..::::::..

Minum Pakai Tangan Kiri Itu Cara Syetan

Jahilnya sebagian banyak masyarakat terhadap agamanya (Islam) akibat kondisi pendidikan dan lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar Islam secara benar. Itu masih ditambah dengan gencarnya serangan aneka program yang melalaikan masyarakat dari agamanya. Contoh kecil, misalnya iklan di televisi, di tv kereta eksekutif dan media lainnya, memperagakan minum teh botol untuk buka puasa Ramadhan, pakai tangan kiri sambil berdiri, maka ternyata di masyarakat menjadi umum orang minum pakai tangan kiri. Bahkan dalam acara-acara buka puasa bersama pun banyak kita temui orang-orang yang minum dengan tangan kiri. Dengan adanya iklan dan semacamnya yang menyelisihi Islam itu akibatnya masyarakat tidak tahu bahwa minum pakai tangan kiri itu cara syetan, sedang cara Islam adalah pakai tangan kanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ , وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ ; فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ , وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ } . رَوَاهُ مُسْلِمٌ 3764, وَأَبُو دَاوُد , وَابْنُ مَاجَهْ

Apabila seseorang dari kalian makan maka hendaknya ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum hendaknya ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya syetan itu makan dengan tangan kirinya, dan ia minum dengan tangan kirinya. (HR Muslim nomor 3764, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Syetan itu makan dan minum pakai tangan kiri. Maka orang yang makan atau minum pakai tangan kiri itu meniru cara makan dan minum syetan atau menyerupai syetan, bahkan syetan ikut bergabung dalam makan dan minumnya. Karena ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

{ مَنْ أَكَلَ بِشِمَالِهِ أَكَلَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ وَمَنْ شَرِبَ بِشِمَالِهِ شَرِبَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ }( رَوَى أَحْمَدُ عَنْ عَائِشَةَ مَرْفُوعًا ” تحفة الأحوذي شرح حديث 1721)

Barangsiapa makan dengan tangan kirinya maka syetan makan bersamanya, dan barangsiapa minum dengan tangan kirinya maka syetan minum bersamanya. (HR Ahmad, dari ‘Aisyah, marfu’ dengan sanad hasan, Tuhfatul Ahwadzi syarah Hadits At-Tirmidzi nomor 1721).

وقد جاء عن حفصة رضي الله عنها زَوْج النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْعَلُ يَمِينَهُ لِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَثِيَابِهِ وَيَجْعَلُ شِمَالَهُ لِمَا سِوَى ذَلِكَ . ” رواه أبو داود رقم 30

Riwayat dari Hafshah ra isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menjadikan kanannya untuk makannya, minumnya, dan pakaiannya, dan menjadikan kirinya untuk hal-hal selain itu. (HR Abu Daud nomor 30).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Ini adalah kaidah yang terus menerus dalam syara’/ agama, yaitu apa-apa yang termasuk bab terhormat dan mulia seperti memakai baju, celana, slop, masuk masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, memotong kumis, menyisir rambut, mencabuti bulu ketiak, mencukur kepala, salam dari sholat, membasuh anggota badan dalam bersuci (dari hadas), keluar dari kakus, makan, minum, berjabat tangan, menyalami hajar aswad dan sebagainya, dan hal-hal yang semakna adalah disukai pakai (tangan/ kaki) kanan padanya.

Adapun hal-hal yang sebaliknya, seperti masuk kakus/ wc, keluar dari masjid, ngupil (ataupun buang ingus) dan istinjak/ cebok, melepas baju, celana, slop, dan yang serupa dengannya, maka disukai pakai (tangan/ kaki) kiri padanya. Hal itu semua karena mulianya dan terhormatnya kanan, wallahu a’lam. (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim juz 3 halaman 160).

Contoh lainnya, misalnya, kadang secara serempak masyarakat ini diprogramkan untuk tidak menggubris lagi sunnah hingga tak tahu bahwa ada sunnah yang mengajarkannya. Kenyataan yang dialami masyarakat, misalnya, dalam tatacara baris berbaris, dari anak sekolah sampai pegawai dan sebagainya, kalau namanya maju jalan, itu dimulai dengan kaki kiri, bahkan pemimpin barisan biasanya memberi aba-aba dengan berteriak: “Kiri!…. Kiri!…. Kiri!…. Sehingga maju jalan alias melangkah dengan kaki kiri itu menjadi “sunnah orang Indonesia”. Itulah, salah satu contoh untuk melalaikan sunnah secara sistematis, dan tak menggubris agama. Memangnya kita digerakkan untuk baris ke wc atau kakus? Kenapa digerakkannya dengan kaki kiri? Jahilnya umat Islam Indonesia ini sudah sampai tingkat sangat parah, sampai tidak tahu lagi, ketika minum itu sunnahnya pakai tangan kanan, sedang langkah awal dengan kaki kiri itu untuk masuk ke wc atau kakus. Mereka diarahkan untuk menyelisihi Sunnah, bahkan di sisi lain diseret untuk melakukan kemusyrikan secara beramai-ramai. (Dari buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat).

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Perluasan Masjidil Haram Diluncurkan

خادم الحرمين يطلق أكبر توسعة للحرم المكي في تاريخ الكون


alyaum.com

Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah hari Jum’at (19/8) meluncurkan program perluasan Masjidil Haram terbesar dalam sejarah, yang akan meningkatkan kapasitas masjid menjadi lebih dari 2,5 juta jamaah dengan biaya 80 milyar riyal.

Sebelum meletakkan batu pertama pembangunan perluasan, Raja Abdullah meninjau maket proyek Masjidil Haram yang akan dilaksanakan.

Raja Abdulah mendedikasikan mega proyek itu untuk Muslim di seluruh dunia.

“Sebagaimana diharapkan raja, seluruh dunia Islam pasti akan bangga dengan proyek perluasan yang baru ini,” kata Saleh Al Husein, kepala kantor urusan dua masjid suci umat Islam.

Masjidil Haram akan diperluas 400.000 meter persegi ke arah barat laut dan timur laut.

Menurut Muhammad Al Khuzaim, wakil kantor urusan dua masjid suci, area mataf (sekeliling ka’bah yang digunakan untuk thawaf) akan diperluas. Seluruh bagian masjid nantinya akan dilengkapi dengan pendingin udara. Kedua bagian proyek ini akan dilakukan seiring dengan perluasan masjid.

Direktur proyek ini Abdul Husein bin Humaid mengatakan bahwa kerja besar itu akan dituntaskan dalam waktu satu setengah tahun.

Luas Masjidil Haram yang sekarang 356.000 m2 dan dapat menampung 770.000 jamaah. Proyek perluasan menambah area masjid seluas 456.000 m2, sehingga 1,2 juta jamaah akan bisa ditampung sekaligus dalam satu waktu.

Terowongan sepanjang 1.200 meter menembus Jabal Hindi akan dibangun pada tahap akhir perluasan. Terowongan sepanjang 1.100 meter lainnya akan dibangun di bawah Jabal Madafie. Terowongan darurat yang menghubungkan dua tempat itu akan dibangun mulai dari Jabal Al Ka’bah sepanjang 700 meter.

Dalam kesempatan yang sama, Raja Abdullah meresmikan menara jam Makkah, perluasan mas’aa (tempat sa’i antara Safa dan Marwah) menara Raja Abdul Aziz, jembatan Jamarat di Mina, jalur kereta api Mashair yang menghubungkan Mina, Arafah, Muzdalifah serta tenda peneduh di Masjid Nabawi.*

Sumber : an

Red: Dija

Hidayatullah.com– Sabtu, 20 Agustus 2011


dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

“Lokakarya Islamisasi Ilmu di UIKA”

Oleh: Dr. Adian Husaini

Beberapa bulan lalu ada peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan para pelaku dan peminat Pendidikan Islam. Setelah menggelar Seminar Internasional pada 18-19 Mei 2011, lalu Seminar Nasional pada 29 Juni 2011, tentang Tema yang sama, maka pada Hari Rabu, 20 Juli 2011, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menyelenggarakan Lokakarya “Islamisasi Ilmu dan Kampus” untuk para pejabat Struktural kampus UIKA Bogor.

Lokakarya diikuti oleh seluruh pejabat struktural, mulai Rektor , wakil Rektor, sampai semua dekan dan para wakil dekan di UIKA. Lokakarya dibuka oleh Rektor UIKA, Prof. Dr. Ramly Hutabarat. Bertindak sebagai Keynote speaker adalah Prof Dr Ir AM Saefuddin, dengan pemateri Dr. Adian Husaini dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

Bagi UIKA, wacana Islamisasi Ilmu dan Kampus bukanlah hal yang baru. Gerakan itu sudah diserukan oleh Prof AM Saefuddin saat dia menjadi rektor UIKA tahun 1983. Dalam paparannya, AM Saefuddin menekankan perlunya konsep Islamisasi Ilmu dan Kampus diaplikasi kan dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan kampus. Bukan hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam perilaku sivitas akademika dalam kehidupan kampus.

Dalam Lokakarya tersebut, saya menyampaikan paparan tentang perlunya UIKA mengambil peluang melaksanakan Islamisasi Ilmu, sebab tuntutan umat Islam sangat besar, akan terwujudnya satu kampus Islam yang benar-benar Islami dan bermutu. Banyak orang tua kini bertanya, setelah anaknya tamat di satu SMA atau Madrasah Aliyah yang baik, ke mana anaknya harus melanjutkan kuliah. Mereka ingin agar anaknya benar-benar menjadi sarjana yang baik, yakni memiliki pemahaman Islam yang benar, bebas dari pengaruh liberal, dan memiliki keahlian tertentu yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan di dunia.

Ada contoh kasus. Seorang anak lulusan satu Pesantren unggulan yang bermutu tinggi, hafal al-Quran 30 juz dan juga menguasai ilmu-ilmu Ilmu Pengetahuan Alam dengan baik. Setelah diterima di satu perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta, si anak kesulitan megembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah dikuasainya saat belajar di pesantrennya.

Islamisasi Ilmu bukan sesuatu yang utopis, sebagaimana dibayangkan oleh sebagian kalangan, sehingga ada yang ketakutan dengan istilah “Islamisasi”. Ketika suatu institusi Pendidikan melabeli dirinya dengan kata “Islam”, atau menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, maka saat itulah ia berkewajiban meloakukan proses Islamisasi yang terus-menerus, sehingga lembaganya menjadi semakin Islami.

Apanya yang harus Islami?

Tentu saja, yang harus Islami adalah pemikiran dan perilaku pimpinan dan dosen-dosennya terlebih dahulu. Sebab, mereka adalah guru, yang – dalam bahasa Jawa – artinya wajib “digugu” dan “ditiru”. Dosen harus menjadi teladan bagi mahasiswa, dalam hal keilmuan, ibadah, dan akhlak. Jika hal itu belum tercapai, maka perlu dilakukan proses Islamisasi!

Selain itu, tentu saja, Islamisasi harus mencakup kurikulum pendidikannya. Jika masih ada diantara kurikulum yang diajarkan mengandung muatan-muatan pemikiran secular atau liberal – misalnya – maka hal itu wajib diluruskan dan di-Islamkan. Jika tidak bisa dilakukan proses Islamisasi, maka kurikulum sekular itu harus dibuang, atau minimal dibahas untuk dikritisi dengan perspektif Islam.

Misalnya, kurikulum tentang sains kealaman (natural sciences), seharusnya dikaitkan dengan konsep tauhid dan sejarah sains Islam. Sebab, objek studi kajian ilmu ini adalah “ayat-ayat Allah”. Jika metode belajar sains itu Islami, maka pengajaran sains harusnya mengarahkan mahasiswa untuk semakin mengenal sang-Pencipta (ma’rifatullah) dan mendorong mereka semakin taat kepada Allah. Jika pelajaran sains semakin menjauhkan mahasiswa dari Allah, – misalnya hanya diarahkan untuk eksploitasi alam semata-mata -- itu sama saja menjerumuskan manusia ke derajat binatang, bahkan lebih rendah lagi. (QS 7:179).

Disamping itu, pelajaran sains perlu dikaitkan dengan sejarah sains itu sendiri, yang selama ini tidak memperkenalkan prestasi para ilmuwan Muslim. Sejarah sains itu perlu disampaikan dengan jujur, sehingga diharapkan dapat menanamkan sikap “izzah” (pride) pada diri mahasiswa Muslim. Mereka perlu paham, bahwa Islam adalah sebuah peradaban yang pernah memimpin dunia dalam bidang sains, beratus tahun sebelum dunia Barat kemudian mengambil alih prestasi kaum Muslim tersebut. Islam bukan hanya mimpi dan utopia, tetapi sebuah konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan: pribadi, keluarga, masyarakat, dan kenegaraan.

Itu memang masa lalu. Ini bukan soal romantisisme. Tetapi, masa lalu memang teramat penting untuk memberikan perspektif tentang masa depan. Semua bangsa menengok masa lalu untuk merumuskan masa depannya. Inilah yang disebut sejarah. Bangsa Barat mengenalkan masyarakat mereka dengan masa lalu, agar mereka bangga dengan peradaban mereka di masa Yunani dan Romawi. Bangsa China, hingga kini, terus menggalakkan masyarakatnya agar tidak melupakan nilai-nilai masa lampau mereka. Begitu juga bangsa India, Jepang, dan sebagainya.

Kita, kaum Muslim di Indonesia, juga diarahkan untuk membangga-banggakan masa lalu kita. Hanya saja, sebagai Muslim, kita dipaksa untuk membanggakan zaman Majapahit di masa Gajah Mada. Mitos kebesaran Majapahit di zaman Gajah Mada itulah yang harus kita banggakan. Lalu, dimana letaknya kejayaan Islam di Indonesia? Kita – secara halus – diajari bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan dari Islam! Islam tidak menghasilkan Borobudur dan Prambanan yang menjadi kebanggaan dunia. Maka, dampaknya, bangsa kita dilarang menonjolkan Islam di mana-mana.

Begitu keluar dari pintu bandara internasional Soekarno-Hatta kita tidak disambut oleh tulisan ayat-ayat al-Quran atau foto-foto Masjid dan Pesantren. Tapi, kita disambut oleh berbagai jenis patung! Itulah Indonesia!? Memang, 87% penduduk Indonesia Muslim, tetapi diajarkan bahwa Islam tidak pernah membawa kemajuan bagi bangsa ini. Bahkan, Islamlah yang menghancurkan kebesaran Majapahit! Itulah yang diajarkan kepada kita, kepada anak-anak kita sekarang di sekolah-sekolah, bahkan di madrasah dan pondok pesantren!

Ironis sekali! Sebuah bangsa Muslim terbesar berhasil dibelokkan dari sejarahnya sendiri, sehingga bangsa Muslim ini tidak merasa sebagai bagian dari umat Islam, dan merasa tidak perlu untuk melanjutkan proses Islamisasi di Kepulauan Nusantara. Akibatnya, kaum Muslim dijauhkan dari rasa memiliki bangsa ini. Lihatlah, hingga kini, mungkin jarang sekali ada masjid atau Majlis Ta’lim yang secara sengaja merayakan Peringatan Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Sebab, sudah dijejalkan di kepala kita, sejak sekolah di SD, yang namanya memperingati kemerdekaan itu hanya dilakukan dengan Upacara Bendera. Padahal, kemerdekaan RI adalah buah dari perjuangan fi sabilillah yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Sebenarnya, banyak sejarawan yang sudah mencoba meluruskan pengajaran sejarah di sekolah-sekolah. Sebab, faktanya tidaklah seperti itu. Di kawasan Nusantara ini, Islam telah menorehkan goresan tinta emas dalam upaya kebangkitan intelektual. Sebagai contoh, apa yang pernah ditulis oleh seorang wartawan senior Rosihan Anwar.

Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tidaklah terlalu identik dengan sosok seorang tokoh Islam, seperti Moh. Natsir, Prof. Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Rosihan Anwar lebih dikenal sebagai wartawan senior yang hidup di beberapa zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Kemerdekaan Indonesia, dan pasca Kemerdekaan. Ia pun sempat menyaksikan naik turunnya rezim-rezim penguasa di Indonesia, dari Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono.

Meskipun begitu, membaca sebuah bukunya yang berjudul Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia (1971), tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah gagasan “Islamisasi” pemahaman sejarah Indonesia, yang menarik untuk disimak. Kamis (4/8/2011), saya diminta menjadi salah satu pembahas buku yang kembali diterbitkan oleh Fadli Zon Library. Pembahas lain, Prof. Dr. Taufik Abdullah, sejarawan senior LIPI.

Buku ini sejatinya merupakan kumpulan surat/nasehat Rosihan Anwar kepada putrinya, Aida Fathya. Simaklah sebagian kutipan nasehat Rosihan kepada putrinya tersebut:

“J.M. Pluvier menamakan Islam sebagai suatu pra-nasionalisme di Nusantara. W.F. Wertheim pun melihat peran Islam sebagai gerakan pra-nasionalisme. Bahkan Rupert Emerson dan Fred von der Mahden melihat adanya interrelasi antara hubungan agama dengan nasionalisme di Burma dan Indonesia. Gerakan kebangsaan di Burma dipelopori oleh Young Men’s Buddhist Association, begitu juga gerakan nasionalisme Indonesia yang dipelopori oleh orang-orang Islam. Budi Utomo memang merupakan sebuah gerakan nasionalis, sama seperti Nationale Indische Partij yang dipimin Douwes Dekker alias Dr. Setia Budi, tetapi gerakan-gerakan itu kecil. Dan, SI-lah gerakan kebangsaan-keagamaan yang pertama dengan anggota-anggotanya yang mencapai 2 juta orang ada saat itu, dan mempunyai organisasi massa yang berakar di kaum petani atau apa yang dinamakan George Kahin “the first peasant-based mass organisastion. Inilah yang harus kau ingat selalu, Aida Fathya, bahwa pelopor gerakan nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda ialah Islam.”

Meskipun buku ini tidak terlalu mendalam dan terperinci membahas tentang sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tetapi buku ini mengungkap percikan-percikan fakta sejarah pergerakan nasional Indonesia yang dipelopori oleh para tokoh dan organisasi Islam. Rosihan membawakan pesan penting bagi bangsa Indonesia, bahwa Islam adalah pelopor kebangkitan nasional dan pelopor dalam pembebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.

Itu pesan penting dari Rosihan Anwar. Dan pesan itu memiliki nilai yang sangat berarti, sebab – tidak dapat disangkal – para sejarawan dan tokoh-tokoh Islam Indonesia telah banyak mengungkapkan kejanggalan penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia, khususnya yang terkait dengan Islam. Di sana-sini, secara sistematis, ditemukan upaya untuk mengecilkan peran Islam dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia.

Pada catatan yang lalu, kita pernah mengutip tulisan Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. (Lihat, Hamka, Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)

Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita sekarang, apakah mereka mengenal Raden Patah, Raja Muslim Pertama di Tanah Jawa? Raden Patah adalah putra Raja Majapahit, yang sekaligus santri dari Sunan Ampel. Tanyakan kepada para siswa di sekolah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi Sultan Agung yang mengirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mengusir penjajah Portugis?

Tapi, kita dan anak-anak kita terus dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa Kerajaan Hindu itulah yang berhasil menyatukan Nusantara. Lalu, setelah itu, datanglah Kerajaan Islam dengan Raja-nya Raden Patah dan didukung para Wali Songo, untuk meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Opini yang ingin disampaikan kepada anak-anak kita tampaknya: “Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah berhasil dibangun oleh Majapahit!” Sebab, setelah itu -- sebagaimana digambarkan dalam buku pelajaran Sejarah -- muncul Kerajaan-kerajaan Islam yang tidak pernah berhasil menjelma menjadi Kerajaan Nasional, sebagaimana Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yang tidak kondusif sebagai ”pemersatu Indonesia”. Dengan kata lain, Indonesia hanya bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah ateisme, animisme, atau sekularisme.

Padahal, coba tanyakan kepada mereka, kapan Majapahit benar-benar berhasil menyatukan Nusantara; wilayahnya sampai dimana; dengan cara apa Majapahit menyatukan Nusantara. Katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil mewujudkan sumpahnya? Prof. C.C. Berg, termasuk sejarawan yang mengkritik upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis sebuah artikel di Jurnal Indonesië, Maret 1952, No. 5, berjudul ”De Sadeng-oorlog en de mythe van Groot-Majapahit” (Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran Majapahit).

Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam Kitab anonim Darmagandul yang isinya meratapi keruntuhan Majaphit dan mencerca para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo). Serat ini begitu menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang Jawa berganti agama, dengan meninggalkan Islam. Ditulis, misalnya: "Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kaweruh, ....(Artinya: Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kaweruh ...). Juga ditulis: "Kitab Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu." (Artinya: Kitab Arab jaman waktu ini, sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Rahullah). (Lihat, Anonim. Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955).

Fakta pengajaran sains dan sejarah di sekolah-sekolah semacam itu, seharusnya menjadi perhatian serius dari Perguruan Tinggi Islam (PTI). Sebab, tugas utama PTI memang melahirkan sarjana-sarjana yang memahami ilmu agama dan kondisi kontemporer sekaligus. Itulah yang disebut program Islamisasi. Karena itu, lokakarya “Islamisasi Ilmu” yang dilakukan untuk para pejabat struktural Kampus UIKA Bogor dapat dijadikan salah satu contoh yang baik.

Lokakarya di UIKA itu sangat istimewa. Sebab, “peniup peluit” pertama Islamisasi Ilmu di UIKA, yaitu Prof Dr Ir AM Saefuddin dengan setia menunggui acara itu, dari pagi hari sampai berakhirnya acara di sore harinya. Pak AM – begitu dia biasa dipanggil – berharap agar UIKA Bogor bisa menjadi salah satu kampus tempat bersemainya gagasan Islamisasi Ilmu yang sudah dia gulirkan 28 tahun sebelumnya. Amin.*/Depok, 23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011.

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM

Red: Cholis Akbar


dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

"Warna-Warni Idul Fithri"

Oleh: Dr. Adian Husaini

Senin (29/8/2011) pagi itu, saat saya menonton TV bersama-sama anak saya, muncullah berita: Jamaah Naqshabandiyah di Sumatera Barat sudah merayakan Idul Fithri 1432 H. Anak-anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar langsung bertanya: “Sekarang sudah lebaran?” Saya jelaskan pada mereka, “Itu kelompok yang menyimpang. Yang aneh!”

Aneh memang, setidaknya, saya sempat melihat tiga stasiun TV menyiarkan Idul Fithri kelompok Naqshabandiyah itu. Sayangnya, tanpa ada penjelasan apa pun dari otoritas keagamaan di Indonesia,apakah dari MUI atau pengurus Tarekat Mu’tabarah. Segera saya mengirim SMS ke sejumlah pimpinan MUI, mohon agar mereka mengklarifikasi aktivitas Jamaah Naqshabandiyah tersebut. Dijawab oleh seorang pimpinan MUI, bahwa tadi pagi Sekjen MUI sudah memberikan penjelasan. Entah TV-TV itu yang tidak tahu atau sengaja tidak memuat klarifikasi MUI. Wallahu a’lam.

Saya maklum, dalam kredo jurnalistik lama masih berlaku jargon “anjing menggigit manusia bukan berita, tetapi manusia menggigit anjing itu baru berita.” Dalam pepatah Arab juga ada ungkapan: “bul zamzam tu’raf!”, kencingilah sumur zamzam, maka kamu akan terkenal!

Tentu saja, dari sudut pandang Islam, berita tentang Idul Fithri kelompok Naqshabandiyah itu, sangat tidak mendidik. Dan itu juga bertentangan dengan salah satu fungsi jurnalistik, yakni fungsi edukasi. Berita itu memang “aneh”, menarik, dan “nyeleneh”, tapi seharusnya pendapat sekelompok orang yang ‘nyeleneh’, tidak bisa disejajarkan derajatnya dengan pendapat jumhur umat Islam. Dalam dunian ilmu pengetahuan dan jurnalistik pun, dipegang kualitas dan kredibilitas nara sumber.
Kita maklum, ini Negara demokrasi! Kata sebagian penganutnya: suara rakyat adalah suara Tuhan! Meskipun suara rakyat Israel yang setuju menjajah Palestina, jelas suara setan!
*****

Bersamaan dengan munculnya beberapa kali tayangan berita Idul Fithri Naqshabandiyah, muncul pula berita berjalan “running text” di beberapa stasiun TV: “PP Muhammadiyah menetapkan Idul Fithri 1432 H, jatuh pada Hari Selasa (30/8/2011)”. Anak-anak saya bertanya lagi: “Jadi besok kita lebaran?” Anak saya yang duduk di bangku kelas 3 SD hari itu sudah merengek-rengek minta batal, karena kehausan. Saya bilang, “Ya sudah, kamu besok boleh tidak puasa!”

Hingga habis magrib, anak-anak lainnya masih terus bertanya, “Jadi besok kita lebaran?” Saya katakan: “Kita nunggu pengumuman pemerintah.” Istri saya ikut menjelaskan: “Tunggu pengumuman Presiden!”

Memang, Senin itu cukup mengasyikkan.Bukan hanya menjawab pertanyaan anak-anak. Puluhan SMS juga datang bertubi-tubi menanyakan, kapan kita Idul Fithri? Kepada mereka saya jawab: “Saya menunggu sidang itsbat.” Saya hanya mewakili pribadi. Bukan mewakili pendapat satu ormas atau lembaga tertentu.

Ada juga yang tidak puas dengan jawaban saya. Seorang professor, kolega saya, menyatakan, bahwa pemerintah Indonesia kan bukan pemerintah Islam. Jadi tidak bisa dijadikan pegangan. Saya jawab: “Memangnya sekarang ini ada pemerintahan Islam?” Maaf, setahu saya, -- mungkin saya keliru – di Mesir, Ikhwanul Muslimin tidak mengumumkan Id sendiri, meskipun rezim Mesir tak henti-hentinya menindas mereka. Meskipun beroposisi, setahu saya, Partai PAS di Malaysia juga tidak mengumumkan Id sendiri.
*****

Lalu, tibalah saatnya Sidang Itsbat berlangsung! Jujur, baru kali ini saya menyaksikan secara langsung dan lengkap jalannya Sidang Itsbat di Kementerian Agama. Bagi saya, itu sangat menarik. Begitu “demokratisnya” Indonesia. Dipimpin langsung oleh Menteri Agama, jalannya sidang itu bisa disaksikan secara langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Dugaan saya, mekanisme seperti ini tidak dijumpai di negara-negara lain.

Dalam sidang Itsbat itu, MUI -- melalui salah satu ketuanya, KH Ma’ruf Amin -- mengantarkan, bahwa sudah ada fatwa MUI tahun 2004, yang menyatakan, umat Islam Indonesia wajib mengikuti keputusan pemerintah dalam soal penetapan awal Ramadhan, Idul Fithri, dan Idul Adha.

Oohhh, ternyata sudah ada fatwa itu. Tapi, ternyata, tidak bergigi! Tentu, banyak sebabnya. Mungkin, kelemahan itu ada dipihak MUI, di pihak pemerintah, atau mungkin pula di pihak Ormas-ormas Islam. Di sini, tak cukup tempat untuk menelusurinya.

Sungguh asyik menonton Sidang Itsbat malam itu! Meskipun anak-anak saya tidak sabar menunggu, dan pergi satu persatu dari depan layar TV. Mereka hanya mau keputusan: “Kita Lebaran kapan? Itu saja!”

Asyiknya, sidang itu bukan hanya dihadiri oleh wakil-wakil Ormas Islam, tetapi juga sejumlah pakar astronomi terkemuka di Indonesia. Di situ pula dibacakan semua laporan yang masuk, baik yang mengaku melihat hilal (bulan sabit) maupun yang tidak! Sebagian besar mengaku tidak melihat hilal. Berdasarkan pendapat beberapa ulama yang dibacakan oleh Ketua MUI, maka kesaksian yang bertentangan dengan kesepakatan ahli hisab atau astronomi yang sudah diyakini kebenarannya, tidak dapat diterima.

Saya terus terang menikmati acara sidang itsbat itu. Mungkin, itu satu-satunya di dunia Islam. Berbagai aspirasi disampaikan secara langsung. Terbuka. Akhirnya, sekitar pukul 20.00, berdasarkan mayoritas suara peserta sidang Itsbat – Menteri Agama memutuskan: Idul Fithri 1432 H di Indonesia jatuh pada hari Rabu (31/8/2011).

Tibalah saat yang menentukan! Saya harus menjelaskan kepada anak-anak saya, kapan saya ber-Idul Fithri 1432 H. Berpuluh tahun saya terlibat dalam polemik masalah ini. Malam itu, saya menggunakan logika sederhana saja. Saya lihat semua tokoh yang berbeda pendapat selalu mengimbau agar umat Islam bisa menerima perbedaan, karena yang berlebaran hari Selasa atau pun Hari Rabu, sama-sama benar. Hanya kriteria yang digunakan berbeda!

Saya percaya, ucapan para pemimpin Ormas Islam itu tulus ikhlas. Sama antara mulut dan hatinya. Karena itu, saya putuskan, saya ber-Idul Fithri 1432 H, Hari Rabu (31/8/2011). Sebab, keduanya berdasarkan dalil. Keduanya sama-sama benar. Dengan memilih Rabu, saya punya kesempatan menambah ibadah Ramadhan 1 (satu) hari lagi. Lumayan….!
Lalu, saya ajak anak-anak saya shalat Isya’ dan tarowih berjamaah. Anak saya yang kelas 3 SD ikut shalat tarawih juga. Tapi, esoknya dia tetap konsisten, tidak puasa. Katanya, ikut lebaran dengan yang lain. Kami hanya tersenyum… Dan Alhamdulillah, sejumlah tetangga kami juga ikut ber-Idul Fithri hari Selasa. Berbeda-beda, tetapi tetap berukhuwah!
*****


Pada 27 Ramadhan 1432 H, sekelompok professional Muslim Indonesia mengeluarkan sebuah petisi bertajuk “PETISI UKHUWAH DAN PERSATUAN”. Sebuah slogan dikumandangkan: “BEDA BOLEH! SATU LEBIH BAIK! SATU LEBIH INDAH! “ (http://www.petitiononline.com/ukhuwwah/).

Ajakan itu menarik. Dalam beberapa hari, ratusan orang kemudian menandatangani petisi tersebut. Mereka rindu persatuan! Disebutkan dalam Petisi, bahwa ulama terkenal, Dr. Yusuf Qaradhawi pernah berpendapat, jika kaum Muslim tidak mampu mencapai kesepakatan pada tingkat global, minimal mereka wajib berobsesi untuk bersatu dalam satu kawasan. Kata Syekh Qaradhawi, tidak boleh terjadi di satu negara atau satu kota kaum Muslim terpecah-pecah; beda pendapat dalam penentuan awal Ramadhan atau Hari Raya. Kaum Muslim di negara itu harus mengikuti keputusan pemerintahnya, meskipun berbeda dengan negara lain. Sebab, itu termasuk ketaatan terhadap yang ma’ruf. (Yusuf Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jld II (terj), Jakarta :GIP, 1995 , hal. 315).

Kaidah Ushul Fiqih menyatakan: “Al-khurûj minal khilâf mustahabbun” (Menghindar dari perpecahan itu lebih dicintai (sunnah).” (Lihat, Abu Bakar al-Ahdal asy-Syafii, al-Faraid al-Bahiyah fil-Qawaid al-Fiiqhiyyah, (Semarang: Toha Putra, 1997, hal. 24, kaedah no. 12).

Begitulah Isi Petisi itu. Dan saya ikut tandatangan tanda setuju!

Seorang pimpinan salah satu Ormas Islam, dalam Sidang Itsbat di Kemenag, Senin malam itu, membacakan satu hadits Nabi saw yang indah, yang mengajak kaum Muslimin berpuasa dan ber-Hari Raya pada saat masyarakat melakukannya. Hadits ini, katanya, memberikan isyarat bahwa seharusnya kaum Muslimin di satu lokasi tidak boleh merayakan Idul Fithri pada hari yang berbeda.

Saya setuju! Tampaknya, salah satu hikmah Idul Fithri adalah persatuan umat. Di hari yang sama, semua kaum Muslimin bersama-sama merayakan kemenangan. Soal perhitungan yang “jlimet-jlimet” dalam perhitungan “wujudul hilal” atau “imkanur-ru’yat” adalah metodologi yang tak habis-habisnya dibahas. Sudah ratusan tahun masalah ini diperdebatkan di antara para ulama. Toh, ujung-ujungnya, semua tetap dengan pendapatnya masing-masing. Maka, dalam soal ini, yang penting dan menjadi keputusan akhir adalah “Keputusan Ulil Amri”.

Para jamaah haji sedunia tak pernah mempersoalkan akurasi keputusan Pemerintah Saudi saat penentuan wukuf! Pemerintah Saudi juga tidak menggelar Sidang Itsbat, seperti di Indonesia. Yang penting, semua berwukuf pada hari yang sama! Padahal, banyak pihak yang menilai, pemerintahan Saudi pun tidak sesuai dengan sistem Islam! Jika secara astronomi pemerintah Saudi salah ambil keputusan, jamaah haji juga tidak wajib mengulang ibadahnya. Meskipun tahun ini kita ber-Idul Fithri 20 jam lebih lambat dari Saudi, toh kita tidak juga menggeser shalat Jumat kita menjadi 20 jam kemudian, pasca shalat Jumat di Saudi!

Jadi, tampaknya, Ibadah Idul Fithri dan Idul Adha memang dimaksudkan agar kita semakin cinta kepada persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Jika kita mau, InsyaAllah kita mampu bersatu. Kita tentu tidak hanya mengaku cinta persatuan di mulut, tetapi dalam hati bercerai-berai dan saling mendendam.
Terlepas soal perbedaan, apa pun Harinya, sejatinya kita tetap ber-Idul Fithri 1 Syawal. Tidak ada yang 2 Syawal! Minal ‘Aidin wal-Faizin, Mohon Maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum. Wallahu a’lam bil-shawab.*/ (Depok, 30 Ramadhan 2011).



Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Meneladani Para Sahabat yang Dijamin Surga

Meneladani Para Sahabat yang Dijamin Surga

SUATU hari setelah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam selesai shalat subuh, beliau menghadap ke arah sahabatnya dan bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa tadi malam, maka pagi ini saya berbuka.”

Abu Bakar berkata, “Tapi sempat berniat puasa tadi malam, sehingga pagi ini saya puasa.”

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, kami belum keluar, bagaimana kami menjenguk orang sakit?”

Abu Bakar berkata, “Aku mendapat kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, maka saya sempat mampir ke rumahnya untuk mengetahui keadaannya pagi ini.”

Rasulullah kembali bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan fakir miskin?”

Umar menjawab, “Kami baru saja shalat wahai Rasulullah dan belum pergi kemana-mana.”

Abu Bakar berkata, “Saat saya hendak masuk masjid, ada pengemis yang sedang meminta-minta. Kebetulan ada sepotong roti di tangan Abdurrahman (Putra Abu Bakar), maka saya ambil dan saya serahkan pada pengemis tadi.”

Rasulullah lantas berkata, “Bergembiralah engkau (Abu Bakar) dengn jaminan surga.

Dialog ringan Rasulullah dengan para sahabat seperti di atas menggambarkan bahwa para sahabat biasa berlomba-loma dalam kebaikan. Ingin selalu menjadi yang terbaik dan pertama kali. Mereka tidak ingin hari-hari mereka diisi tanpa prestasi amal shalih. Lihat saja Abu Bakar dan Umar. Mereka saling berebut dalam kebajikan. Selalu ada ide dan selalu ingin paling awal. Itulah potret kehidupan para sahabat Nabi.

Karenanya, waja bila Rasulullah memberi kabar gembira kepada Abu Bakar dengan surga. Kabar yang tiada terkira bahagiannya. Dijamin masuk surga. Tempat yang diidam-idamkan seluruh manusia. Sayangnya, tak banyak yang mendapat jaminan itu. Setidaknya, selain Abu Bakar, ada sembilan lagi sahabat yang dijamin surga.

Mereka adalah Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’id bin Zaid, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Kesepuluh sahabat tersebut tentunya bukan sembarang orang. Mereka memiliki kemuliaan yang lebih dari yang lain. Perjuangan dan pembelaan mereka terhadap Islam tidak diragukan lagi. Harta bahkan jiwa dan raga mereka disumbangkan seluruhnya demi tegaknya Islam di bumi ini.

Abu Bakar, Umar bin Al Khathtab dan sahabat lainnya adalah sosok generasi terbaik di masa awal Islam. Ketika mereka ikut Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib), mereka adalah kalangan muhajirin yang terbaik. Di saat perang Badar, mereka juga tentara terbik. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka demi Islam.

Tidak hanya itu, empat dari mereka Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pascafawatnya Rasulullah. Sedangkan yang lainnya adalah pemuka ahlu al hall wal ‘aqd, menteri kepercayaan khalifah, panglima perang, pelopor kemuliaan, dan pemimpim pembebasan wilayah.

Dari kesepuluh sahabat tersebut, ada hal menarik dari salah satu mereka, dialah Abu Bakar. Sahabat yang memiliki umar tak berbeda jauh dari Rasulullah ini mendapat gelar Ash Shiddiq (Orang yang selalu membenarkan). Gelar ini disematkan kepada lelaki berwajah tampan dan putih ini lantaran membenarkan setiap kali ucapan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam.

Julukan itu semakin melekat kepadanya sesaat setelah Rasulullah melakukan Isra-Mi’raj. Kala itu, ia didatangi kelompok musyrik dan ditanya, “Apa pendapatmu tentang cerita teman-temanmu itu? Ia mengaku telah diperjalankan tadi malam ke Baitul Maqdis!”.

Abu Bakar balik bertanya, “Dia mengatakan itu?” Mereka serempak mengiyakan. Abu Bakar berkata, “Kalau begitu dia benar! Seandainya ia mengatakan lebih dari itu tentang kabar dari langit, saya pasti akan membenarkannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Tidak hanya itu, Abu Bakar juga berkata, “Jika Nabi Shallahu Alaihi Wassalam berkata, maka ia benar”.

Buku setebal 964 halaman berisi penjelasan sosok kesepuluh sahabat yang dijamin surga tersebut. Dari nasab, bentuk fisik, jasa hingga amal shalih mereka dijelaskan secara gamblang dalam buku terjemahan dari bahasa Arab ini. Buku ini menarik untuk dibaca dan direnungkan isinya. Setelah itu meneladani kisah heroik mereka dalam membela Islam. Semoga di surga kelak kita bisa berjumpa dan berkumpul dengan mereka. Amin. Syaiful Anshor



Resensi Buku

Judul : 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Penulis : Abdus Sattar As-Syaikh

Cetakan pertama : April 2011

Penerbit : Darus Sunnah Press

Tebal : 964 Halaman



Rep: Syaiful Anshor
Red: Cholis Akbar

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP