab di bumi Palestina, bumi Islam itu. Orang yang mengakui Kerajaan Israel dua, dalah orang yang sama merancang dan menyusun permainan politik kotor dengan berlindung di balik istilah proses perdamaian.

Apakah pelopor perdamaian (kononnya) ini belum sadar dari kesesatan mereka? Tidakkah mereka kembali kepada Al-Qur'an yang dengan jelas menyebut dan memberi peringatan kepada mereka?

"Demi sesungguhnya engkau mendapati manusia yang sangat memusuhi orang-orang yang beriman ialah orang Yahudi dan Musyrik". (Al-Madiah: 82)

"Dan apakah mereka akan terus dengan kesesatan mereka itu sehingga Allah menggantikan tempat mereka dengan satu kaum yang lain. Dan jika kamu berpaling, maka Allah akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dari kamu dan kaum itu tidak seperti kamu". (Al-Fath: 38)
Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com

Read More......

Masyarakat islam dalam mengatasi bahaya kemurtadan

Bahaya besar yang dihadapi oleh masyarakat Islam adalah ancaman terhadap aqidahnya, oleh karena itu murtad dari agama atau kufur setelah beriman merupakan bahaya terbesar bagi masyarakai Islami. Dan ini pula yang selalu diupayakan oleh musuh-musuh Islam untuk kemudian dapat mengacaukan barisan kaum Muslimin dengan kekuatan dan persenjataan serta berbagai bentuk makar dan tipu daya yang lain. Allah SWT berfirman:

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat, mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup" (Al Baqarah: 217)


Dewasa ini masyarakat Islam menghadapi serangan-serangan yang keras dan serbuan-serbuan yang gencar yang bertujuan untuk mencabut nilai-nilai Islam dari akarnya. Di antaranya ini dilakukan melalui serangar missionaris kristen yang bekerja sama dengan imprealis barat. Mereka terus melakukan aktifitasnya di dunia Islam terutama di wilayah minoritas Muslim yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum Muslimin di dunia Sebagaimana diumumkan dalam muktamar "Colorado" pada tahun 1978 yang membahas tidak kurang dari empat puluh agenda seputar Islam dan kaum Muslimin berikut strategi untuk menyebarkan agama nasrani di kalangan kaum Muslimin dengan dana seribu juta dolar. Selain itu telah didirikan lembaga "Zwemmer" untuk mencetak para spesialis dalam hal mengkristenkan kaum Muslimin.

Serangan juga dilakukan oleh kaum Komunis yang telah menjelajah negara-negara Islam secara keseluruhan, baik di Asia, Afrika maupun di Eropa. Mereka bekerja dengan segenap kemampuan untuk memadamkan Islam dan mengusirnya dari kehidupan ini secara total, kemudian mendidik generasi-generasi yang tidak lagi memahami Islam baik banyak atau sedikit.

Serangan lain juga dilakukan oleh kelompok sekuler anti agama yang secara terus menerus melakukan aktivitasnya sampai saat ini di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Kadang-kadang mereka bergerak secara terang-terangan dan kadang-kadang secara sembunyi. Mereka ingin menghilangkan ajaran Islam yang sebenarnya kemudian mengganti dengan Islam yang penuh khurafat, barangkali inilah yang merupakan serangan paling buruk dan paling berbahaya.

Kewajiban masyarakat Islam agar tetap bisa terpelihara keberadaan mereka' adalah berupaya memerangi kemurtadan dari mana saja sumbernya dan dalam bentuk apa pun. Masyarakat Islam hendaknya tidak memberi kesempatan kepada mereka sehingga tidak sampai menyebar/menjalar seperti menjalarnya api di daun-daun yang kering.

Itulah yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar RA dan para sahabat yang lainnya, ketika memerangi orang-orang yang murtad, pengikut nabi-nabi palsu, yaitu Musailamah, Sajjah, Al Asady dan A1 'Anasy, hampir saja mereka melepaskan Islam dari ayunannya.

Merupakan suatu bahaya besar jika masyarakat Islam diuji dengan munculnya orang-orang yang murtad dan keluar dari agama. Kemurtadan menjadi menyebar luas, sementara kita tidak mendapatkan orang dapat menghadapi dan memberantasnya. Inilah yang diungkapkan oleh salah seorang ulama tentang kemurtadan yang ada saat ini dengan ungkapan: "Suatu kemurtadan yang tidak ada Abu Bakar di dalamnya."

Kita harus memberantas kemurtadan secara individu dan membatasinya' sehingga tidak menjalar baranya menjadi kemurtadan secara kolektif yang terstruktur' karena api unggun itu berasal dari api yang kecil.

Karena itulah para Fuqaha, bersepakat untuk memberikan hukuman pada orang yang murtad, meskipun mereka berbeda pendapat tentang batasan hukumannya. Adapun jumhur berpendapat mereka harus dibunuh, dan inilah pendapatnya madzahib empat, bahkan delapan imam.

Selain itu ada beberapa hadits shahih dari sejumlah sahabat, antara lain dari Ibnu Abbas, Abu Musa, Mu'adz, Ali. Utsman, Ibnu Mastud, Aisyah, Anas, Abu Hurairah, dan Mubawiyah bin Haidah RA.

Dalam haditsnya Ibnu Abbas RA dikatakan:

"Barangsiapa menukar mengganti agamanya maka bunuhlah ia." (HR. Al Jamaah kecuali Muslim)

Dalam haditsnya Ibnu Mas'ud dikatakan:

"Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, kecuali (halal) dengan salah satu dari tiga: jiwa manusia dibalas dengan jiwa pula, duda yang bezina, orang yang meninggalkan agamanya dan orang yang berpisah dari jama 'ah." (HR. Al Jamaah)

Dalam riwayat lain disebutkan sebagai berikut:

"Seseorang yang kafir setelah Islam, atau berzina setelah menikah, atau membunuh jiwa yang tidak bersalah." (HR. Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah)

Al 'Allamah Ibnu Rajab mengatakan: Hukuman bunuh untuk keseluruhan dari tiga hal tersebut itu telah menjadi konsensus kaum Muslimin.3)

Sahabat Ali RA pernah melaksanakan hukuman murtad kepada suatu kaum yang mengakui ketuhanannya, maka beliau membakar mereka dengan api. Yakni setelah mereka diperintah untuk bertaubat, tetapi mereka menolak, maka Ali RA melemparkan mereka ke dalam api.

Ibnu Abbas RA dalam hadits lain menolak hukum tersebut:

"Janganlah kamu sekalian menyiksa (menghukum) dengan siksa Allah (yaitu membakar)" dan Ibnu Abbas berpendapat bakwa yang wajib mereka itu dibunuh, bukan dibakar, maka khilaf (perselisihan) Ibnu Abbas di sini adalah dalam wasilah (sarana) bukan masalah mabda' (prinsip)."

Demikian juga Abu Musa dan Mu'adz pernah melaksanakan hukuman dengan membunuh terhadap orang Yahudi di Yaman yang Islam kemudian murtad, Mu'adz mengatakan, "Ini adalah hukuman Allah dan Rasul-Nya." (Muttafaqun 'Alaih).

Abdur Razzaq pernah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Mas'ud pernah menangkap suatu kaum yang murtad dari Islam yaitu dari penduduk Iraq' maka Ibnu Mas'ud berkirim surat kepada Umar untuk memberi tahu tentang mereka' dan Umar membalas suratnya dengan mengatakan:

"Tawarkan kepada mereka agama yang haq (benar) dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, apabila mereka menerimanya maka lepaskanlah. Tetapi jika mereka tidak mau menerima maka bunuhlah mereka."Akhirnya sebagian dan mereka ada yang menerima, lalu dilepaskan, tetapi sebagian yang lainnnya tidak menerima, lalu dibunuh." (HR.Abdur Razzaq dalam kitab Mushannifnya)

Diriwayatkan dari Abi Amr Asy-Syaibani bahwa sesungguhnya Mustaurid Al 'Ajli telah masuk agama Nasrani setelah ia Islam, maka 'Utbah bin Firqid mengirimkannya kepada Ali, lalu Ali RA meminta kepadanya agar bertaubat, tetapi ia menolak maka Ali RA membunuhnya (diriwayatkan oleh Abdur Razzaq).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Nabi SAW pernah menerima taubatnya sekelompok dari orang-orang yang murtad dan memerintahkan untuk membunuh sekelompok lainnya. Disebabkan kemurtadan mereka akan membawa bahaya untuk Islam dan kaum Muslimin. Seperti perintah beliau untuk membunuh Miqyas bin Khababah pada peristiwa Fathu Makkah ketika ia murtad dan membunuh seorang Muslim serta mengambil hartanya dan ia tidak mau bertaubat."abi juga memerintahkan untuk membunuh kaum 'Uraniyyiin ketika mereka murtad dan berbuat kejahatan. Demikian juga Nabi SAW memerintahkan untuk membunuh Ibnu Khaththal ketika ia murtad dan mencaci maki serta membunuh seorang Muslim, dan memerintahkan untuk membunuh Abi Sarah ketika ia murtad dan mencaci maki Nabi serta membuat kebohongan. Ibnu Taimiyah memisahkan antara dua jenis: bahwa kemurtadan yang murni (tidak disertai dengan kejahatan) itu diterima taubatnya, sedangkan kemurtadan yang disertai dengan memerangi/memusuhi Allah dan Rasul-Nya serta berusaha membuat kerusakan di bumi ini, maka dia tidak diterima taubatnya sebelum ia mampu.4)

Ada yang mengatakan: Belum pernah ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah membunuh orang yang murtad, sehingga apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah bertentangan dengan pendapat ini dan seandainya itu benar maka dosa ini belum pernah muncul di masa Nabi, sebagaimana Nabi belum pernah memberikan sanksi kepada seseorang yang berbuat seperti perbuatan kaumnya Nabi Luth, karena memang belum pernah ada di masa beliau SAW

Meskipun Jumhur ulama mengatakan dibunuhnya orang yang murtad, tapi ada riwayat dari Umar bin Khaththab yang bertentangan dengan itu.

Abdur Razzaq, Al Baihaqi dan Ibnu Hazm meriwayatkan bahwa Anas pernah kembali dari"Tustar," maka ia datang menghadap Umar RA, lalu Umar bertanya, "Apa yang diperbuat oleh enam orang dari kelompoknya Bikr bin Wail yaitu orang-orang yang murtad dari Islam' lalu bergabung dengan orang-orang musyrik?" Anas menjawab, "wahai Amirul Mukminin, mereka itu kaum yang murtad dari Islam lalu bergabung dengan orang-orang musyrik, mereka dibunuh dengan peperangan," maka Umar membaca Istrja' (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun). Anas berkata, "Apakah tidak ada jalan lain kecuali dibunuh?." Umar bertanya, "Ya, saya dulu menawarkan kepada mereka untuk masuk Islam (kembali), jika mereka menolak maka mereka saya penjara."5)

Ini juga merupakan pendapatnya Ibrahim An-Nakha'i dan Ats-Tsauri yang mengatakan, Pendapat inilah yang kami ambil." Di tempat lain ia mengatakan'"Ditangguhkan sesuatu yang saya harap taubatnya."

Menurut pendapat saya, bahwa ulama telah membedakan tentang masalah bid'ah. ada yang mughallazhah (berat) dan ada yang mukhaffafah (ringan), sebagaimana ulama juga memisahkan tentang orang-orang yang berbuat bid'ah' ada yang mengajak dan ada yang tidak mengajak (mempengaruhi orang lain), demikian juga harus kita bedakan tentang masalah kemurtadan, antara yang berat ada pula yang ringan dan tentang orangorang yang murtad, ada yang mengajak kemurtadannya dan ada yang tidak mengajak.

Maka apabila kemurtadan itu berat seperti murtadnya Salman Rusydi dan dia mengajak ke arah kemurtadannya, baik dengan lesan atau penanya, maka yang lebih baik bagi orang seperti ini adalah diperberat hukumannya, dan mengambil pendapat jumhur ulama dan zhahirnya hadits. Karena demi memberantas kejahatan dan menutup terbukanya pintu fitnah, jika tidak maka mungkin mengambil pendapatnya Imam An-Nakhasi dan Tsauri yang diriwayatkan dari Umar Al Faruq.

Sesungguhnya orang murtad yang mengajak kepada kemurtadannya itu tidak sekedar kufur terhadap Islam, tetapi tindakannya tersebut merupakan pernyataan perang terhadap Islam dan ummatnya. la termasuk orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi. Dan peperangan itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyah ada dua macam, peperangan dengan tangan dan peperangan dengan lesan. Peperangan dengan lesan dalam masalah agama bisa jadi lebih kejam dari pada peperangan dengan tangan, oleh karena itu Nabi SAW membunuh orang yang memeranginya dan memerangi ajarannya dengan lesan sedangkan beliau membiarkan sebagian orang yang memeranginya dengan tangan.

Demikian juga kerusakanr kerusakan itu ada yang diakibatkan oleh tangan dan bisa juga oleh lesan. Kerusakan dalam agama yang disebabkan oleh ucapan lesan itu berlipat ganda dari kerusakan dengan tangan. Maka telah menjadi suatu ketetapan bahwa memerangi Allah dan Rasul-Nya dengan lesan itu merupakan kesalahan yang lebih berat, dan membuat kerusakan di bumi dengan lesan itu lebih kejam.6)

Pena merupakan salah satu dari dua lesan, sebagaimana dikatakan oleh para ahli hikmah dalam mutiara kata. Bahkan mungkin pena lebih tajam dari pada lesan dan lebih kejam. Terutama pada zaman kita sekarang ini karena memungkinkan tersebarnya tulisan dalam lingkup yang luas.

Selain orang yang murtad itu dihukum dengan perlakuan yang keras tidak terhormat dari jamaah Muslimah (kaum Muslimin), dia juga kehilangan dukungan, cinta dan bantuan dari kaum Muslimin. Allah SWT berfirman:

"Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpm, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (Al Maaidah: 51)

Bagi orang-orang yang berakal. ini lebih keras dari pembunuhan fisik.

3) Lihat Syarah Hadits ke-14 dari iJami'ul Ulum wal Hikam'

4) Ash-Sharimul Maslul, karya Ibnu Taimiyah. hal 368

5) Riwayat AWur-Razzaq dalam Al Mushannif: 1/165-166

6) As-Sharimul Masiul, Ibnu Taimiyah hal 385

Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com

Read More......

langkah-langkah perjuangan sang "professor"

Ust. Hartono Ahmad Jaiz

Seorang profesor yang sudah cukup tua tampak turun gunung. Itu pertanda suasana agak gawat. Kalau beliau tidak turun tangan maka akan dianggap tidak mau cawe-cawe (berpartisipasi).

Maka dia keluarkanlah jurus-jurusnya, baik lewat televisi maupun majalah, untuk membela "cucunya" (Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL/ Jaringan Islam Liberal) yang akan dipites (1) orang gara-gara tulisannya (di koran Katolik, Kompas, 18 November 2002, berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam") yang lancang dan mengusik kebenaran Islam.

Sang Profesor berupaya keras untuk meyakinkan khalayak ramai bahwa cucunya tidak bersalah, hanya beda pendapat belaka, dan itu sah-sah saja. Untuk membela cucunya itu dia tuding orang yang mau memites cucunya itu sebagai kelompok Islam radikal, garis keras, ekstrem, fundamentalis, militan, bahkan dia ambil pula istilah dari orang walan tardho yaitu skripturalis yang artinya injili.

Dia tudingkan telunjuknya ke orang yang mau memites cucunya itu satu persatu sambil menyebut bulan atau tahun lahir masing-masing kelompok.

Dengan serak-serak berat, Sang Profesor mengemukakan data: Ada Gerakan Tarbiyah pada 1980-an, Komite Indonesia untuk Solidaritas (1987) -dia tidak terus terang menyebut KISDI-- , dan Ikhwanul Muslimin (1993).

Data yang di tangannya dikemukakan pula bahwa ada kelompok radikal yang baru lahir masa reformasi di antaranya Front Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (Maret 1998), Front Pembela Islam (Agustus 1998), Himpunan Mahasiswa Antar Kampus (Oktober 1998), Hizbut Tahrir Indonesia (Mei 2000), dan Majelis Mujahidin (Agustus 2000).

Dia katakan, kelompok Islam fundamentalis itu ingin melaksanakan "hukum Tuhan" (2), termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, atau qishash bagi pembunuh. Sementara itu cucu dia yang tergabung dalam Islam Liberal berani menafikan hukum Tuhan itu. Maka akan dipites orang. Tentu saja Sang Profesor perlu turun gunung membelanya.

Dalam hal bela membela, Sang Profesor ini memang sudah banyak pengalamannya;

1. Ketika Pak Munawir Sjadzali (Menteri Agama 1983-1993) melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil, dan Pak Munawir berpidato di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta bahwa ada beberapa ayat Al-Qur'an yang kini tidak relevan lagi; maka Sang Profesor membela Pak Munawir.

Sang Profesor berpidato di hadapan 200-an ahli syari'at di Kaliurang Jogjakarta. Lalu dengan ilmu sebatas kemampuannya, Sang Profesor ingin membela gagasan Pak Munawir. Kata Sang Profesor, kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya? Maka meledaklah tawa para hadirin yang kebanyakan tenaga ahli syari'ah di Pengadilan-Pengadilan Agama berbagai kota yang sudah biasa memberi fatwa waris.

Mereka sepontan menertawakan Sang Profesor yang tampak terlalu tidak menguasai materi pembahasan ini. Saat itu pula mendadak sontak Sang Profesor ini turun dari podium, langsung balik klepat (cepat-cepat) ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Bagaikan orang yang nglurug (datang dengan menantang bertanding) tiba-tiba jatuh tersungkur, maka bangkit langsung mlayu nggendring (lari tunggang langgang).

Kalau dikaitkan dengan tarikh/ sejarah, mungkin seperti kasus jagoan jahiliyah di Pasar Ukadz di wilayah Makkah menantang khalayak, tahu-tahu dijotos Umar bin Khotthob langsung nggledak (jatuh tersungkur). Jotosan para ahli syari'at di Kali Urang Jogjakarta itu cukup hanya dengan tertawa bersama, lantas podium pun goyang hingga Sang Profesor yang berdiri di podium itu tidak kerasan lagi, langsung turun dan lari.

2. Di kesempatan lain lagi, Sang Profesor ketiban sampur (berperan) untuk menjadi pembicara dalam acara syukuran atas lulusnya Azyumardi Azra (kini Rektor UIN/ Universitas Islam Negeri Jakarta, dahulu bernama IAIN/ Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah Jakarta) dari Universitas Columbia, Amerika. Syukuran doktor ini diisi oleh Sang Profesor dengan mengemukakan pembelaan terhadap Nurcholish Madjid dalam pembicaraan tentang pembaharuan Islam di Indonesia. Sang Profesor mengatakan, Nurcholish Madjid tidak mengatakan Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar) seperti yang diberitakan selama ini. Nurcholish Madjid tidak ada makalahnya yang seperti itu.

Itu hanya bikin-bikinan seorang wartawan saja. Itu sudah saya tanyakan kepada Pak EBA (Endang Basri Ananda), kata Sang Profesor. Ternyata setelah itu, Sang Profesor jadi kelabakan. Tidak enak kepada Pak EBA, hadirin yang sudah diceramahi yang tentu saja sudah bubar ke tempat masing-masing, dan lebih tidak enak lagi kepada wartawan yang dituduh membikin-bikin berita bohong itu. Masih pula Sang Profesor harus minta copian makalah Nurcholish Madjid kepada wartawan yang telah dituduhnya secara terbuka itu.

Namun rupanya nasib Sang Profesor masih beruntung, ketika meminta makalah yang dia anggap tidak pernah ada itu kepada wartawan yang telah ia tuduh itu rupanya benar-benar diberi copian makalah Nurcholish Madjid. Isinya memang ada terjemahan lafal syahadat, menjadi Tiada tuhan selain Tuhan. Anehnya, Sang Profesor tidak mencabut perkataannya, dan tidak minta maaf kepada wartawan yang dituduhnya.

3. Sang Profesor dikenal punya anak buah wanita muda, Wardah Hafidz, tokoh feminisme alumni Barat. Suatu ketika ada polemik yang diarahkan kepada wanita muda itu, dan nama Sang Profesor dibawa-bawa. Saat itu ungkapan lawan berpolemik, Ustadz Abu Ridho, tampaknya menohok pula. Sehingga Sang Profesor yang dikenal selaku "pembela" justru kena tohokan.

Tokoh feminisme asuhan Sang Profesor itupun kini terkena badai gara-gara ucapannya di TV-7, Ramadhan 1423H/ 2002M. Wardah Hafidz dalam wawancara TV-7 itu mengatakan: "Saya sudah tidak lagi melakukan ritual konvensional (shalat, pen), tetapi dengan cara saya sendiri. Kemiskinan tidak hanya bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. Saya punya cara sendiri. Dengan cara meningkatkan kepedulian untuk mencari solusi kemiskinan.", ujar Wardah.

Di kesempatan lain, Wardah Hafidz sendiri mengaku dinasihati ibunya: "Sampai Ibu mengingatkan, shalatlah kamu. Kalau kamu nanti masuk neraka, Ibu tidak bisa menolong kamu," ujar Wardah mengutip kalimat ibunya. "Bu, saya telah dewasa, berilah saya hak. Biarlah itu hak dan tanggung jawab saya," katanya. (Jurnal Islam, 10-16 Januari 2003, halaman 16). Apakah "kampanye" untuk meninggalkan shalat ini akan dibela juga oleh Sang Profesor karena merupakan rekanannya, wallahu a'lam. Yang jelas, kasus itu menuai kecaman pula dari ulama dan masyarakat.

Karena Allah SWT telah menegaskan:

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS Al-Muddatstsir: 42 dan 43).

4. Kasus lain yang tak kalah serunya, yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menulis di Kompas 18 Nopember 2002 berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam", isinya menafikan hukum Tuhan. Kasus Ulil yang oleh FUUI (Forum Ulama Umat Islam) dari Bandung disebut sebagai penghinaan agama itu dibela pula oleh Sang Profesor lewat televisi dan majalah. Ketika membela Ulil Abshar di Metro TV, Sang Profesor dipertanyakan oleh KH Athian Ali Da'i dari Bandung yang diwawancarai lewat telepon, apa maksud Sang Profesor mengatakan bahwa Al-Quran adalah filsafat. Sang Profesor tidak menjawabnya.

5. Satu lagi yang dibela oleh Sang Profesor, yaitu Ahmadiyah, aliran yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad (India) sebagai nabi mereka. Sang Profesor kerangkak-rangkak (berpayah-payah pergi) ke London sebagai "duta' orang Ahmadiyah Indonesia tetapi mengatas namakan Muhammadiyah bersama Habib Hirzin --yang dulunya pemuda Muhammadiyah lalu ke PKB partainya NU-mengundang penerus nabi palsu yaitu Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke-4 tingkat dunia bagi Ahmadiyah untuk datang ke Jakarta/ Indonesia.

Lalu Sang Profesor pun menjemput penerus nabi palsu itu ke Bandara Cengkareng Jakarta dan mengalungi bunga terhadap penerus nabi palsu tersebut. Kehadiran penerus nabi palsu dari London ke Indonesia tahun 2000 masa pemerintahan Gu Dur itu oleh Sang Profesor bisa dimuluskan jalan berbagai upacaranya. Sampai-sampai penerus nabi palsu itu dipertemukan dengan Presiden Gus Dur dan ketua MPR Amien Rais.

Dalam catatan perjalanan Tahir Ahmad penerus nabi palsu yang disebarkan lewat majalah khususnya di London, dipujilah perjuangan Sang Profesor yang sangat mengagumkan bagi mereka atas lancarnya seluruh jalannya acara. Namun tidak lama setelah pujian kepada Sang Profesor itu beredar di kalangan Ahmadiyah, tiba-tiba hasilnya sangat mengejutkan.

Dengan "perjuangan" Sang Profesor itu, kini hasilnya, banyak rumah-rumah orang Ahmadiyah di berbagai tempat di Indonesia dihancurkan massa, karena orang-orang Ahmadiyah dikomandoi penerus nabi palsunya telah sesumbar, Indonesia akan dijadikan negeri Ahmadiyah terbesar di dunia. Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya terjadilah penghancuran rumah-rumah para pengikut nabi palsu yang makin nglunjak itu. "Nah, lhu!" kata orang Betawi/ Jakarta.

Sekarang Sang Profesor menghadapi banyak sekali masalah. Yang dibela itu ada yang sudah struk berlama-lama di usia tuanya dan tidak jadi petinggi negara lagi. Ada yang dianggap kafir dan murtad karena "mengkampanyekan" untuk tidak shalat, ada yang menafikan hukum Tuhan, ada yang disebut sebagai gatoloco (faham menafsirkan Islam seenak perutnya), ada yang menjadi pengikut nabi palsu namun sesumbar untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri terbesar pengikut nabi palsu, hingga rumah-rumah orang-orang sesat yang sesumbar itu dihancurkan massa, dan ada yang diancam mati alias mau dipites orang.

Sang Profesor mestinya tanggap. Ketika berbicara di depan ahlinya, sedang dirinya tidak ahli, lalu ditertawakan, betapa malu dan sakit hati. Lebih-lebih ketika mempertanggung jawabkan pembelaannya di akherat kelak, kepada Allah SWT yang hukum-Nya mau ditegakkan oleh hamba-Nya, tahu-tahu Sang Profesor itu adalah pembela dari para penentang hukum-Nya, maka betapa klimpungannya di hadapan Allah SWT kelak. Tidak sekadar klimpungan seperti menghadapi orang yang dituduh tanpa bukti, lalu malah Sang Profesor minta bukti (makalah) kepada wartawan yang dituduhnya seperti tersebut di atas, lalu diberi bukti yang justru menghantam Sang Profesor sendiri.

Sebelum umur Sang Profesor habis untuk hal-hal yang merugikan umat dan diri sendiri, lebih baik kembali kepada hukum Allah, dan bertaubat dari pembelaan-pembelaan yang menjerumuskan diri dan umat.

Inilah sekadar kronologi "perjuangan" Profesor Dawam Rahardjo, rektor Universitas Islam 45 di Bekasi Jawa Barat.(*). Selayaknya beliau bertaubat sebelum habis masa edarnya di dunia ini.

Imbauan Allah dalam firman-Nya berikut ini perlu disimak:

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Az-Zumar: 53).


"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)". (QS Az-Zumar: 54).

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya", (QS Az-Zumar/39: 55).


..supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS Az-Zumar/ 39: 56).

( Makalah ini disebarluas di Daurah Mahasiswa se Jawa Timur tentang Kewaspadaan Ummat, di Surabaya, 15/3 2003; di Tabligh Akbar tentang Sesatnya JIL (Jaringan Islam Liberal) di Masjid Al-Istiqomah Bandung, 16/3 2003; dan dimuat di Majalah Media Dakwah, April 2003.)

(*) Kami mendapat klarifikasi dari Universitas Islam "45" (UNISMA) Bekasi, bahwa Prof. Dr M Dawam Rahardjo, SE, mulai 10 Oktober 2000 sudah tidak menjabat sebagai Rektor Universitas Islam "45" (UNISMA)
footnote:

Istilah Jawa dan Betawi/ Jakarta yang artinya dibunuh dengan cara menekan kepala pakai jempol tangan dan jari telunjuk. Yang biasa dipites adalah binatang-binatang kecil seperti belalang, jangkrik dan lain-lain, yaitu dimatikan dengan cara kepalanya ditekan pakai jempol tangan dan jari telunjuk.
Rupanya Sang Profesor sudah ragu-ragu tentang hukum Tuhan, sehingga perlu diberi tanda kutip, karena "cucunya", Ulil Abshar Abdalla pengomando JIL, tidak mempercayai adanya hukum Tuhan.



Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com

Read More......

Kita umat yang satu

Persatuan adalah sumber kekuatan dan perpecahan adalah sumber kelemahan. Kaidah ini sudah diyakini semua orang termasuk umat islam. Namun sangat disayangkan umat islam sekarang ini bercerai berai sehingga mereka lemah tak punya kekuatan, padahal Al Qur'an Al Karim telah menghimbau umat islam agar jangan saling berbantah-bantahan dan bertikai sesama mereka, karena itu akan menyebabkan kekalahan dan hilangnya kekuatan.

Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)
Kondisi ini mestinya tidak boleh terjadi, karenaumat islam adalah umat yang satu, karena mereka dipersatukan oleh prinsip-prinsip kesatuan yang fundamental.Kalau kita mau merenung sejenak, akan kita dapatkan banyak faktor yang bisa menjadi pilar-pilar penegak persatuan tersebut, diantaranya:

Rabb(Tuhan) kita satu yaitu Allah SWT

Umat islam hanya mempercayai satu Tuhan yang mencipta alam semesta ini.Tuhan yang wajib disembah, diagungkan dan ditaati perintahnya dan dijauhi larangannya, dan hanya kepadanya mereka menggantungkan segala urusan. Tuhan yang Maha Esa yaitu Allah SWT. Allah SWT.berfirman:

Katakanlah:"Dialah Allah, Yang Maha Esa". (QS. 112:1)

Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. (QS. 112:2)

Keesaan Tuhan yang disembah ini merupakan keistimewaan ajaran islam, yang mana hal itu tidak dimiliki oleh agama lain.Dengan prinsip ini semestinya umat islam dapat bersatu karena mereka hanya menyembah Tuhan yang satu,sehingga tidak membuatnya bingung dan memihak kecuali kepadaNya saja.

Coba bayangkan seandainya tuhan itu banyak seperti tuhannya pemeluk Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain, ketika terjadi perselisihan, maka masing-masing akan mengadu kepada tuhan yang disukai, dan akhirnya akan terjadi perkubuan dan persengketaan antara kubu kubu dan pertikaian yang tentu sulit untuk diselesaikan.

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (QS. 23:91)

Pedoman kita satu yaitu Al Qur'an

Umat islam mempercayai Al Qur'an sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh urusan mereka. Didalamnya terdapat hukum-hukum yang menyelesaikan segala urusan.Oleh karena itu apabila terjadi perselisihan diantara mereka, maka mereka kembalikan kepada Al Quran untuk mendapatkan penyelesaian masalahnya.Dan mereka akan menerima keputusan itu dengan penuh kerelaan. Allah SWT. Berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Oleh karena itu dengan prinsip ini semestinya umat islam umat yang paling mudah menyelesaikan masalah bila hal itu terjadi di antara mereka karena pedomannya hanya satu dan berlaku sepanjang masa.

Teladan kita satu yaitu Rasulullah Muhammad SAW

Umat islam mempercayai Muhammad SAW.sebagai nabi Allah dan menjadikan beliau sebagai teladan hidupnya.Mereka mencontoh perilaku beliau dalam kesehariannya mulai dari urusan kecil sampai besar.Dari masalah tidur sampai masalah mengatur negara dan sebagainya. Belum pernah ada manusia di dinia ini yang diikuti oleh yang lain dalam segala gerak geriknya melebihi nabi Muhammad SAW,sehingga aktivitas umat islam , khususnya dalam hal ibadah benar-benar satu, sejenis, seirama, dan kompak. Allah SWT berfirman yang artinya:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)

Rosulullah SAW.bersabda:

Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.(H.R. Ibnu Hibban)

Seandainya umat islam hanya mengikuti Rosuullah saja pasti mereka tidak akan pecah dan bercerai berai.

Qiblat kita satu yaitu Ka'bah Baitullah

Umat islam menjadikan Ka'bah sebagai kiblat yang menyatukan hati-hati mereka.Semua umat islam menghadap ke kiblat ketika mengerja kan shalat sebagai ibadah yang paling utama dalam islam.Dimanapun mereka berada,mereka harus menghadapkan wajahnya ke arah ka'bah baitullah yang suci.Dan pada setiap musim haji umat islam dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong mendatangi tempat ini untuk menyambut seruan Allah kepada mereka dengan melakukan ibadah haji.Dan bagi mereka yang tidak mendatangi tempat ini karena tidak ada biaya dapat mengerjakan shalat 'Ied di tempat mereka masing-masing dengan menghadap ke tempat yang sama sebagai ungkapan kebersamaan. Allah SWT. berfirman yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan):"Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf,dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud (QS. 22:26)

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. 22:27)

Bahasa agama kita satu yaitu bahasa Arab

Bahasa arab telah dipilih oleh Allah untuk dipakai sebagai bahasa wahyu,yang dengan bahasa itu Al Qur an dan Hadis Rosulullah ditulis, juga literatur-literatur islam klasik yang banyak memuat buah pikiran ulama-ulama muslim dahulu.Kitab dan buku-buku itu dikaji ulang oleh setiap generasi islam di sepanjang zaman dengan tekunnya, sehingga mereka menguasai makna dan bahasanya.Di samping itu yang tak kalah pentingnya bahwa agama ini menggunakan ritual ibadah-ibadahnya dengan memakai bahasa arab seperti dalam shalat, azdan, dzikir, doa, dsb.sehingga bahasa dan lafadz-lafadznya akrab terdengar oleh telinga dan terucap oleh lidah dan bibir umat islam.

Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. 21:105)

Sebutan bagi kita satu yaitu muslim

Umat islam telah rela memilih islam sebagai agamanya dan muslim sebagai sebutannya.Predikat ini berlaku untuk seluruh yang telah bersyahadat dengan benar-benar.Tidak ada bedanya antara yang hitam dan putih, yang coklat dan sawo matang, yang kriting dan lurus rambutnya, yang pendek dan jangkung.Semuanya cukup disebut muslim. Kapan dan dimanapun kita berada. Predikat yang sederhana tapi populer dan mulia.Karena sebutan itu resmi dari Allah SWT.Allah SWT.berfirman yang artinya:

Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. 3:64)

Tanah Air kita satu yaitu seluruh bumi islam

Umat islam bebas tinggal dimanapun dibelahan bumi ini,apalagi di bumi islam.karena bumi ini milik Allah SWT.dan diwariskan kepada orang yang dikehendakinya dari hamba-hambanya yang shalih.Orang-orang kafir tidak berhak mewarisi dan mengelola bumi ini.Karena mereka tidak dapat memakmurkannya sesuai yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. 21:105)

Orang islam boleh berpindah-pindah dari negeri islam ke negeri islam lain dimana dia suka.Karena tidak ada sekat di antara mereka.Mereka hanya diiat oleh kesatuan aqidah,bukan oleh wilayah geografis dimana ia tinggal.Sejarah islam pada masa-masa awal telah membuktikan semua. Siapapun yang datang kenegrinya apabila ia seorang muslim maka mereka akan menerimanya dengan senang hati dan menyambutnya dengan sebaik baiknya.bahkan mempersilahkan tinggal dirumah dan kampungnya selama dia butuh dan mau.Tentu kita masih ingat peristiwa hijrah Rasulullah dan orang-orang mukmin ke Madinah.

Ikatan persaudaraan kita satu yaitu ukhuwwah islamiyyah

Umat islam itu bersaudara.Mereka dipersatukan dan dipersaudarakan oleh iman mereka kepada Allah SWT.Persaudaraan mereka tidak mengenal ras, warna kulit, dan bangsa, bahkan status sosial seseorang.Persaudaraan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan.Mereka tidak boleh saling mengejek, merendahkan dan menghina, apalagi saling menganiaya.Akan tetapi mereka harus saling menghormati, saling tolong menolong dan kasih sayang.Allah SWT.berfirman:

Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. 49:10)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13) (Majalah Dakwah 6/II)

Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com

Read More......

Kesesatan menggerogoti umat islam!

Ust. Hartono Ahmad Jaiz

Kesesatan itu bahasa Arabnya dholal. Yaitu setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar, itulah kesesatan. Demikian menurut Tafsir At-Thobari Juz 1 halaman 84.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat. Allah SWT berfirman:

“…maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Yunus: 32).
Kebenaran itu datangnya dari Allah. Sebagaimana telah Allah tegaskan:

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-Baqarah: 147).
Apa-apa yang dari Tuhan berupa kebenaran itu disampaikan kepada manusia ini lewat wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam hadits dijelaskan:

Hadits dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi yang berkata, Rasulullah saw bersabda: Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sesamanya bersamanya. Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang sesamanya bersamanya. (HR Ahmad).

Hadits itu menjelaskan bahwa Nabi saw diberi wahyu berupa Al-Qur’an dan wahyu yang sesamanya besertanya, yaitu wahyu berupa hadits. Sehingga Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menjadi sumber Islam itu sebenarnya adalah wahyu dari Allah. Maka benarlah bahwa Islam itu agama dari sisi Allah, karena memang berupa wahyu dari Allah SWT.

Dari pengertian tersebut maka hal-hal yang tidak sesuai atau menyimpang dari Al-Qur’an dan Al-hadits/ As-Sunnah itu adalah kesesatan.
Untuk lebih mudahnya, maka letak kesesatan yang sudah jelas berada di luar garis Al-Qur’an dan As-Sunnah itu letaknya di mana, bisa dijelaskan sebagai berikut.

Di dalam Islam ada wilayah-wilayah:

Wilayah prinsip/ pokok/ dasar (ushul).
Wilayah cabang-cabang (furu’)
Wilayah yang didiamkan (maskut ‘anhu) yaitu mubah atau boleh-boleh saja.
Keterangan 1. Dalam hal wilayah pokok (ushul) biasanya dalilnya (ayat atau hadits)nya jelas, tegas, tidak ada makna-makna lain lagi. Hingga tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya Allah itu Esa. Nabi Muhammad nabi terakhir. Ka’bah adalah kiblat ummat Islam. Shalat 5 waktu itu wajib. Puasa Ramadhan wajib. Akherat itu ada. Surga, neraka, malaikat, hisab/ perhitungan amal di akherat itu pasti ada. Al-Qur’an dan hadits itu pedoman Islam. Dan sebagainya. Itu semua dalilnya jelas, tegas, dan tidak ada makna-makna lain lagi, serta tidak ada perbedaan di kalangan ulama.
Siapa saja yang menyelisihi dari hal-hal pokok yang sifatnya sudah tegas dalilnya seperti tersebut, itu jelas sesat.

Contoh:

Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah.
Orang yang mengakui adanya nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw maka mereka sesat. Itulah kelompok Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad dari India sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw.
Orang yang menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis. Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama’ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/ sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku –kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan (suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya.
Orang yang menganggap bahwa dirinya mendapat wahyu dan didampingi malaikat Jibril, maka dia sesat. Karena wahyu kenabian telah selesai dengan wafatnya Nabi Muhammad saw. Kelompok inilah yang mendirikan agama baru, Salamullah yang menghimpun semua agama, yaitu perempuan bernama Lia Aminuddin di Jakarta. Dia mengaku sebagai Imam Mahdi padahal wanita. Perangkai bunga kering ini gundah gulana akibat kecewa dengan dua muballigh (Nur Muhammad Iskandar dan Zainuddin MZ) dan Anton Medan (mantan penggede preman) dalam hal Yayasan At-Taibin (yang menggarap/ mendakwahi preman-preman, bajingan, pelacur dan sebagainya), menurut pengakuan Lia Aminuddin kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lalu MUI memfatwakan (22 Desember 1997) bahwa pengakuan Lia Aminuddin yang dirinya didampingi Malaikat Jibril dan mendapatkan ajaran keagamaan darinya itu sesat lagi menyesatkan. Namun ajaran sesat agama Salamullah itu ada Wakil/ Imam Besarnya bernama Abdul Rahman, konon alumni IAIN Jakarta.
Orang yang menganggap hadits Nabi saw yang sah hanyalah yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait, maka mereka sesat. Sebab sama dengan menuduh para sahabat yang bukan Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) itu tidak bisa dipercaya. Padahal Allah SWT saja memuji para sahabat Nabi saw. Orang yang tak mempercayai sahabat untuk jadi periwayat hadits itulah kelompom Syi’ah. Orang Syi’ah yang ghuluw/ ekstrim sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib, maka mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib ra. Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) yang kini merupakan mayoritas, di Iran, Irak, dan menyebar ke lain tempat, mereka mempercayai adanya 12 Imam keturunan Ali yang dianggap ma’shum (terjaga dari dosa). Padahal yang ma’shum itu hanya Nabi. Perkataan Imam dianggap sama dengan perkataan Nabi. Syekh Muhammad At-Tamimi menjelaskan, Syi’ah –yang benar adalah sebutan Rafidhah karena pengelompokan mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah pengelompokan yang ekstrim keterlaluan, tidak diterima oleh Ali ra. Rafidhah/ Syi’ah seperti yang disifatkan oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Iqtidho’us shirothil mustaqiem mukholafafatu ash-haabil jahiim, halaman 391, beliau berkata: Sesungguhnya mereka (Rafidhoh/ Syi’ah) adalah kelompok paling dusta dari kalangan ahlil ahwa’ (pengikut hawa nafsu), paling besar kemusyrikannya, maka tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dibanding mereka, dan tidak ada yang lebih jauh dari Tauhid (melebihi mereka). (Muhammad At-Tamimi, Fatawa Muhimmah, juz 1 halaman 145).
Karena sikap ghuluw (ekstrimnya) hingga menuhankan Imam mereka dan keekstriman-keekstriman lainnya, maka Imam Ibnu Taimiyyah menyebut orang Syi’ah atau Rafidhah itu sebagai pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) yang paling sesat, dan paling jauh dari Tauhid.
Orang yang memaknakan Al-Qur’an semaunya, tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, bahkan tak sesuai dengan lafal/ kalimat Al-Qur’an, maka mereka sesat. Itulah kelompok Isa Bugis. Contohnya, mereka memaknakan al-fiel yang artinya gajah menjadi meriam atau tank baja. Alasannya di Yaman saat zaman Nabi tidak ada rumput maka tak mungkin ada gajah. Mereka tidak percaya mu’jizat, maka dianggapnya dongeng lampu Aladin. Nabi Ibrahim menyembelih Isma’il itu dianggapnya dongeng belaka. Tafsir Al-Qur’an yang ada sekarang harus dimuseumkan, karena salah semua. Al-Qur’an bukan Bahasa Arab, maka untuk memahami Al-Qur’an tak perlu belajar Bahasa Arab, tata bahasa Arab dan sejenisnya. Lembaga Pembaru Isa Bugis adalah Nur, sedang yang lain adalah dhulumat, maka sesat dan kafir. Itulah ajaran sesat Isa Bugis.
Orang yang menggabung-gabungkan Islam dengan Yahudi, Nasrani dan lainnya, maka sesat. Itulah kelompok Baha’i. Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syari’at Islam telah kadaluarsa. Persamaan antara manusia meskipun berlainan jelnis, warna kulit dan agama. Inilah inti ajaran Baha’i. Menolak ketentuan-ketentuan Islam. Menolak Poligami kecuali ada kekecualian, dan tak boleh dari dua isteri. Melarang talak dan menghapus ‘iddah. Janda boleh langsung kawin lagi, tanpa ‘iddah (masa tunggu). Ka’bah bukanlah kiblat yang mereka akui, Kiblat mereka adalah di mana Tuhan menyatu dalam diri Bahaullah (pemimpin mereka). Ini sama dengan pandangan sufi /orang tasawuf sesat bahwa qolbul mu’min baitullah, hati mukmin itu baitullah. Ini mirip Gatoloco (penghina Islam model Kebatinan Jawa) bahwa hati manusia itu bikinan Allah, sedang ka’bah itu bikinan Ibrahim dan Isma’il, maka lebih baik mana bikinan Allah dibanding bikinan manusia. Demikianlah kesesatan model penolak Islam sambil mencari-cari spiritualitas yang dibikin-bikin syetan.
Orang yang menyamakan semua Agama, hingga Islam disamakan dengan Yahudi, Nasrani, dan agama-agama kemusyrikan, maka mereka sesat. Itulah kelompok yang berfaham pluralisme agama, yang sejak Maret 2001 membentuk kelompok yang bermarkas di Utan Kayu Jakarta dengan menamakan diri sebagai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikordinir oleh Ulil Abshar Abdalla dari unsur NU (Nahdlatul Ulama). Ulil tidak mengakui adanya hukum Tuhan, hingga syari’at mu’amalah (pergaulan antar manusia) dia kampanyekan agar tidak usah diikuti, seperti syari’at jilbab, qishosh, hudud, potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak usah diikuti. Bahkan larangan nikah antara Muslim dengan non Muslim dianggap tidak berlaku lagi, karena ayat larangannya dianggap tidak jelas. Vodca (minuman keras beralkohol lebih dari 16%) pun menurut Ulil bisa jadi di Rusia halal, karena udaranya dingin sekali. Pemahaman “kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Al-Hadits” seperti yang difahami ummat Islam sekarang ini menurut Ulil salah, karena menjadikan penyembahan terhadap teks. Maka harus difahami dengan bahwa Al-Qur’an itu yang sekarang ini baru separuhnya, sedang separuhnya lagi adalah pengalaman manusia. Itulah kemauan Ulil, yang kalau dituruti, maka justru akan menyembah kemauan manusia. Dengan pemahaman Ulil yang sudah membabat dan menghina Islam seperti itu, maka fatwa hukuman mati yang semula oleh FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) di Bandung ditujukan kepada penghina Islam dari kalangan Nasrani (Pendeta Suradi dan H Amos) tinggal dirujuk untuk Ulil. Kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) ini mengacak-acak Islam, pemahaman Islam, yang akibatnya menguntungkan gerakan pemurtadan. Itulah menurut hadits Hudzaifah yang terkenal diriwayatkan oleh Imam Bukhari telah disinyalir adanya penyeru-penyeru di pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang mengikuti ajakannya maka dilemparkan ke dalam neraka. Na’udzubillaah min dzaalik.
Orang yang mengibaratkan Rasul bagai menteri, sedang kerasulan bagai departemen. Lalu Rasul boleh wafat sebagaimana menteri boleh mati, namun kerasulan atau departemen tetap ada, maka tetap diangkatlah rasul baru sebagaimana diangkat pula menteri baru, maka mereka itu sesat. Karena Nabi Muhammad saw adalah rasul terakhir. Yang berfaham Rasul tetap diangkat sampai hari Qiyamat itulah kelompok Lembaga Kerasulan.
Orang yang menghalalkan merampas dan merampok harta orang lain asal untuk disetorkan kepada pemimpin, itu adalah sesat. Itulah kelompok NII KW IX (Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX) yang kini punya Ma’had Al-Zaitun dipimpin Abdul Salam (AS) Panji Gumilang. Anehnya, orang sesat ini justru dijadikan ketua alumni IAIN (kini UIN Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dipuji-puji oleh Rektor Azyumardi Azra yang disebut-sebut sebagai simpatisan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang sesat menyesatkan itu.
Orang yang menganggap Nabi saw memberikan wirid-wirid untuk diamalkan, padahal beliau telah wafat, maka mereka sesat. Itulah kelompok Darul Arqam berasal dari Malaysia, yang mengaku bahwa Syeikhnya, Syaikh Suhaimi bertemu Nabi Muhammad saw dalam keadaan melek/ jaga di Ka’bah lalu Nabi saw memberikan wirid-wirid yang mereka sebut Aurad Muhammadiyah. Kelompok ini sekarang menamakan diri Hawariyyun. Nama itu aslinya adalah sebutan untuk sahabat-sahabat Nabi Isa as. Kelompok ini termasuk sejenis kalangan tasawuf sesat dan tarekat, makanya ketika Ummat Islam ramai agar kelompok sesat ini dilarang, maka yang tampak agak keberatan dilarangnya adalah orang-orang NU (Nahdlatul Ulama) yang di antara mereka ada yang bergelimang bahkan membuat tasawuf sesat (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan Membedah Sikap Beragama NU dan buku Tasawuf Belitan Iblis)..

Keterangan 2. Mengenai wilayah cabang (furu’) adalah yang tidak ada dalilnya, atau ada dalilnya namun tidak menunjukkan makna yang pasti, bisa punya dua makna atau maknanya tidak tegas pasti. Misalnya, apakah sesudah Imam shalat membaca fatihah secara jahar/ keras, lalu ma’mum wajib membaca fatihah? Itu tidak ada dalil yang pasti. Maka di situlah ruang ijtihad (mencurahkan pikiran) untuk menentukan hukumnya. Yang berijtihad itu adalah yang memenuhi syarat, yaitu ulama yang menguasai ilmunya. Hasil ijtihad itu bisa berbeda satu dengan lainnya. Maka ada istilah ikhtilaf, yaitu beda pendapat. Di situ masih ada kesempatan lagi untuk menentukan mana yang lebih kuat dalilnya. Itulah namanya mentarjih yaitu menentukan mana yang lebih kuat.

Di wilayah furu’ inipun bisa timbul kesesatan, apabila orang yang tidak tahu malah memberi fatwa tanpa ilmu. Atau bila orang sengaja untuk menyelisihi dari ketentuan Islam. walaupun ketentuan itu bukan merupakan pokok, dan hanya menyangkut sunnat, namun bila diubah semaunya, maka sesat pula. Contohnya, Ma’had Al-Zaitun pimpinan AS Panji Gumilang di Indramayu Jawa Barat mengubah penyembelihan hewan qurban dengan duit, tanpa diadakan penyembelihan qurban, dengan alasan, telah banyak hewan diqurbankan namun tidak mensejahtera-sejahterakan ummat pula. Pengubahan itu adalah kesesatan.

Contoh lain, orang-orang sekuler dan anti Islam memaknakan negara agama itu adalah teokrasi yang pengertiannya negara kependetaan. Lalu mereka menimpakan pengertian dari luar Islam itu kepada Islam, padahal negara agama kalau dirujuk kepada praktek kepemimpinan kekuasaan dalam Islam (zaman Nabi saw dan Khluafaur Rasyidin) maka istilah sekarang adalah negara hukum atau nomokrasi, yang hukumnya itu adalah syari’at Islam. Jadi negara agama menurut praktek dalam Islam adalah negara berdasarkan syari’at Islam, bukan negara teokrasi yang muatannya adalah kependetaan. (Lebih jelasnya, silakan baca buku Gus Dur Menjual Bapaknya, Bantahan Pengantar Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI, Darul Falah, Jakarta 2003).

Keterangan 3. Mengenai wilayah yang didiamkan (maskut ‘anhu), biasanya adalah menyangkut dunia. Hal-hal yang dibiarkan, tidak ditentukan oleh ayat ataupun hadits, dalam urusan dunia ini, maka boleh-boleh saja, alias mubah. Terhadap yang mubah/ boleh-boleh saja inipun bisa timbul kesesatan, yakni apabila orang membuat larangan untuk drinya atau pengikutnya dalam rangka ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah padahal tak ada larangan syari’atnya.

Misalnya, orang-orang Tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah maka mereka mengadakan larangan sendiri, tidak boleh makan daging atau ikan ketika mereka mengadakan suluk (mengkhususkan waktu untuk beribadah). Memakan daging halal.itu hukum asalnya adalah mubah/ boleh-boleh saja. Lalu diadakan larangan sendiri demi beribadah kepada Allah. Pengadaan larangan sendiri dan untuk ibadah, itulah kesesatan. Namun kalau pelarangan itu karena menjaga kesehatan, misalnya tidak minum kopi karena darah tinggi, maka boleh. Demikian pula, kalau makanan syubhat (samar antara halal dan haram) kemudian kita menjauhinya karena menjaga ibadah, justru baik. Karena berarti kita menjauhkan diri dari yang mendekati keharaman. Ini berbeda dengan mengharamkan sendiri hal yang halal demi ibadah.

Kesimpulan: Dari 3 wilayah (ushul, furu’, dan mubah) itu ada celah-celah yang bisa timbul kesesatan. Namun kesesatan yang paling banyak dan membahayakan aqidah/ keyakinan adalah yang menyangkut ushul (pokok). Karena, begitu menyelisihi dalil yang sudah jelas, maka sesat.

Adapun mengenai yang furu’, kesesatannya adalah mengada-adakan sesuatu tanpa diketahui dalilnya, ataupun mengubah aturan tidak sesuai dengan dalil, seperti tentang menyembelih binatang qurban diubah jadi penyetoran duit lalu duit itu tidak untuk beli binatang qurban tetapi untuk lain-lain, dengan alasan yang dibuat-buat. Juga mengalihkan pengertian istilah dalam Islam kepada istilah yang bukan Islam hingga pengertiannya jauh berubah.

Kesesatan pun bisa timbul di wilayah yang mubah/ boleh-boleh saja. Yaitu bila orang mengadakan pelarangan terhadap hal yang sebenarnya tidak dilarang, yang pengadaan larangannya itu demi ibadah.

Kesesatan-kesesatan itu beda-beda tingkatnya, ada yang sampai kafir, misalnya menganggap Allah SWT tidak mengutus Nabi Muhammad saw, shalat 5 waktu itu tidak wajib dan sebagainya.

Ada yang sesatnya tidak sampai kafir, misalnya atas nama untuk ibadah, lalu melarang dirinya makan daging (pada waktu-waktu tertentu) padahal daging halal. Meskipun kesesatannya itu tidak sampai kafir, namun merusak agama. Sebab sudah mengada-adakan aturan/ syari’at baru. Dan hal itu dilarang mengadakannya oleh Rasulullah saw.

Itulah letak-letak kesesatan dan contoh-contoh jenisnya yang senantiasa menggerogoti Ummat Islam di Indonesia bahkan bisa jadi sedunia. Ummat Islam wajib mewaspadainya dan menghindarkan diri serta keluarga dari aneka kesesatan itu, supaya ketika maut menjemput, masih tetap dalam keadaan Muslim. Sebagaimana Allah swt telah wanti-wanti (berpesan dengan sungguh-sungguh agar dijaga pesan itu):

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran: 102).

Untuk lebih komplitnya silakan baca buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. (Hartono Ahmad Jaiz). [Majalah Media Dakwah, Jakarta, Mei 2003].

Jika ada pertanyaan, langsung kirim aja ke 0411-9303899 (esia) atau irmbf@yahoo.com

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP