..::::::..

Enam Calon Walikota Makassar ini Bermasalah, Pikirkan Dulu Jika Ingin Memilih Mereka


Di antara sepuluh pasangan calon walikota-wakil walikota Makassar periode 2014-2019 yang akan betarung pada pilkada Makassar dalam waktu dekat ini, ada enam pasangan yang dalam pantauan kami bermasalah. Jika hati anda telah terpaut untuk memilih satu pasangan di antara mereka maka pikirkan dulu secara matang, mengapa? Mari kita lihat stu persatu.
Pertama, pasangan dengan nomor urut 8, Muhammad Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal atau yang akrab disapa DIA (Danny-Deng Ical). Dan memakai tagline kampanye, “Ana’ lorongna Makassar.”Menurut kami, pasangan ini bermasalah karena mendukung pluralisme –terlihat dari selebaran kampanye yang beredar- dan juga dekat dengan Ust. Othman Shihab, salah satu Ustaz Syiah di Indonesia, dimana pada peringatan maulid yang lalu, Danny Pomanto mengundang Ustaz tersebut sebagai pembawa materi hikmah maulid. Karena itu mungkin Anda menemukan orang-orang Syiah Makassar memberikan dukungan kepada pasangan ini.
Kedua, pasangan dengan nomor urut 9, Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah atau yang akrab disapa NOAH atau NONE. Simbol kampanye yang digalakkan oleh pasangan ini adalah simbol segitiga, yang mirip dengan simbol paramida gerakan zionisme Yahudi. Kami tidak bisa pastikan apakah memang pasangan ini diback-up oleh gerakan freemason atau tidak. Wallahu a’lam. Setidaknya info ini membuat kita berhati-hati dalam memilih pasangan ini.
Ketiga, pasangan dengan nomor urut 4, Herman Handoko-Abdul Latif Bafadhal, atau yang akrab disapa AHAO-HALAL. Dalam salah satu slogan kampanyenya berbunyi, “Jika di Jakarta ada Ahok, maka di Makassar ada Ahao.” Masalahnya terletak pada agama yang dianut oleh Herman Handoko, yang jelas dia bukan seorang muslim. Sedangkan dalam memilih pemimpin kita diwajibkan memilih pemimpin yang seakidah dan seagama. Sebagaimana yang termtuang dalam surat Ali-Imran disebutkan, “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai wali (pemimpin, teman dekat, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka..” (QS. Ali Imran: 28).
Keempat, pasangan dengan nomor urut 1, Adil Patu-Isradi Zainal, dalam salah satu diskusi bersama para pendeta, Pak Adil menjanjikan mereka untuk plesiran ke Israel sebagai salah satu tempat suci umat kristiani jika dia terpilih menjadi walikota Makassar.
Kelima, pasangan dengan nomor urut 7, Muhyina Muin-Syaiful Saleh. Kalau ini sangat jelas disebutkan dalam hadis Nabi,
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً
Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i)
Meskipun didukung penuh oleh salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, kita tetap berpegang teguh dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diatas yang menjanjikan kebinasaan bagi suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.
Keenam, pasangan dengan nomor urut 10, Apiaty Kamaluddin-Zulkifli Gani Ottoh, pasangan ini juga sama masalahnya dengan pasangan nomor urut 7 di atas yang mengusung calon walikota wanita.
Itulah enam pasangan yang dalam pantauan kami bermasalah. Jika Anda punya hak pilih dalam pilkada kota Makassar pada 18 September 2013 ini, maka pilihlah satu diantara empat pasangan ini: pasangan nomor urut 2, Supomo Guntur-Kadir Halid (SUKA), pasangan nomor urut 3, Rusdin Abdullah-Idris Pattarai, pasangan nomor urut 5, Erwin Kallo-Hasbi Ali dan terakhir pasangan nomor urut 6, Tamsil Linrung-Das’ad Latif. Namun bukan berarti keempat pasangan ini tidak memiliki masalah, terutama yang berkaitan dengan masalah syariat dalam agama Islam, hanya saja mungkin kami tidak mengetahuinya.

Read More......

Darah Hitam Syiah

Read More......

Untuk Kaum Muslimin: Hadirilah Pembukaan Muktamar 2 Wahdah Islamiyah



Read More......

Solidaritas untuk Ahlus Sunnah Yaman hadapi Syiah






Read More......

Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat



oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Read More......

Bagaimana Kalau Amalnya Ditolak Seperti Ini



oleh Hartono Ahmad Jaiz
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Read More......

Cerdas Dalam Berdzikir



Allah سبحانه و تعالى memerintahkan hamba-hambaNya agar memperbanyak dzikir. Memperbanyak mengingat-Nya. Barangsiapa mencintai Allah سبحانه و تعالى niscaya dengan senang hati ia memperbanyak mengingat Allah سبحانه و تعالى . Betapa tidak, Allah سبحانه و تعالى merupakan Dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sepantasnya seorang yang mengaku beriman kepada Allah سبحانه و تعالى lalu menjadi orang yang malas dan enggan mengingat-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab [33] : 41)

Read More......

Malaysia Satu Sikap Hadapi Pengaruh Gay

 

Hidayatullah.com—Sejak mencuat adanya berita  festival Gay di Malaysia, kini, berbagai kalangan negeri tetangga ini seolah sepakat bersatu untuk menolak.
Budiman Mohd Zodi, Wakil organisasi Malaysian Association of Youth Clubs (MAYC), dalam sebuat surat yang dikirim keredaksi BeritaHarian, Malaysia, ia mempertanyakan adanya keganjilan mengapa program-program ‘kebebesan seks’ seperti itu justru dipromosikan di Malaysia, yang nota-bene berpenduduk Islam.
“Mengapakah program seperti ini dipromosikan di Malaysia? Sebuah negara yang majoritas rakyatnya beragama Islam,” ujarnya Rabu, (16/11/2011) kemarin.

Ia bahkan mengungkapkan, sudah jelas UUD di malaysia pasal 3 (1) memperuntukkan Islam adalah agama persatuan. Di pentas dunia Malaysia juga dihormati sebagai sebuah negara Islam.

Baginya, tindakan bijak pihak kepolisian mengharamkan kelompok-kelompok gay atau lesbi mengadakan acara adalah sesuatu yang harus dipuji karena dinilai teelah membuat kerisauan masyarakat.

Read More......

Empat Pendeta Belanda Sodomi Anak Kenya

Hidayatullah.com--Kepolisian Belanda telah diminta lewat Interpol untuk menyelidiki kasus sodomi yang dilakukan seorang uskup dan tiga pendeta Belanda terhadap anak Kenya.

Tuduhan terhadap 'uskup Cor S' (nama aslinya disembunyikan) dan tiga pendeta lainnya dikemukakan oleh seorang mantan mahasiswa seminari di Belanda asal Kenya.

Pemuda itu mengatakan, pertama kali ia dicabuli saat masih menjadi anak altar di Kenya. Selanjutnya pencabulan juga terjadi saat ia mempersiapkan diri untuk belajar teologi di Mill Hill Missionaries, London.

Cor S dan ketiga pendeta tersebut bertugas di Mill Hill Missionaries. Salah satu dari ketiga pendeta telah meninggal dunia.

Read More......

Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa

Hidayatullah.com--Eksodus masyarakat Jawa dari pusat-pusat kerajaan Hindu dan Budha yang tidak memberinya kehidupan yang aman, ke daerah-daerah pelabuhan mengantarkan mereka bersentuhan dengan para pedagang Muslim dan para ulama.
Egalitarianisme Islam dan struktur keimanan mudah dimengerti menyebabkan rakyat Jawa berbondong-bondong masuk Islam. Periode ini merupakan gelombang pertama Islamisasi di Pulau Jawa.
Dalam pandangan Zamakhsyari Dhofier, ada dua tahap penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pertama, di mana orang menjadi Islam sekadarnya, yang selesai pada abad ke 16.
Kedua, tahap pemantapan untuk betul-betul menjadi orang Islam yang taat secara pelan-pelan menggantikan kehidupan keagamaan yang lama.

Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram (1613-1645) mengawali tahap pemantapan melalui pendidikan Islam secara massal kepada masyarakat Jawa. Di setiap kampung diadakan tempat untuk belajar membaca al-Qur`an, tata cara beribadah dan tentang ajaran Islam: rukun iman dan rukun Islam.

Read More......

Orientalisme dan Usaha Kudeta Kebudayaan


Hidayatullah.com--SEPERTINYA, Van Lith, misionaris Katolik ordo Yesuit, belajar dari kasus Sadrach. Setelah korespondensi panjang dengan Sadrach, dan pengamatan mendalam di lapangan, Van Lith mengubah pola penginjilannya. Dari individu menjadi penginjilan kolektif dalam bentuk sekolah. Dengan mendidik anak-anak Jawa sejak kecil, diharapkan akan menghasilkan kekatolikan/kekristenan yang murni. Seiring dicanangkannya politik etis di bidang pendidikan di kalangan pribumi, Van Lith lalu mendirikan sekolah calon guru.

Dalam mencari murid yang berkualitas, Van Lith aktif melakukan kunjungan kepada para bangsawan kraton dan priyayi, agar menyekolahkan anaknya di Kolese Xaverius (sekolah yang didirikan Van Lith). Semua murid yang masuk awalnya adalah Muslim, lalu menjadi Katolik ketika lulus. Tidak cukup menjadi guru, beberapa murid Kolese Xaverius  melanjutkan pendidikannya ke jenjang imamat. Sehingga bila dilihat dari banyaknya jumlah imam pribumi yang dihasilkan, menurut Steenbrink, usaha Van Lith ini paling sukses di dunia untuk kegiatan serupa.

Dalam Kolese Xaverius, identitas kejawaan sangat ditekankan, sedangkan segala hal yang berbau Islam dihilangkan. Bahasa Melayu, yang dianggap identik dengan Islam tidak diajarkan, cukup dua bahasa: bahasa Jawa dan bahasa Belanda. Dengan demikian diharapkan proses integrasi kekatolikan dan kejawaan dapat berjalan sempurna.

Read More......

Gagalnya Usaha "Menghapus" Islam dari Jawa




 
Hidayatullah.com—MASIH ingat, nama Mbah Petruk yang mendadak menjadi sangat populer ketika Gunung Merapi kembali bergejolak? Di samping Mbah Petruk, ada juga Nyai Rara Kidul. Berkait dengan dua tokoh jagading lelembut tadi, diadakanlah ritual sedekah gunung dan sedekah laut yang menjadi ritual rutin masyarakat Jawa. Kebanyakan, citra sinkretik seperti ini menjadi wajah tunggal ketika seseorang berbicara tentang Jawa.

Juga, apabila kita mengamati buku-buku mengenai kebudayaan Jawa, maka istilah seperti larung sesaji, kejawen, pusaka keramat, adalah tema-tema dominan ketika berbicara kebudayaan Jawa.

Pandangan seperti itulah sebenarnya yang diinginkan dari gerakan jangka panjang orientalisme dan missionarisme di Jawa di masa kolonial. Di mana mereka berusaha menghapus identitas Islam di tanah itu dengan selalu mengkait-kaitkan antara Jawa dengan Hindu atau Budha.

Read More......

Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 2)

“MEREKA MEMALSUKAN
KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK”
Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Bagian (2)
Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.
Belakangan diketahui bahwa nama Syaikh Idahram adalah Marhadi kelahiran 1975, sengaja dia samarkan dengan membalik hurufnya menjadi Idahram mengikuti model bahasa Kera Ngalam/Arek Malang.  Kemudian dia beri gelar Syaikh di depannya, yang di negeri kita ini maknanya adalah orang yang sepuh usia dan sepuh ilmunya, ternyata kenyataannya  tidak demikian. Ini bisa disebut sebagai perbuatan mengecoh atau mengelabui yang dalam bahasa arab dan dalam disiplin ilmu hadits disebut tadlis. Oleh karena itu mulai sekarang kita panggil dengan panggilan Ustadz, sebagaimana lazimnya di Indonesia.  Ustadz Idahram, penulis buku “
01 
Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)
Secara meyakinkan dan terang-terangan telah melakukan “kedustaan kebohongan” di depan publik, dengan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang yang ajarannya sesat, (setan berbentuk manusia, pemimpin aliran sesat yang sudah diprediksi oleh Nabi sebelumnya dan diperintahkan untuk dibunuh dan dijanjikan pahala bagi yang membunuhnya, karena ia dan kelompoknya melakukan teror kepada umat Islam), mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya. Hal itu didasarkan pada pemahamannya (terjemahannya) yang salah fatal terhadap 

Read More......

Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)

“MEREKA MEMALSUKAN
KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK”
Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Bagian (1)
Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.
 1 197x300 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Pendahuluan :
Bismillahirrahmanirrahim.
Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  majhul al-hal (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi wahabi. Sebelumnya adalah buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” dan Buku ke-3 dengan judul yang lebih heboh lagi: “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi”.
Buku pertama sudah kami soroti sedikit mengenai bahayanya yang sangat luas, dalam satu makalah yang kami beri judul “Waspada! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)”. Silakan baca di http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html Walaupun sebenarnya banyak kesalahan yang ada di dalamnya, namun yang sedikit itu kiranya sudah cukup bagi orang ahlussunnah untuk mengetahui mutu buku itu dan untuk mewaspadai buku dan para pengusungnya.
Sebenarnya kami tidak suka mengomentari tulisan orang lain, namun karena bagian dari kewajiban kami dalam memberi nasehat kepada umat, maka kami pun harus menulis komentar terhadap buku kedua ini.
Dalam promosinya di toko buku online  mereka menulis:

Read More......

Dasyatnya Istighfar

Dalam kehidupan sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuk nya bermacam-macam. Ada yang kesulitan mendapatkan jodoh. Ada yang diuji Allah SWT dalam mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit yang kehilangan orang yang dicintai baik orang tua, anak atau pasang hidup.

Pada situasi itu biasanya kita merasakan kesedihan mendalam. Dunia terasa mau runtuh, hidup terasa sempit karena kita tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Kita merasa sendirian dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Melihat masalah memang tidak ada habisnya. Setiap manusia hidup, Allah SWT akan mengujinya dengan masalah. Itu sudah janji Allah SWT menguji keimanan dan ketangguhan manusia mengarungi samudera kehidupan. Dalam mekanisme itu terjadi seleksi alam. Bagi yang memiliki keimanan kuat, dia akan berusaha bertahan sehingga Allah SWT memberikan jalan. Tapi bagi yang lemah keimanan berdampak frustasi (stress) yang tak jarang berakhir bunuh diri.

Masalah sendiri sangat berkorelasi positif dengan paradigma (sudut pandang). Seorang yang memandang negatif masalah akan berdampak aura negatif. Berbeda ketika kita memandangnya sebagai peluang. Energi negatif berubah menjadi energi positif. Ketakutan berganti timbulnya rasa optimisme.

Allah sendiri sudah menegaskan, salah satu terapi mengatasi masalah adalah istigfar. Allah SWT menjamin, orang yang banyak istigfar tidak akan merugi. Dan janji Allah SWT itu pasti dan tak terbantahkan. Jadi jika anda punya masalah kesulitan mendapatkan rezeki, anak dan kebahagiaan perbanyaklah istigfar. Jaminan itu terlukis indah dalam Al-Qur’an :

Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

Banyak manusia tidak menyadari kekuatan rahasia yang terkandung dalam istigfar. Istigfar terbatas dimaknai sebagai permohonan ampun atas segala dosa. Pemaknaan ini membuat kita kadang malas beristigfar. Sebagian orang “melupakan” energi besar istigfar sebagai warisan agung Rasulullah SAW.

Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ya, makna istigfar sebagai penghapus dosa itu benar adanya. Tapi sudut pandang itu terlalu sempit. Cobalah menggali lebih dalam indahnya istigfar. Sebab seandainya masalah itu penyakit, istigfar adalah obat yang mujarab. Jika sudah ada obatnya, gratis pula mengapa kita tidak menikmatinya.

Sungguh penghalang kita terhadap Allah Rabbul Izzati salah satunya adalah kebiasaan bermaksiat. Maksiat membuat rezeki kita terhalang. Maka ketika menjalani proses istigfar, kita diminta memohon ampun, menjauhi maksiat dan meminta kebaikan. Rasulullah bersabda :

Siapa yang banyak beristiqfar, Allah akan membebaskannya dari berbagai kedukaan. akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, dan memberinya curahan rejeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya. (HR Ahmad)

Kebaikan banyak macam dan bentuknya. Salah satunya seperti yang diterangkan hadits di atas. Kesempatan mendapatkan rezeki menjadi salah satu bentuk kebaikan. Maka istigfar menjadi solusi dari 1001 masalah kita. Sungguh tak ada ruginya mengikuti jejak Rasulullah SAW yang membiasakan 100x istigfar dalam sehari. Padahal beliau sudah mendapatkan jaminan syurga dan tidak kekurangan harta dunia selama menjalani hidupnya.

Membaca istigfar sama dengan sedekah. Dengan memperbanyak beristigfar, percayalah rezeki kita akan mengalir lancar. Kesedihan hati akan hilang, digantikan kelapangan dada menerima takdir Allah. Tentunya setelah berproses dan berikhtiar (berusaha keras). Dan tahukah anda? Istighfar membuat Allah senang apalagi jika kita menjadikan sebuah rutinitas harian.

Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).


Inggar Saputra; Pengurus KAMMI Pusat dan peneliti Institute For Reform Sustainable (Insure)

sumber: eramuslim.com
dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Ulama Berjuluk “Penghidup Agama”

Oleh: Muhammad Luqmanul Hakim

MALAM sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, ada seorang pemuda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud.

Menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam.

Kemudian pada keesokan harinya, ia semakin “gila” mengejar ilmu. Ia pelajari 12 cabang ilmu pada guru-gurunya. Tak sedikit-pun waktunya yang tersia-sia. Bahkan ketika berjalan pun ia terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya.

Itulah sosok Imam Nawawi, ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Kitab-kitabnya tersebar di berbagai belahan dunia. Bahkan, sebagian dari kitab-kitab yang ditulisnya masih menjadi rujukan utama di kalangan para penuntut ilmu hingga saat ini, termasuk di berbagai pondok pesantren di Indonesia.

Rihlah Ilmiah

Imam Nawawi bernama lengkap Yahya bin Syarf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizaam An-Nawawi Ad-Dimasyqiy. Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, padahal ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakariya. Karena ia belum sempat menikah dan membujang hingga akhir hayatnya. Selain itu, orang-orang memberinya gelar "Muhyiddin" (orang yang menghidupkan agama). Padahal ia tidak menyukai gelar ini. Bahkan diriwayatkan ia pernah berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.” Ucapan itu tidak akan lahir lain kecuali karena sikap ketawaddu’annya.

Ulama kebanggan umat ini lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus (yang sekarang menjadi ibu kota Suriah) pada bulan Muharram tahun 631 H (1233 M). Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat namanya, yaitu an-Nawawi ad-Dimasyqi.

Sejak kecil Imam Nawawi dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya. Namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Quran daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Maka tidak mengherankan, sebelum baligh ia sudah hafal Al-Quran 30 juz.

Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya mengetahui hal itu, ia pun mendatangi orang tuanya. Ia berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Orangtua dan gurunya pun semakin memberikan perhatian lebih kepada Imam Nawawi kecil.

Pada tahun 649 H (1251 M), yaitu ketika usianya mencapai 19 tahun, Imam Nawawi melakukan rihlah ilmiah ke kota damaskus. Di sana ia “mondok” di lembaga pendidikan al-Ruwahiyyah atas beasiswa dari lembaga tersebut. Lembaga pendidikan ini dekat dengan masjid termegah pertama di dunia, yaitu masjid Al-Jami’ Al-Umawy. Di sana ia memulai perjalanannya menuntut ilmu. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menuntut ilmu sehingga ilmu pun memberikan kepadanya sebagian darinya.

Guru dan Muridnya

Imam Nawawi memiliki banyak guru dan murid. Guru-gurunya merupakan ulama yang ahli di bidangnya. Sedangkan di antara murid-muridnya banyak yang kemudian menjadi ulama besar.

Dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, sang Imam berguru pada Ishaq bin Ahmad bin ’Utsman al-Maghribi (w. 650 H), Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi (w. 654 H), Sallar bin aI-Hasan al-Irbali (w. 670 H), Umar bin Bandar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’I (w. 672 H), dan Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari (w. 690 H.)

Sementara dalam bidang ilmu hadits, ia berguru pada Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari (w. 661 H), Abdul ’Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari (w. 662 H), Khalid bin Yusuf an-Nablusi (w. 663 H), Ibrahim bin ’Isa al-Muradi (w. 668 H), Isma’il bin Abi Ishaq at-Tanukhi (w.672 H), dan Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi (w. 682 H).

Lalu dalam bidang nahwu dan bahasa, guru-gutrunya adalah Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri (w. 664 H), dan juga al-’Izz al-Maliki.

Adapun murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar, di antaranya adalah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad Ibnu Farah al-Isybili, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah, , Syamsuddin bin an-Naqib, dan Syamsuddin bin Ja’wan, ’Ala-uddin ’Ali Ibnu Ibrahim dan masih banyak yang lainnya.

Pujian Ulama

Banyak ulama yang memberikan apresiasi tinggi kepada Imam Nawawi. Adz-Dzahabi, misalnya pernah berkata: "Imam Nawawi adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Ia merupakan sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara,' memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai.

Ia tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan minum lezat, dan tampil mentereng. Makanannya hanyalah roti dengan lauk seadanya. Pakaiannya adalah pakaian yang sangat sederhana, dan alas tidurnya hanyalah kulit yang disamak. Ia selalu berusaha untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun terhadap penguasa. Tidak jarang ia mengirimi surat para penguasa yang berisi nasihat agar berlaku adil dalam mengemban amanah kekuasaan, menghapus cukai, dan mengembalikan hak kepada ahlinya.

Adapun Abul Abbas bin Faraj pernah bertutur: "Syeikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas). Tingkatan kedua adalah zuhud. Dan tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar."

Cinta Ilmu

Kalau berbicara tentang kecintaan terhadap ilmu, Imam Nawawi adalah sosok yang bisa dijadikan teladan utama. Atas kecintaannya terhadap ilmu, ia menghindari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang secara umum manusia cenderung kepadanya .

Kenikmatan berupa makanan, misalnya. Ia tak mau aktifitas makan mengganggu kegiatan belajarnya. Dalam sehari semalam ia tidak makan kecuali sekali setelah waktu akhir isya' dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur.

Ia makan roti yang dibawakan oleh ayahnya dari desa Nawa yang dibuat sendiri dan cukup untuk persediaan selama satu minggu. Ia juga tidak pernah memakan kecuali satu macam makanan seperti madu, cuka, atau minyak. Sedangkan daging, Imam Nawawi memakannya sekali dalam sebulan, dan hampir tidak pernah ia memakan makanan dengan dua lauk selama hidupnya. Baginya, makan tidak lain hanyalah untuk sekedar menjaga kesehatan tubuhnya.

Kenikmatan lain yang ia hindari dan lebih memilih belajar adalah tidur. Ia tidak pernah menyengaja tidur. Biasanya ia tertidur ketika sedang membaca buku. Itu pun setelah bangun langsung membaca lagi. Ia pernah berkata, “Apabila kantuk mengalahkan diriku maka aku bersandar pada buku sebentar lalu aku terbangun”.

Pernah suatu ketika, salah seorang temannya datang dengan membawa makanan yang masih ada kulitnya, namun ia tidak bersedia memakannya. Ia berkata, “Saya khawatir tubuh saya lembab sehingga saya tertidur”.

Bahkan, yang membuat orang terkagum-kagum atas kegigihannya dalam menuntut ilmu, yaitu ketika muridnya yang bernama ‘Ala-uddin Ibnill ‘Aththar menuturkan bahwa selama 2 tahun penuh ia tidak merebahkan badannya ke bumi, melainkan tidur bersandar pada bukunya.

Selain itu, kenikmatan lain yang ia hindari adalah menikah. Ia sebenarnya bukan tidak mau menikah apalagi menolak syariat nikah. Bahkan, dalam kitab-kitabnya juga banyak yang menyinggung masalah pernikahan. Hanya saja, ia tidak sempat memikirkannya karena besarnya rasa cinta terhadap ilmu. Oleh karena itu, ketika meninggal pada umur 45 tahun ia tetap membujang.
Karya-karyanya

Imam Nawawi merupakan ulama yang dalam usia muda, yaitu sejak berusia 30, sudah menghasilkan karya besar lintas negara dan lintas zaman. Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara dunia Islam.

Di dalam karya-karyanya didapati kemudahan dalam mencernanya, keunggulan dalam argumentasinya, kejelasan dalam kerangka berfikirnya serta keobjektifan dalam memaparkan pendapat-pendapat para fuqaha’.

Di antara karyanya yang berjumlah sekitar 40 tersebut ada yang telah ia selesaikan dan ada pula yang belum terselesaikan. Di antara yang telah terselesaikan adalah kitab al-Arba’in Nawawi, Syarh Shahih Muslim, ar-Raudhah (Raudhatut Thalibin), al-Minhaj, Riyadhus Shalihin, al-Adzkar, at-Tibyan, Tahir Tanbih wa Tashhth, Tahdibul Asma’ wal Lughat, Thabaqatul Fuqaha’ dan lain-lain.

Adapun yang belum terselesaikan – andaikatan ia menyelesaikannya, maka tidak ada yang bisa menandingi kitab tersebut, yakni Syarh Muhadzdzab yang bernama al-Majmu’. Ia baru menyelesaikan sampai bab riba saja. Susunannya bagus dan sangat bermanfaat serta kritis. Dalam kitab tersebut, ia mengupas fiqih madzhab Syafi’i dan yang lainnya, menerangkan hadits dengan baik, menjelaskan kalimat-kalimat asing dan perkara-perkara penting yang hanya dijumpai dalam kitab tersebut”.

Demikianlah profil Imam Nawawi, salah satu ulama kebanggan umat. Ulama yang dalam usia muda sudah menghasilkan karya-karya mendunia. Semoga kita bisa meneladaninya dalam kehidupan kita. Amin.

Penulis sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU)

sumber: hidayatullah.com
dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Mari Berhenti Sejenak

Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan. Betapa tidak, di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya, kita harus bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup ita yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat. Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya, tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.

Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan “tidak” di hadapan mereka semua yang berkata “iya”. Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala argumentasinya, tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk “diam”, tatkala orang lain menilai bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kitapun hanya mengisyaratkan kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata. Di saat orang beretorika dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kitapun hanya meminta kita untuk membaca pikiran di balik pikiran. Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan dunia dengan segala kenikmatannya, idealisme kitapun hanya mengalunkan satu kata, “qonaah”. Itulah idealisme kita di hadapan mereka.

Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita. Pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal henti seiring dengan perjalanan hidup ini.

Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah kehidupan. Gelombang dan badai harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.

Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan, bosan bahkan tidak peduli dengan kondisi. Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti. Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat. Berhenti bukan berarti selesai atau sampai di sini. Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita lalui, berhenti untuk memompa kembali semangat beramal, berhenti untuk mencas batrei keimanan kita agar tidak redup.

Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan dalam menghadapi segalanya. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, “ruhiyah” kita. Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan yang akan menghalangi kita. Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman agar dapat berpikir jernih dan tetap semangat menjalani hidup ini. Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup.

Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal Radiyallahu Anhu kepada sahabatnya dengan ungkapannya yang menyejukkan hati “mari duduk sesaat untuk beriman”. Berhenti sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga. Karena segala yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya, ingatlah bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu, bisa jadi justru akan menambah masalah baru. Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat hidup ini dengan segala problematikanya. Mari kita sempatkan untuk selalu memperbaharui keimanan kita ditengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan.[abuthalhah.wordpress.com]

Tulisan Ustadz Muh. Ihsan Zainuddin, Lc.M.Si.

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Adalah Musibah Terbesar

…….Karena sesungguhnya seseorang dari umatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar dari pada musibah atas wafatnya diriku.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dan Sabith al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu mereka berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian ditimpa musibah, maka hendaknya ia mengingat musibah yang ia alami dengan (wafatnya) diriku. Karena sesungguhnya wafatku adalah musibah yang paling besar.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, ad-Darimi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan dukungan/penguat hadits-hadits yang lainnya sebagaimana disebutkan dalam ash-Shahihah no.1106)

Melalui hadits di atas, jelaslah bagi kita bahwa wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah musibah terbesaryang telah terjadi dan akan terus dialami oleh seluruh ummat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kita untuk mengingat kembali atas wafat dan kepergian beliau pada saat kita mengalami musibah, karena dengan cara demikianlah segala musibah yang kita alami akan terasa ringan.

Tidak seorang pun kekasih, orang yang kita cintai, kerabat, atau sahabat pergi meninggalkan kita, melainkan hati kita akan merasakan sakit dan pilu karena berpisah dengannya. Namun, pernahkah kita merasakan hal tersebut pada saat kita merasakan kepergian dan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Bagaimana seandainya seseorang kehilangan seluruh anggotakeluarganya? Saat itu hatinya terasa terbakar dan pilu, dan air matanya melahirkan kesedihan. Lalu, tidak lama kemudian ia menikah lagi, dan beberapa tahun setelah itu salah seorang anaknya (dari istri kedua) meninggal kedua. Bagaimana kiranya kesedihan dan kepiluan hatinya jika dibandingkan dengan musibah pertamanya? Bukankah kesedihan tersebut terasa lebih ringan dan musibah yang ia hadapi terlihat lebih kecil?

Demikianlah seharusnya kita menghibur diri kita tiap kalli diuji dengan musibah, yaitu dengan mengingat musibah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan kepada kita dengan sabdanya:

“Wahai sekalian manusia, barang siapa di antara kalian-atau di antara orang-orang yang beriman- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur dirinya dengan mengingat musibah wafatku, dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari umatku tidak akan ditikpa musibah yang lebih besar dari pada musibah atas wafatnya diriku. (HR. Ibnu Majah, dai ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Shahih Sunan Ibnu Majah no.1300)

Seandainya kita merenungi kalimat فليتعز (hendaknya dia menghibur diri), niscaya kita akan menemukan obat dan penyembuhan padanya, dan sesungguhnya kalimat tersebut adalah rangkaian huruf-huruf yang dapat mengobati jiwa yang sedang duka. Bagaimana seandainya seseorang kehilangan kedua orang tua tercintanya dalam sebuah kecelakaan mobil, misalnya? Bukankah dampak dari musibah tersebut akan terus ada dalam hatinya sepanjang masa? Bagaimana seandainya ia kehilangan ibunya atau istrinya atau anaknya? Lalu, bagaimana dengan diri kita yang telah ditimpa musibah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kita tidak merasakannya?

Sesungguhnya musibah ini harus dianggap sebagai musibah yang besar, terlebih setelah kita mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya dan manusianya.” (HR.al-Bukhari no.15 dan Muslim no. 44)

Seolah-olah makna yang nampak dari redaksi di atas adalah:”Tidaklah sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga musibah wafatnya diriku menjadi lebih besar baginya daripada musibah yang menimpa dirinya karena kehilangan anaknya, kedua orang tuanya atau manusia seluruhnnya”.

Di manakah rasa sedih itu kini berada? Dan di manakah-Demi Rabb kalian- kedukaan itu kini bersemayam? Begitulah seharusnya perasaan seorang Mukmin sejati. Sesungguhnya penulis melihat bahwa kepergian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu musibah dalam agama. Siapa pun yang pergi meninggalkan Anda, sesungguhnya semua itu lebih ringan bila dubandingkan dengan kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersabarlah atas setiap musibah, dan tegarlah…
ketahuilah sesungguhnya tiap jiwa tidak akan abadi…
jika engkau ingin menghibur dirimu dengan sebuah musibah…
maka ingatlah musibahmu atas wafatnya Nabi…

Pernahkan engkau kehilangan ibu? Apakah engkau selalu ingat saat ia wafat –yaitu ketika engkau meratapinya- bahwa ia telah mengeluarkanmu dari gelapnya alam rahim kepada terangnya dunia, dan ia telah memelihara sertya merawat dirimu?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan dirimu –melalui dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- dari gelapnya kesesatan menuju cahaya petunjuk/hidayah dan tauhid. Dan hal ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- merupakan pertolongan begimu agar selamat dari kehidupan yang kekal di Neraka. Apakah dengan air susu ibumu, kasih saying juga kelembutannya engkau dapat terselamatkan dari kehidupan yang kekal di Neraka?

Demi Allah, seandainya saya (penulis) mempunyai seribu orang ibu yang menyayangi dan mengasihi seperti halnya ibu kandung saya sendiri, kemudian mereka semua meninggal dunia dalam satu hari yang sama, niscaya kesedihanku atas kepergian mereka tidak akan melebihi kesedihanku atas wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apakah engkau pernah kehilangan seorang anak? Apakah tangisanmu atas kepergiannya semakin menjadi-jadi ketika engkau teringat kepada bantuan dan pertolonganya, serta kasih saying dan baktinya? Sebesar apapun semua itu, namun ia tidak akan dapat mencapai apa yang telah dipersembahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- membuat kita dapat masuk Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dan di dalamnya kita akan hidup abadi serta memperoleh segala kenikmatan.

Kita memperoleh kebahagiaan dengan adanya bantuan anak-anak kita dan kasih sayang mereka pada tahun-tahun yang lalu. Akan tetapi, kenikmatan Surga itu tidak ada batas dan akhirnya. Lalu tidakkah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak membuat kita sedih dibandingkan dengan kematian orang selain beliau? Bukankah hal itu lebih pantas untuk kita ingat dari pada mengenang mereka yang telah meninggalkan kita, baik anak-anak, keturunan, maupun orang-orang yang kita cintai?


(Sumber: Musibah Terbesar Ummat Islam, hal:9-17 oleh: Husain bin ‘Audah al-‘Awisyah, Pustaka Imam Syafi’i. Disadur oleh Abu Yusuf Sujono)

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Ternyata Dia Memang “Bidadari”,… Subhaanallaah!!!

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa. Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.
“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.

“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”

Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.

Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede —–nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz—– sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,

“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.”

Gumamnya penuh penyesalan.

Kiriman dari Lembaga Muslimah Wahdah Bandung

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Dunia, Membunuh Siapapun yang Mempersuntingnya

Tatkala Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah diangkat menjadi khalifah, beliau meminta nasihat kepada Imam ahlul Bashrah, Hasan Al-Bashri.

Maka Hasan memberi nasihat melalui surat yang berbunyi,

“Ketahuilah, semoga Allah memeberi taufik kepada Anda, bahwa berfikir akan menuntun Anda pada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesal atas perbuatan buruk mendorong Anda untuk meninggalkannya. Sesuatu yang fana sekalipun banyak, tak dapat mengimbangi sesuatu yang kekal. Menanggung derita sesaat tapi berakhir dengan bahagia selamanya, adalah lebih baik dari bersenang-senang sementara, namun berakhir dengan kesengsaraan selamanya. Waspadalah terhadap kampung dunia yang mematikan, menipu dan memperdayakan diri ini, yang berhias dengan kepalsuan, mencari mangsa dengan tipu daya dan membinasakan setiap orang yang tergila-gila kepadanya dan rindu untuk meminangnya. Dunia seakan menjelma menjadi permaisuri impian. Tatapan mata tertuju kepadanya, jiwa gandrung terhadapnya, hati takluk dan bertekuk lutut dihadapannya. Padahal, dunia akan menikam dan membunuh siapapun yang mempersuntingnya.”

Sumber : Majalah Ar Risalah Edisi 70 Th.VI

dipublikasikan ulang oleh hukmulislam.blogspot.com

Read More......

Flash

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP