Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)
Oleh: Abu Hamzah
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk merampungkan bagian kedua ini. Kita lanjutkan dengan bagian Kelima:
Saudara saya yang disebut -atau yang menamakan dirinya- anak bau kencur itu menceritakan bahwa Abu Hamzah megucapkan:
“Bid’ah dalam beribadah adalah membuat cara-cara baru dalam ibadah yang belum pernah diajarkan pada masa Rasulullah saw, seperti membaca sholawat yang disusun oleh kalangan ulama shufi, berdoa dengan doa-doa yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dan sahabat dan berdzikir secara keras dan bersama-sama sehabis shalat berjamaah.”
Mendengar pernyataan ini, seorang peserta yang masih belum selesai S1 di STAIN Jember bertanya kepada Abu Hamzah, “Kalau bapak mendefinisikan bid’ah seperti itu, kami punya tiga pertanyaan berkaitan dengan konsep bid’ah yang Anda sampaikan.
Pertama, bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits Rasulullah saw. Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?
***
Saya katakan: Secara umum kutipan ini benar, tetapi perlu saya jelaskan bahwa selama saya berdakwah tidak pernah saya langsung menjadikan dzikir dengan suara keras sehabis shalat berjama’ah itu sebagai contoh bid’ah –meskipun memang demikian pendapat yang rajih, jika itu dengan cara jama’i dan terus menerus-. Saya dalam hal ini senantiasa menirukan ucapan imam Syafi’i rahimahullah bahwa yang mustahab atau sunnah setelah shalat berjama’ah adalah dzikir sendiri-sendiri secara sirri, kecuali jika imam ingin mengajarkan atau memberitahukan kepada jama’ah apa yang dia baca maka ia mengeraskan hingga mereka faham lalu kembali sirri. Perhatikan ucapan Imam Syafi’i berikut terutama yang warna biru dan bergaris bawah (berikut terjemahannya):
ุงูุฃู
– (ุฌ 1 / ุต 150)
ุจุงุจ ููุงู
ุงูุงู
ุงู
ูุฌููุณู ุจุนุฏ ุงูุณูุงู
…… ุนู ุฃู
ุณูู
ุฉ ุฒูุฌ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุงูุช ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅุฐุง ุณูู
ู
ู ุตูุงุชู ูุงู
ุงููุณุงุก ุญูู ููุถู ุชุณููู
ู ูู
ูุซ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูู ู
ูุงูู ูุณูุฑุง ….
…..ุนู ุนุจุงุณ ูุงู ููุช: ุฃุนุฑู ุงููุถุงุก ุตูุงุฉ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุจุงูุชูุจูุฑ ……..ุนู ุฃุจู ุงูุฒุจูุฑ ุฃูู ุณู
ุน ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุงูุฒุจูุฑ ูููู ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅุฐุง ุณูู
ู
ู ุตูุงุชู ูููู ุจุตูุชู ุงูุงุนูู ” ูุง ุฅูู ุฅูุง ุงููู ูุญุฏู ูุง ุดุฑูู ูู ูู ุงูู
ูู ููู ุงูุญู
ุฏ ููู ุนูู ูู ุดุฆ ูุฏูุฑ ููุง ุญูู ููุง ููุฉ ุฅูุง ุจุงููู ููุง ูุนุจุฏ ุฅูุง ุฅูุงู ูู ุงููุนู
ุฉ ููู ุงููุถู ููู ุงูุซูุงุก ุงูุญุณู ูุง ุฅูู ุฅูุง ุงููู ู
ุฎูุตูู ูู ุงูุฏูู ููู ูุฑู ุงููุงูุฑูู “
(ูุงู ุงูุดุงูุนู) ููุฐุง ู
ู ุงูู
ุจุงุญ ููุงู
ุงู
ูุบูุฑ ุงูู
ุฃู
ูู
ูุงู: ูุฃู ุฅู
ุงู
ุฐูุฑ ุงููู ุจู
ุง ูุตูุช ุฌูุฑุง ุฃู ุณุฑุง ุฃู ุจุบูุฑู ูุญุณู ูุงุฎุชูุงุฑ ููุงู
ุงู
ูุงูู
ุฃู
ูู
ุฃู ูุฐูุฑ ุงููู ุจุนุฏ ุงูุงูุตุฑุงู ู
ู ุงูุตูุงุฉ ููุฎููุงู ุงูุฐูุฑ ุฅูุง ุฃู ูููู ุฅู
ุงู
ุง ูุฌุจ ุฃู ูุชุนูู
ู
ูู ููุฌูุฑ ุญุชู ูุฑู ุฃูู ูุฏ ุชุนูู
ู
ูู ุซู
ูุณุฑ ูุฅู ุงููู ุนุฒูุฌู ูููู ” ููุง ุชุฌูุฑ ุจุตูุงุชู ููุง ุชุฎุงูุช ุจูุง ” ูุนูู ูุงููู ุชุนุงูู ุฃุนูู
ุงูุฏุนุงุก ููุง ุชุฌูุฑ ุชุฑูุน ููุง ุชุฎุงูุช ุญุชู ูุง ุชุณู
ุน ููุณู ูุฃุญุณุจ ู
ุง ุฑูู ุงุจู ุงูุฒุจูุฑ ู
ู ุชูููู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูู
ุง ุฑูู ุงุจู ุนุจุงุณ ู
ู ุชูุจูุฑู ูู
ุง ุฑูููุงู (ูุงู ุงูุดุงูุนู) ูุฃุญุณุจู ุฅูู
ุง ุฌูุฑ ููููุง ููุชุนูู
ุงููุงุณ ู
ูู ุฐูู ูุงู ุนุงู
ุฉ ุงูุฑูุงูุงุช ุงูุชู ูุชุจูุงูุง ู
ุน ูุฐุง ูุบูุฑูุง ููุณ ูุฐูุฑ ูููุง ุจุนุฏ ุงูุชุณููู
]
ุงูุฃู
– (ุฌ 1 / ุต 151)
[ ุชูููู ููุง ุชูุจูุฑ ููุฏ ูุฐูุฑ ุฃูู ุฐูุฑ ุจุนุฏ ุงูุตูุงุฉ ุจู
ุง ูุตูุช ููุฐูุฑ ุงูุตุฑุงูู ุจูุง ุฐูุฑ ูุฐูุฑุช ุฃู
ุณูู
ุฉ ู
ูุซู ููู
ูุฐูุฑ ุฌูุฑุง ูุฃุญุณุจู ูู
ููุซ ุฅูุง ููุฐูุฑ ุฐูุฑุง ุบูุฑ ุฌูุฑ ูุฅู ูุงู ูุงุฆู ูู
ุซู ู
ุงุฐุง؟ ููุช ู
ุซู ุฃูู ุตูู ุนูู ุงูู
ูุจุฑ ูููู ููุงู
ู ูุฑููุนู ุนููู ูุชูููุฑ ุญุชู ูุณุฌุฏ ุนูู ุงูุงุฑุถ ูุฃูุซุฑ ุนู
ุฑู ูู
ูุตู ุนููู ููููู ููู
ุง ุฃุฑู ุฃุญุจ ุฃู ูุนูู
ู
ู ูู
ููู ูุฑุงู ู
ู
ู ุจุนุฏ ุนูู ููู ุงูููุงู
ูุงูุฑููุน ูุงูุฑูุน ูุนูู
ูู
ุฃู ูู ุฐูู ููู ุณุนุฉ ูุงุณุชุญุจ ุฃู ูุฐูุฑ ุงูุงู
ุงู
ุงููู ุดูุฆุง ูู ู
ุฌูุณู ูุฏุฑ ู
ุง ูุชูุฏู
ู
ู ุงูุตุฑู ู
ู ุงููุณุงุก ููููุง ูู
ุง ูุงูุช ุฃู
ุณูู
ุฉ ุซู
ูููู
ูุฅู ูุงู
ูุจู ุฐูู ุฃู ุฌูุณ ุฃุทูู ู
ู ุฐูู ููุง ุดุฆ ุนููู ูููู
ุฃู
ูู
ุฃู ููุตุฑู ุฅุฐุง ูุถู ุงูุงู
ุงู
ุงูุณูุงู
ูุจู ููุงู
ุงูุงู
ุงู
ูุฃู ูุคุฎุฑ ุฐูู ุญุชู ููุตุฑู ุจุนุฏ ุงูุตุฑุงู ุงูุงู
ุงู
ุฃู ู
ุนู ุฃุญุจ ุฅูู ูู ูุฃุณุชุญุจ ููู
ุตูู ู
ููุฑุฏุง ูููู
ุฃู
ูู
ุฃู ูุทูู ุงูุฐูุฑ ุจุนุฏ ุงูุตูุงุฉ ูููุซุฑ ุงูุฏุนุงุก ุฑุฌุงุก ุงูุงุฌุงุจุฉ ุจุนุฏ ุงูู
ูุชูุจุฉ.
"….imam mana saja yang berdzikir kepada Allah dengan apa yang telah saya jelaskan, dengan suara keras atau pelan, atau dengan lainnya maka baik. Pilihan (yang baik) untuk imam dan makmum adalah berdzikir kepada Allah sehabis shalat dan menyamarkan dzikir, kecuali jika seorang imam yang wajib (para jama'ah) belajar darinya maka ia mengeraskan hingga yakin bahwa jama'ah telah belajar darinya kemudian (kembali) menyamarkan. …..Saya kira beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengeraskan sedikit agar manusia mempelajari hal itu…… saya kira beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak duduk kecuali untuk berdzikir dengan dzikir yang tidak keras….Saya menganjurkan kepada orang yang shalat, baik sendirian maupun makmum agar memperpanjang dzikir sehabis shalat dan memperbanyak doa dengan harapan diijabahi setelah shalat fardhu." (Al-Umm, 1/150)
Baiklah, sekarang kita bahas dulu pengertian dan pembagaian bid'ah secara singkat, agar kita bisa memahami masalah ini dengan benar:
Bid'ah secara bahasa adalah membuat hal baru tanpa ada contoh sebelumnya. Hal baru ini ada yang hasanah (baik) dan ada yang sayyiah (buruk). Persis sebagaimana sunnah, secara bahasa sunnah adalah thariqah dan sirah (jalan atau cara yang ditempuh), maka secara bahasa, ada sunnah hasanah dan ada sunnah sayyiah, ada sunnah Nabi dan ada sunnah selain Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun secara istilah yang dimaksud dengan sunnah adalah sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan yang dimaksud dengan bid'ah adalah hal baru yang menyalahi Sunnah Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu secara istilah, setiap sunnah itu hasanah dan setiap bid'ah itu sayyiah. Dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
ุนََُْูููู
ْ ุจِุณَُّูุชِู َูุณَُّูุฉِ ุงْูุฎََُููุงุกِ ุงูุฑَّุงุดِุฏَِูู ู
ِْู ุจَุนْุฏِู ،ุนَุถُّูุง ุนَََْูููุง ุจِุงََّูููุงุฌِุฐِ َูุฅَِّูุงُูู
ْ َูู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุงْูุฃُู
ُูุฑِ َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ ََُّููู ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถََูุงَูุฉٌ ََُّููู ุถََูุงَูุฉٍ ِูู ุงَّููุงุฑِ
"Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya setiap hal baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih) [Abu Dawud, no. 4607, Tirmidzi no. 2676]
Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i menggunakan kata sunnah secara bahasa -saat beliau mengungkapkan sikapnya kepada sebagian ahli bid’ah (ahli ahwa`)- beliau berkata:
ุณَُّูุชِู ِِููู ุณَُّูุฉُ ุนُู
َุฑَ ِูู ุตَุจِูุบٍ
“Sunnahku (caraku) terhadap orang itu adalah sunnah Umar (cara Umar) terhadap Shabigh (yaitu dipukul dengan pelepah kurma dan diarak di kota serta diasingkan).”
Al-Imam al-Syafi’i juga menerangkan pembagian bid’ah menurut bahasa sebagai berikut:
ุงَْูู
ُุญْุฏَุซَุงุชُ ู
ู ุงูุฃู
ูุฑ ุถَุฑْุจَุงِู: ู
َุง ุฃُุญْุฏِุซَ ُูุฎَุงُِูู ِูุชَุงุจًุง ุฃَْู ุณَُّูุฉً ุฃู ุฃุซุฑุงً ุฃَْู ุฅِุฌْู
َุงุนًุง ููุฐู ุจِุฏْุนَุฉُ ุถَّูุงَูุฉِ َูู
َุง ุฃُุญْุฏِุซَ ู
ู ุงْูุฎَْูุฑِ ูุงَ ُูุฎَุงُِูู ุดَْูุฆًุง ู
ِْู ุฐََِูู ََُููู ู
ُุญْุฏَุซَุฉٌ ุบَْูุฑُ ู
َุฐْู
ُْูู
َุฉٍ. .ูุฏ ูุงู ุนู
ุฑ ูู ููุงู
ุฑู
ุถุงู: “ูุนู
ุช ุงูุจุฏุนุฉ ูุฐู “.)) (ุงูุญุงูุธ ุงูุจูููู، ู
ูุงูุจ ุงูุฅู
ุงู
ุงูุดุงูุนู، ูก/ูคูฆูฉ).
“Muhdatsat (hal-hal baru) dalam perkara-perkara itu ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, maka ini adalah bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru diadakan dari kebaikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, Sunnah, atsar dan Ijma’) maka ia adalah muhdatsah yang tidak tercela. Umar ra telah berkata tentang qiyam Ramadhan: sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).
***
Membuat hal baru ini ada dua bidang:
Pertama: Bidang dunia (hal yang biasa diperlukan dan bermanfaat dalam hidup di dunia ini) seperti alat-alat transportasi, alat-alat komunikasi modern dst. Maka ini hukum asalnya adalah mubah (tidak termasuk dalam istilah bid’ah).
Diantara dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat Hammad ibn Salamah dari Hadits Anas Radhiallahu ‘Anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:
ุฃَْูุชُู
ْ ุฃَุนَْูู
ُ ุจِุฃُู
ُْูุฑِ ุฏَُْููุงُูู
ْ
“Kalian lebih mengerti tentang urusan dunia kalian.”
Juga riwayat Abu Kamil al-Jahdari dari hadits Thalhah dikeluarkan oleh al- Bazzar dengan lafazh:
ุฃَْูุชُู
ْ ุฃَุนَْูู
ُ ุจِู
َุง ُูุตِْูุญُُูู
ْ ِูู ุฏَُْููุงُูู
ْ
“Kalian lebih mengerti tentang apa yang memperbaiki dalam urusan dunia kalian.”
Oleh karena itu tidak tepat ucapan orang yang mengatakan bahwa “kalau Anda mengatakan semua bid’ah itu sesat maka jangan pakai motor, komputer, HP, kereta api, kaca mata dan lain-lain karena itu adalah bid’ah. Jika Anda memakainya itu berarti Anda mengakui bahwa tidak semua bid’ah itu jelek.”
Juga tidak tepat ucapan di sebagian situs pembela bid’ah yang menolak (atau menakwil) hadits “kullu bid’atin dhalalah” dengan mengatakan:
“Terus terang, Muka Anda juga bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw. Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi Saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja, motor, atau mobil seperti Anda. Semua itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat!”
Ucapan senada begitu sering kita dengar dari seorang guru atau alim ketika menerangkan tentang bid’ah. Sungguh naรฏf! Itu bukan bid’ah yang tercela, tetapi jika ada yang ngeyel menyatakan itu bid’ah, maka yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa! Sekali lagi secara bahasa! Bukan bid’ah dalam istilah, yang dihukumi oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “setiap yang bid’ah itu adalah sesat!” Kalau kita pahami hal ini secara benar, niscaya tidak akan keluar dari lisan kita ucapan dan pernyataan yang menggelikan seputar bid’ah!!
Kedua: Bidang diin (agama, yang menjadi tugas dan urusan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Maka membuat perkara baru dalam hal ini hukumnya haram.
Dasarnya antara lain, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamdari Ummul Mukminin Radhiallahu ‘Anha, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
« ู
َْู ุฃَุญْุฏَุซَ ِูู ุฃَู
ْุฑَِูุง ู
َุง َْููุณَ ู
ُِْูู ََُููู ุฑَุฏٌّ »
َِููู َْููุธٍ (( ู
َْู ุนَู
َِู ุนَู
َูุง َْููุณَ ุนََِْููู ุฃَู
ْุฑَُูุง ََُููู ุฑَุฏٌّ ))
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak’.”
Dan dalam riwayat lain milik Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar agama kami atasnya maka ia tertolak.”
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam mengatakan: sebagian lafazhnya adalah:
ู
َْู ุฃَุญْุฏَุซَ ِูู ุฏَِِูููุง ู
َุง َْููุณَ ู
ُِْูู ََُููู ุฑَุฏٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan hal baru dalam agama kami ini apa yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak’.”
Itulah redaksi yang dikeluarkan oleh Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Sulaiman ibn Habib al-Asadi al-Misshishi al-Baghdadi yang dikenal dengan Luwain (w. 245 H) dalam kitabnya yang dikenal dengan Juz` min Hadits Luwain al-Misshishi no. 69, yang kemudian disebutkan oleh Imam al-Baghawi dalam Syarah al-Sunnah dan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (3 tempat), Syaikh ‘Adhuddin al-Iyji dalam al-Mawaqif, Syaikh Abdul Muhsin al-Badr dalam al-Hats ‘Ala Ittiba’ as-sunnah wat-Tahdzir minal Bida’ wa Bayan Khathariha, Syaikh Abdullah ibn Abdul Aziz at-Tuwaijiri dalam Tesisnya al-Bida’ al-Hawliyyah.
Bid’ah dalam agama ini ada 2 (bisa juga dibagi berdasarkan sudut pandang lain):
1. Bid’ah qawliyyah I’tiqadiyyah: seperti makalah-makalah (ucapan-ucapan) kelompok Jahmiyyah, Murji’ah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Shufiyyah Ghulat (ekstrim), Quburiyyah, Musyabbihah, Mujassimah, Mu’atthilah, ‘Aqlaniyyah, Bathiniyyah, JIL dan firqah-firqah sesat lainnya, beserta keyakinan mereka. Bid’ah keyakinan hari-hari naas, termasuk bid’ah tidak mau menjenguk orang sakit di hari Sabtu karena keyakinan hari naas.
2. Bid’ah ibadah: seperti bertaqarrub (mendekat) kepada Allah dengan ibadah yang tidak pernah disyari’atkan. Hal ini ada banyak bentuk:
1. Bid’ah pada asal ibadah itu sendiri, seperti:
1. Membuat shalat baru yang tidak disyariatkan, seperti shalat Raghaib di Jum’at pertama bulan Rajab, Shalat Alfiyyah malam Nishfu Sya’ban, shalat Kifayah, shalat Asyura`, shalat Syukur atas kematian Aisyah yang diajarkan Yasir Habib ar-rafidhi az-Zindiq al-la’iin, Shalat al-Khamis setelah shalat Jum’at di akhir Ramadhan dengan keyakinan bahwa itu bisa menebus semua shalat selama setahun lalu atau selama seumur yang ditinggalkan.
2. Membuat puasa baru yang tidak disyariatkan seperti puasa mutih, puasa pati geni, puasa ngebleng, puasa awal tahun dan akhir tahun dlsb.
3. Membuat hari raya baru yang tidak disyariatkan seperti menyalakan api unggun atau lilin setiap malam nishfu sya’ban, memakai pacar, celak dan membuat makanan khusus di hari Asyura`, merayakan hari raya maulid Nabi Isa ‘Alaihi Sallam, dll).
4. Bertaqarrub dengan sujud saja selain sujud shalat, sujud syukur, sujud tilawah, dan sujud sahwi. Begitu pula taqarrub dengan ruku’ saja.
5. Mencium kuburan, mengetuk-ngetuk bagungan kuburan, atau mengusap-usap batu nisan atau pagar kuburan, atau sujud pada kuburan, saat ziarah kubur para wali.
2. Bid’ah tambahan dalam ibadah, seperti menambah satu rakaat pada shalat fardhu, tambahan syahadat (asyhadu anna ‘aliyyan waliyyullah/hujjatullah) dalam adzan orang syiah, Tatswib (ucapan as-Shalatu Khairun minannaum) pada adzan selain subuh, menambah shalawat dalam shalat dengan ucapan: warham muhammadan wa ali Muhahammad kama rahimta ‘ala ibrahim, menambah basuhan keempat dalam wudhu` secara sengaja, dan mengusap leher dalam wudhu’.
3. Bid’ah dalam sifat ibadah yang disyariatkan, seperti dzikir syar’i secara berjamaah dan dengan lagu, membebani diri dalam ibadah hingga keluar dari batasan sunnah, Berdzikir (misalnya tahlil atau istighfar) dengan keras dan jama’i saat mengiringi jenazah, membaca al-Quran dengan lagu sampai menyalahi tajwid dan mengaburkan makna.
Imam Mengucapkan ta’awwudz dalam shalat dengan keras.
4. Bid’ah dengan mengkhususkan waktu ibadah yang tidak dikhususkan oleh Syara’ seperti mengkhususkan nishfu sya’ban dengan puasa dan qiyamullail, meskipun puasa dan qiyamullail itu hukum asalnya disyariatkan, akan tetapi pengkhususannya pada malam itu perlu dalil.
Dengan demikian bid’ah tercela itu adalah: (1) hal baru (2) dalam agama (aqidah maupun ibadah) (3) yang menyalahi sunnah; sunnah Nabi dan Sunnah sahabat.
Keenam : soal pertama dari saudaraku yang “bau kencur” (andaikan saja saya tahu namanya sehingga saya bisa memanggil dan mendoakannya):
“Bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits Rasulullah saw. Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?
Jawab:
1. Yang saya katakan adalah “seperti membaca sholawat yang disusun oleh kalangan ulama shufi.” Sementara ibnu Mas’ud, Imam Syafi’i bukan ulama sufi, tetapi ulama ahlussunnah, jadi masalahnya jelas berbeda.
2. Shalawat sufi banyak yang bermasalah dari sisi kandungan dan keyakinan tentangnya, seperti shalawat Wahidiyyah, dan shalawat Tijaniyyah, shalawat Mirghaniyyah Khatmiyyah. Juga shalawat-shalawat yang lain seperti yang ada dalam kitab Al-Wasรฎlatu `l-Hariyyah Fรฎ `s-Shalawรขti ‘รlรข Khairi `l-Bariyyah tulisan Syaรฎkh Ahmad Qusyairi ibn Shiddรฎq (Pasuruan Jatim, wafat 22 Syawal 1392 H) yang berisikan 80 Shalawat.
o Pada shalawat nomor 5 ia berkata: “Ini Shalawat Imรขm Al-Ghazali dan Al-Ghauts Al-Jilanรฎ. An-Nabhani menukil dari As-Sya’rani dari As-Syauni melalui mimpi bahwa membaca shalawat ini sekali sama dengan 10 ribu (shalawat biasa).
o Pada shalawat nomor 18 dia berkomentar: Syaรฎkh Al-Dirabiy dan lainnya menyebutkan bahwa Syaรฎkh ‘Abdu `l-Qรขdir Al-Jilanรฎ mendapatkannya tertulis pada batu dan bahwasanya ia sama dengan 50 ribu shalawat, dan dia bermimpi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya bahwa shalawat itu sama dengan 70 ribu shalawat.
o Pada shalawat nomor 29 dia berkomentar: Dalam Kunuzu `l-Asrรขr disebutkan, barangsiapa menyebutnya seribu kali (1000 x) maka Allรขh melapangkan kesulitannya dan meluluskan hajatnya apapun hajat itu. Begitu pula orang yang menyebut nama Allรขh As-Sarรฎ’ (Yang Maha Cepat) seribu kali (1000 x) dengan mengatakan, “Yรข Sarรฎ”.
o Pada shalawat nomor 30 dia berkata: shalawat yang diajarkan langsung (musyafahatan) oleh Rasรปlullรขh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat) kepada Sayyid ‘Abdullรขh Al-’Ilmi. Ini telah diuji coba (mujarab) untuk setiap hajat.
o Pada shalawat nomor 39 dia berkomentar: Ini Shalawat Al-Fรขtih milik Al-รrif Al-Kabรฎr Sayyidi Muhammad Al-Bakri. As-Shawi dan lainnya mengutip dari pengarangnya bahwa barangsiapa bershalawat dengan shalawat ini sekali seumur hidup, maka tidak akan masuk neraka. Abรป `l-’Abbรขs At-Tรฎjรขnรฎ telah berkata sebagaimana dalam Jawรขhiru `l-Ma’รขnรฎ bahwa shalawat ini turun kepada Muhammad Al-Bakri dalam satu shahรฎfah (lembaran) dari Allรขh. Sebagian berkata: membacanya sekali sama dengan 10.000 shalawat biasa. Ada yang mengatakan 600.000. Barangsiapa merutinkan selama 40 hari maka diampuni dari semua dosa. Membacanya seribu kali dalam malam Kamis atau Jum’at atau Senin maka akan berkumpul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
o Pada shalawat ke 41 dia berkomentar: Shalawat milik Sayyidi Syaรฎkh Mushthafa Al-Bakri, dikutip dari Lauhu `l- mahfรปzh. Membaca sekali sama dengan 70.000 Dalรข`il (Khairaat).
o Pada shalawat nomor 70 yang di dalamnya terdapat kata-kata: “Ya Allรขh bershalawatlah kepada sayyid kami Muhammad hingga tidak tersisa sedikitpun dari shalawat-Mu!!” Dia berkata; “Dibaca tiap hari, minimal 4 kali untuk menghilangkan kesusahan dan menolak balak. Bahkan ia mujarab (telah diuji coba) untuk segala sesuatu dengan izin Dzat Yang Maha Kuasa.
o Pada shalawat nomor 72 dia berkata: Shalawat disebutkan oleh Syaรฎkh Muhammad Shรขlih Ar-Rais dalam Fatwanya, dia menyebutkan sebuah hadรฎts dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa barangsiapa membacanya pagi sore maka ia telah melelahkan 70 malaikat pencatat (pahala) selama seribu pagi (seribu hari), dan tidak tersisa sedikit pun dari hak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan ia telah tunaikan, dan diampuni untuknya dan kedua orang tuanya dan dikumpulkan bersama keluarga Muhammad…”[1]
o Selain itu shalawat bid’ah banyak didapati di kitab Dalail al-Khairat wa Syawariq al-Anwar Fi Dzikr al-Shalati ‘ala an-nabiyyil Mukhtar, karya syaikh sufi Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuli as-Syamlani (w. 870 H). Jami’ al-Shalawat wa Majma’ as-Sa’adat fi as-shalat ‘ala Sayyidil Sadat, karya Syaikh Sufi yang kesohor Yusuf ibn Ismail al-Nabhani (w. 1350 H),
Subhanallah! Anda bisa bayangkan betapa pengaruh teori kasyaf dan mimpi ini begitu kuat menancap dalam hati banyak kaum muslimin sehingga banyak menimbulkan keyakinan-keyakinan baru yang tidak dikenal sebelumnya, dengan alasan bahwa ajaran atau keyakinan itu ia dapat langsung dari Allรขh Subhanahu wa Ta’ala atau langsung diajari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bisa kita bayangkan seandainya setiap orang mengaku diajari langsung oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau mendapat ilham tentang satu amalan. Sangat mungkin atas dasar teori ini pula, begitu banyak sekte dan ajaran menyimpang di masa kita sekarang ini, yang mematikan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.Nah, shalawat-shalawat inilah yang saya maksudkan bukan shalawat ibnu Mas’ud, dan Imam Syafi’i, dll.
3. Shalawat itu ibadah yang bersifat doa, boleh dengan redaksi sendiri untuk hajatnya, asal memenuhi dua syarat, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ikhlas dalam bershalawat berarti :
o Hanya mengharapkan ridha Allah Ta’ala dan pahala dari-Nya.
o Teks shalawat yang dibaca tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas maupun syariat. Atau dengan kata lain, tidak bermuatan syirik dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah Ta’ala, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak khusus Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan pada teks-teks shalawat produk manusia yang tidak ma’shum, bukan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih-lebih shalawat shufiyyah.
Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bershalawat, maksudnya :
o Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang paling utama.
o Bila menggunakan susunan shalawat dari selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disyaratkan tidak mengandung unsur kesyirikan maupun ghuluw (sanjungan yang berlebihan) kepada beliau.
o Bershalawat pada momen-momen yang beliau syariatkan, dan dengan bilangan yang sudah beliau tentukan. [5]
o Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala dalam QS.al-Ahzab/33:56 dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas.
4. Shalawat yang digubah oleh sahabat Ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:
ุญَุฏَّุซََูุง ุงْูุญُุณَُْูู ุจُْู ุจََูุงٍู ุญَุฏَّุซََูุง ุฒَِูุงุฏُ ุจُْู ุนَุจْุฏِ ุงَِّููู ุญَุฏَّุซََูุง ุงْูู
َุณْุนُูุฏُِّู ุนَْู ุนَِْูู ุจِْู ุนَุจْุฏِ ุงَِّููู ุนَْู ุฃَุจِู َูุงุฎِุชَุฉَ ุนَْู ุงْูุฃَุณَْูุฏِ ุจِْู َูุฒِูุฏَ ุนَْู ุนَุจْุฏِ ุงَِّููู ุจِْู ู
َุณْุนُูุฏٍ َูุงَูุฅِุฐَุง ุตََّْููุชُู
ْ ุนََูู ุฑَุณُِูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ َูุฃَุญْุณُِููุง ุงูุตََّูุงุฉَ ุนََِْููู َูุฅَُِّููู
ْ َูุง ุชَุฏْุฑَُูู َูุนََّู ุฐََِูู ُูุนْุฑَุถُ ุนََِْููู َูุงَู ََููุงُููุง َُูู َูุนَِّูู
َْูุง، َูุงَู: ُُููููุง ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَْู ุตََูุงุชََู َูุฑَุญْู
َุชََู َูุจَุฑََูุงุชَِู ุนََูู ุณَِّูุฏِ ุงْูู
ُุฑْุณََِููู َูุฅِู
َุงู
ِ ุงْูู
ُุชََِّููู َูุฎَุงุชَู
ِ ุงَّููุจَِِّููู ู
ُุญَู
َّุฏٍ ุนَุจْุฏَِู َูุฑَุณَُِููู ุฅِู
َุงู
ِ ุงْูุฎَْูุฑِ ََููุงุฆِุฏِ ุงْูุฎَْูุฑِ َูุฑَุณُِูู ุงูุฑَّุญْู
َุฉِ ุงَُّูููู
َّ ุงุจْุนَุซُْู ู
ََูุงู
ًุง ู
َุญْู
ُูุฏًุง َูุบْุจِุทُُู ุจِِู ุงْูุฃَََُّูููู َูุงْูุขุฎِุฑَُูู ุงَُّูููู
َّ ุตَِّู ุนََูู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูุนََูู ุขِู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูู
َุง ุตََّْููุชَ ุนََูู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ َูุนََูู ุขِู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ ุฅََِّูู ุญَู
ِูุฏٌ ู
َุฌِูุฏٌ ุงَُّูููู
َّ ุจَุงุฑِْู ุนََูู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูุนََูู ุขِู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูู
َุง ุจَุงุฑَْูุชَ ุนََูู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ َูุนََูู ุขِู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ ุฅََِّูู ุญَู
ِูุฏٌ ู
َุฌِูุฏٌ
“Abdullah bin Mas’ud berkata: Apabila kamu semua bersolawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka baguskanlah shalawat kepadanya, karena kamu tidak tahu, mungkin saja shalawat kamu itu diberitahukan (disampaikan) kepada beliau. Lalu mereka bertanya: kalau begitu ajarkanlah kami (cara bersolawat yang bagus kepada beliau)! Lalu beliau (Abdullah bin Mas’ud) menjawab: katakan, Ya Allah jadikanlah segala solawat-Mu, rahmat-Mu, dan berkah-Mu, kepada Sayyid para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, penutup para nabi, yaitu Muhammad Hamba dan Rasul-MU, pemimpin kebaikan, dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau maqam terpuji yang akan diiri oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian.
Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan shalwat pada Ibrahim, dan keluarga Ibrahum sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Agung.”
(HR. Ibn Majah no 906, dhaif. Didhaifkan oleh Al-Albani dalam takhrij kitab Fadhlusshalah ‘alan Nabi milik Ismail al-Qadli no. 61; oleh Husain Salim Asad dalam Musnad Abu Ya’la 9/175; Al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid dan al-Bushiri dalam Mishbah al-Zujajah mengatakan: “para perawinya tsiqat kecuali al-Mas’udi, diakhir usianya pikiranya berubah kacau, tidak membedakan haditsnya yang pertama dari yang akhir, maka layak ditinggalkan. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hibban.” Ia memiliki syahid (saksi) hadits lain riwayat dari Ibn Umar dalam Musnad Ahmad ibn Manii’, sehingga ada yang menghasankan)
5. Shalawat dan dzikir dari sahabat bisa diamalkan
Anda masih ingat kaedah yang dibuat oleh Imam Syafi’i rahimahullah:
ู
َุง ุฃُุญْุฏِุซَ ُูุฎَุงُِูู ِูุชَุงุจًุง ุฃَْู ุณَُّูุฉً ุฃู ุฃุซุฑุงً ุฃَْู ุฅِุฌْู
َุงุนًุง ููุฐู ุจِุฏْุนَุฉُ ุถَّูุงَูุฉِ
“Apa saja yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, maka ini adalah bid’ah dhalalah (tersesat).”
Oleh karena itu atsar dari sahabat termasuk sunnah, bukan bid’ah. Dalam hal ini ahlussunnah memiliki kaedah:
Syaikh Zakariya ibn Ghulam al-Bakistani dalam kitab Ahkam al-Adzkar halaman 16, kaedah ke 14, mengatakan:
“Dzikir yang terikat dengan waktu dan tempat yang datang dari sahabat bisa diamalkan. Dzikir-dzikir yang datang dari setelah mereka yaitu tabi’in dan atba’ tabi’in maka tidak diamalkan. Karena para ulama menyebutkan bahwa apa yang datang dari para sahabat dari hal yang tidak ada ruang bagi pendapat dan ijtihad di dalamnya maka hukumnya adalah marfu’. Dzikir adalah termasuk ibadah yang tidak ada ruang bagi pendapat, sehingga apa yang datang dari sahabat dari dzikir hukumnya dianggap marfu’ (termasuk ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan menjadi hujjah. Adapun yang datang dari para tabi’in maka tidak dihukumi marfu’ tetapi ijtihad dari yang mengucapkannya dan tidak disyariatkan mengamalkannya, karena ia bukan hujjah.”
6. Shalawat Imam Syafi’i
Imam Syafi’I berijtihad. Menulis shalawat di mukaddimah kitabnya ar-Risalah, (1/16)
ูุตูู ุงููู ุนูู ูุจููุง ููู
ุง ุฐูุฑู ุงูุฐุงูุฑูู ูุบูู ุนู ุฐูุฑู ุงูุบุงูููู ูุตูู ุนููู ูู ุงูุงูููู ูุงูุขุฎุฑูู ุฃูุถู ูุฃูุซุฑ ูุฃุฒูู ู
ุง ุตูู ุนูู ุฃุญุฏ ู
ู ุฎููู ูุฒูุงูุง ูุฅูุงูู
ุจุงูุตูุงุฉ ุนููู ุฃูุถู ู
ุง ุฒูู ุฃุญุฏ ู
ู ุฃู
ุชู ุจุตูุงุชู ุนููู ูุงูุณูุงู
ุนููู ูุฑุญู
ุฉ ุงููู ูุจุฑูุงุชู ูุฌุฒุงู ุงููู ุนูุง ุฃูุถู ู
ุง ุฌุฒู ู
ุฑุณูุง ุนู ู
ู ุฃุฎุฑุฌุช ูููุงุณ ุฏุงุฆููู ุจุฏููู ุงูุฐู ุงุฑุชุถู ูุงุตุทูู ุจู ู
ูุงุฆูุชู ูู
ู ุฃูุนู
ุนููู ู
ู ุฎููู ููู
ุชู
ุณ ุจูุง ูุนู
ุฉ ุธูุฑุช ููุง ุจุทูุช ูููุง ุจูุง ุญุธุง ูู ุฏูู ุฃู ุฏูุน ุจูุง ุนูุง ู
ูุฑูู ูููู
ุง ููู ูุงุญุฏ ู
ููู
ุง ุฅูุง ูู
ุญู
ุฏ ุตูู ุงููู ุนููู ุณุจุจูุง ุงููุงุฆุฏ ุฅูู ุฎูุฑูุง ูุงููุงุฏู ุฅูู ุฑุดุฏูุง ุงูุฐุงุฆุฏ ุนู ุงููููุฉ ูู
ูุงุฑุฏ ุงูุณูุก ูู ุฎูุงู ุงูุฑุดุฏ ุงูู
ูุจู ููุงุณุจุงุจ ุงูุชู ุชูุฑุฏ ุงููููุฉ ุงููุงุฆู
ุจุงููุตูุญุฉ ูู ุงูุงุฑุดุงุฏ ูุงูุงูุฐุงุฑ ูููุง ูุตูู ุงููู ุนูู ู
ุญู
ุฏ ูุนูู ุขู ู
ุญู
ุฏ ูู
ุง ุตูู ุนูู ุฅุจุฑุงููู
ูุขู ุฅุจุฑุงููู
ุฅูู ุญู
ูุฏ ู
ุฌูุฏ
Apa yang dilakukan oleh Imam syafi’i sah dalam agama Islam, tidak ada larangan sama sekali. Siapa pun dari kita boleh menulis di mukaddimah khutbah atau kitab tahmid dan shalawat dari rangkaian sendiri asal isinya tidak bertentangan dengan syara’.
7. Kaitan mujtahid dengan bid’ah
Orang yang betul-betul mujtahid tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang bid’ah kecuali hanya faltah (ketergelinciran yang tidak disengaja), kita sebut demikian karena mujtahid tidak bermaksud mengikuti mutasyabihat untuk mencari fitnah dan mencari takwil kitab, artinya tidak mengikuti hawa nafsunya, dan tidak menjadikannya sebagai tumpuan. Buktinya, jika kebenaran tampak nyata baginya maka ia tunduk dan mengakuinya. Oleh karena itu seandainya shalawat yang ditulis oleh Imam Syafi’i itu –misalnya- termasuk bid’ah maka kita tetap tidak menyebut beliau sebagai ahli bid’ah, apalagi telah terbukti bahwa hal itu boleh-boleh saja dalam syariat ini. (Baca macam-macam orang yang dikaitkan dengan bid’ah dalam al-I’tisham).
8. Shalawat (atau syari’at secara umum) tidak diambil dari mimpi
Sepakat ahlussunnah bahwa mimpi bukan sumber syariat, dan bahwa mengambil syariat dari mimpi termasuk manhaj bid’ah, khususnya shufiyyah quburiyyah. Contoh, disebutkan bahwa Abul Mawahib al-Syadzili berkata: Saya bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau berkata kepada saya: jika kamu punya hajat dan kamu ingin memenuhinya maka bernadzarlah untuk Nafisah al-Thahirah[2], meskipun hanya satu fils, sesungguhnya hajatmu pasti terkabul.” (Thabaqat al-Sya’rani, 2/74)
Coba perhatikan mimpi syaithani ini mengajak orang untuk berbuat syirik, merusak tauhid yang diperjuangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 23 tahun dalam masa kenabiannya.
Kembali kepada masalah shalawat. Diceritakan dalam kitab Jala’ al-Afham page 230, dan al-Hafiz al-Sakhawi dalam kitabnya al-Qaul al-Badi’ page 254:
ููุงู ุนุจุฏ ุงููู ุจู ุนุจุฏ ุงูุญูู
: “ุฑุฃูุช ุงูุดุงูุนู ูู ุงูููู
، ูููุช. ู
ุง ูุนู ุงููู ุจู؟ ูุงู: ุฑุญู
ูู ูุบูุฑ ูู ูุฒููู ุฅูู ุงูุฌูุฉ ูู
ุง ุชุฒู ุงูุนุฑูุณ, ููุซุฑ ุนูู ูู
ุง ููุซุฑ ุนูู ุงูุนุฑูุณ، ูููุช: ุจู
ุจูุบุช ูุฐู ุงูุญุงู؟ ููุงู ูู ูุงุฆู: ูููู ูู ุจู
ุง ูู ูุชุงุจ ุงูุฑุณุงูุฉ ู
ู ุงูุตูุงุฉ ุนูู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
”. ููุช: ูููู ุฐูู؟ ูุงู: ูุตูู ุงููู ุนูู ู
ุญู
ุฏ ุนุฏุฏ ู
ุง ุฐูุฑู ุงูุฐุงูุฑูู، ูุนุฏุฏ ู
ุง ุบูู ุนู ุฐูุฑู ุงูุบุงูููู. ูุงู: ููู
ุง ุฃุตุจุญุช ูุธุฑุช ูู ุงูุฑุณุงูุฉ ููุฌุฏุช ุงูุฃู
ุฑ ูู
ุง ุฑุฃูุช: ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
”
Abdullah bin al-Hakam berkata: Aku bermimpi bertemu al-Imam al-Syafi’i setelah beliau meninggal. Aku bertanya: Apa yang Allah lakukan padamu? Beliau menjawab: Allah mengasihiku dan mengampuniku – sampai dengan- Lalu aku (Imam Syafi’i) bertanya kepada Allah: dengan apa aku memperoleh derajat ini? Lalu ada orang yang menjawab: dengan solawat yang kau tulis di dalam kitab al-Risalah:
ุตูู ุงููู ุนูู ู
ุญู
ุฏ ุนุฏุฏ ู
ุง ุฐูุฑู ุงูุฐุงูุฑูู ูุนุฏุฏ ู
ุง ุบูู ุนู ุฐูุฑู ุงูุบุงูููู .
Abdullah bin al-Hakam berkata: Pagi harinya aku tengok kitab al-Risalah, ternyata solawat di dalamnya sama dengan yang aku tenggok di dalam mimpiku.
Lafazh selawat Imam al-Syafi’i yang masyhur adalah seperti berikut;
ุงูููู
ุตู ุนูู ุณูุฏูุง ู
ุญู
ุฏ ูุนูู ุขู ุณูุฏูุง ู
ุญู
ุฏ ููู
ุง ุฐูุฑู ุงูุฐุงูุฑูู ูุบูู ุนู ุฐูุฑู ุงูุบุงูููู
Disebutkan lafazh ini diambil daripada kitab beliau al-Risalah. Namun lafazh selawat Imam al-Syafi’i yang asal yang terdapat di dalam kitab al-Risalah (hlm. 16) tersebut agak berbeda sedikit dengan tambahan yang agak panjang yaitu sebagaimana yang sudah kami sebut di atas.
Menurut mimpi tersebut, seolah-olah shalawat imam Syafi’i ini berfadhilah, namun demikian sepakat ahlussunnah bahwa yang terbaik adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu seandainya ada orang nadzar untuk bershalawat maka cara memenuhinya adalah dengan membaca shalawat ibrahimiyyah ajaran nabi, bukan shalawat buatan imam asyafi’i, karena ialah shalawat yang paling afdhal sebagaimana yang ada dalam kitab Raudhah al-Thalibin wa ‘Umdatul Muftin 4/102, al-Majmu’ 3/464; Asnal Mathalib 22/18) [*]
ูููู ุงูุฃู
ุฑ ุงููุงู
ุงูุฐู ูุฌุจ ุฃู ูุนูู
ุฃู ุงูุนูู
ุงุก ูุฏ ูุฑุฑูุง ุฃูู ูุง ูุคุฎุฐ ุฃู ุญูู
ุดุฑุนู ู
ู ุฑุคูุฉ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูู ุงูู
ูุงู
ุงุช ูุฃู ุงูุดุฑูุนุฉ ุงูุฅุณูุงู
ูุฉ ูุฏ ุชู
ุช ููู
ูุช ูุจู ููุงุฉ ุณูุฏูุง ู
ุญู
ุฏ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุงู ุงููู ุชุนุงูู {ุงَْْูููู
َ ุฃَْูู
َْูุชُ َُููู
ْ ุฏَُِูููู
ْ َูุฃَุชْู
َู
ْุชُ ุนََُْูููู
ْ ِูุนْู
َุชِู َูุฑَุถِูุชُ َُููู
ُ ุงูุฅِุณْูุงَู
َ ุฏًِููุง} ุณูุฑุฉ ุงูู
ุงุฆุฏุฉ ุงูุขูุฉ 3.ูู
ุง ุฃู ู
ุตุงุฏุฑ ุงูุชุดุฑูุน ู
ุนููู
ุฉ ูู
ุนุฑููุฉ ููุฏ ุจูููุง ุงูุฃุตููููู ููู ุงููุชุงุจ ูุงูุณูุฉ ูุงูุฅุฌู
ุงุน ูุงูููุงุณ ูุงูู
ุตุงุฏุฑ ุงูุชุจุนูุฉ ุนูู ุฎูุงู ุจูููู
ูููุง ูููุณ ู
ููุง ุงูุฑุคู ููุง ุงูู
ูุงู
ุงุช ููุง ูุญุชุฌ ุจุงูุฑุคู ูู ุจุงุจ ุงูุฃุญูุงู
ุงูุดุฑุนูุฉ ุฅูุง ู
ู ุถุนู ุนููู ูุฒุงุบ ุนู ุทุฑูู ุงูุญู ูุงูุตูุงุจ .ูููุณุช ุงูุฑุคู ูุงูู
ูุงู
ุงุช ู
ู ู
ุตุงุฏุฑ ุงูุชุดุฑูุน ููุฐุง ูู ุงูุญู ูุงูุตูุงุจ ูู
ุงุฐุง ุจุนุฏ ุงูุญู ุฅูุง ุงูุถูุงู ؟ ูุฃูุซุฑ ู
ุง ูุคุฎุฐ ู
ู ุงูุฑุคู ุฃู ุชููู ุจุดุงุฑุฉ ุฃู ูุฐุงุฑุฉ ูุง ุฃู ุชููู ู
ุตุฏุฑุงً ููุชุดุฑูุน
ูุงู ุงูุฅู
ุงู
ุงููููู ุนูุฏ ููุงู
ู ุนูู ุฑุคู ุงูุฑูุงุฉ [ ูุงู ุงููุงุถู ุนูุงุถ ุฑุญู
ู ุงููู: ูุฐุง ูู
ุซูู ุงุณุชุฆูุงุณ ูุงุณุชุธูุงุฑ ุนูู ู
ุง ุชูุฑุฑ ู
ู ุถุนู ุฃุจุงู ูุง ุฃูู ููุทุน ุจุฃู
ุฑ ุงูู
ูุงู
ููุง ุฃูู ุชุจุทู ุจุณุจุจู ุณูุฉ ุซุจุชุช ููุง ุชุซุจุช ุจู ุณูุฉ ูู
ุชุซุจุช ููุฐุง ุจุฅุฌู
ุงุน ุงูุนูู
ุงุก , ูุฐุง ููุงู
ุงููุงุถู
ููุงู ุงูุฅู
ุงู
ุงููููู ุฃูุถุงً: [ ูู ูุงูุช ูููุฉ ุงูุซูุงุซูู ู
ู ุดุนุจุงู, ููู
ูุฑ ุงููุงุณ ุงูููุงู, ูุฑุฃู ุฅูุณุงู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูู ุงูู
ูุงู
، ููุงู ูู: ุงููููุฉ ุฃูู ุฑู
ุถุงู ูู
ูุตุญ ุงูุตูู
ุจูุฐุง ุงูู
ูุงู
، ูุง ูุตุงุญุจ ุงูู
ูุงู
ููุง ูุบูุฑู ] ุงูู
ุฌู
ูุน6/292
ููุงู ุงูุฅู
ุงู
ุงููููู ุฃูุถุงً ุนูุฏ ููุงู
ู ุนูู ุฎุตุงุฆุต ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
:[ ูู
ูู ุฃู ู
ู ุฑุขู ูู ุงูู
ูุงู
ููุฏ ุฑุขู ุญูุงً ูุฅู ุงูุดูุทุงู ูุง ูุชู
ุซู ูู ุตูุฑุชู ูููู ูุง ูุนู
ู ุจู
ุง ูุณู
ุนู ุงูุฑุงุฆู ู
ูู ูู ุงูู
ูุงู
ู
ู
ุง ูุชุนูู ุจุงูุฃุญูุงู
ุฅู ุฎุงูู ู
ุง ุงุณุชูุฑ ูู ุงูุดุฑุน ูุนุฏู
ุถุจุท ุงูุฑุงุฆู ูุง ููุดู ูู ุงูุฑุคูุง ูุฃู ุงูุฎุจุฑ ูุง ููุจู ุฅูุง ู
ู ุถุงุจุท ู
ููู ูุงููุงุฆู
ุจุฎูุงูู ] ุชูุฐูุจ ุงูุฃุณู
ุงุก ูุงููุบุงุช1/43
ููุงู ุงูุดุงุทุจู:[ ูุฃู
ุง ุงูุฑุคูุง ุงูุชู ูุฎุจุฑ ูููุง ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุงูุฑุงุฆู ุจุงูุญูู
ููุง ุจุฏ ู
ู ุงููุธุฑ ูููุง ุฃูุถุงً ูุฃูู ุฅุฐุง ุฃุฎุจุฑ ุจุญูู
ู
ูุงูู ูุดุฑูุนุชู ูุงูุญูู
ุจู
ุง ุงุณุชูุฑ ูุฅู ุฃุฎุจุฑ ุจู
ุฎุงูู ูู
ุญุงู ูุฃูู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุง ููุณุฎ ุจุนุฏ ู
ูุชู ุดุฑูุนุชู ุงูู
ุณุชูุฑุฉ ูู ุญูุงุชู ูุฃู ุงูุฏูู ูุง ูุชููู ุงุณุชูุฑุงุฑู ุจุนุฏ ู
ูุชู ุนูู ุญุตูู ุงูู
ุฑุงุฆู ุงูููู
ูุฉ ูุฃู ุฐูู ุจุงุทู ุจุงูุฅุฌู
ุงุน ูู
ู ุฑุฃู ุดูุฆุงً ู
ู ุฐูู ููุง ุนู
ู ุนููู ูุนูุฏ ุฐูู ูููู ุนู ุฑุคูุงู ุบูุฑ ุตุญูุญุฉ ุฅุฐ ูู ุฑุขู ุญูุงً ูู
ูุฎุจุฑ ุจู
ุง ูุฎุงูู ุงูุดุฑุน ] ุงูุงุนุชุตุงู
1/321. ูุงูุธุฑ ุฃูุถุงً ุงูู
ูุงููุงุช ููุดุงุทุจู1/114-115.
ููุงู ุดูุฎ ุงูุฅุณูุงู
ุงุจู ุชูู
ูุฉ[ ุงูุฑุคูุง ุงูู
ุญุถุฉ ุงูุชู ูุง ุฏููู ุนูู ุตุญุชูุง ูุง ูุฌูุฒ ุฃู ูุซุจุช ุจูุง ุดูุก ุจุงูุงุชูุงู ] ู
ุฌู
ูุน ุงููุชุงูู 27/457
ููุงู ุงุจู ุญุฒู
ุงูุธุงูุฑู[ ุงูุดุฑุงุฆุน ูุง ุชُุคْุฎَุฐ ุจุงูู
ูุงู
ุงุช ] ุงูู
ุญูู 6 / 507
.ููุงู ุงูุดููุงูู:[ ุงูู
ุณุฃูุฉ ุงูุณุงุจุนุฉ: ูู ุฑุคูุง ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฐูุฑ ุฌู
ุงุนุฉ ู
ู ุฃูู ุงูุนูู
ู
ููู
ุงูุฃุณุชุงุฐ ุฃุจู ุฅุณุญุงู ุฃู ูููู ุญุฌุฉ ูููุฒู
ุงูุนู
ู ุจู ูููู ุญุฌุฉ ููุง ูุซุจุช ุจู ุญูู
ุดุฑุนู ูุฅู ูุงูุช ุฑุคูุฉ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฑุคูุฉ ุญู ูุงูุดูุทุงู ูุง ูุชู
ุซู ุจู ููู ุงููุงุฆู
ููุณ ู
ู ุฃูู ุงูุชุญู
ู ููุฑูุงูุฉ ูุนุฏู
ุญูุธู ูููู ุฅูู ูุนู
ู ุจู ู
ุง ูู
ูุฎุงูู ุดุฑุนุงً ุซุงุจุชุงً ، ููุง ูุฎูุงู ุฃู ุงูุดุฑุน ุงูุฐู ุดุฑุนู ุงููู ููุง ุนูู ูุณุงู ูุจููุง ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุฏ ูู
ูู ุงููู ุนุฒ ูุฌู ููุงู {ุงَْْูููู
َ ุฃَْูู
َْูุชُ َُููู
ْ ุฏَُِูููู
ْ }ููู
ูุฃุชูุง ุฏููู ูุฏู ุนูู ุฃู ุฑุคูุชู ูู ุงูููู
ุจุนุฏ ู
ูุชู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅุฐ ูุงู ูููุง ุจููู ุฃู ูุนู ูููุง ูุนูุงً ูููู ุฏูููุงً ูุญุฌุฉ ุจู ูุจุถู ุงููู ุฅููู ุนูุฏ ุฃู ูู
َّู ููุฐู ุงูุฃู
ุฉ ู
ุง ุดุฑุนู ููุง ุนูู ูุณุงูู ููู
ูุจู ุจุนุฏ ุฐูู ุญุงุฌุฉ ููุฃู
ุฉ ูู ุฃู
ุฑ ุฏูููุง ููุฏ ุงููุทุนุช ุงูุจุนุซุฉ ูุชุจููุบ ุงูุดุฑุงุฆุน ูุชุจูููุง ุจุงูู
ูุช ูุฅู ูุงู ุฑุณููุงً ุญูุงً ูู
ูุชุงً ูุจูุฐุง ุชุนูู
ุฃู ูู ูุฏَّุฑูุง ุถุจุท ุงููุงุฆู
ูู
ููู ู
ุง ุฑุขู ู
ู ูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฃู ูุนูู ุญุฌุฉ ุนููู ููุง ุนูู ุบูุฑู ู
ู ุงูุฃู
ุฉ ] ุฅุฑุดุงุฏ ุงููุญูู ุฅูู ุชุญููู ุงูุญู ู
ู ุนูู
ุงูุฃุตูู ุต249.
ููุงู ุงูุดูุฎ ุงูุนูุงู
ุฉ ุนุจุฏ ุงูุนุฒูุฒ ุจู ุจุงุฒ :[ ، ููุง ูุฌูุฒ ุฃู ูุนุชู
ุฏ ุนูููุง ูู ุดูุก ูุฎุงูู ู
ุง ุนูู
ู
ู ุงูุดุฑุน ، ุจู ูุฌุจ ุนุฑุถ ู
ุง ุณู
ุนู ุงูุฑุงุฆู ู
ู ุงููุจู ู
ู ุฃูุงู
ุฑ ุฃู ููุงูู ุฃู ุฎุจุฑ ุฃู ุบูุฑ ุฐูู ู
ู ุงูุฃู
ูุฑ ุงูุชู ูุณู
ุนูุง ุฃู ูุฑุงูุง ุงูุฑุงุฆู ููุฑุณูู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุนูู ุงููุชุงุจ ูุงูุณูุฉ ุงูุตุญูุญุฉ ، ูู
ุง ูุงูููู
ุง ุฃู ุฃุญุฏูู
ุง ูุจู ، ูู
ุง ุฎุงูููู
ุง ุฃู ุฃุญุฏูู
ุง ุชุฑู؛ ูุฃู ุงููู ุณุจุญุงูู ูุฏ ุฃูู
ู ููุฐู ุงูุฃู
ุฉ ุฏูููุง ูุฃุชู
ุนูููุง ุงููุนู
ุฉ ูุจู ููุงุฉ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููุง ูุฌูุฒ ุฃู ููุจู ู
ู ุฃุญุฏ ู
ู ุงููุงุณ ู
ุง ูุฎุงูู ู
ุง ุนูู
ู
ู ุดุฑุน ุงููู ูุฏููู ุณูุงุก ูุงู ุฐูู ู
ู ุทุฑูู ุงูุฑุคูุง ุฃู ุบูุฑูุง ููุฐุง ู
ุญู ุฅุฌู
ุงุน ุจูู ุฃูู ุงูุนูู
ุงูู
ุนุชุฏ ุจูู
، ุฃู
ุง ู
ู ุฑุขู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ุนูู ุบูุฑ ุตูุฑุชู ูุฅู ุฑุคูุงู ุชููู ูุงุฐุจุฉ ูุฃู ูุฑุงู ุฃู
ุฑุฏ ูุง ูุญูุฉ ูู ، ุฃู ูุฑุงู ุฃุณูุฏ ุงูููู ุฃู ู
ุง ุฃุดุจู ุฐูู ู
ู ุงูุตูุงุช ุงูู
ุฎุงููุฉ ูุตูุชู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
، ูุฃูู ูุงู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
: " ูุฅู ุงูุดูุทุงู ูุง ูุชู
ุซู ูู ุตูุฑุชู " ูุฏู ุฐูู ุนูู ุฃู ุงูุดูุทุงู ูุฏ ูุชู
ุซู ูู ุบูุฑ ุตูุฑุชู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ููุฏุนู ุฃูู ุงูุฑุณูู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ู
ู ุฃุฌู ุฅุถูุงู ุงููุงุณ ูุงูุชูุจูุณ ุนูููู
. ุซู
ููุณ ูู ู
ู ุงุฏุนู ุฑุคูุชู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูููู ุตุงุฏูุง ูุฅูู
ุง ุชูุจู ุฏุนูู ุฐูู ู
ู ุงูุซูุงุช ุงูู
ุนุฑูููู ุจุงูุตุฏู ูุงูุงุณุชูุงู
ุฉ ุนูู ุดุฑูุนุฉ ุงููู ุณุจุญุงูู ، ููุฏ ุฑุขู ูู ุญูุงุชู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฃููุงู
ูุซูุฑูู ููู
ูุณูู
ูุง ููู
ููุชูุนูุง ุจุฑุคูุชู ูุฃุจู ุฌูู ูุฃุจู ููุจ ูุนุจุฏ ุงููู ุจู ุฃุจู ุจู ุณููู ุฑุฃุณ ุงูู
ูุงูููู ูุบูุฑูู
، ูุฑุคูุชู ูู ุงูููู
ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ู
ู ุจุงุจ ุฃููู ] ูููู ุตุงุญุจ ุชูุฐูุจ ุงููุฑูู ูุงูููุงุนุฏ ุงูุณููุฉ ุนู ุงูุนูุงู
ุฉ ุงูุนุทุงุฑ ูููู: ููุง ููุฒู
ู
ู ุตุญุฉ ุงูุฑุคูุง ุงูุชุนููู ุนูููุง ูู ุญูู
ุดุฑุนู ูุงุญุชู
ุงู ุงูุฎุทุฃ ูู ุงูุชุญู
ู ูุนุฏู
ุถุจุท ุงูุฑุงุฆู ] ุชูุฐูุจ ุงููุฑูู ูุงูููุงุนุฏ ุงูุณููุฉ 4/270.
ููุฏ ูุฌุฏุช ููุงู
ุงً ููุฅู
ุงู
ุงููุฑุงูู ูู ู
ุณุฃูุฉ ูุฑูุจุฉ ู
ู ู
ุณุฃูุฉ ุงูุทูุงู ุงูุฒูุฌุฉ ุจูุงุกً ุนูู ุงูุฑุคูุฉ ุญูุซ ูุงู:[ููู ุฑุขู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ููุงู ูู : ุฅู ุงู
ุฑุฃุชู ุทุงูู ุซูุงุซุงً , ููู ูุฌุฒู
ุจุฃูู ูู
ูุทูููุง ููู ุชุญุฑู
ุนููู ; ูุฃู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุง ูููู ุฅูุง ุญูุงً ููุน ููู ุงูุจุญุซ ู
ุน ุงููููุงุก ูุงุถุทุฑุจุช ุขุฑุงุคูู
ูู ุฐูู ุจุงูุชุญุฑูู
ูุนุฏู
ู ูุชุนุงุฑุถ ุฎุจุฑู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ุนู ุชุญุฑูู
ูุง ูู ุงูููู
ูุฅุฎุจุงุฑู ูู ุงูููุธุฉ ูู ุดุฑูุนุชู ุงูู
ุนุธู
ุฉ ุฃููุง ู
ุจุงุญุฉ ูู ,
ูุงูุฐู ูุธูุฑ ูู ุฃู ุฅุฎุจุงุฑู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ูู ุงูููุธุฉ ู
ูุฏู
ุนูู ุงูุฎุจุฑ ูู ุงูููู
ูุชุทุฑู ุงูุงุญุชู
ุงู ููุฑุงุฆู ุจุงูุบูุท ูู ุถุจุท ุงูู
ุซุงู , ูุฅุฐุง ุนุฑุถูุง ุนูู ุฃููุณูุง ุงุญุชู
ุงู ุทุฑูุก ุงูุทูุงู ู
ุน ุงูุฌูู ุจู ูุงุญุชู
ุงู ุทุฑูุก ุงูุบูุท ูู ุงูู
ุซุงู ูู ุงูููู
ูุฌุฏูุง ุงูุบูุท ูู ุงูู
ุซุงู ุฃูุณุฑ ูุฃุฑุฌุญ , ูู
ู ูู ู
ู ุงููุงุณ ูุถุจุท ุงูู
ุซุงู ุนูู ุงููุญู ุงูู
ุชูุฏู
ุฅูุง ุฃูุฑุงุฏ ููููุฉ ู
ู ุงูุญูุงุธ ูุตูุชู ุนููู ุงูุตูุงุฉ ูุงูุณูุงู
ูุฃู
ุง ุถุจุท ุนุฏู
ุงูุทูุงู ููุง ูุฎุชู ุฅูุง ุนูู ุงููุงุฏุฑ ู
ู ุงููุงุณ ูุงูุนู
ู ุจุงูุฑุงุฌุญ ู
ุชุนูู , ููุฐูู ูู ูุงู ูู ุนู ุญูุงู : ุฅูู ุญุฑุงู
, ุฃู ุนู ุญุฑุงู
ุฅูู ุญูุงู , ุฃู ุนู ุญูู
ู
ู ุฃุญูุงู
ุงูุดุฑูุนุฉ ูุฏู
ูุง ู
ุง ุซุจุช ูู ุงูููุธุฉ ุนูู ู
ุง ุฑุฃู ูู ุงูููู
ูู
ุง ุฐูุฑูุงู ูู
ุง ูู ุชุนุงุฑุถ ุฎุจุฑุงู ู
ู ุฃุฎุจุงุฑ ุงูููุธุฉ ุตุญูุญุงู ูุฅูุง ููุฏู
ุงูุฃุฑุฌุญ ุจุงูุณูุฏ ุฃู ุจุงูููุธ ุฃู ุจูุตุงุญุชู ุฃู ููุฉ ุงูุงุญุชู
ุงู ูู ุงูู
ุฌุงุฒ ุฃู ุบูุฑู ููุฐูู ุฎุจุฑ ุงูููุธุฉ ูุฎุจุฑ ุงูููู
ูุฎุฑุฌุงู ุนูู ูุฐู ุงููุงุนุฏุฉ ] ุงููุฑูู 4/245-246.
ูุฃุฎูุฑุงً ุฃุฐูุฑ ู
ุง ูุงูู ุงูุดุงุทุจู:[ ูุนูู ุงูุฌู
ูุฉ ููุง ูุณุชุฏู ุจุงูุฑุคูุง ูู ุงูุฃุญูุงู
ุฅูุง ุถุนูู ุงูู
ّูุฉ ูุนู
ูุฃุชู ุงูู
ุฑุฆู ุชุฃููุณุงً ูุจุดุงุฑุฉ ููุฐุงุฑุฉ ุฎุงุตุฉ ุจุญูุซ ูุง ููุทุนูู ุจู
ูุชุถุงูุง ุญูู
ุงً ููุง ูุจููู ุนูููุง ุฃุตูุงً ููู ุงูุงุนุชุฏุงู ูู ุฃุฎุฐูุง ุญุณุจู
ุง ููู
ู
ู ุงูุดุฑุน ูููุง ] ุงูุงุนุชุตุงู
1/322.
ูุจุนุฏ ูุฐู ุงููููู ุนู ูุญูู ุฃูู ุงูุนูู
ุฃููู ูุง ุดู ุฃูู ูุง ูุตุญ ูู ุฏูู ุงูุฅุณูุงู
ุงูุงุนุชู
ุงุฏ ุนูู ุงูุฑุคู ูุงูุฃุญูุงู
ูู ุฅุซุจุงุช ุงูุฃุญูุงู
ููุง ูุฌูุฒ ููู
ุฑุก ุฃู ูุทูู ุฒูุฌุชู ุจูุงุกً ุนูู ุชูู ุงูู
ูุงู
ุงุช .
http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html/all-comments/#comments
[1] Ahmad Qusyairi ibn Shiddรฎq Al-Bรขsuruani (1392), Al-Wasรฎlatu `l-Hariyyah Fi `s-Shalawรขti ‘Alรข Khairi `l-Bariyyah, diterbitkan oleh ‘Umar ibn Ahmad Qusyairi ibn Shiddรฎq, tt
[2] Nafisah bint Zaid ibn Hasan ibn Ali bin Abi Thalib, makamnya di Mesir diagungkan.
(nahimunkar.com)
Apabila ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan hubungi di nomor 0411-9303899
0 komentar:
Posting Komentar