..::::::..

Syarah Hadits Pertama Arbain Nawawiyah

Hadits ke-1 Arbain An-Nawawi
الحَدِيْثُ الأَوَّلُ
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُوْلُ :  إِنَّمَا الأَعْمالُ بِالنِّيَاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ  رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَةَ الْبُخَارِيُّ وَ أبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُوْرِيُّ فيِ صَحِيْحَيْهِمَا الَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ

1. Dari ‘Amirul Mu’minin Abu Hafsh ‘Umar bin Khattab  telah berkata : Aku telah mendengar Rasulullah  bersabda : “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanya memperoleh (sesuai) apa yang ia niatkan. Maka siapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju”. (Diriwayatkan oleh dua Imam ahli hadits : Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka yang merupakan kitab yang paling shohih diantara kitab-kitab hadits).

KEUTAMAAN HADITS
 Hadits ini merupakan salah satu contoh Jawami' Al-Kalim (kalimat-kalimat yang ringkas bermakna luas) dan para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa hadits ini sangat agung, mempunyai banyak faidah dan derajatnya shahih.
 Hadits ini merupakan setengah dari Ad-Dien karena merupakan mizan (timbangan) amalan batin ,sebagaimana diketahui Ad-dien terbagi atas 2 yakni :
• amalan batin (mizannya Hadits-1 dari Arbain Nawawi)
• amalan zhohir (mizannya Hadits-5 dari Arbain Nawawi)
 Abu Abdillah menyatakan bahwa tidak ada satu hadits pun yang lebih lengkap, luas cakupannya dan lebih banyak faidahnya melebihi hadits ini.
 Imam Ahmad رحمه الله تعالى berkata: “ Pokok-pokok Islam ada pada 3 hadits, yaitu hadits Umar (H-1), hadits ‘Aisyah (H-5), dan hadits Nu’man bin Basyir (H-6)
 Imam Syafi’i رحمه الله تعالى mengatakan: ” Hadits ini merupakan 1/3 ilmu dan masuk ke dalam 70 bab fiqh “ , sedang Imam Bukhari telah memasukkan hadits ini dalam 7 bab dalam kitab Shohih beliau
 Imam Asy-Syaukani رحمه الله تعالى menuturkan : "Hadits ini merupakan salah satu kaidah dalam Islam hingga dikatakan dia mengandung sepertiga ilmu" Beliau berkata pula: "Hadits ini mempunyai faidah-faidah yang telah dipaparkan dalam kitab-kitab tebal… dan seyogyanya disusun kitab yang khusus untuk menjelaskannya".
 Abdurrahman bin Mahdi رحمه الله تعالى berkata : “ Seandainya saya menulis sebuah kitab yang terdiri dari beberapa bab-bab, maka sungguh saya akan menjadikan hadits Umar bin Khoththob di dalam tiap bab “ Dan beliau juga berkata : "Barangsiapa yang hendak menyusun suatu kitab hendaknya memulai dengan hadits ini" . Dan nasehat ini telah diamalkan oleh para ulama di antaranya:
• Imam Bukhari dalam Shohihnya
• Al-Hafizh Taqiyuddin Abdul Ghoni Al Maqdisi dalam 'Umdahtul Ahkam
• Al Hafizh Zainuddin Abdurrahman Al-'Iraqi dalam Taqribul Asanid wa Tartib Al Masanid
• Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin ,Arbain An-Nawawiyah, dan Al-Adzkar
• Imam Suyuthi dalam Al Jami' Ash-Shogir
Ini menunjukkan pengagungan ulama terhadap hadits ini yakni mereka memandang hendaknya hadits ini didahulukan dalam setiap kitab yang disusun, sebagai peringatan bagi para penuntut ilmu untuk memperbaiki niatnya dan sebagai isyarat bahwa setiap amalan yang tidak ditujukan untuk Allah maka amalan tersebut batil, tidak ada buahnya di dunia dan di akhirat.

BIOGRAFI SAHABAT PEROWI HADITS
Nama, Kunniyah dan Laqab beliau :
Nama beliau adalah Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Rozah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib Al-Qurasyi Al 'Adawi
Kunniyah : Abu Hafsh ("Hafsh" artinya anak singa)
Laqab (gelaran) : Al-Faruq ( pembeda ) karena setelah keislaman beliau semakin nampak al-Haq dan Al-Bathil.
Kelahiran beliau :
Beliau lahir 3 tahun sesudah Tahun Gajah (40 tahun sebelum hijrah)
Diantara keutamaan beliau:
• Beliau adalah khalifah kedua bagi kaum muslimin sesudah wafatnya Rasulullah . Allah  menguatkan Ad-Din dengan keislaman beliau
• Pada zaman jahiliyah beliau termasuk pahlawan dan pemuka Quraisy. Sebelum masuk Islam, Umar sangat keras kepada Islam dan kaum Muslimin. Beliau masuk Islam 5 tahun sebelum hijrah dan keislaman beliau merupakan kemuliaan dan kekuatan serta kelapangan bagi kaum muslimin sebagaimana penuturan Ibnu Mas'ud: "Kami dahulu tidak pernah menyembah Allah secara terang-terangan hingga masuknya Umar ke dalam Islam".
• Seorang pemberani sehingga sangat ditakuti oleh jin dan manusia. Rasulullah  pernah bersabda pada Umar :
 وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ 
“ Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya,tidaklah syetan berpapasan denganmu pada suatu jalan, melainkan syaithan akan mencari jalan yang lain (HR.Bukhari dan Muslim)
• Beliau senantiasa berkata benar dan merupakan sahabat yang selalu mendapatkan ilham (bimbingan ilahi). Rasulullah bersabda :
 إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ 
"Sesungguhnya Allah  menjadikan al haq pada lisan dan hati Umar " (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
dalam hadits lain beliau  bersabda:
 لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ 
Artinya:"Jika ada Nabi sesudahku maka dia adalah Umar bin Khaththab "(HR.Tirmidzi dan Ahmad di musnad beliau dan dalam Kitab Fadhail As-Shohabah 1:246)
• Beliau termasuk salah seorang dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk syurga, sebagaimana sabda Rasulullah  yang diriwayatkan oleh sahabat Said bin Zaid  :
 عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ 
"Sepuluh sahabat (yang dijamin) masuk surga : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Malik, Abdurrahman bin Auf." (Said bin Zaid )-sahabat perowi hadits ini- berkata: "Jika aku ingin maka aku menyebut yang kesepuluh" Mereka bertanya:"Siapa orang itu?" Beliau(Said) diam, namun mereka bertanya lagi: "Siapa dia?" Beliau berkata: "Orang itu adalah Said bin Zaid " (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
• Beliau adalah orang yang pertama kali menetapkan penanggalan Hijriyah sebagai penanggalan kaum muslimin kemudian menjadi ijma’ dikalangan sahabat.
• Beliau telah berhijrah dan berjihad bersama Rasulullah  bahkan dibai'at menjadi khalifah saat wafatnya Abu Bakar tahun 13 Hijriyah
• Beliau sangat terkenal dengan keadilannya.
• Umat Islam banyak mengalami kejayaan sejak kekhalifaan beliau. Pada masa pemerintahannya kaum muslimin berhasil membuka banyak wilayah untuk pemerintahan kaum muslimin dan menaklukkan banyak negeri diantaranya Syam, Iraq, Al Quds,Mesir dan lain-lain.
Wafat Beliau :
Beliau wafat 23 H dalam usia 65 tahun di tangan Abu Lu'lu'ah Al-Majusi yang menikamnya secara licik ketika sedang memimpin sholat subuh dan beliau meninggal dunia tiga hari setelah peristiwa tersebut, dan dikuburkan di sisi nabi Muhammad  dan Abu Bakar Ash Ashiddiq Radhiyallahu 'anhuma.

KEDUDUKAN HADITS
Perlu diketahui meskipun hadits ini ditakhrij oleh banyak Imam dan semuanya bersepakat akan keutamaan dan kedudukan hadits ini yang sangat tinggi namun hadits ini tidak termasuk dalam hadits mutawatir. Hadits ini jika dilihat di awal sanadnya adalah hadits gharib, tapi jika dilihat akhir sanadnya adalah hadits masyhur.
• Hadits ini termasuk hadits Ahad karena hanya diriwayatkan dari Umar bin Khattab  , ada riwayat lain tetapi dhoif yaitu dari Abu Hurairah , Ali , Anas  dan Abu Said Al Khudri




Sanad hadits :
رسول الله 
عمر بن الخطاب
علقمة بن وقاص الليثي
محمد بن إبراهيم التيمي
يحي بن سعيد الأنصاري
Dan tidak ada jalur periwayatan yang shohih selain jalur ini, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ali bin Al-Madini dan disetujui oleh Al-Khaththabi serta para ulama yang lain. Karenanya siapa yang mendapatkan jalur-jalur yang lain dari hadits ini maka jalan-jalan tersebut tentu tidak shohih. Barulah dari Yahya bin Said banyak yang meriwayatkan, sebagian mengatakan diriwayatkan oleh sekitar 250 bahkan ada yang mengatakan 700 orang. Dan umumnya yang meriwayatkan dari Yahya adalah para Imam seperti : Imam Malik, Sufyan bin Uyainah, Hammad bin Zaid, Sufyan Ats-Tsauri, Al Auza’i, Abdullah bin Mubarok, Al-Laits bin Sa’ad, Syu’bah, dan lain-lain.
Dari sanad hadits yang tidak mutawatir ini bisa dijadikan hujjah atas orang yang menolak hadits-hadits ahad dalam masalah-masalah ushul (pokok). Karena hadits ini adalah hadits ahad yang mengandung masalah yang sangat mendasar (ushul) dalam Ad-Dien namun demikian para ulama telah berijma' bahwa hadits ini shohih dan diterima. Kesimpulannya bahwa meskipun sebuah hadits ahad, namun jika shohih maka ia menjadi hujjah dalam syariat Islam baik dalam masalah Aqidah, Ibadah , Akhlaq dan lain-lain.
Dan salah satu keunikan hadits ini adalah periwayatan 3 orang tabi'in sekaligus satu sama lainnya yaitu Alqamah, Muhammad bin Ibrahim At Taiymi dan Yahya bin Sa'id Al-Anshori.-Rahimahumullahu jami'an-
Hadits ini disampaikan oleh Umar  , ketika berkhutbah di atas mimbar. Namun walaupun banyak yang mendengarkannya tetapi sedikit yang meriwayatkannya hal ini mungkin disebabkan karena kehati-hatian mereka dan ketakutan mereka akan sabda Rasulullah  :
مَنْ كَذَ بَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعده مِنَ النَّارِ (متفق عليه عن أبي هريرة)
“ Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja , maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka” (HR.Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah ) Abdurrahman bin Abi Laila (seorang tabi'i yang mulia) rahimahullah berkata:" Kami berkata kepada Zaid bin Arqam  : “ Ceritakanlah kepada kami (hadits-hadits) dari Rosulullah  .., beliau  menjawab :
َكَبِرْنَا وَنَسِينَا وَالْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيدٌ
Kami telah tua dan (banyak) lupa, sedangkan menceritakan hadits dari Rosulullah  sangatlah berat" (HSR Ibnu Majah dan Ahmad)
Dan juga sabda Rosulullah  :
 كَفَى بِا لْمَرْ ءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّ ثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ  ( رواه مسلم في المقدمة )
“ Cukuplah seorang dikatakan berdusta jika menyampaikan semua yang didengarkannya.” ( HR.Muslim dalam muqaddimah Shohihnya)

SABABUL WURUD
Sesungguhnya pengetahuan akan sebab keluarnya (sababul wurud) sebuah hadits sangat membantu untuk memahami makna hadits sebagaimana halnya pengetahuan tentang sababun nuzul membantu dalam memahami makna ayat Al-Qur'an.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa sebab dikeluarkannya hadits ini berkenaan dengan seorang laki-laki yang ingin menikahi seorang wanita yang dikenal dengan Ummu Qais. Dan perempuan ini tidak mau dinikahi kecuali kalau laki-laki tersebut berhijrah. Maka berhijrahlah laki-laki tersebut karena keinginannya untuk menikahi Ummu Qais, bukan karena mengharap pahala hijrah. Oleh sebab itu laki-laki itu digelari dengan Muhajir Ummi Qais (orang yang berhijrah karena Ummu Qais)
Berkenaan dengan sababul wurud hadits ini terdapat ikhtilaf diantara para ulama :
1) Ibnu Rajab Al-Hambali رحمه الله تعالى menyatakan: "Telah masyhur bahwa kisah muhajir Ummu Qais adalah sebab diucapkannya hadits : " Barangsiapa hijarahnya untuk dunia yang ia ingin dapatkan atau wanita yang ia ingin nikahi …"banyak ulama mutaakhirin (pada zaman beliau) yang menyebutkan sababul wurud tersebut dalam kitab-kitab mereka namun kami tidak melihat dalil dengan sanad yang shohih dari perkataan tersebut "
2) Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله تعالى menilai sanad Thabrani yang menceritakan adanya seorang laki-laki yang berhijrah karena ingin menikahi seorang perempuan yang bernama Ummu Qais adalah sanad yang shohih. Namun beliau memandang bahwa tidak ada keterangan yang jelas yang menunjukkan bahwa kejadian tersebut merupakan penyebab keluarnya sabda Rasulullah  tersebut.
Maka sebagaimana tidak semua ayat-ayat Al-Qur’an ada asbabun Nuzulnya begitu pula dengan hadits-hadits. Perlu diingat bahwa asbabul nuzul/wurud disebutkan adalah untuk memahami ayat atau hadits secara umum, namun bukan berarti bahwa ayat atau hadits tersebut cuma menjelaskan tentang perkara-perkara yang menjadi penyebab turunnya ayat atau hadits tersebut secara khusus.
Berkata Ulama :
العِبرَةُ بِعُمُومِ اللََّفظِ لاَ بِخُصُوصِ السَّبَبِ
“ Al Ibroh (pelajaran) terletak pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab “




SYARH HADITS
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ …
“... dari Amirul Mukminin ..”
Gelar Amirul Mukminin :
• secara umum : adalah gelar yang pertama kali disandarkan kepada shahabat Abdullah bin Jahsy - seorang shahabat yang pernah memimpin Sariyah sebelum terjadinya perang Badar
• secara khusus : untuk khalifah adalah pertama kali diberikan pada Umar bin Khattab  .Penamaan ini disebutkan pada akhir kekhalifaan Abu Bakar dan menjadikan gelar Amirul Mukminin sebagai pengganti bagi gelar khalifah

 أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ 
" …Abu Hafs Umar bin Khaththab  "
Kunniyah Umar bin Khaththab adalah Abu Hafsh, dan arti dari kata "Hafsh" adalah anak singa
• Ini menunjukkan bolehnya berkuniyah dengan selain nama anak, bahkan tidak mesti harus punya anak, sebagaimana Aisyah radhiyallohu anha yang berkuniyah dengan Ummu Abdillah dan Imam Nawawi berkuniyah Abu Zakariya, padahal beliau belum pernah menikah.
• Berkuniyah adalah sesuatu yang disunnahkan, sehingga Rosulullah  telah memberikan kuniyah seorang anak kecil,sebagaimana hadits Rosulullah  dari Anas bin Malik  ,beliau berkata :
كَانَ النَّبِيُّ  أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمًا وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ:يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ
Nabi  adalah orang yang paling baik akhlaqnya.Aku mempunyai seorang adik yang baru lepas susuan yang dipanggil Abu Umair. Apabila Rosulullah datang, beliau bergurau sambil berkata: Ya Abu Umair, apa yang dikerjakan oleh nughair( burung kecil itu kepunyaan Abu Umair). (Muttafaq ‘alaihi)

 سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ 
“ ..saya mendengar.Rasulullah .”
-Menunjukkan keutamaan Umar yang langsung mendengarnya dari Rasulullah . Dan inilah keutamaan shahabat secara umum, yaitu bertemu langsung dengan Rosulullah 
Abdullah bin Mas’ud  mengatakan :
“(Para sahabat) adalah manusia yang Allah  pilih untuk menemani nabi-Nya”

إِنَّمَا الأَعْمالُ 
“... sesungguhnya amal..”
إنَّ(sesungguhnya)  fungsinya untuk menashob ( --َ-- )
ما + إن ( hanya saja) ,  fungsinya adalah untuk merafa’ ( --ُ-- )
Dalam Al-Quran ada beberapa bentuk إِنَّمَا :
1) Penafian secara mutlaq,Allah  berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ ﴾ ﴿
Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu hanyalah Tuhan Yang Esa...".(QS.Al Kahfi:110)
Maksudnya ayat ini adalah hanya Allah yang berhak disembah, selain-Nya bathil.
2) Penafian secara partial (sebagian) :
إِنَّمَا أَنْتَ مُذَ كِّر﴾ ﴿
Sesungguhnya kamu Muhammad hanyalah pemberi peringatan (QS.Al Ghasyiyah:21)
Penafian di sini tidaklah secara mutlak karena kenyataannya Nabi Muhammad  juga bertugas untuk memberi kabar gembira, dll. Namun disebutkan dalam ayat ini hanya sebagai pemberi peringatan maksudnya beliau tidak berkuasa memberikan hidayah kepada seseorang
3) Penafian yang menunjukkan pentingnya/umumnya hal tersebut
Allah  berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ﴾ ﴿
Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,... QS. (Al Hadid:20)
لَعِبٌ وَلَهْوٌ  bukan berarti dunia itu semuanya permainan dan senda gurau tetapi hanya disebutkan keduanya adalah karena begitulah keadaan dunia pada umumnya. Adapun dalam hadits ini merupakan penafian secara mutlak.Wallohu A'lam

بِالنِّيَاتِ“
"dengan niat..”
Menurut Ulama, maksudnya ada 3 :
1) Amalan itu dipandang /dinilai ketika ada niat.
2) Amalan itu akan lahir /muncul karena adanya niat. Maksudnya tidak mungkin sesuatu bisa dikerjakan tanpa adanya niat; karena setiap manusia yang berakal dan tidak dipaksa tidak mungkin mengamalkan sesuatu tanpa niat. Bahkan sebagian ulama berkata: "Seandainya Allah menyuruh kita mengamalkan sesuatu tanpa niat maka itu suatu perintah yang tidak sanggup dikerjakan" . Makna ini sangat tepat untuk membantah orang yang senantiasa was-was dalam niatnya sehingga melafazhkannya dalam setiap ibadah!
3) Baik atau buruknya suatu amalan sangat tergantung pada niatnya.

Perbedaan ponit 1 & 3 :
 bahwa pada point 1 menjelaskan bahwa amalan sholeh hanyalah diterima jika diawali dengan niat. Contoh : seseorang yang makan dengan tangan kanan hanya karena kebiasaan bukan untuk mengikuti sunnah Rasulullah  maka dia tidak diganjar dengan perbuataanya itu.
 Point ke-3 amalan yang dikerjakan dengan niat, baru akan diterima jika niatnya baik(ikhlas) contoh sholat walaupun seseorang telah berniat untuk sholat namun tidak akan diterima jika ada niat yang tidak ikhlas (riya’)
Makna Niat النية) معنى )
Secara bahasa :
1) Al-Qashdu (القصد) bermakna tujuan dan kesengajaan untuk beramal,
Sebagian ulama mengatakan : " Karena niat adalah kesengajaan dalam berbuat, maka niat letaknya di hati dan tidak perlu dilafazhkan”
2) Al-Iradah ( الإراد ة ) bermakna keinginan
Lafazh ini banyak penggunaannya dalam Al Quran,perhatikan beberapa ayat berikut ini:
﴿ وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ﴾
Artinya: Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Diantaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.(QS.Ali Imron:152)
﴿وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
Artinya:"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki wajah-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim"(QS.Al An'aam:52).
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ(15)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?(QS.Huud:15-16)

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا(18)وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا﴾)
Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik .(QS.Al Israa:18-19)
3) Al-Ibtigho ( الابتغاء )maknanya mengharapkan,sebagaimana firman Allah :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾ ﴿
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Qs Al Baqaroh:207)

Secara istilah, niat disebutkan bermakna :
1) Membedakan antara ibadah dengan adat, contohnya:seorang yang tidak makan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari ,maka ini mungkin disebabkan berpuasa atau karena tidak mendapat makanan maka yang membedakan antara keduanya adalah niat..
2) Membedakan antara 2 ibadah,contohnya:seseorang yang shalat sunnah 2 rakaat,maka ini ada beberapa kemungkinan jenis shalat yang dia kerjakan yang bisa membedakannya hanyalah niat .
Kedua makna niat ini merupakan istilah yang digunakan para fuqaha (ahli fiqh)
3) Membedakan antara ikhlas untuk Allah  atau selainnya.
(Istilah ini digunakan oleh ulama Aqidah/akhlaq dan makna ini yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan perkataan salaf)

Niat dapat merubah suatu adat menjadi ibadah dangan 3 syarat :
1) Diniatkan untuk beribadah.
2) Sebagai perantara untuk menjadi bernilai ibadah, bukan perbuatannya (dzatnya) yang
ibadah, contoh : tidur , maka tidur secara dzatnya bukanlah ibadah, tetapi ia bernilai
ibadah jika kita niatkan ketika tidur supaya bisa melaksanakan ibadah, misalnya agar mampu sholat lail dll
3) Sesuai dengan contoh dari Nabi  (sesuai dengan adab-adab beliau)

بِالنِّيَاتِ “
Perkataan ini menunjukkan keutamaan niat :
Berikut ini dalil dari sunnah dan beberapa mutiara perkataan salaf tentang keutamaan niat yang ikhlash dan bahaya beramal tanpa keikhlasan:
• Dalam shohih Muslim dari Ummu Salamah رضي الله عنها bahwa Rasulullah  bersabda:
…. يُخسَفُ بِهِ مَعَهُم وَلَكِنَّهُ يُبعَثُ يَومَ القِيَامَةِ عَلَى نِيَّتِهِ 
“ … dia dibinasakan bersama mereka, tetapi masing-masing dibangkitkan pada hari kiamat sesuai dengan niatnya )
• Salah seorang ulama salaf yaitu Abdullah bin Mubarak رحمه الله تعالى berkata :
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“ Boleh jadi suatu amalan yang kecil menjadi besar di sisi Allah karena niatnya(yang baik) dan boleh jadi amalan yang besar menjadi kecil di sisi Allah juga karena niatnya(yang tidak ikhlas)“
• Yahya bin Abi Katsir رحمه الله تعالى menasihatkan:
تَعَلَّمُوا النِّيَّةَ فَإِنَّهَا أَبلَغُ مِنَ العَمَلِ
“ Pelajarilah niat, karena ia lebih dahulu sampai di sisi Allah daripada amalan “
• Imam Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله تعالى menuturkan:
مَا عَالَجتُ شَيئًا أَشَدَّ عَليَّ مِن نِيَّتِي لأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَليَّ
“ Tidak ada sesuatu yang paling berat untuk saya obati, kecuali masalah niatku, sebab ia senantiasa
berbolak-balik dalam diriku “
• Muthorrif bin Abdullah رحمه الله تعالى mengatakan:
صَلاَحُ القَلبِ بِصَلاَحِ العَمَلِ، وَ صَلاَحُ العَمَلِ بِصَلاَحِ النِّيَّةِ
“ Baiknya hati tergantung dengan baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung dengan baiknya niat “

وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى 
“ Dan setiap orang mendapatkan tergantung yang diniatkan..”
Maknanya :
Seorang tidaklah mendapatkan kecuali apa yang ia niatkan ,jadi tiap orang akan meraih yang sesuai dengan amalan dan niatnya.
Kaidah ini berlaku untuk semua amalan ibadah tanpa kecuali, namun Nabi  membuat satu permisalan (hijrah) yaitu untuk lebih memahami.

، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“..Maka barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia, atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia tujukan..”

Makna Hijrah :(تعريف الهجرة)
• Menurut bahasa: الانتقال (berpindah) dan الترك (meninggalkan)
Menurut istilah :
1) Berhijrah dari negeri kafir ke negeri iman ,contohnya hijrah para shahabat dari Mekkah ke Medinah
2) Berhijrah dari tempat yang diliputi ketakutan (untuk menjalankan syariat) ke tempat yang aman untuk melaksanakan syariat, contohnya hijrah para shahabat dari Makkah ke Habasyah
3) Berhijrah ma’nawi (hukumnya wajib) yaitu hijrah amal , Rasulullah  bersabda:
المُهَاجِرُ مَن هَاجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنهُ (متفق عليه)
Artinya Orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah (meninggalkan) apa-apa yang Allah larang atasnya (HR.Bukhori dan Muslim)
.
• Hukum hijrah adalah wajib jika mampu dan ini berlaku sampai hari kiamat,
Rasulullah  bersabda:
 لا تَنقَطِعُ الهِجرَةُ حتى تنقطعَ التوبَةُ ولا تنقطعُ التوبةُ حتى تَطلُعَ الشَمسُ مِن مَغرِبِهَا 
“ Tidaklah terputus hijrah hingga terputusnya taubat dan tidaklah terputusnya taubat hingga matahari terbit dari barat (kiamat) “
dalam riwayat yang lain:
 لا تَنقَطِعُ الهِجرَةُ مَادَامَ العَدُوُّ يُقَاتِلُ 
“ Tidak terputus hijrah selama musuh masih memerangi (kaum muslimin,.)
• Ancaman bagi orang yang enggan hijrah :
- di dunia: dia tidak mendapatkan hak loyalitas sebagai seorang muslim
﴿ إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS.Al Anfaal:72)
- di akhirat : dia diancam dengan adzab jahannam,sebagaimana firman Allah 
﴿إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,(QS.An Nisaa:97)
• Pahala bagi orang berhijrah dengan niat karena Allah adalah mendapatkan kelapangan dari Allah 
﴿وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأَ رْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾
. Artinya:"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"(QS. An Nisaa:100 )

Disebutkan dalam lanjutan hadits ini
 و َمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا .....
…dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia, atau wanita yang ingin dinikahinya…"
Adanya penyebutan kata dunia dan wanita secara bersamaan menjadi masalah, karena sebagaimana diketahui wanita juga termasuk dalam dunia. Maka ulama menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan:
- dunia dalam hadits ini maknanya harta
- dunia maknanya secara umum, namun disebutkan wanita secara khusus ('athfu alkhash 'ala al'aam) karena wanita merupakan salah satu fitnah dunia yang terbesar
.
Makna Dunia ( معنى الدنيا )
secara bahasa adalah dari kata: Ad-dunu (الدُّ نُو ) yaitu sesuatu yang dekat , dikatakan demikian sebab dunia hanya sebentar jika dibandingkan akhirat
Berikut beberapa dalil tentang hakikat dunia dalam beberapa hadits:
• عن أَبي هُرَيْرَةَ  يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ : أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ (رواه الترمذى و ابن ماجه)
Dari Abu Hurairah  berkata: Saya telah mendengar Rasulullah  bersabda:"Ketahuilah sesungguhnya dunia itu dilaknat;dilaknat apa-apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah,apa-apa yang mengantarkan kepadanya,orang yang alim dan penuntut ilmu"(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
• عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ (رواه الترمذي و ابن ماجه (
• Dari Sahl bin Sa'ad  berkata: Rasulullah  bersabda:"Seandainya dunia ini senilai-di sisi Allah -dengan sehelai sayap nyamuk maka Allah tidak memberi minum kepada orang kafir walau hanya seteguk air" (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)
• عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Abu Hurairah  berkata : Rasulullah  bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang mu'min dan surga bagi orang kafir" (HR.Muslim)
Dari tiga hadits di atas sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang bagi orang mu'min dan dunia itu hina dan terlaknat di sisi Allah  sehingga sangat mengherankan jika ada seseorang yang begitu cintanya kepada dunia dan merasa nikmat dengan kehidupan yang menipu ini, Allah  telah mengancam mereka dengan firman-Nya :
﴿إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَاتِنَا غَافِلُونَ(7)أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus : 7-8)
Namun hakekat kebahagiaan di dunia adalah dekatnya seorang hamba kepada Rabbnya dan itulah makna Hayatan Thoyyibah yang difirmankan Allah  dalam kitabNya
﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik(hayah thoyyibah) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS.An Nahl:97)
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menyimpulkan makna hayah thoyyibah sebagai kelezatan dalam beribadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
إِنَّ فِي الدُّ نْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْها لاَ يَدْ خُلُ جَنَّةَ الآخِرَةِ
“Di dunia ada surga, siapa yang tidak pernah memasukinya ia tidak akan memasuki surga akhirat"
• Tabi'i yang mulia Muhammad Ibnul Munkadir rahimahullah mengatakan: "Tidak ada sisa dari kelezatan dunia kecuali tiga : qiyamul lail, liqo' ikhwan (bertemu saudara fillah ) dan sholat jamaah "

أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا 
Hadits ini memberikan isyarat bahwa salah satu orientasi manusia dalam beramal termasuk di dalamnya ketika mengerjakan amalan-amalan akhirat adalah untuk mendapatkan/menikahi wanita. Dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah juga menunjukkan bahwa wanita merupakan salah satu fitnah yang terbesar, yang dapat menggelincirkan seseorang ke dalam perbuatan maksiat. Dalam surah Yusuf, Allah  berfirman:
فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ ﴾ ﴿
Artinya: Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu (kaum wanita) adalah besar." (QS.Yusuf:28)
Rasulullah  bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Usamah bin Zaid :
 مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ 
Artinya: "Tidaklah aku meninggalkan sebuah fitnah yang terbesar atas kaum lelaki dari fitnah wanita"(HR.Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ  عَنْ النَّبِيِّ  قَالَ: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ 
Dari Abu Said Al Khudri  dari Nabi  beliau bersabda: "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian khalifah(pengganti generasi sebelumnya) di dunia ini lalu Allah melihat apa yang kalian lakukan, maka hati-hatilah dengan(fitnah) dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang terjadi pada kaum Bani Israil terjadi disebabkan kaum wanita" (HR.Muslim)

فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 
“.. maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrahkan..”
• Jika kita mencermati hadits ini maka kita dapati adanya perbedaan redaksi hadits antara orang yang berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya dengan orang yang berhijrah karena dunia dan wanita, dimana pada orang pertama niatnya diulangi penyebutannya berbeda dengan orang yang kedua dimana hanya dikatakan :…kepada apa yang dia hijrahkan
Menurut ulama, ada beberapa kemungkinan tidak disebutkannya: "فهجرته إلي الدنيا أو امرأة...”, antara lain:
- hinanya niat seperti itu (niat dunia dan wanita ) sedang niat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah niat yang sangat mulia
- karena niat terhadap dunia dan wanita adalah bermacam-macam sedangkan niat kepada Allah dan RasulNya adalah niat yang satu

Beberapa Faedah (Fiqh) Hadits ini :
• Harusnya berniat dalam seluruh amalan.
• Amalan yang satu bisa berbeda-beda pahalanya tergantung niatnya masing-masing.
• Niat tempatnya di hati bukan di lisan menurut kesepakatan kaum muslimin, dalam seluruh ibadah bersuci, sholat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, dan telah keliru orang yang membolehkan mengucapkan niat ketika haji dengan berdalih ucapan seorang yang mau haji:"Labbaikallahumma hajjan", karena mereka tidak bisa membedakan antara niat dan talbiyah pertama sebagai pertanda dimulainya ibadah haji sebagaimana orang yang shalat membuka shalatnya dengan takbiratul ihram
• Amalan shalih terwujud dengan niat yang shalih, tapi niat yang baik tidak bisa menjadikan perkara mungkar menjadi baik atau perkara bid'ah menjadi sunnah, Ibnu Mas’ud , berkata:
(كَم مِن مُرِيدِ للخَيرِ لنَ يُصِيْبَهُ)
Artinya: Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mencapainya
• Ikhlas kepada Allah adalah syarat diterimanya amal, karena Allah  tidak menerima amalan kecuali yang paling murni dan benar, yang paling murni adalah yang ditujukan hanya kepada Allah dan yang paling benar adalah yang sesuai dengan sunnah yang shahih. Sebagaimana perkataan Fudhail bin Iyadh رحمه الله تعالى terhadap firman Allah  dalam surah Al Mulk:2
﴿ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ﴾
Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun"
Beliau berkata:
أَحسَنُ عَمَلاً : أَخلَصُهُ وَ أَصوَبُهُ ، إِنَّ العَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَ لَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَم يُقْبَلْ ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَ لَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقبَلْ ، حَتىَّ يَكُونَ خَالِصًا وَ صَوَابًا ، وَ الخَالِصُ إِذَا كَانَ ِللهِ و الصَّوَابُ إِذَاكَانَ عَلَى السُّنَّةِ
"Paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar, sesungguhnya amalan yang ikhlas tapi tidak benar, maka tidak akan diterima, dan amalan yang benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima sampai amalan tersebut menjadi ikhlas dan benar. Dan Ikhlas adalah yang ditujukan hanya kepada Allah , dan benar adalah yang sesuai dengan sunnah Rosulullah  “

Beberapa Keadaan Amalan yang Berkaitan dengan Niat:
Adapun beberapa amalan yang berkaitan dengan niat ada beberapa tingkatan :
1. Riya’ murni ( amalannya ditolak dan pelakunya diadzab)
Contoh :
a) Orang munafik ,sebagaimana yang Allah  firmankan dalam beberapa ayat-Nya
﴿ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾
Artinya:Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali(QS.An Nisaa:142)
﴿ وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ﴾
Artinya:Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.(QS.At Taubah:54)
Karena itu orang yang beribadah seperti itu tetap diancam dengan neraka. Allah  berfirman:
﴿ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ(5)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴾
Artinya:Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.(QS.Al Ma'uun:4-6)
b) Orang-orang kafir
﴿ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ﴾
Artinya: Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.( QS. Al Anfaal(8) :47)


2. Ikhlas bercampur riya ; maka amalannya ditolak
Dari Abu Hurairah  dari Nabi  bersabda:
قال الله تبارك وتعالى :﴿ أَنَا أغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْ كِ , مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِىَ غَيْرِى فِيْهِ تَرَكْتُهُ
وَشِرْكَهُ ﴾ . (رواه مسلم)
Allah telah berfirman : " Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal dengan cara mempersekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya “ (HR.Muslim)
Namun jika ada seseorang yang beribadah ikhlas karena Allah tapi juga mengharapkan hal-hal yang mubah seperti: berjihad mengharapkan ghanimah, atau haji tapi juga berdagang maka ulama mengatakan : Bahwa pahalanya dikurangi (tidak sempurna), sebagaimana hadits dari Abdullah bin Amr :
مَا مِنْ غَازِيَةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُصِيبُونَ الْغَنِيمَةَ إِلَّا تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجْرِهِمْ مِنْ الْآخِرَةِ وَيَبْقَى لَهُمْ الثُّلُثُ وَإِنْ لَمْ يُصِيبُوا غَنِيمَةً تَمَّ لَهُمْ أَجْرُهُمْ
” Tidaklah sebuah pasukan yang berperang fii sabilillah lalu mendapatkan ghanimah melainkan dipercepat di dunia 2/3 dari pahala akhiratnya maka ia tunggal mendapatkan ganjaran 1/3 di akhirat. Tetapi jika tidak mengharapkan ghonimah maka sempurna pahalanya (HR Muslim)
3. Ikhlas dari awalnya , namun dipertengahannya dimasuki riya’ maka dalam hal ini ada 2 perincian :
a. jika ia berusaha untuk menolaknya dan berhasil menghilangkannya, maka Insya Allah diterima
b. jika tidak berusaha untuk menolaknya dan merasa senang sampai akhir ibadahnya; maka ibadahnya ditolak
 untuk ibadah-ibadah yang satu paket (sholat,shaum dll) maka harus ikhlas dari awal sampai akhir
 untuk ibadah-ibadah yang terputus-putus (membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu dll) maka hanya dibutuhkan pembaharuan niat

4. Jika ada seseorang yang ikhlas/ murni niatnya sejak awal hingga akhir lalu mendapatkan penghormatan/penghargaan dari manusia tanpa ia harapkan ;maka penghargaan ini tidaklah mengurangi pahalanya, bahkan hal itu adalah kabar gembira dari Allah yang dipercepat sebelum mendapatkan pahala yang lebih mulia di hari kiamat kelak, sebagaimana hadits Rasulullah  dari Abu Dzar  :
عن أبي ذر عن النبي : أنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَعمَلُ العَمَلَ ِللهِ مِنَ الخَيرِ يَحمَدُهُ النَاسُ عَلَيهِ ؟ فقال : تِلكَ عَاجِلٌ بُشرَى المُؤمِنَ (رواه مسلم)
Dari Abu Dzar  dari Nabi  : sesungguhnya beliau  ditanya tentang seorang laki-laki yang beramal kebaikan karena Allah kemudian manusia memujinya , kamudian beliau  menjawab : Itu adalah khabar gembira yang dipercepat bagi orang mu’min (H.R. Muslim)

Beberapa contoh permasalahan tentang niat :
1. Si A bersedekah kepada si B yang menurutnya berhak mendapatkan sedekah, padahal ternyata Si B adalah orang yang tidak berhak untuk memperoleh sedekah, maka Si A tetap mendapatkan pahala apa yang ia niatkan.
2. Seseorang yang berniat berhubungan dengan istrinya tetapi ternyata ia bukan istrinya maka ia tidak berdosa
3. Orang yang berniat untuk melakukan maksiat, tetapi tidak jadi dilakukan, maka hal ini terbagi
dalam beberapa kategori :
 Jika ia telah berazam lalu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut karena Allah ;maka tidak berdosa bahkan ia diganjar dengan pahala
 Jika telah berazam lalu ditinggalkan karena takut manusia ; maka ia berdosa.
Kedua kategori dengan syarat ia sudah berazam (tekad kuat) bukan sekedar bisikan-bisikan jiwa

KESIMPULAN
Seorang muslim hendaknya senantiasa memperhatikan hati dan niatnya dalam beramal, karena amalan apapun yang dia lakukan walaupun itu mulia kedudukannya namun jika dia tidak ikhlas maka dia tidak akan mendaptkan apa-apa di akhirat kelak kecuali adzab Allah . Cukuplah hadits ini merupakan pelajaran dan peringatan yang besar bagi kita semua:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ: إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ 
Dari Abu Hurairah  berkata: Saya telah mendengar Rasulullah  bersabda:"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan di hari kiamat adalah seorang yang mati syahid (di medan jihad) ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat-nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Saya telah berperang di jalan-Mu hingga mati syahid" Allah  berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka. Dan orang (kedua) yang menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat- nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Saya telah menuntut ilmu,mengajarkannya dan membaca Al Quran karena-Mu" Allah  berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu menuntut ilmu agar digelari sebagai seorang Alim dan kamu membaca Al Quran agar digelari sebagai seorang qari' dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka. Dan orang (ketiga) seorang yang telah Allah lapangkan baginya dan menganugrahkan kepadanya seluruh perbendaharaan harta ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat-nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Tidaklah saya meninggalkan sebuah jalan untuk berinfak yang Kamu cintai kecuali saya berinfak karena-Mu " Allah  berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu melakukan itu untuk dikatakan sebagai dermawan dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka.(HR.Muslim)
Shahabat yang mulia Muawiyah  ketika mendengarkan hadits di atas beliau menangis hingga pingsan dan ketika siuman beliau mengatakan : "Shadaqallohu wa Rasuluhu (Telah benar firman Allah dan sabda Rasulullah ); Allah  berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ(15)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Huud : 15-16)
Camkan dan ingat pula dua hadits berikut :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ  لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا (رواه أبو داود و ابن ماجه و أحمد)
Dari Abu Hurairah  berkata: Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah namun dia tidak menuntutnya melainkan mendapatkan sesuatu dari benda duniawi maka dia tidak mencium bau surga di hari Kiamat" (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)
عن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ : مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ (رواه الترمذي)
Dari Ka'ab bin Malik  berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda : "Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menandingi para ulama dan untuk mendebat orang-orang bodoh serta memalingkan pandangan manusia kepadanya, Allah akan memasukkannya ke neraka" (HR.Tirmidzi)
Dan hendaknya senantiasa kita menjadikan akhirat sebagai sasaran dan tujuan dalam setiap amalan kita, renungkanlah hadits berikut ini:
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ 
Artinya: "Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan menjadikan urusannya kacau dan kefakiran senantiasa berada di kedua matanya serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niat/tujuannya maka Allah akan mengumpulkan baginya urusannya dan Allah menjadikan kekayaan pada hatinya serta dunia akan datang kepadanya dengan tunduk dan menyerahkan diri" (HR. IBNU MAJAH)


- و الله الموفق -



TAKHRIJ HADITS
Hadits ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dikeluarkan oleh 2 Imam Ahli Hadits yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim dan cukuplah keduanya sebagai petunjuk dan dalil akan keshohihan hadits ini. Perkataan Imam Nawawi bahwa kedua kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab hadits yang paling shohih, hal ini telah disepakati oleh ulama kita sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Ash-Sholah. Adapun perkataan Imam Syafi'i bahwa : "Saya tidak mengetahui kitab ilmu yang paling benar di dunia ini melebihi Kitab Al-Muwaththo", itu beliau ucapkan sebelum ditulisnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dan hadits ini ditakhrij oleh banyak Imam hadits kecuali Imam Malik. Dan Ibnu Hajar mengatakan : "Telah keliru orang yang menyangka hadits ini ditakhrij pula oleh Imam Malik ".
Diantara Imam yang mengeluarkan hadits ini :
1. Imam Bukhari di 7 tempat dalam Kitab Shahihnya yaitu:
- Kitab Bad'il Wahyi,Bab I hadits no.1
- Kitab Al-Iman,Bab 41 hadits no.54
- Kitab Al-'Itq,Bab 6 hadits no.2529
- Kitab Manaqib Al-Anshar,Bab 45 hadits no. 3898
- Kitab An-Nikah,Bab 5 hadits no. 5070
- Kitab Al Aiman wa An-Nudzur,Bab 23 hadits no.6689
- Kitab Al Hiyal,Bab I hadits no.6953
2. Imam Muslim di Shahihnya,Kitab Al-Jihad Bab 18 hadits no.4904
3. Imam Abu Dawud di As-Sunan, Kitab Ath-Tholaq Bab 11 hadits no.2201
4. Imam An-Nasa'i di 3 tempat pada kitab Sunan beliau yaitu :
- Kitab Ath-Thoharah,Bab 60 hadits no.75
- Kitab Ath-Tholaq.Bab 24 hadits no. 3437
- Kitab Al-Aiman wa An-Nudzur ,Bab 19 hadits no.3803
5. Imam At-Tirmidzi di As-Sunan,Kitab Fadhoil Jihad Bab 16 hadits no.1647
6. Imam Ibnu Majah di As-Sunan,Kitab Az-Zuhud Bab 26 hadits no. 4227
7. Imam Ahmad di Musnad (1:25,43)
8. Imam Ad-Daruquthni dalam As-Sunan , Kitab Ath-Thoharah, bab An-Niyyah
(1:33:128)
9. Imam Al-Humaidi dalam musnadnya (1:28)
10. Imam Abu Dawud Ath-Thoyalisi dalam musnadnya (hal.9)
11. Imam Ath-Thahawi dalam Syarh Ma'any Al-Atsaar (3:96:4650)
12. Al Imam Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa, Kitab Ath-Thoharah Bab 24 hadits no.64
13. Al-Imam Ibnu Hibban dalam Shohihnya ,lihat Al-Ihsan (1/304)
14. Al Hafizh Al Iraqi dalam Taqribul Masanid,lihat Tharhu At-Tatsrib (2:2 )
15. Al-Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al bro(1/41:298/2:14//4:112,235/5:39/6:331/7:341)

Read More......

Film "?": apa maunya?

Senin, 11 April 2011

Oleh: Dr. Adian Husaini

“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”

(Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar)

PERLU digarisbawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film “?”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."

Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.

Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.

Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia. Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia.

Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion).
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!

***

Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya tetap Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar mengaji al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur.

Di Film “?” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya.

Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film “?” garapan Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. Saat duduk di bangku SMP, saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan Kitab Safinatun Najah.

Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.

Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.

”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:217).

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS 24:39).

Jadi, riddah/kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah dimata kaum Pluralis! Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan dibangga-banggakan! Dalam perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan kekafirannya?

***

Masih menyorot sosok Rika dalam film “?”. Rika pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika bisa dikatakan telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Padahal, dalam al-Quran Nabi Isa a.s. jelas-jelas menegaskan dirinya sebagai Rasul Allah. Nabi Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau anak Tuhan. Ini pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen.

Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat makhluk adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan derajat makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik namanya. Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa. Jika lewat, dia minta diistimewakan. Kita diminta minggir. Binatang juga dibeda-bedakan tempat atau kandangnya. Adab -- dalam konsepsi Islam -- mewajibkan seorang Muslim meletakkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa a.s. adalah utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel, siapa Tuhan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa a.s. melanjutkan syariat Nabi Musa a.s.

Menuduh Allah mempunyai anak – menurut al-Quran – adalah sebuah kesalahan yang sangat serius. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19: 88-91).

Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas kapan saja si empunya suka. Iman juga tidak patut diperjualbelikan: ditukar dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara mukmin dan kafir. “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.” (QS 98:6).

Demi mempertahankan iman, Nabi Ibrahim a.s. rela berpisah dengan ayah dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala pada keluarga dan kaumnya, Ibrahim a.s. tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, dan punya tujuan yang sama. Tapi, Nabi Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid, mengajak kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74).

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 14:35-36)

“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk Nabi Muhammad saw dan sekaligus dirangkaikan dengan doa untuk Nabi Ibrahim a.s. Itu tentu karena kegigihan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran Tauhid dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik!

Maka, sebagai Muslim, saya tentu boleh merasa heran, dan penuh Tanda Tanya, mengapa dalam film “?” -- yang diproduksi dan digarap seorang yang beragama Islam -- soal ganti agama, soal keluar dari Islam, soal pergantian mukmin menjadi kafir, dianggap perkara kecil dan remeh?

***

Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Jean Paul Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern ini. Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menyatakan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer, dalam “The Gospel of Christian Atheism” (1966) menyatakan: “Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…” (Karen Armstrong, History of God)

Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, mengungkap gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang lebih berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.” Nietzsche ingin bebas dari segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada 25 Agustus 1900, ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit kelamin. (Lihat, B.E. Matindas, Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, 2010).

Jika direnungkan secara serius, Pluralisme Agama sejatinya bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide dalam dirinya, bahwa “semua agama salah”. Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak. Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun boleh suka-suka. Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti dengan Tuhan lain. Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera manusia. Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai petunjuk seorang Nabi.

Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan dalam agama Kristen menghalalkan babi.

Tuhan, dalam agama Bhairawa Tantra, memerintahkan agar menyembelih wanita dan darahnya kemudian diminum bersama-sama. Tuhan dalam agama Children of God menganjurkan seks bebas, sebagai wujud rasa kasih sayang antar-sesama manusia. Kini, di daratan Amerika dan Eropa bermunculan gereja-gereja nudis. Baik pendeta maupun jemaatnya, semuanya telanjang bulat saat melakukan kebaktian. Jika semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang disembah kaum Pluralis?

Jadi, saat seorang yang mengaku Pluralis berkata, “Semua agama menyembah Tuhan yang sama”, maka secara hakiki, dia telah berdiri di luar Islam. Sebab, dia tidak lagi menuhankan Allah. “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja, dan berwujud apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa juga Iblis! Yang penting dikatakan “Tuhan”, yang penting God! Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan “Allah”, tetapi kaum Quraisy ketika itu dikatakan sebagai “musyrik”, sebab mereka menyekutukan Allah dengan Tuhan-tuhan lain. Allah hanyalah salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan Tuhan satu-satunya. Sebutan bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya berbeda-beda. Sebagian besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan mereka dengan sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam Islam.

Lain lagi dengan aliran “Darmogandul” di Tanah Jawa, yang mengartikan Allah dengan “ala” (bahasa Jawa, artinya jelek). Dalam salah satu bait Pangkur-nya, Kitab Darmogandul, menyatakan: “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum Pluralis? Jika Tuhan apa pun sama saja, lalu apa artinya Tuhan bagi mereka? Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan tidak penting! Sebab, dalam pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah), atau manusia, atau setan dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan dituhankan. Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan sosok Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa infantilisme (penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).

Ketidakjelasan posisi teologis kaum Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang, dalam bukunya, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.

Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an) kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’

***

Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam Film “?” adalah seorang bernama Surya. Ia seorang laki-laki Muslim, berprofesi sebagai aktor figuran. Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang “bakhil” itu ditampilkan dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika agar membaca buku-buku Islam!

Surya memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Mereka berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif. Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”, Surya menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela beradegan – seolah-olah -- dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus. Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan Surya sebagai tokoh Yesus.

Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya ditampilkan sebagai representasi fenomena toleransi dan “kerukunan”. Setelah merelakan dirinya berperan sebagai Yesus, Surya kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak! Ini gambaran dalam Film “?” karya Hanung ini.

Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalam Nicene Creed:

“Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).

Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah kezaliman besar.” (QS 31:13).

Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam membuktikan sebagai agama yang sangat toleran. Sejak awal, Islam mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan keyakinan.

Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, di wilayah Timur Tengah, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum musyrik Arab. Nabi Muhammad s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam, mengakui Allah satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah. Nabi tidak menyatakan, “Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan!” Bahkan, ada perintah al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): “Katakan, hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah! Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah!”

Dalam Tafsirnya, Al-Azhar, Prof. Hamka menjelaskan, asbabun nuzul surat al-Kafirun ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka mengajukan usulan: “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah….”

Buya Hamka mencatat: “Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”

Lebih jauh Buya Hamka menjelaskan: “Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang haq hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang.”

Itulah paparan Buya Hamka, ulama terkenal dan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia. Kita bisa menyimpulkan, jika ada yang menyatakan, bahwa “semua agama adalah jalan kebenaran”, saat itu dikepalanya telah hilang konsep iman dan kufur, konsep tauhid dan syirik. Baginya, tiada penting lagi, apakah seorang bertauhid atau musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam, minum khamr atau jus kurma; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang; tiada beda antara nikah atau zina; yang penting – katanya – adalah mengasihi sesama manusia. Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada; sudah diganti dengan SATU AGAMA: “agama global”, “agama universal”, “agama kemanusiaan”, atau “agama cinta”.

Persaudaraan global antar-sesama tanpa memandang agama menjadi misi terpenting dari kelompok lintas-agama semacam Theosofi dan Freemason. Ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D. Van Hinloopen Labberton pada majalah Teosofi bulan Desember 1912 menulis: "Kemajuan manusia itu dengan atau tidak dengan agama? Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut agama itu sifatnya: cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tetapi perkara dalam hati, batin.

Inikah yang dituju oleh Film “?” Jangan menuduh! Silakan dicermati dan direnungkan!


***

Masih ada sosok lain yang diidolakan dalam film “?”. Namanya, Menuk. Dia seorang muslimah, berjilbab pula. Menuk bekerja di sebuah retoran China. Bermacam makanan dijual di sana, termasuk babi. Dengan mencolok kepala babi ditampilkan. Kata si empunya restoran, bahan babi dan bahan lain dipisahkan.

Menuk diterima bekerja dengan baik di restoran ini. Ia diberi kebebasan ibadah. Dalam salah satu segmen, ditayangkan Menuk sedang shalat, disampingnya Nyonya pemilik restoran juga sedang bersembahyang sesuai dengan agamanya.

Pesan dari pemunculan sosok Menuk ini cukup jelas: inilah contoh toleransi! Muslimah berjilbab rela bekerja di sebuah restoran yang menjual babi.

Syukurlah, di akhir cerita, anak pemilik restoran bersedia memeluk Islam. Ini tentu baik, dalam perspektif Islam. Tetapi, apakah perlu harus melalui proses bekerja di sebuah restoran yang menjual babi?

Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala cara. Tujuan memberi nafkah keluarga adalah baik. Tetapi, cara yang ditempuh pun harus baik. Banyak muslimah yang gigih membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja keras dalam berbagai bidang profesi, dan juga toleran dengan yang lain. Tapi, apakah Menuk sosok Muslimah yang ideal untuk ditampilkan?

Walhasil, Film “?” karya Hanung Bramantyo ini membawa pesan besar yang terlalu jelas: agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. Juga, agama-agama dianggap barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar dan -- kalau perlu -- dibuang kapan saja! Katanya, demi kerukunan, demi toleransi, dan demi perdamaian.

Akhirul kalam, di era globalisasi dan kebebasan informasi, saat kemusyrikan dan kemurtadan ditampilkan dalam wujud yang menawan dan menghibur, ada baiknya kita merenungkan satu ayat al-Quran: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan setan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu." (QS 6:112)

Juga, Nabi Muhammad saw pernah bersabda: “Bersegaralah mengerjakan amal shalih, (sebab) akan datang banyak fitnah laksana malam yang gelap gulita. Pada pagi hari, seseorang berada dalam keadaan mukmin, tetapi sore harinya menjadi kafir. (Atau) sore harinya dia mukmin, pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bil-shawab.*/Depok, 10 April 2011

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Read More......

Manipulasi Jalaluddin Rakhmat

Ketidakjujuran JR dengan memanipulasi dalil untuk menguatkan pendapatnya serta mengada-ada, seperti;
- JR telah menulis buku “Al-Mushthafa”, makalah “Adalah Sahabat” dan bulletin “At-Tanwir” ternyata didalamnya terdapat kebohongan, ketidakjujuran bahkan menunjukkan kebodohan JR sendiri, contoh:
1. Dalam buku Al Mushthafa hal, 92, JR menyebutkan riwayat Aisyah ra bahwa ketika Rasulullah Saw wafat , Abu bakar ra berada di Sunh, suatu tempat kira-kira beberapa puluh kilometer diluar kota madinah. Ternyata jaraknya hanya 1 (satu) mil dari masjid Nabawi. ini dusta dan penipuan JR

2. Al Mushtafa, hal. 92, JR menulis; kontradiksi perilaku Rasulullah saw dalam salatnya. Dalam hadis Bukhari no 713 tersebut: Rasulullah jalasa ‘an yasaari Abi Bakr, duduk disebelah kiri Abu Bakar. Dalam hadis no. 683 fa jalasa Rasulullahi hidzaa-a Abi Bakr, Rasulullah saw duduk dihadapan Abu Bakar ra. Dalam hadis no. 664 Rasulullah saw duduk disebelah kanan Abu Bakar ra. Masih dalam shahih Bukhari dan hanya diantarai oleh beberapa halaman saja. Ini kontradiksi, satu hidza’a (dihadapan) satu ‘an yasaari (disebelah kiri) dan riwayat satu lagi ‘an yamiini (disebelah kanan), Pada hal. 93, JR mengatakan: jadi kalau kita menemukan hadis-hadis yang seperti itu, maka dengan terpaksa kita meragukan kebenaran peristiwa itu terjadi; dalam peribahasa Belanda dikatakan bahwa kebohongan tidak punya kaki, ia goyah. Berbohong itu sukar dan kebohongan biasanya hanya bisa dipertahankan melalui kebohongan. Karena itu dalam berita bohong dengan mudah kita temukan inkonsistensi. Dalam ilmu hadis, inkonsistensi riwayat-riwayat seperti itu disebut sebagai idhthirab. Hadisnya disebut mudhtharib dan hadis mudhtharib termasuk hadis dhaif. Sebetulnya apa yang kita lakukan ini tidakmengada-ada karena para ulamapun sudah melakukannya sejak lama. Demikian paparan JR,
Sepintas lalu data ini sangat meyakinkan apalagi ditopang dengan ilmu mushthalah hadis yang akurat. Ternyata ini juga kedustaan, penipuan serta keberanian mengada-ada. Ternyata JR mengartikan hidza’a Abi Bakr, duduk di hadapan Abu Bakar, dengan sengaja membuang kata “ilaa janbih” karena hadis itu berbunyi: hidzaa’a Abi Bakr ilaa janbih (Nabi saw duduk sejajar Abu Bakar ra di sampingnya). Dan yang paling fatal, keberanian mengada-ada dengan kata: ‘an yamiini (disebelah kanan) katanya pada hadis no. 664. Padahal yang tertulis dihadis no. 664, ialah hatta jalasa ilaa janbih (sehingga ia duduk disampingnya), sama sekali tidak terdapat kata ’an yamiyni. Naudzubillah
3. Dalam buku Al Mushthafa, hal. 166, JR menulis; jadi asumsi kita selama ini bahwa Usman memiliki keistimewaan dua cahaya karena dia memiliki dua orang istri yang keduanya putri Rasulullah, terpaksa harus kita mansukh (hapus). Dua orang itu ternyata dua putri asuh (rabiybah Rasulullah). Juga JR menulis pada hal 164, memang ada Ruqayyah yang menikah dengan Usman. Juga ada Ummu Kaltsum yang menikah dengan Usman. Tapi semuanya lahir sebelum bi’tsah. Padahal, ahli tarikh sepakat bahwa putri-putri Rasulullah lahir setelah bi’tsah. Juga JR menulis alasannya dengan mengutip kitab riwayat dari kutub al Ansab, hal 157 dan 158, oleh Mash’ab Al-Zubairi (terlampir) kesimpulan dari riwayat tersebut Ruqayyah dan Zainab yang menikah dengan Usman bin Affan ra bukan putri-putri Rasulullah (hal. 165)
Astaghfirullah, JR begitu berani membantah sesuatu yang sudah disepakati kaum muslimin (ijma’ para ulama dari dahulu sampai sekarang. Yang menjadi pertanyaan: 1. Ahli tarikh siapa yang sepakat bahwa putri-putri Rasulullah lahir setelah bi’tsah. 2. Kenapa JR tidak mengutip dari dari Az-Zahabi (1274-1348) yang mengakui Usman ra sebagai suami dari dua putri Nabi saw (terlampir). Atau Ibnu Saad yang menulis dalam bukunya; Thabaqaat Al Kubraa, Jilid 3 hal 56 ; Nabi saw menikahkan Usman dengan putrinya Ruqayyah. Lalu Rukayyah meninggal dunia, maka Nabi saw menikahkannya dengan putri beliau yang kedua yaitu Ummul Kaltsum, lalu iapun meninggal dunia, maka Usman disebut dzun nurain (mempunyai dua cahaya). Karena belum ada seseorang yang menikahi 2 putri Nabi sebelumnya dan sesudahnya kecuali Usman ra. Bersabda Rasulullah saw setelah Ummu Kaltsum pun wafat; Andaikata aku mempunyai putri yang ketiga, niscaya aku nikahkan dia dengan Usman atau dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabar: sesungguhnya Usman orang yang paling serupa denganku, akhlaknya, bentuk dan penampilannya. Dialah dzun nurain, aku menikahkannya degann dua putriku. Dia di surga bersamaku seperti ini, dan Nabi saw menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya. Inilah hadis dan riwayat ahli sejarah yang terkenal dan dipercaya, maka nampaklah ketidakjujuran JR
4. Dalam kitab Al Mushthafa hal 138 JR menuls: Sufyan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizaan I’tidal sebagai ; “Innahu yadallis wa yaktubu minal kadzdzaabin, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan dari para pendusta. Ternyata disini tampak lagi kecurangan JR dan melakukan pembodohan publik, karena ternyata dalam kitab yang dikutipnya. tertulis; wa laa ibrata liqauli man qaala: innahu yadallis wa yaktubu an al-kadzdzaabiin. Artinya: dan tidak perlu diperhatikan perkataan orang yang mengatakan: (Sufyan) melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Jadi yang digelapkan dan dibuang oleh JR, kata: wa laa ibratah liqauli man qaala..” sehingga artinya berbalik 180 derajat.La haula wala quwwata illa billah. Di halaman 145 JR menulis: Az Zuhri termasuk yang sangat membenci Imam Ali. Ibnu Abi al Hadid memasukkannya dalam kelompok pencipta hadits maudhu’ (palsu). Ibnu syihab tidak terdapat dalam kitab rijal. Ternyata ini mengada-ada, karena Az Zuhri dan Ibnu Syihab orang yang sama.
5. Muawiyah ra menurut JR didalam buku “ Al Mushthafa “ adalah seorang yang curang, licik, kejam, biadab, pendengki, termasuk dengki kepada Nabi saw, fasik, kafir, telah dilaknat oleh Nabi saw.

Di hal. 9 JR menulis: Muawiyah berusaha mengubah tarikh Nabi saw dengan meyebarkan versi tarikh mereka dan membungkam versi tarikh lain. Masih di halaman yang sama JR menulis; pada waktu itu, yang paling menderita adalah penduduk Kufah karena kebanyakan dari mereka adalah pengikut imam Ali as. Lalu Muawiyah menugaskan Ziyad bin Sumayyah untuk memerintah di Kufah berikut Basrah. Ia mengenal orang-orang Syiah karena pada zaman Ali ia pernah bergabung sama mereka. Ia mengejar Syiah dan membunuh mereka disetiap lembah dan bukit, meneror mereka, memotong tangan dan kaki, mencungkil mata, menyalibnya pada batang pohon kurma dan mengusir mereka sehingga tidak tersisa salah seorangpun dari mereka.
Pada hal. 11 JR menulis; kemudian Muawiyah menerbitkan lagi surat perintah keseluruh negeri, selidikilah orang-orang yang terbukti mencitai Ali dan Ahlul Baitnya. Hapuskan nama mereka dari daftar. Putuskan tunjangan mereka. Bersama surat perintah ini Muawiyah melengkapinya dengan naskah yang lain. Siapa yang kalian curigai mencintai kaum tersebut, hukumlah dia dan hancurkan rumahnya.
Pada halaman. 13 JR, Muawiyah berusaha mendiskreditkan Rasulullah saw dan keluarganya karena ada kaitannya dengan Bani Hasyim. Dia menyewa beberapa ulama atau mufti dari para sahabat Nabi untuk memutar balikkan peristiwa tentang Rasulullah.

Pada hal 16 JR menulis; Muawiyah berkata: ….lalu tengoklah saudara Hasyim. Namanya disebut lima kali sehari-Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Lalu tindakan apa lagi yang masih kita lakukan? Tidak demi Allah sampai mati sekalipun. Pada hari yang lain Muawiyah mendengar azan. Ia berkata; demi Allah, wahai putra Abdullah, engkau betul-betul ambisius. Hatimu belum puas sebelum namamu didampingkan bersama nama Tuhan Alam Semesta (maksudnya Muawiyah tidak senang dan geram mendengar nama Nabi saw selalu disebut-sebut dikala adzan dikumandangkan) (penj.). Muawiyah ingin menghapuskan semua hal yang berhubungan dengan Nabi saw. Ia gagal. Tapi ia berhasil mendiskreditkan Nabi saw dengan kisah kisah yang diciptakan oleh pengikutnya
Pada hal 24, JR sengaja mengutip perkataan Ibn Abi al Hadid: “ Banyak diantara sahabat kami mengecam agama Muawiyah. Mereka tidak hanya menganggapnya fasik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia kafir karena tidak meyakini kenabian
Pada hal 73-74, JR menulis; lalu siapakah yang pernah dilaknat oleh Rasulullah saw? Tidak mungkin disini kita menyebut semua orang yang dilaknat Nabi saw. Sebagai contoh Rasulullah saw pernah melaknat Abu Sufyan, Muawiyah dan Amr bin Ash. Setelah Nabi saw meninggal dunia mereka menjadi penguasa. Ketika menyebar hadis yang melaknat mereka, mereka keluarkan hadis bahwa yang dilaknat Nabi saw itu akan memperoleh ampunan, rahmat dan pensucian Allah. Dalam shahih Muslim diriwayatkan kutukan Rasulullah kepada Muawiyah, “Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”. Konon ia mati karena kebanyakan makan. Bandingkan keterangan JR ini dengan tulisan Muhibbuddin al Khatib dalam bukunya; Maa al Ra’iyl al Awwal, hal. 176-179 dan hal 212 (terlampir) dimana disebutkan kelebihan dan pujian terhadap Muawiyah ra dengan tetap meyadari bahwa ia adalah manusia biasa yang ada kesalahan dan kekeliruannya. Didalam tulisan tadi disebutkan tentang Muawiyah ra :
a. Muawiyah ra dan tentaranya yang telah meyerang dan merebut Ciprus pada tahun 27 H yang dimasa pemerintahan Utsman ra. telah dilihat Nabi saw dalam mimpinya sebagai umatnya yang akan berjuang dijalan Allah dengan mengarungi laut (HR. Bukhari) (hal 176)
b. Umair bin Sa’ad ra melarang membicarakan Muawiyah ra kecuali dengan baik karena beliau yang telah didoakan Nabi: Ya Allah berilah petunjuk (manusia) dengannya. (hal 177)
c. Berkata Saad bin Abi Waqqash: “ saya tidak melihat seseorang sesudah Utsman yang paling (baik) memutuskan (perkara) berdasarkan kebenaran, lebih dari pada pemilik pintu ini (Muawiyah) (hal 177)
d. Abu Darda ra berkata kepada penduduk negeri Syam; saya tidak melihat seseorang yang shalatnya menyerupai shalat Nabi lebih dari shalatnya imam kamu ini (maksudnya Muawiyah) (hal 177)
e. Berkata Abdullah bin Abbas ra: Saya tidak melihat seorang laki-laki yang paling pantas menjadi raja , lebih dari Muawiyah (hal. 178)
f. Ibn Abbas ra berkata; Dia itu faqih (dia maksudnya Muawiyah ra). ( hal 178)
g. Nabi saw mendoakannya. Ya Allah jadikanlah ia (dapat) memberi petunjuk, yang ditunjuki dan berilah petunjuk dengannya (HR. Tirmidzi) (hal. 178)
h. Nabi saw mendoakannya; Ya Allah, ajarkanlah kepadanya kitab dan hisab serta jagalah ia dari azab (HR. Thabrani), dan dalam riwayat Bisyr bin as Sirry, ditambah (doa tadi) : dan masukkanlah ia ke dalam surga. (hal. 178)
i. Berkata Abdullah bin Amr bin Ash ra; Saya tidak melihat seseorang yang paling pandai memerintah lebih dari Muawiyah ra. Berkata Jabalah bin Sahim; aku berkata: Dan tidak juga Umar ra (lebih pandai memerintah dari Muawiyah ra?). ia berkata : Umar ra lebih baik dari Muawiyah ra, tapi Muawiyah ra lebih pandai memerintah dari Umar ra (Ibnu Katsir dalam tarikhnya) (hal. 179)
j. Berkata Qatadah: Andaikata kamu berada dalam kekuasaanya (Muawiyah ra), maka kebanyakan kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Abu Bakar al Atsram dari Ibnu Baththah.) (hal. 179)
k. Berkata Mujahid : Andaikata kamu mendapati (pemerintahan) Muawiyah ra, niscaya kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Ibnu Baththah) (hal. 179)
l. Berkata al A’masyi: Bagaimana andaikata kamu mendapati Muawiyah. Mereka berkata: tentang kelembutannya?, Ia berkata: tidak, demi Allah, bahkan tentang keadilannya (HR. al Atsram.) hal 179
m. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: tidak ada di antaraa raja-raja Islam yang lebih baik dari Muawiyah ra dan tidak pernah manusia pada pemeritahan satu raja dari raja-raja islam yang lebih baik dari pada manusia pada pemerintahan Muawiyah ra (hal. 179)
n. Imam Mujahid Abdullah bin Mubarak (118-177 H) ditanya: mana yang lebih mulia, Muawiyah bin Abi Sufyan ra atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Debu yang masuk ke dalam hidung Muawiyah bersama Rasulullah SAW lebih utama dari seribu Umar bin Abdul Aziz. Muawiyah telah shalat di belakang Nabi SAW, lalu Rasulullah SAW membaca sami’allahu liman hamidah lalu Muawiyah ra berkata: Rabbana walakal hamdu, maka adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari ini? (hal. 212)
Mana yang kita pilih, apakah keterangan para Ulama’ yang terkenal dan jujur dengan ditopang oleh dalil yang kuat ataukah pendapat JR dalam bukunya “Al Musthafa” dari sumber yang tidak terkenal dan tidak ditopang dalil yang kuat?. Belum lagi kalau kita melihat ayat al Quran, surat al Fath, 29, bahwa sahabat itu ibarat bibit tanaman yang ditanam dan dirawat Nabi SAW, dengan pertumbuhan yang sangat menyenangkan beliau dan menjengkelkan orang-orang kafir ? Bukankah Muawiyah ra termasuk sahabat yang dididik langsung oleh Nabi SAW dimana beliau sangat gembira melihat hasil didikannya. Bukankah Ia dipercaya oleh Khalifah Umar ra dan Utsman ra sebagai gubernur di Syam? Kita akui bahwa ia bersalah karena berperang melawan Khalifah yang sah Ali ra, namun setelah ia menerima kekuasaan dari Hasan bin Ali ra, maka sisa hidupnya ia gunakan untuk memimpin kaum muslimin menuju kemakmuran hidup dan berjihad menyebarkan agama dan mengibarkan bendera islam di berbagai penjuru dunia. Muawiyah ra telah berhasil menghimpun kekuatan kaum muslimin sehingga dapat membangun kekuasaan Islam yang paling besar dalam sejarah Islam. Mulai dari tembok Cina di sebelah timur sampai ke perbatasan Eropa, sebelah barat.
6. Dalam buku “40 masalah Syiah” halaman 90, Emilia Renita, istri JR menulis: dengan merujuk kepada sabda Nabi SAW; “Fathimah belahan nyawaku, siapa yang menyakiti Fathimah, dia menyakitiku; siapa yang membuat murka Fathimah, ia membuat aku murka” (Shahih al Bukhari 5, hadits 3 dan 61; Shahih Muslim 4: 1904-1905) ) dan menurut Al Quran, Allah melaknat orang yang menyakiti Rasulullah saw, maka Syiah melaknat orang-orang yang menyakiti Fatimah.
Dr. Tijani dalam bukunya: Akhirnya Kutemukan Kebenaran berkata; kenapa beliau (Umar) tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah ra jika orang-orang yang didalamnya tidak mau keluar untuk membaiat (Abu Bakar ra),.ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada didalamnya, ia menjawab “sekalipun dia ada” (hal 115) dihalaman lain Dr. Tijani menulis : Fatimah ra juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian: aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah saw bersabda ; Keridhaan Fatmah adalah keridhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai putriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka ia telah membuatku rela , siapa yang membuat Fatimah marah, maka ia telah membuatku marah, “ ya kami telah mendengar dari Rasulullah saw” jawab mereka berdua. Lalu Fatimah ra berkata lagi: Sungguh, aku minta pesaksian Allah dan para malaikatNya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah saw maka pasti kusampaikan keluhanku padanya (ibid hal. 140)
Tentang Fatimah marah dan murka kepada Abu Bakar dan Umar, juga dikemukakan oleh JR dalam buku kecil yang berisi ceramah Asyuro bahwa: Fatimah telah marah kepada Abu Bakar karena Abu bakar tidak memenuhi permintaan Fatimah atas tanah Fadak yang diakui oleh Fatimah sebagai warisannya dari Nabi saw, jadi yang dimaksud oleh Emilia Renita tersebut diatas ialah Abu Bakar dan Umar itu dilaknat oleh Syiah, karena telah menjadikan Fathimah marah kepadanya.

Read More......

cendikiawan jahat

Di tengah zaman yang telah hancur seperti ini ada baiknya kita mempersiapkan diri agar tidak ikut-ikutan hancur dengan cara membentengi diri dari virus-virus yang membahayakan iman kita.

Membahas dan mendalami bidang aqidah adalah sesuatu yang amat urgen jika sesorang mengaku beragama, karena dengan landasan aqidah ini semua amalan-amalan kita berdiri di atasnya, aqidah sebagai pondasi untuk amalan-amalaan berikutnya.

Kebersihan aqidah adalah sesuatu yang asasi dalam menjalankan agama ini, tanpa aqidah yang bersih maka yang dikhawatirkan amalannya akan ikut terkontaminasi sehingga amalan itu bagaikan debu yang diterbangkan.

saking urgennya permasalahan aqidah ini sampai Nabi Muhammad saw berdakwah di Mekkah selama 13 tahun hanya untuk menanamkan aqidah pada umatnya, ini terbukti dari ayat-ayat alquran yang turun pada masa itu belum ada yang berbicara perkara-perkara hukum dan semisalnya. Dan itulah salah satu hikmah mengapa alquran itu diturunkan secara berangsur-angsur.

Munculnya pendapat-pendapat yang sesat dan menyesatkan menunjukkan bahwa masyarakat kita ini sedang sakit aqidahnya, kenapa bisa? Karena adanya cendikiawan-cendikiawan yang jahat serta munculnya ulama-ulama suu’ (buruk).

Olehnya, ada sebuah ungkapan yang begitu masyhur, jika ahli agama kalian rusak maka waspadailah agama kalian.

Dengan muncul serta bertebarannya cendikiawan semacam ini semakin menambah kebingungan serta kesesatan yang bergulir. Pasalnya pada saat ini sebuah kesesatan telah diperjuangkan dan sangat terorganisir dengan tujuan untuk menjauhkan umat dari sumber agamanya dengan cara menanamkan keragua-raguan dalam beragama.

Jika umat sudah ragu-ragu dengan agamanya sendiri maka muncullah sikap masa bodoh dan enggan untuk menjalankan apalagi untuk memperjuangkan agama ini.

Dari sisi pemikiran inilah iblis mendapatkan celah, karenanya cendikiawan seperti ini telah terjangkiti mental iblis. Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis tidaklah atheis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan.

Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut 'kafir', karena mengingkari dan menolak kebenaran.

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116); ia sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Iblis juga melawan perintah Tuhan.

Allah berfirman: “Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang
yang zalim” (QS 18:50).

Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan
kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah 'prototype' intelektual
'keblinger'.

Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya
ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).

Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17).

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis.

Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya. Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.

Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.

Kedua, cendekiawan bemental Iblis itu “bermuka dua”, menggunakan standar ganda (QS 2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha').

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (QS 7:146).

Ketiga, ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan seperti ini bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta.

Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.

Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (QS 22:3-4).

Pada zaman ini pun sudah bermunculan banyak sekali doktor serta professor dalam bidang agama yang kerjanya justru merusak agama. Buktinya sangat banyak, yaitu ketika mereka menyumbangkan kerja keras pikiran mereka untuk mendukung keburukan serta kejahatan, misal, ketika terbit sebuah jurnal dari UIN semarang dengan judul “indahnya kawin sesama jenis”, novel dari UIN jogja yang berjudul “tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur”, dan masih banyak lagi.

contoh faham iblis lain yang sempat mencuat dan heboh adalah perkataan seorang pakar bahwa alquran ini sakral dan suci karena itu adalah kalam tuhan sedangkan segala penafsiran terhadap alquran itu tidak sakral dan bisa ditolak karena itu adalah perkataan manusia yang bisa saja salah. Perkataan semacam ini sangat tidak logis.

Jika demikian halnya buat apa alquran itu diturunkan kalau tidak bisa dipahami apalagi diyakini kebenaran pesannya, dan jika memang demikian kapan kita yakin dengan pesan-pesan alquran jika kita meragukan penafsiran para ulama yang telah teruji kualitas serta kebenarannya oleh zaman.

Yang lebih parah adanya anggapan seseorang bahwa semua agama yang ada itu sama semua, hanya jalannya saja yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu surga. Pendapat ini terlalu naïf dan sangat dipaksa-paksakan, pasalnya jika demikian halnya buat apa ada banyak agama jika semuanya sama, perbedaan agama-agama di muka bumi sebagai bukti yang sangat kuat bahwa memang semua agama ini berbeda pada pokoknya. definisi tuhan yang diyakini oleh salah satu agama jelas sangat berbeda dengan definisi tuhan yang diyakini oleh agama yang lain. Demikian pula definisi tentang surga pada masing-masing agama, sebagai contohnnya bahwa cara memasuki surganya orang islam hanya lewat jalan ajaran islam. Bukan dengan jalan agama lain.

Oleh karena itu manusia diciptakan oleh Allah dengan fitrah untuk dapat memahami kebenaran serta bersepakat atasnya. Warna putih jika dilihat oleh manusia, maka tidak akan ada orang yang mengatakannya hitam, jika ada yang mengatakannya hitam, yakinlah bahwa dia itu orang gila atau buta warna!

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP